Tuesday, December 8, 2009

Indahnya Diam


Ketika aku bicara dan temanku diam, aku melupakan kesedihan hatinya, karena berfokus pada keinginanku diperhatikan.

Ketika aku bicara dan orangtuaku diam, aku melupakan keletihan mereka, karena aku berfokus pada kebutuhanku untuk diakui.

Ketika aku bicara dan suamiku diam, aku melupakan kebutuhannya akan keheningan, setelah seharian sibuk di kantor, karena aku berfokus pada argumen-argumen ku mengenai kehidupan.

Ketika aku bicara dan tetanggaku diam, aku melupakan kerinduannya untuk juga menceritakan persoalan hidupnya, karena aku berfokus pada permasalahanku sendiri.

Betapa banyaknya yang aku lupakan ketika aku sibuk berbicara. Betapa banyaknya keidahan yang aku lewatkan, ketika aku terus saja bicara kepada Tuhan. Aku lupa Tuhan ingin menunjukkan hikmat kehidupan kepadaku, tapi aku tidak memberiNya kesempatan karena aku sibuk memohon dan meminta.

Saat aku diam dan membiarkan Tuhan berbicara……hatiku terbuka….betapa aku menjadi sadar bahwa Ia begitu mengasihiku. Betapa besarnya kasih itu, hingga aku tak sanggup menerimanya seorang diri, hanya dengan meneruskan itu kepada sesamaku, aku dapat menikmati kasihNya sepenuhnya.

Dengan aku yang diam mendengarkan sesamaku yang berbicara, memperhatikan dan merasakan semua keluhan yang ia rasakan di balik kata-katanya, aku melihat kasihNya yang besar di dalam diriku itu menemukan jalan untuk kuteruskan kepada mereka.

Ketika aku diam aku punya kesempatan melihat apa yang ada di sekitarku.

Aku memandangi seekor anjing yang dengan setia berjalan di samping tuannya menikmati udara pagi yang cerah.

Aku melihat tanaman-tanaman indah yang menghias halaman tempat tinggalku.

Anjing itu, tanaman-tanaman itu,........ semuanya diam, tak bersuara. Menyuguhkan kehadiran mereka yang penuh kasih kepada kehidupan.

Dalam diam, kasih mereka utuh.

Dalam absennya bicara, tak ada unjuk ego, tak ada pertikaian tak perlu, tak ada saling serang, tak ada luka menganga.

Diam memberi kesempatan alam kehidupan dan ciptaan merasakan kasih dan kehadiran Sang Pencipta, sedalam-dalamnya.

Alangkah indahnya belajar untuk diam dan sungguh mendengarkan.

Adven pertama,
Houston, 3 Des 09

Wednesday, November 25, 2009

A Dressing of Change


It was our first month living in the US, and our tenth years of marriage. It seems to me at that period of marriage, nothing would surprise me anymore, even though our life had just about to enter a new chapter of adventure in America. I love my husband very much, and I am content that he loves me back just the way I need it. Everything seems perfect to us, nothing more than our regular ups and downs. My husband is an angel. And I always think that our marriage sustains beautifully more because of his nature rather than mine. That’s the way I had perceived it, the way that was like a comfort zone to me, until that particular evening, when we had a casual dinner, in a casual restaurant.

The restaurant was very busy and crowded. “Look honey, the rib eye steak seems tempting”, my hubby exclaimed as we stared at the fancy menu card. He said that to me in a manner of approval-seeking. “Yup, so let’s pick that. I’m about to take the crispy shrimps”, I responded enthusiastically. It’s our habit to order meals for two that both are desirable to me, since I always want to try any new stuff we find at a restaurant. My hubby has always been so kind and understanding to let me choose what I want to try, as long as he can enjoy it too. As far as I know, his choice is always so flexible and that he is more than happy to share meal that satisfies my curiosity. A waiter approached us with a friendly grin, “Are you guys ready?” The guy was very warm and friendly despite of his juggling service between the demanding customers.

