Tuesday, January 19, 2010

One fine morning


It was a fine morning. A sunny, warm, and peaceful kind of morning I always praise and love to begin a new day.

I sat on my favorite couch to start working, when I heard a loud noise coming from outside my cozy and beautiful apartment, a residence with beautiful trees surround it and tidy lawn of well-kept groomed grass. A home I newly resided with my husband as our new life in a new place far from home, regarding my husband’s new job in a foreign country, began.

Hearing the kind of noise that was went on and on, I believed that someone was trying to fix or just trying-out his or her motorbike. Whatever the situation of the motorbike might be, it was allowing the deafening voice from the machine filling the quiet surrounding of my home and I believed others too. Even worse, the smell of gasoline from its fumes gradually interfered with the coolness and freshness of my perfect morning.

A bit irritated, I could not find a way to escape from the situation that bothered me much. Being a stranger in a new country with totally different culture and language, I could barely think of any solution to my problem. I only knew (or decided) that there was someone inconsiderate outside my house who insisted to keep his or her machine producing that disturbing smell and noise for prolonged time.

In an effort to avoid my negative thoughts fanning my flame, I finally rose from my couch and decided to at least take a peek through my window to see the perpetrator.

Then I was surprised, not only by what I saw, but to the total embarrassment I felt in my heart. It was not a motor-bike at all; it was a man with his grass-cutting machine, strolling around the lawn of our apartment with his noisy tools, tidying the grass and plants I admire every morning. By doing his job, he letting himself to be exposed by the deafening noise and choking smell of gasoline fumes. He is the one that makes my lawn admirable and tidy, the one that perfects my day and my morning all at once, the one that once out of my hasty and narrow judgment, was being granted as a perpetrator.

I have decided without asking and believed without searching. I leaned only to my own narrow perspectives. In this life, how many times I judge my fellow human being as an ignorant friend, or an inconsiderate mother, or a careless driver just by what I hear or smell? Or judge certain situation in life as bad or rubbish?

Have I risen and looked with the eyes of my heart, or study more carefully, what are the reasons behind all the scenery and persons I catch with merely my physical senses or my own prejudice in a very short time, before deciding what kind of persons they are ? I'm not being fair. I think anyone who is not fair in mind and not in a fair position, has no rights to judge and is not capable to judge. After all, I don't have the whole picture, yet. And I might never have it.

What lessons might exist in a mundane experience? When Jesus looked up at the tree where Zaccheus climbed and waited for Him to be able to see Him, what did Jesus see? Being marginalized in the society, Zaccheus the tax collector was a man with a deep longing in his heart. It has been overlooked by the society who judged him only by what they think he is without any further considerations. Only a heart with a clear conscience out of love and empathy like Jesus has shown us, can give us the fair truth and beauty about our fellows and life experiences.

In my being still, silent, and calm, I own more space, more time, more consideration, and finally more understanding, to see my fellows in all their circumstances with my empathy, with the eyes of my heart, where Jesus dwells, before giving any judgment, at all.

Uti
Milan, around end of 2008

Wednesday, January 6, 2010

Yang tertinggal dari kisah Natal


“Jo, jadi apa rencanamu untuk berbuat kebaikan di hari menjelang Natal ini “ tanyaku kepada keponakanku Jojo yang baru berumur 6 tahun.

Sebagai ide acara Natal keluarga tahun ini, aku dan kakakku meminta para keponakan kami untuk memikirkan dan melakukan satu perbuatan baik kepada sesama, terutama sesama yang membutuhkan, untuk kemudian pengalaman itu diceritakan dan disharingkan pada acara Natal keluarga sebelum acara membuka kado-kado Natal dimulai.

Walaupun masih sangat belia, Jojo bersemangat menanggapi ide kami dan tampak antusias untuk berpartisipasi. Ia menjawab dengan mata berbinar dan mulut terbuka lebar sambil sedikit berjinjit meninggikan badannya yang mungil seolah-olah khawatir aku yang jauh lebih tinggi darinya tidak mendengar perkataannya. Itu adalah gaya khasnya bila sedang bersemangat.

“Jojo minta sama Eyang supaya membelikan mobil-mobilan untuk teman Jojo yang cuma punya satu mainan mobil-mobilan”

Aku terdiam sejenak. Ada sedikit rasa kecewa di hati dengan jawaban si kecil Jojo yang bersemangat ini, tetapi aku menegur diriku sendiri untuk bersikap hati-hati. Memangnya jawaban seperti apa yang kuharapkan dari seorang anak yang baru kelas 1 SD? Tapi aku menjadi tergelitik untuk bertanya lebih jauh.

