Monday, March 4, 2013

Melewati kematian, melampaui kefanaan



Dari sekian banyak misteri yang belum diketahui oleh akal budi manusia, misteri mengenai kematian dan kehidupan setelah kematian merupakan misteri yang terbesar dan sering menimbulkan rasa takut yang tersembunyi di dalam lubuk hati siapa saja yang membayangkannya. Setelah sekian lama lalu lalang di dalam kehidupan dengan berbagai pengalaman suka dan duka yang begitu beraneka, dengan begitu banyak teman, saudara, kekasih, dan urusan-urusan kehidupan yang begitu kompleks, penuh tantangan, sekaligus dinamis dan mengasyikkan, rasanya sebuah fakta tak terelakkan mengenai kematian menjadi hal terakhir yang ingin kita pikirkan dalam kehidupan ini. Sebuah bentuk keberadaan baru yang sama sekali asing bagi kita, di situ ada tanda tanya besar, ada kesedihan meninggalkan hidup yang begitu menggairahkan, dan tentunya…kesunyian, karena menghadapi kematian, manusia menjadi seorang diri saja, seperti saat datangnya.

Sayangnya, kematian begitu pasti, tidak terelakkan. Semua manusia akan berurusan dengannya, suka atau tidak suka, hanya masalah waktu saja. Akhirnya, walaupun pada suatu hari dan perlahan-lahan manusia bisa berdamai dengan kepastian hidup yang bernama kematian, kematian tetaplah menghadirkan sensasi kegelapan dan kesunyian yang sulit untuk dibayangkan.

Namun syukur kepada Allah Bapa Sang Raja Semesta, karena karunia iman dari Tuhan dan cinta Tuhan kepada manusia yang dinyatakan-Nya melalui Kitab Suci dan pengajaran Gereja-Nya, manusia mempunyai sumber kekuatan yang tak terbatas, melampaui rasa takut dan ketidakberdayaannya dalam berhadapan dengan sang maut. Gereja mengajak kita untuk memandang kematian justru sebagai sebuah awal dari bentuk hidup yang baru, sebuah transformasi yang menjadi sarana paling indah untuk berjumpa dan bersatu kembali dengan Tuhan Sang Pencipta, yang sebenarnya sudah kita rindukan sejak awal kehadiran kita di dalam peziarahan di dunia. Kerinduan yang sering tidak kita sadari, bahkan sebetulnya sering kita pungkiri, dengan segala macam dalih dunia yang meninabobokan jiwa kita.

Sebuah ilustrasi menarik dari sumber yang tidak diketahui pernah beredar di sirkulasi email. Dikisahkan seekor anjing yang sedang terpisah beberapa minggu dari tuannya yang sedang dirawat di rumah sakit. Suatu hari seorang kerabat berinisiatif memberi kejutan yang menyenangkan dengan membawa anjing itu ke rumah sakit supaya bisa menemui tuannya sejenak dan supaya mereka bisa saling berjumpa melepas rindu. Hari itu tanpa sepengetahuan si kerabat, si tuan rupanya sedang menjalani pemeriksaan kesehatan di ruang lain pada saat anjingnya itu tiba. Sampai di sebuah lantai yang masih berada jauh dari kamar rawat inap si tuan, tiba-tiba si anjing melompat dan mencoba berontak dari pegangannya, berusaha memasuki sebuah ruangan yang pintunya tertutup. Si kerabat keheranan melihat tingkah laku si anjing, sementara anjing itu mulai menggaruk-garuk pintu ruang tertutup itu dengan kaki depannya sambil menggonggong dan mengibas-ngibaskan ekornya dengan sukacita. Sang kerabat sama sekali tidak tahu bahwa tuan si anjing sedang berada di dalam ruangan itu untuk sebuah pemeriksaan, tetapi anjing yang setia itu tahu dari indra penciumannya dan dari instingnya, bahwa tuan yang dirindukannya sedang berada di balik pintu dan ia tak sabar untuk segera menemuinya. Ketika pintu itu akhirnya dibuka dari dalam, si anjing menerjang masuk dan melompat ke dalam pelukan tuannya, yang merasa amat gembira dengan kejutan indah hari itu. Antusiasme dan sukacita anjing itu mewakili sikap manusia menghadapi kematian dalam terang iman. Si anjing dengan antusias mencoba untuk masuk ke dalam ruangan yang sama sekali tak pernah diketahuinya, bahkan ia tak akan bisa tahu apabila ternyata ada bahaya atau sesuatu yang tidak menyenangkan menantinya di balik pintu, tetapi ia tidak peduli, karena yang paling penting adalah ia tahu siapa yang berada di balik pintu yang tertutup itu, sosok tuan yang dikasihinya, yang sangat dikenalnya karena selalu menyayangi dan memeliharanya dengan penuh kasih sayang setiap hari. Dan selama ada orang itu, di manapun juga, bahkan di tempat yang sama sekali asing sekalipun, ia tahu ia akan baik-baik saja, ia tahu ia akan bersukacita.