“So what do you want for your dressing, Sir?” he asked my hubby for the salad he chose. Before my husband responded, I heard my voice asking, “What do you have?” The waiter mentioned thousand islands, ranch, honey mustard, and some more. Being only familiar with thousand islands, my hubby picked it, which I cut immediately, almost automatically, “No, darling, it’s better the ranch”. Thousand-islands is just too fatty”. Actually, claiming about fatty was only my justification to try what I assumed as the new one for me, between the other dressings that have been known to me. However, it was just out of our habit that my hubby would pick anything I want to try. Unexpectedly, the waiter was overwhelmed, lamenting to my husband, “You know Sir, my father has been married for three times, and all his wives had tried to take everything from him, believe me”. He then came back with two kinds of dressing, ranch and thousand-island, special for my hubby. Something he would not do in daily circumstances, obviously because he sympathized with what he might feel as a victim of a dictator wife.

My hubby was perfectly okay, as usual, but I was not. During his service to our table, while going back and fro, the friendly waiter kept ‘teasing’ my spouse that he won’t get anything he wanted without my permission. I felt that the waiter had hated me for being so authoritarian to my spouse. I was too embarrassed to response. Never in my life had I imagined to have such harsh comments. But from that moment I realized how serious my habit to pick everything just for satisfying me in the sight of others is. How many years I have overlooked my selfishness? Just because my husband is okay with all his sacrifice to fulfill my needs, it doesn’t mean that I am justified to neglect his rights, his desire, his choice. One day, I might come back to that restaurant, trying to find the cynical waiter and thanking him. It was not his fault for being cynical that night. He had just shown me a knowledge I have missed for years in my marriage, knowledge of knowing myself and of giving respect my soul mate deserves.

Houston,October 2009

Benjol (alias benjut)


Ketika masih duduk di awal bangku sekolah dasar, saya pernah memainkan orang buta-orang butaan dengan kakak perempuan saya. Kakak saya menutup matanya, pura-pura seperti orang yang tidak dapat melihat, dan saya menuntunnya berjalan ke sekitar. Setelah puas berjalan beberapa waktu berdua, kami akan saling berganti peran. Tentunya permainan ini meminta kami untuk saling percaya bahwa dalam keadaan tidak dapat melihat, salah seorang dari kami yang sedang tidak menjadi orang buta akan selalu membawa kami ke tempat yang aman dan tidak mencelakakan kami. Di situlah salah satu letak keasyikan permainan ini bagi kami, selain mengalami bagaimana rasanya kalau tidak bisa melihat. Kalau diingat-ingat lagi rasanya geli. Memang anak-anak senang bermain yang aneh-aneh dan mencoba segala kemungkinan yang menarik perhatiannya. Bagi orang dewasa kadang permainan mereka terasa lucu dan konyol. Tetapi begitulah, anak-anak memang mempunyai dunianya sendiri , yang tidak selalu bisa dipahami oleh orang dewasa.

Namun pada suatu hari, permainan kepercayaan ini ternyata harus saya nodai karena keisengan yang kemudian saya sesali hingga hari ini. Hari itu kami bermain di sebuah lapangan rumput sebuah universitas dekat rumah kami ,di mana di tengah-tengahnya terpasang sebuah tiang bendera untuk upacara bendera. Saat itu sedang giliran saya menuntun kakak yang sedang berperan sebagai orang buta dan memejamkan mata. Saat kami hendak melewati tiang bendera itu, tiba-tiba timbul pikiran jahil di kepala saya. Sambil memegang lengan kakak saya yang sedang saya tuntun, saya memandangi dahinya dan berpikir apa yang terjadi bila saya mengadu dahi kakak dengan tiang bendera yang sudah dekat di hadapan kami. Saya mengarahkan kakak saya ke tiang bendera itu dan….dukk, dahinya membentur tiang dengan pelan. Saat itu saya merasa yakin kakak tidak akan kenapa-kenapa karena saya memegangi lengannya supaya tidak terlau keras membentur tiang. Kontan kakak saya membuka matanya dengan terkejut, ia melotot memandangi saya dengan marah, “Lho, hei..! Piye sih kowe ini, kok kamu benturkan aku ke tiang, huuh…kaget aku” serunya sambil mengusap-usap dahinya.

