Sunday, January 3, 2010

Tiga Raja dari Timur


Sejak kecil saya senang sekali memandangi langit malam. Bintang-bintang yang bertaburan di sana selalu membuat saya terpesona dan mampu menahan kepala saya dalam posisi mendongak bermenit menit lamanya. Benda-benda di langit yang nampaknya begitu jauh, tak tergapai, dan penuh misteri itu memunculkan beribu pertanyaan yang mengasyikkan di kepala saya. Setelah lulus dari bangku SMA, saya menjadi mahasiswa jurusan astronomi (ilmu perbintangan) di satu-satunya perguruan tinggi di Indonesia yang mempunyai bidang studi astronomi sebagai salah satu jurusannya. Walaupun ilmu ini ternyata sangat sulit bagi saya dan saya lulus dengan susah payah, ilmu astronomi tetap menjadi ilmu yang paling menarik perhatian saya lama setelah saya lulus dari jurusan astronomi dan berkarya di bidang lain.

Hari ini tanggal 3 Januari 2010, gereja merayakan Epifani, atau hari raya penampakan Tuhan, dimana tiga orang majus dari Timur hadir dari jauh membawa persembahan dupa, mas, dan mur untuk Bayi Yesus, Sang Raja semesta alam yang hadir di dunia dalam wujud bayi lembut yang sederhana di sebuah kandang hewan. Saya senang dengan perayaan Epifani, karena dalam perayaan ini profesi astronom menjadi perhatian Gereja dan dikenang sebagai tiga ahli bintang (orang majus atau raja dari Timur) yang mengamati fenomena bintang terang di langit dan menghubungkannya dengan kelahiran Sang Juruselamat yang akan membawa dunia keluar dari kegelapan dosa dan maut.

Kotbah Romo di gereja kami, Katedral Sacred Heart, Keuskupan Galveston-Houston hari ini juga menyinggung penjelasan dari segi astronomi tentang kemungkinan fenomena langit yang dilihat sebagai bintang terang oleh ketiga majus ini. Alternatif penjelasan ilmiahnya adalah sebuah ledakan bintang (supernova), atau sebuah komet yang sedang melintas, atau beberapa planet di tata surya yang berada dalam lintasan yg sejajar sehingga tampak sebagai bintang yg sangat terang dari bumi. Tetapi apapun kemungkinan penjelasannya, Tuhan berbicara lewat fenomena alam, dan alam semesta dengan segenap isinya dan keunikannya ini adalah juga surat cinta Tuhan kepada manusia dimana kita bisa membaca apa yang menjadi uneg-uneg, keinginan, harapan, dan rencana-rencana Tuhan tentang alam ciptaanNya. Kesadaran yang dibawa oleh kisah tiga raja dari Timur ini makin mengundang kekaguman saya kepada alam semesta ciptaan Tuhan khususnya langit malam dengan bintang-bintangnya yg bertaburan dg kilauannya yang berpendar dalam keheningan dan dinginnya suasana malam yang syahdu.

Manusia sering meragukan keberadaan Tuhan. Sering mempertanyakan apakah Tuhan memang ada dan berkuasa atas hidup manusia dengan segala sukadukanya. Tetapi saya sudah lama berhenti bertanya. Ketika leher saya mulai pegal karena terlalu lama mendongak melihat ke langit malam yang selalu penuh pesona bagi saya, saya merasa gembira dan bersyukur, bahwa Tuhan mempunyai begitu banyak cara yang sangat mudah kita temui di sekeliling kita, bahwa Dia hadir menyertai kita selalu, dan selalu menyayangi kita. Bahkan di saat alam tampak marah dengan fenomena banjir, gempa atau tsunami. Ada kasihNya yang melampaui segala pengertian di sana. KehadiranNya yang nyata melalui alam dan sesama, keluarga dan teman, melalui Gereja dan Ekaristi, melalui Kitab Suci dan para Kudus, menyelimuti hati saya dengan kehangatan dan kepastian akan penyertaan dan kehadiran Tuhan yang penuh cinta. Dan seperti halnya semangat ketiga majus dari Timur, saya rindu melakukan perjalanan jauh dan perjuangan berliku, untuk mengalami kasihNya lebih dalam lagi dan menyaksikan kebesaran dan pemeliharaanNya yang indah kepada dunia.

Uti
Houston, 3 Januari 2010

No comments:

Post a Comment