Itulah gambaran iman manusia yang telah mengenal kasih karunia Allah Bapa dan telah diselamatkan oleh kasih setia Tuhan Yesus yang telah menderita sengsara begitu dalam dan wafat bagi kita. Misteri itu tidak perlu menakutkan lagi, karena kita tahu Siapa yang menunggu kita di balik pintu yang tertutup itu. Kita tahu (dan bukan hanya yakin) bahwa Tuhan sudah menunggu kita di balik kematian untuk bersama dengan kita selamanya. Namun kita hanya akan benar-benar tahu, bila seumur hidup yang singkat ini kita terus mengejar pengetahuan akan jalan-jalan-Nya, sehingga kata-kata Yesus sungguh menjadi kenyataan ketika Ia berkata, “supaya di tempat di mana Aku berada, kamupun berada” (Yoh 14: 3c). Usaha kita untuk mengejar pengetahuan akan jalan-Nya hanya terjadi bila kita berusaha sepanjang waktu untuk mencari dahulu Kerajaan Allah, di atas kesenangan-kesenangan pribadi kita, walaupun seringkali hal itu sukar karena kita harus menyangkal diri dan menyalibkan diri sendiri, “Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu.” (Mat 6:33). Akhir kehidupan yang selalu dipenuhi persekutuan dan hadirat-Nya itu membuat kita tahu bahwa saat itu Tuhan akan berkata seperti dalam Mat 25:23, “Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia, engkau telah setia memikul tanggung jawab dalam perkara yang kecil, aku akan memberikan kepadamu tanggung jawab dalam perkara yang besar. Masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu. Kalaupun di akhir kehidupan ini, kita belum sempat menuntaskan bagian kita untuk sepenuhnya berada di dalam hadirat-Nya, Gereja mengajarkan bahwa kerahiman-Nya melalui proses pemurnian di dunia baka, sanggup memberikan kita kepastian akan akhir yang membahagiakan.

Demikianlah iman dan kasih yang dicurahkan Tuhan melalui kekayaan pengajaran Gereja-Nya, tidak hanya membekali manusia menghadapi kematiannya sendiri, tetapi juga memberikan kekuatan pada saat manusia menghadapi kematian orang-orang terdekat yang sangat dikasihi. Suatu hari, pada peringatan duapuluh tahun meninggalnya paman saya, sepupu saya yang adalah anak paman yang tertua, bertanya-tanya dengan sedih, bagaimana kita bisa tetap berhubungan secara nyata, atau setidak-tidaknya berkontak batin, atau sedikit saling mengetahui perasaan satu sama lain, dengan orang-orang terkasih yang telah meninggal dunia. Pada waktu-waktu tertentu, ia amat merindukan ayahnya, dan ia berharap ia bisa berkomunikasi secara nyata dengan ayahnya, seperti halnya kalau saya sesekali menelpon ayah saya, mengirim email, atau bicara melalui skype dari tempat tinggal saya yang jauh dari ayah. “Aku ingin bisa menjumpainya dalam mimpiku, atau mendengarnya berbisik di dalam doaku, atau merasakan kehadirannya dalam kesendirianku bersama Tuhan dalam waktu-waktu doaku, tetapi ayah seperti lenyap tak berbekas, gone with the wind, “ sepupu saya bercerita dengan sendu.