Semula saya sibuk menahan tawa saya yang hampir meledak, tetapi menyadari kakak marah dan kemungkinan hukuman yang akan diberikan orangtua kami, saya menjadi gentar. Saya lantas berbohong untuk menghindari kemarahan kakak dan orangtua, dengan mengatakan, “Aduh, sori ya, tadi waktu aku menuntun kamu, aku juga sedang mencoba ikut merem (memejamkan mata). Sehingga aku tidak melihat tiang ini” Memang sebuah jawaban yang nyaris tidak masuk akal, tetapi saat itu kakak saya bisa menerima dan hanya menyesali kekonyolan saya tanpa kemarahan yang berlanjut. Yang tidak saya duga adalah akibat dari perbuatan saya itu. Ternyata dahi kakak memar sedikit. Saya makin merasa bersalah dan sedih, serta sedikit takut. “Aduh, dahi kakakku benjol”, pikir saya galau. Ibu kami menaruh beras tumbuk di dahi kakak sebagai pengobatan tradisional yang dikenal ibu saat itu untuk mengurangi memar.

Kebetulan hari itu adalah hari menjelang kakak saya berulangtahun. Sampai sekarang kami masih menyimpan foto ulang tahun kakak dimana kami sekeluarga makan malam bersama dengan dahi kakak berwarna putih karena beras tumbuk yang dibubuhkan ibu untuk mengobati dahinya yang memar. Foto itu sangat lucu dan kami sekeluarga selalu tertawa melihatnya. Semua tertawa gembira termasuk kakak. Hanya saya yang menyimpan kesedihan di hati karena menyadari akibat perbuatan saya dan kebohongan saya. Hati saya berat menyimpan kesedihan dan rasa bersalah yang cukup dalam. Apalagi rahasia kebohongan saya, bahwa saya turut memejamkan mata saat menuntun kakak di hari itu di lapangan bendera, baru saya akui dengan terus terang kepada kakak bertahun-tahun kemudian setelah kami beranjak dewasa. Kakak saya tidak merasa marah atau jengkel lagi, karena peristiwanya telah lama sekali berlalu. Saya pun berterimakasih kepada kakak karena telah memaafkan saya dan mengampuni sikap saya yang pengecut.

Benjol di dahi kakak itu memang hanya terjadi sebentar saja, namun benjol di hati saya tidak hilang begitu saja, bertahun-tahun setelah peristiwa itu berlalu. Saya sedih menyadari sisi gelap dari diri saya. Kecenderungan untuk berbuat sesuatu yang saya tahu dapat melukai sesama yang kadang-kadang membuat saya takut kepada diri saya sendiri.

Kecenderungan-kecenderungan negatif yang tidak dikendalikan, kesalahan-kesalahan yang tidak diakui serta dianggap tidak pernah ada, ternyata membuat jiwa kita benjol-benjol, dan memori kenangan yang seharusnya manis menjadi ternoda. Sekarang saya paham mengapa Gereja menyediakan Sakramen Pengampunan Dosa. Sakramen itu tidak hanya memperbaiki relasi kita dengan Tuhan, tetapi juga dengan diri sendiri, yang seringkali menjadi pihak yang paling akhir dan paling sulit untuk diajak berdamai. Sakramen itu juga menyadarkan saya bahwa kita memang setiap saat dapat jatuh, tetapi Tuhan selalu siap untuk mengampuni, seperti sikap yang ditunjukkan kakak saya.

Bila penyebab penderitaan di dunia ini didata secara statistik, mungkin lebih banyak penderitaan yang disebabkan oleh hubungan antar manusia daripada yang disebabkan oleh bencana alam. Alam tidak pernah secara sengaja menyakiti manusia. Kalaupun ia bereaksi, itu karena keseimbangannya diganggu. Tetapi manusia bisa dengan sangat mudah menyakiti manusia lainnya. Kadang konflik semacam itu wajar karena sifat relasi antar manusia dengan perbedaan kepribadian dan latar belakang adalah sangat dinamis. Tetapi sikap yang didasari pengabaian, iri hati, kesombongan, mementingkan diri sendiri, menjadi sumber-sumber yang berpotensi besar menimbulkan luka pada pribadi dan relasi antar manusia.