“Itu bagus sekali Jo, tetapi mengapa Jo ?”
“Yaa.. soalnya teman Jojo itu mobil-mobilannya cuma satu, sedang punya Jojo...banyaakkk…”
“Iya, Tante tahu Jojo punya banyak sekali mainan mobil-mobilan, maka yang Tante tanyakan adalah mengapa Jojo minta Eyang yang membelikan mainan mobil-mobilan buat temanmu itu. Mengapa bukan Jojo sendiri yang merelakan salah satu mobil-mobilan Jojo yang banyak itu untuk diberikan kepada temanmu. Bukankah Jojo sayang kepada temanmu itu ? Kalau Jojo sayang, pasti Jojo tidak keberatan untuk berkorban memberikan satu saja mobil mainanmu dari koleksimu yang sudah berjumlah 30 buah itu”

Jojo terdiam, dia nampak berpikir keras. Binar matanya tampak meredup dan bibirnya yang tadi merekah perlahan-lahan terkatup. Aku tidak tega melanjutkan pembicaraan dan menuntut Jojo untuk terus menjawab sesuai dengan harapanku.Bagaimanapun aku mungkin sudah berharap terlalu banyak. Bagaimanapun juga aku sudah berusaha untuk mengajak Jojo berpikir mengenai nilai pengorbanan. Bagaimanapun aku sangat menghargai semangat dan antusiasmenya untuk berpartisipasi dalam memikirkan sesama yang lebih berkekurangan dan berbuat kebaikan untuk mereka. Mungkin di kesempatan yang lain aku bisa membantu Jojo untuk bisa mengalami indahnya memberi dan merelakan benda yang kita sukai untuk membahagiakan orang lain. Aku segera berlutut untuk memeluk keponakanku yang menggemaskan dan polos itu sambil berkata, “Ya udah nggak apa-apa Jo, Tante bangga kepada Jojo yang bersimpati kepada teman yang lebih tidak punya dari Jojo dan ingin supaya temanmu itu juga bisa bergembira seperti kamu.”

Dalam hatiku aku merasakan keharuan dan penyesalan yang menyesak di dada. Aku telah sempat bersikap menuntut kepada anak-anak supaya mereka memikirkan dan melakukan kebaikan dan pengorbanan tanpa melihat lebih jauh apakah mereka sudah siap untuk itu. Aku tidak melihat kepada diriku sendiri, kepada siapa diriku di hadapan Tuhan dan sesama. Apakah aku juga sudah melakukan pengorbanan merelakan waktu, benda kesayangan, hobi, energi, untuk berbuat kebaikan dan membahagiakan sesama, atau untuk sekedar menyatakan kepedulian kepada mereka. Sedangkan kalau sudah duduk asyik di hadapan laptop untuk menulis, beranjak sebentar saja untuk menelpon teman yang sedang menantikan telponku, atau mengunjungi tetangga baru di sebelah rumahku yang tampaknya kesepian, bahkan untuk sebentar saja bangkit membuatkan jahe panas yang diminta suamiku saja aku terkadang ogah-ogahan. Dalam pikiranku, memberikan satu saja dari mobil-mobilan yang sudah banyak nampaknya sepele. Tetapi di mata Jojo, melepaskan sebuah mobil koleksinya jangan-jangan sama sukarnya dengan bagiku mengorbankan satu dari koleksi buku atau sepatuku yang sangat aku sukai dan berharga bagiku. Apakah aku akan siap atau masih harus berjuang untuk melepasnya dengan rela tanpa mengeluh. Mengapa aku mengajarkan anak-anak hal-hal yang aku sendiri belum tentu mampu melakukannya dengan baik ? Mengapa anak-anak harus menjadi sasaran pembelajaranku dan percobaanku untuk hal-hal yang sesungguhnya harus kukuasai dulu dengan baik sebelum menuntut anak-anak untuk melakukan hal yang sama ? Siapakah aku ini meminta Jojo melakukan kebaikan? Jangankan seorang malaikat yang mungkin lebih berhak untuk meminta manusia melakukan kebaikan,sebagai seorang manusia pun aku masih dalam keadaan babak belur jatuh bangun memperbaiki kebiasaan-kebiasaan buruk yang diulang-ulang.