Saya tercenung, tetapi lalu saya tergerak untuk mengatakan kepadanya, bahwa Tuhan yang selalu kita ajak bicara setiap saat dalam doa dan pujian penyembahan, juga tidak pernah kita lihat wujud-Nya, pun tidak pernah kita dengar suara-Nya. “Tetapi kita tahu bahwa Ia ada di sana, Ia hadir, dan Ia selalu bersama kita untuk menolong kita dalam pergumulan hidup sehari-hari”, kataku. Iman dan cinta-Nya membuat kita yakin dan bahkan mengalami terus penyertaan-Nya walaupun secara panca indera, kita sama sekali tidak mampu menangkap keberadaan-Nya. “Maut tidak bisa memisahkan kita dengan orang-orang yang kita cintai, Kak, tidak seharusnya begitu, karena aku percaya Tuhan tidak bermaksud begitu, kataku, “kita hanya belajar untuk berhubungan dan berelasi dengan mereka dengan cara yang baru, dan mengembangkan bentuk relasi yang baru itu melalui kerahiman Allah yang selalu merangkul kita sebagai satu keluarga, baik di dalam hidup maupun melewati hidup. Kita adalah satu keluarga besar di dalam Allah Bapa, Allah Putera, dan Allah Roh Kudus, dan maut tidak membuat kekeluargaan dalam Dia itu berakhir.” Lalu saya membuka Kitab Suci dan mengingatkan salah satu ayat favorit saya itu kepada sepupu saya, “Ini buktinya”, dan saya baca perlahan-lahan dari Roma 8:38-39, “Sebab aku yakin, bahwa baik maut, maupun hidup, baik malaikat-malaikat, maupun pemerintah-pemerintah, baik yang ada sekarang, maupun yang akan datang, atau kuasa-kuasa, baik yang di atas, maupun yang di bawah, ataupun sesuatu makhluk lain, tidak akan dapat memisahkan kita dari kasih Allah, yang ada dalam Kristus Yesus, Tuhan kita. “ Tuhan mengasihi kita begitu rupa, sehingga kita dikaruniai ayah, ibu, para saudara dan sahabat serta para kekasih hati. Kehadiran dan cinta mereka di dalam hidup kita adalah tidak terpisahkan dari kasih Allah sendiri di dalam hidup kita. Maka jika kita berpisah untuk sementara karena kematian, seperti juga maut itu tidak akan dapat memisahkan kita dari kasih Allah, demikianlah maut yang sama tidak memisahkan kita dari kasih kita satu sama lain kepada orang-orang terdekat, sekalipun mereka sudah tidak lagi bersama-sama kita secara fisik di dalam dunia ini.

Pada hari Peringatan Arwah Semua Orang Beriman tanggal 2 November, Gereja mengajak anggota-anggota Tubuh Kristus untuk merenungkan dan menggali harta kekayaan sebagai tanda nyata kehangatan kasih Allah Bapa yang mempersatukan semua anggota Tubuh Kristus, baik yang masih mengembara di dunia maupun yang sudah mulia di Surga, bersama-sama berdoa bagi mereka yang masih disucikan di dalam pemurnian. Kehangatan kasih saling mendoakan yang melewati batas-batas dunia fana itu menjadi suatu pesan yang amat kuat bahwa kehangatan kasih Bapa mengalahkan segala bentuk kegelapan, kesunyian, dan kesendirian yang dirasakan manusia menyangkut kematian. Perayaan Ekaristi yang diadakan di gereja maupun di pekuburan tempat peristirahatan terakhir anggota Tubuh Kristus yang telah berpulang, menyiratkan harapan yang begitu nyata akan kerahiman Tuhan yang melampaui hidup dan kematian. Seperti yang dapat kita baca di dalam Katekismus Gereja Katolik, diajarkannya kekayaan sedemikian:

1475. Dalam persekutuan para kudus, “diantara para beriman apakah mereka telah ada di dalam tanah air surgawi atau masih menyilih di tempat penyucian atau masih berziarah di dunia – benar-benar terdapat satu ikatan cinta yang tetap dan satu pertukaran kekayaan yang berlimpah” (ibid.). Dalam pertukaran yang mengagumkan ini kekudusan seseorang dapat berguna untuk orang lain, dan malahan lebih daripada dosa seseorang dapat merugikan orang lain. Dengan demikian penggunaan persekutuan para kudus dapat membantu pendosa yang menyesal, bahwa ia lebih cepat dan lebih berdaya guna dibersihkan dari siksa-siksa dosanya.

Ada banyak nilai-nilai iman dan kasih dari kehidupan yang diberikan Tuhan, yang tidak dapat ditaklukkan oleh maut, betapapun kuatnya cengkeraman maut itu terhadap hidup manusia. Kepedulian kita yang masih mengembara di dunia untuk mempersembahkan doa-doa kita bersama para Kudus demi penebusan saudara-saudara kita yang masih berada di api penyucian adalah suatu bukti nyata dari nilai iman dan kasih itu. Dan puncak dari kemenangan Tuhan atas sengat maut yang melumpuhkan manusia itu terjadi pada hari Paskah, ketika Yesus bangkit dari maut untuk membawa manusia yang percaya kepada-Nya menuju kepada hidup berkelimpahan yang abadi, di mana segala bentuk kasih Tuhan yang kekal kepada seluruh ciptaan dirayakan dan dihayati dalam segala keutuhan dan kesempurnaan. Tuhan tidak pernah membiarkan kita sendirian dalam perjalanan akhir kita menuju ke sana. Hari Peringatan Arwah Semua Orang Kudus dan Peringatan Arwah Semua Orang Beriman mengingatkan kita akan kerahiman dan penyertaan-Nya yang tak pernah berhenti kepada masing-masing dari kita yang mengasihi Tuhan dan mencari kehendak-Nya dengan segenap hati, dalam hidup ini, sampai terus melewati kematian. Semoga kita menanggapinya dengan semangat cinta yang sepenuhnya. (Triastuti)

No comments:

Post a Comment