Kesediaan Tuhan Yesus untuk melupakan diri sendiri dan menderita bagi sahabat-sahabatNya telah banyak sekali memulihkan luka-luka yang ditimbulkan oleh keegoisan manusia. Itulah sebabnya, mengikuti Dia selalu menjanjikan akhir yang manis dan kenangan yang membahagiakan. Namun mengikuti jalan Yesus dan ajaran-ajaranNya yang kudus seringkali sangat sulit, kadang terasa menyusahkan dan makan hati. Bahkan teladan memberikan nyawa menurut kebanyakan orang adalah nyaris mustahil. Sungguh benar, mungkin tidak banyak orang bisa membantahnya. Jalan menuju kehidupan tidak pernah mudah. Jalannya sempit, dan pintunya sesak. Berkorban, mengalah, mengampuni, jujur, menepikan ego demi kebaikan orang lain, merendahkan diri, setia pada komitmen, menjaga kemurnian, semua itu cenderung tidak enak, dan umumnya sangat sukar. Tetapi bukan tidak mungkin, apalagi bila Dia sendiri yang memberi kekuatan dan menginspirasi sepanjang jalan.

Memilih jalan saya sendiri dan menuruti apa yang sekedar menyenangkan saya, ternyata seringkali berujung kepada kesedihan dan penyesalan. Bukan hanya untuk saya sendiri, tetapi juga orang lain, bahkan bagi orang yang saya sayangi. Jauh lebih baik saya memilih yang tidak enak demi kasih, untuk kemudian mengalami akhir yang manis bersama Tuhan, daripada senang-senang mengikuti keinginan dan nafsu pribadi, tetapi lalu belakangan tersisa kepedihan dan penyesalan.

Yesus sudah benjol-benjol dan luka habis-habisan untuk saya, Dia yang Maha Tinggi sudah merendahkan diri sedemikian rendahnya, supaya, pada saat situasi memerlukan, saya pun belajar benjol-benjol mengikuti Dia dalam kerendahan hati, untuk kemudian menikmati akhir perjalanan dalam sukacita dan damai sejahtera. Kalau dipikir-pikir, kedua pilihan itu memang sama-sama benjol dan benjut. Bedanya adalah kalau pilih jalan sendiri, hasilnya mungkin bisa benjut plus bonus luka dan penyesalan. Kalau memilih berjalan bersama Yesus, benjut plus damai sejahtera dan membahagiakan banyak pihak, termasuk diri sendiri dan Tuhan.

Kerelaan Tuhan Yesus untuk selalu bersama manusia dan ketulusan cintaNya yang tanpa pamrih setiap saat kepada kita, menyembuhkan semua benjut dan benjol jiwa kita. Sesungguhnya manusia telah diciptakan sedemikian sehingga hanya bersama Tuhan jiwa kita menemukan kebahagiaan yg sejati.

Your life in Christ makes you strong, and his love comforts you. You have fellowship with the Spirit, and you have kindness and compassion for one another (Phil 2:1)

Uti, Houston, 24 Oktober 2009

Untuk kakakku tercinta Helena Nursanti “Mbanti” Djiwandono

Thursday, August 20, 2009

Sesungguhnya aku ini hamba Tuhan


Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan, jadilah padaku menurut perkataanMu (Lukas 1:38)




Bunda yang bersahaja..
dalam kerendahan hati dan ketaatanmu
kau bulat mengatakan ‘ya’ kepada Bapa.
Keberanianmu mempercayakan segalanya pada Yang Kuasa
telah menghadirkan seorang Penebus Suci tiada bandingnya
menjadi sumber harapan, kehidupan, serta sukacita seluruh umat manusia

