Friday, March 12, 2010

Learn to Talk To Each Other, Not At Each Other


Suamiku pulang dari kantor hari ini dengan wajah terheran-heran. Ia mendapatiku sedang membungkuk di depan jajaran pot-pot mungil yang berisikan tanaman-tanaman hias kami, yang baru dua minggu lalu kami beli untuk menghias rumah baru yang kami tempati. Yang membuatnya heran adalah karena ia mendapati aku sedang bercakap-cakap dengan salah satu tanaman kami, yang daunnya sedang terkulai layu karena aku lupa menyiraminya selama beberapa hari gara-gara masih sibuk dengan urusan-urusan di tempat yang baru

“Sayang, kamu ngapain…?” suami ku bertanya dengan khawatir, mungkin karena sebelumnya dia tidak pernah melihat aku berbicara dengan tanaman.

Aku tidak segera menjawab, masih sibuk berbicara dengan nada memohon kepada tanaman yang daun-daunnya tertunduk lesu itu.

"Please, be alive, I am so sorry, I apologize that I have forgotten you, please don’t be dead, I don’t mean to abandon you. I’m just too busy and I missed to water you every two days. Please, be healthy again,”, aku menghiba-hiba sambil membelai-belai daun-daun yang layu itu dan menepuk-nepuk daun yang masih tegak, walau yang tegak hanya tinggal satu helai saja.

Suamiku semakin penasaran, tetapi ia sudah mulai paham karena terbiasa dengan gelagatku yang kadang suka nyentrik dengan tiba-tiba.
“Waduh, mana pakai bahasa Inggris lagi, mana ngerti tuh” serunya dengan geli.

“Ssstt..jangan keras-keras Yang kalau ngomong, nanti tanamannya nggak dengar suaraku” bisikku dengan agak kesal, “ Ini kan di Amerika, berarti tanaman di sini sehari-hari sejak awal tumbuhnya pasti sudah terbiasa mendengar pembicaraan bahasa Inggris.”

Walau mulai geli sendiri dengan penjelasanku sendiri dan mulai merasa tidak logis, terutama tentang penggunaan bahasa Inggris, aku melanjutkan menjelaskan pada suami dengan suara masih dipelankan, “Ini aku sedang berusaha menyemangatinya. Aku pernah membaca, tanaman juga bisa mengerti kalau diajak bicara atau diputarkan musik, dan bisa tumbuh subur kalau sering diajak bicara yang baik-baik”

Suamiku tampak semakin geli, tapi dia lalu mengangkat bahu dan melangkah ke dalam rumah, “Yaah besok-besok jangan kelupaan lagi nyiram. Tapi kalau Yayang terus di situ, aku dah lapar, kita makan malamnya apa nih? ”

Akhirnya aku beranjak mengikuti suamiku ke dapur. Aku masih berharap kata-kata lembutku kepada tanaman yang hampir mati itu akan berhasil dan esok pagi aku akan melihatnya segar kembali. Aku sebenarnya tidak terlalu yakin, tetapi paling tidak aku sudah berusaha dan setidaknya hal itu mengurangi perasaan bersalahku karena telah lupa menyiram tanaman-tanaman itu selama beberapa hari.

Sambil menikmati makan malam berdua, aku masih melamun tentang tanamanku. Apakah dia sudah baikan ya sekarang ? Tapi ada hal lain yang mengganggu pikiranku saat itu.

“Sayang, melamun ya, ayo makan”, suamiku menegurku sambil asyik mengunyah tahu goreng kesukaannya dan mengambil sepotong lagi.

“Enggak tahu ya, rasanya kok jadi nggak selera makan. Rasanya hari ini banyak yang nggak bener”, sahutku sambil meletakkan sendok dan meneguk segelas air putih. “Tadi siang balasan email seorang teman agak mengagetkanku. Aku menulis baik-baik tetapi rupanya dia salah paham dan mengatakan bahwa sementara dia tidak mau membaca email-email dariku lagi. Aku sangat terkejut mendapat reaksi seperti itu. Sudah kujelaskan bahwa aku tidak bermaksud melukainya, aku hanya sekedar memberikan masukan dan berdoa untuknya, tetapi dia telah memutuskan sikapnya, untuk tidak menghubungiku dulu. Mungkin juga dia bosan ya, kami kan email-emailan hampir setiap hari. Ada saja yang kami obrolkan. Tetapi baru kali ini aku mendapat balasan semacam itu dari seorang teman baik” aku langsung menyambung dengan curhat panjang lebar kepada suami, seperti biasanya.