Saat aku memeluk Jojo dengan penyesalan, aku menyadari bahwa anak-anak adalah cerminan dari kehidupan kita sendiri sebagai manusia dewasa. Keterbatasan mereka adalah keterbatasan kita juga. Bercermin kepada mereka adalah suatu pembelajaran untuk mendidik diri sendiri dan membereskan PR-PR kita sebagai pribadi terlebih dahulu sebelum membimbing mereka menuju kedewasaan yang seutuhnya. Berkebalikan dari paham yang lebih umum dalam dunia kita, orang dewasa justru berhutang belajar kepada anak-anak supaya justru dari kepolosan, keceriaan, dan antusiasme mereka yang apa adanya terhadap hidup dan kehidupan itu, aku belajar menjadi pribadi yang dewasa dan bertanggung jawab dan bukan hanya menjadi tua secara otomatis karena berjalannya waktu.

uti-yang sedang di perantauan dan rindu kepada keponakan-
Houston, 6 Januari 2010

Sunday, January 3, 2010

Tiga Raja dari Timur


Sejak kecil saya senang sekali memandangi langit malam. Bintang-bintang yang bertaburan di sana selalu membuat saya terpesona dan mampu menahan kepala saya dalam posisi mendongak bermenit menit lamanya. Benda-benda di langit yang nampaknya begitu jauh, tak tergapai, dan penuh misteri itu memunculkan beribu pertanyaan yang mengasyikkan di kepala saya. Setelah lulus dari bangku SMA, saya menjadi mahasiswa jurusan astronomi (ilmu perbintangan) di satu-satunya perguruan tinggi di Indonesia yang mempunyai bidang studi astronomi sebagai salah satu jurusannya. Walaupun ilmu ini ternyata sangat sulit bagi saya dan saya lulus dengan susah payah, ilmu astronomi tetap menjadi ilmu yang paling menarik perhatian saya lama setelah saya lulus dari jurusan astronomi dan berkarya di bidang lain.

Hari ini tanggal 3 Januari 2010, gereja merayakan Epifani, atau hari raya penampakan Tuhan, dimana tiga orang majus dari Timur hadir dari jauh membawa persembahan dupa, mas, dan mur untuk Bayi Yesus, Sang Raja semesta alam yang hadir di dunia dalam wujud bayi lembut yang sederhana di sebuah kandang hewan. Saya senang dengan perayaan Epifani, karena dalam perayaan ini profesi astronom menjadi perhatian Gereja dan dikenang sebagai tiga ahli bintang (orang majus atau raja dari Timur) yang mengamati fenomena bintang terang di langit dan menghubungkannya dengan kelahiran Sang Juruselamat yang akan membawa dunia keluar dari kegelapan dosa dan maut.

Kotbah Romo di gereja kami, Katedral Sacred Heart, Keuskupan Galveston-Houston hari ini juga menyinggung penjelasan dari segi astronomi tentang kemungkinan fenomena langit yang dilihat sebagai bintang terang oleh ketiga majus ini. Alternatif penjelasan ilmiahnya adalah sebuah ledakan bintang (supernova), atau sebuah komet yang sedang melintas, atau beberapa planet di tata surya yang berada dalam lintasan yg sejajar sehingga tampak sebagai bintang yg sangat terang dari bumi. Tetapi apapun kemungkinan penjelasannya, Tuhan berbicara lewat fenomena alam, dan alam semesta dengan segenap isinya dan keunikannya ini adalah juga surat cinta Tuhan kepada manusia dimana kita bisa membaca apa yang menjadi uneg-uneg, keinginan, harapan, dan rencana-rencana Tuhan tentang alam ciptaanNya. Kesadaran yang dibawa oleh kisah tiga raja dari Timur ini makin mengundang kekaguman saya kepada alam semesta ciptaan Tuhan khususnya langit malam dengan bintang-bintangnya yg bertaburan dg kilauannya yang berpendar dalam keheningan dan dinginnya suasana malam yang syahdu.

Manusia sering meragukan keberadaan Tuhan. Sering mempertanyakan apakah Tuhan memang ada dan berkuasa atas hidup manusia dengan segala sukadukanya. Tetapi saya sudah lama berhenti bertanya. Ketika leher saya mulai pegal karena terlalu lama mendongak melihat ke langit malam yang selalu penuh pesona bagi saya, saya merasa gembira dan bersyukur, bahwa Tuhan mempunyai begitu banyak cara yang sangat mudah kita temui di sekeliling kita, bahwa Dia hadir menyertai kita selalu, dan selalu menyayangi kita. Bahkan di saat alam tampak marah dengan fenomena banjir, gempa atau tsunami. Ada kasihNya yang melampaui segala pengertian di sana. KehadiranNya yang nyata melalui alam dan sesama, keluarga dan teman, melalui Gereja dan Ekaristi, melalui Kitab Suci dan para Kudus, menyelimuti hati saya dengan kehangatan dan kepastian akan penyertaan dan kehadiran Tuhan yang penuh cinta. Dan seperti halnya semangat ketiga majus dari Timur, saya rindu melakukan perjalanan jauh dan perjuangan berliku, untuk mengalami kasihNya lebih dalam lagi dan menyaksikan kebesaran dan pemeliharaanNya yang indah kepada dunia.