Di situ ia masuk ke rumah Zakharia dan memberi salam kepada Elisabet (Lukas 1: 40)
Bunda yang sabar dan sederhana..
suaramu yang lembut penuh cinta kepada sesama
adalah suara pertama yang didengar
oleh Bayi Kudus yang menjadi manusia
di dalam rahimmu.
Dan irama detak setiap jantungmu…
adalah irama kehidupan pertama
seiring degupan jantungNya sebagai manusia

Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan AnakNya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepadaNya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal. (Yoh 3: 16)
KerinduanNya untuk menjadi sama seperti manusia
dan berada di tengah-tengah manusia
dengan segala suka duka dan pergumulannya
kau aliri dengan darah segar kehidupan pertama ..
seorang manusia sempurna.
Ia tumbuh bersama derasnya aliran darahmu,
darah cinta, iman, dan pengabdian kepada Sang Pencipta

Bunda manis tersuci…
di dalam rahim kudusmu,
degup jantung cintamu,
dan deras darah merah imanmu…..
kaunyatakan pengorbanan dan pengabdianmu…
mengandung dan melahirkan Sang Pencipta
membesarkanNya dengan teladan cinta dan kesabaran.

Kesetiaan iman yang menopangmu
membentang teguh sepanjang Yerusalem dan Nazaret
menguatkan setiap keputusanmu sejak Betlehem hingga Kalvari
walau engkau tak pernah sepenuhnya memahami
rencana Agung Sang Pemilik Kehidupan
bagi keselamatan dan kedamaian kekal semua ciptaanNya

Tersentuh hatiku saat mendaraskan doaku padamu
di saat aku sibuk memikirkan
kepentingan diri dan keinginan-keinginanku sendiri
engkau menyimpan semua perkara dalam hatimu
hati yang selalu haus untuk mengikuti kehendak Bapa
menyangkal kehendak dan kepentinganmu sendiri

Terimakasih buat semua teladan dan doamu Bunda
Biarlah semangat kerendahan hatimu
menghiasi setiap gerak gerik jiwaku
mengantarku pulang kepada kebangkitan kekal.

Uti
San donato, 20 Agustus 09

Menunggu


Menunggu umumnya bukan suatu kegiatan yang menyenangkan, dan biasanya jauh dari produktif. Maka mungkin kurang tepat juga disebut sebagai kegiatan. Orang tidak dengan sadar mau menunggu, itu hanya dilakukan karena dipaksa oleh keadaan. Apalagi bila menunggu cukup lama, di tempat yang tidak mengenakkan, dan dalam keadaan kita sakit atau lelah, menunggu terasa lebih berat. Ditambah lagi bila kepastian hal yang ditunggu tidak jelas dan tidak tampak progress yang berarti. Jaman yang serba tergesa-gesa oleh persaingan hidup dan serba instan ini membuat sebisa mungkin orang menghindari menunggu. Namun kebanyakan kegiatan menunggu menguji kualitas kesabaran kita. Menunggu antrian di bank sementara pekerjaan di kantor masih menumpuk, atau menanti di ruang tunggu rumah sakit dalam keadaan tubuh yang lemah karena sakit, seringkali membuat kita merasa tidak berdaya. Seiring dengan kesabaran yang mulai menipis, kemarahan dan gerutu pun mulai menebal.

Sayangnya dalam setiap dalam setiap episode kehidupan, pasti ada saatnya kita harus mengalami saat-saat menunggu. Lamanya bervariasi, bisa hanya lima belas menit antri membayar di kasir yang itupun sudah cukup membuat kita resah. Bisa juga sepuluh tahun bila yang ditunggu adalah pertobatan seorang anak atau kehadiran sang buah hati dalam sebuah pernikahan. Menunggu menjadi lebih ringan jika kita mempunyai pengalih perhatian yang produktif atau ditemani seseorang dan / atau situasi yang menyenangkan, sehingga kita tidak bete atau mati gaya, istilah anak muda jaman sekarang. Namun bagi saya itu tidak harus, setelah apa yang saya lihat di sebuah hari yang terik di sudut kota Bandung mengubah cara pandang saya terhadap suatu penantian dan kegiatan terpaksa yang bernama menunggu.

Siang itu, sambil berjalan di antara kerumunan pengunjung yang berbelanja di pasar Simpang, Bandung, saya melihatnya. Seorang bapak tua yang duduk berjongkok di trotoar jalan masuk menuju jalan Cisitu. Nampaknya tubuhnya yang kurus kering membuatnya tidak sulit untuk bertahan dalam posisi jongkok dalam waktu yang lama. Yang membuat saya trenyuh adalah benda yang ditungguinya dengan sabar di hadapannya. Sebuah timbangan badan. Dan wajah rentanya itu. Begitu pasrah, tenang, dan sabar. Bapak itu tidak tampak diburu apapun, bahkan di mata saya ia tampak tidak memerlukan apapun. Wajahnya begitu damai, walau nampak gurat kelelahan dan kegerahan.

Timbangan badan. Di tengah hilir mudik manusia dengan berbagai kepentingan dan urusan yang seolah tidak dapat ditunda lagi atau disela barang sedetikpun. Di tengah kebutuhan perut-perut lapar yang harus segera diisi. Dan panas terik matahari siang yang membuat orang ingin segera sampai ke tempat tujuan. Tak seorangpun rasanya di antara manusia-manusia yang sibuk berlalu lalang itu akan terpikir untuk menghampiri bapak tua itu dan menimbang berat badannya.

Saya menelan ludah, terasa kering dan tercekat. Hawa kemisikinan dan ketidakberdayaan tiba-tiba terasa begitu pekat menyekap hidung saya sehingga saya merasa tarikan napas di dada menjadi berat. Gerahnya udara kemarau Bandung seolah menambah rasa ketidakberdayaan itu. Tetapi kesabaran Bapak itu menunggu, dalam kepasrahannya, dalam usahanya yang begitu bersahaja, terasa menyejukkan hati saya sampai ke dalam tulang. Betapa cengengnya saya kalau harus menunggu sebentar saja. Gelisah mencari cara agar proses penantian itu bisa dikurangi semaksimal mungkin atau kalau perlu dipangkas sekaligus. Semuanya harus cepat dan efisien. Tetapi ingatan dan kenangan saya akan bapak tua yang menyewakan timbangan badan demi sepeser seratus rupiah untuk setiap pelanggan, di tengah teriknya mentari kota besar, dengan kesabaran dan ketenangan hingga ke ujung hari, telah mengubah cara pandang saya kepada sebuah proses menunggu. Menunggu melatih kesabaran jiwa, sebuah kesempatan untuk menemukan kembali jati diri kita yang sesungguhnya. Yaitu jati diri manusia yang dinilai karena ikhtiarnya, ketegarannya, dan kerelaannya, untuk menjalani hidup dan tantangan di dalamnya dengan mawas diri dan kerendahan hati.

uti
san donato,20 Agustus 09

Dagu yang cantik


Seorang ibu yang tidak saya kenal di trem yang saya naiki di tengah kota Milan menegur saya sambil berkata, “bella” sembari menunjuk dagu saya dan mengikuti bentuknya dengan isyarat tangan. Bella dalam bahasa Italia berarti ‘cantik’. Walau tidak bisa dipukul rata, orang Italia memang terkenal dengan keramahan dan kespontanan-nya.

Saya kaget, tak sadar mengangkat tangan saya untuk meraba dagu saya sendiri. Tidak seorangpun pernah mengatakan bahwa dagu saya cantik, bahkan tidak ibu saya dan suami saya sendiri. Satu kata singkat dan sikap simpatik ibu asing di trem itu telah mengubah persepsi saya terhadap bentuk wajah saya untuk selamanya. Sejak hari itu, setiap kali saya bercermin, apa yang saya pikirkan tentang wajah saya tidak pernah sama lagi. Saya baru menyadari setelah umur saya 38 tahun, bahwa wajah manis saya terbentuk antara lain karena bentuk dagu saya yang proporsional dan berbentuk seperti wajik. Dan itu berkat sepatah kata penuh keramahan seorang ibu Italia yang tak pernah saya kenal dan ketahui namanya, serta hanya bersama selama kurang lebih sepuluh menit di dalam trem.