Uti
Houston, 3 Januari 2010

Friday, January 1, 2010

Harapan, hadiah tahun baruku


Tahun demi tahun berganti. Hmm..apa ya bagusnya tahun yang berganti ? Lalu akan berujung kemana waktu yang terus berjalan ini ya ? Sekilas peristiwa pergantian tahun adalah sesuatu yang rutin saja, seperti juga pergantian hari. Sama rutinnya dengan saat saya menyobek lembaran kalender di dinding. Menyobek atau membalik lembaran yang sudah lewat harinya sambil mengenang peristiwa-peristiwa yang telah terjadi di dalamnya. Lembaran kalender yang telah lewat waktunya kadang tidak dibuang, tetapi tetap disimpan karena gambarnya bagus, dan memori akan peristiwa di dalamnya terlalu indah atau pelajarannya terlalu dalam untuk dilupakan. Sambil memandangi lembaran yang baru, saya sering bertanya-tanya apa yang akan terjadi di lembaran waktu yang baru yang masih membentang di hadapan. Sering sambil berharap-harap berbagai keinginan dan rencana saya, akan berjalan sesuai dengan yang saya inginkan di tahun yang baru.

Harapan. Ya, mungkin itulah yang membuat sebuah momen pergantian tahun selalu menarik dan bukan sekedar sebuah rutinitas menyobek kalender di dinding. Harapan selalu mampu membuat rencana-rencana yang telah gagal terlaksana, dijadwal dan ditata ulang. Harapan membuat keinginan-keinginan yang tidak terjadi di waktu yang lalu menemukan kemungkinan untuk membuncah dan berbuah lagi. Harapan mampu membuat luka-luka dan kekecewaan di waktu yang telah lewat mereda dan mengering dengan kemungkinan untuk tersembuhkan. Harapan selalu mengajak saya untuk terus hidup dan berjalan. Terus mencoba berdiri lagi, walaupun telah jatuh. Walaupun ada kegagalan dan luka. Walaupun ada penyesalan dan kekeliruan. Ya, waktu yang berjalan memungkinkan harapan berbunga dan berbuah. Memungkinkan kesempatan kembali terbuka. Mungkin harapan adalah hadiah Tuhan buat manusia untuk terus bertahan dalam perjalanan waktu dalam kehidupan ini. Harapan adalah inti dari kehidupan itu sendiri. Tanpa harapan tidak ada kehidupan, dan tanpa harapan pergantian tahun dan perjalanan waktu menjadi tidak ada maknanya lagi.

Tahun akan terus berganti. Bumi mungkin tetap akan makin panas. Dunia mungkin masih akan banyak peperangan dan permusuhan. Kesulitan dan bencana mungkin masih akan datang silih berganti. Tetapi Tuhan sejak awal telah melihat bahwa segala sesuatu adalah baik. Dan di dalam Tuhan ada harapan. Dia membiarkan waktu terus berjalan tetapi tidak membiarkan manusia berjalan seorang diri mengarunginya. Tuhan menaruh harapan di dalam hati saya. Harapan bahwa semuanya akan menjadi baik dan selalu lebih baik. Dengan harapan akan kebaikan seperti saat Tuhan menjadikan saya dan dunia ini pada mulanya, saya akan berjalan dalam kebaikan dan menuju kebaikan. Harapan membuat semua itu mungkin sekalipun kelihatannya dunia ini bergerak ke arah yang sebaliknya. Tetapi di situ Tuhan bekerja supaya saya terus bertumbuh. Tuhan tidak pernah menyerah. Karena Tuhan sendirilah Harapan itu. Maka harapan bersama Tuhan dan di dalam Tuhan tidak akan pernah menjadi harapan yang kosong dan sia-sia. Demikian juga saya tidak akan menyerah. Untuk terus hidup dan berjalan dalam kebaikan. Harapan akan memungkinkan jalan-jalan kebaikan itu terus terbuka. Karena Sang Sumber Harapan berjalan bersama kita, menjadi bekal yang selalu menggairahkan seluruh perjalanan kita menembus waktu dan kehidupan.

Uti,
Houston, 1 Januari 2010