Kita tak pernah tahu betapa besarnya pengaruh kata-kata yang baik dan sikap yang positif kepada sesama kita. Mungkin hanya didengarkan sambil lalu dan dilupakan kembali, tetapi mungkin juga mengubah hidup seseorang dan memenuhinya dengan semangat dan harapan baru dalam hidupnya.

Satu kata yang baik dan hangat di saat apapun tidak akan pernah memberikan dampak yang merugikan. Pakailah setiap kesempatan yang ada dalam hidup kita untuk membesarkan hati sesama dengan kata dan perbuatan yang baik.

Seseorang bersukacita karena jawaban yang diberikannya, dan alangkah baiknya perkataan yang tepat pada waktunya ! (Amsal 15 : 23)

Uti
San donato, 19 Agustus 09

Kontrak hidup



Hari-hari awal menginjakkan kaki pertama kali di Italia, saya selalu mengatakan kepada diri saya bahwa di tempat yang baru dan indah ini saya tidak akan tinggal selamanya. Kontrak suami saya dengan perusahaan tempatnya bekerja, yang membuat saya merantau ke negeri pizza ini, adalah untuk dua tahun. Menyadari keindahan dan kemajuan salah satu negara paling terkenal di Eropa karena kekayaan peninggalan budayanya ini, saya mengingatkan diri sendiri untuk tetap ingat akan jangka waktu saya dan berjanji kepada diri sendiri untuk tidak terlalu terbuai dalam kegembiraan sehingga menimbulkan keterikatan yang menyakitkan saat semua petualangan saya berakhir nanti.

Ketika kita lahir di dunia ini, sesungguhnya kita terikat dengan kontrak yang serupa. Kita tidak untuk selamanya berada di dunia ini. Kesempatan, kesehatan, masa muda, ingatan, kesuksesan pekerjaan, kecantikan, semuanya adalah hal-hal yang menyurut dengan berjalannya waktu. Semuanya dipercayakan kepada kita untuk digunakan dengan sebaik-baiknya untuk mengembangkan diri spenuh-penuhnya dan menjadi mitra Allah untuk merawat dan mengembangkan manusia dan alam ciptaanNya. Menjadi kepanjangan tangan-tanganNya untuk membuat dunia dan kehidupan menjadi lebih baik dan indah dengan cinta dan karya kita, seturut kehendakNya.

Namun seindah dan sehebat apapun perjalanan hidup kita, semuanya akan menuju ke titik yang sama yaitu kematian. Selesainya kontrak dengan masa muda, jabatan dan karir, kesehatan, bahkan hidup itu sendiri tidak perlu berjalan dengan menyakitkan bila kita mengisi kehidupan ini dengan sebaik-baiknya menurut tugas panggilan dari Allah Bapa sesuai teladan PuteraNya dan menyerahkan kembali dengan lepas bebas segala hal yang kita miliki sebagai hadiah – bukan hak milik yang harus dipertahankan kuat-kuat dan menganggapnya milik pribadi yang mutlak – sampai Yang Memberi memintanya kembali dari kita.

Karena hidup yang tidak akan berakhir itu bukan di dunia ini, maka segala energi, waktu, dan perhatian kita sudah selayaknya tidak hanya dikerahkan untuk menimba ilmu dan menumpuk kekayaan, tetapi juga terus menerus diarahkan kepada jalan menuju hidup yang kekal itu. Hidup bersama Tuhan di rumah Bapa, yang sudah disediakan oleh Yesus putra Allah Bapa bagi yang percaya kepadaNya dan mengikuti jalan-jalanNya. Itulah rumah kita yang sesungguhnya.

Di rumah BapaKu banyak tempat tinggal. Jika tidak demikian, tentu Aku mengatakannya kepadamu. Sebab aku pergi ke situ untuk menyediakan tempat bagimu. Dan ke mana Aku pergi, kamu tahu jalan ke situ (Lukas 14 : 2, 4)

Uti
San donato, 19 Agustus 09