Suamiku menjawab dengan ringan, “Yah, memang komunikasi melalui email kadang bisa salah dimengerti, Yang. Jangankan komunikasi tertulis yang tidak bisa segera diklarifikasi, komunikasi yang muka dengan muka saja bisa salah tangkap. Lha kita kalau sedang bertengkar itu kan contohnya….” Aku memandangi suamiku yang berbicara dengan ringan tanpa beban, mencoba meresapi kata-katanya. Mungkin kaum adam memang lebih bisa bersikap EGP (emang gue pikirin) daripada kaum hawa, pikirku. Apa yang kuanggap serius, baginya mungkin hanya setengah rius atau mungkin seperempat rius saja, terutama yang berhubungan dengan relasi antara teman.

Kami menyelesaikan makan malam kami dan sambil beranjak ke dapur pikiranku masih terus berputar-putar sekitar pembicaraan kami tentang komunikasi. Tiba-tiba kudengar suara suamiku berseru dari halaman depan, “Yang, tanamanmu segar lagi Yang, daun-daunnya telah tegak kembali” . Aku meninggalkan tumpukan piring yang baru saja hendak kucuci dan mengikuti suamiku yang sedang mengamati tanaman yang tadi kuajak bicara, yang sekarang sudah kembali segar dan tidak layu lagi. Aku ikut berseru gembira, antara lega dan takjub. Entah karena air yang kusiramkan, entah karena kata-kata sayang yang aku bisikkan. Mungkin keduanya. Tetapi yang jelas tanamanku selamat, tidak jadi mati. Dan aku tidak perlu menunggu hingga esok untuk menyaksikan keajaiban itu.

Dengan bersemangat aku kembali membelai daun-daun tanaman yang telah tegak hidup kembali itu dengan perasaan lega. “Thank you, my dear plant, for listening to me and not giving up. From now on, I promise to take care of you better,” bisikku. Dan aku pun menyadari kata-kataku sendiri tentang “listening” . Ya, seni mendengarkan. Mungkin tanamanku ini sungguh mendengarkan dalam keheningannya. Ia menyerap semua kata-kataku dan bahkan karena ia sendiri diam, ia mungkin mampu juga menangkap getaran-getaran kasih dan penyesalan di dalam kata-kataku, sehingga ia bisa hidup kembali karena mendapat energi kasih sayang. Ah, entahlah, aku tidak tahu banyak tentang tanaman. Namun yang pasti, hari ini tanamanku mengajarkan seni mendengarkan kepadaku. Mendengarkan juga berarti siap untuk diam dan melupakan apa yang aku sendiri sedang ingin katakan, sehingga aku bisa sungguh-sungguh berkonsetrasi kepada perkataan lawan bicaraku. Hanya dengan begitu aku mampu memahami apa yang sedang bergejolak di balik kata-kata sesamaku yang sedang berbicara denganku dan menempatkan diri pada posisinya, sehingga aku dapat menjadi kawan seperjalanan yang penuh pengertian baginya.

Mungkin itu yang terjadi pada sahabatku yang sedang ngambek hari ini, sehingga dia memutuskan untuk tidak berkomunikasi dulu denganku. Mungkin dia merasa aku tidak sungguh-sungguh menyimak apa yang disampaikannya, karena aku terlalu sibuk mengutarakan pikiran-pikiranku sendiri kepadanya. Mungkin banyak masalah yang timbul di dalam kehidupan ini dan juga di dalam pernikahan, karena kita belum saling mendengarkan dengan sungguh-sungguh satu sama lain. Mungkin karena kita lebih asyik dengan pemikiran-pemikiran dan pendapat-pendapat kita sendiri. I think it is time to learn to talk to each other, not just at each other. Kurasa melalui saling mendengarkan dengan sungguh-sungguh, saling pengertian itu terjadi, dan banyak kesalahpahaman dapat dihindari.

Kemudian aku kembali tersadar akan sesuatu, haahh...oh iya ya, sedari tadi aku yang sibuk bicara sendiri kepada suamiku, sampai lupa menanyakan bagaimana harinya di kantor hari itu, waakss, kasihan suami disuruh mendengarkan terus, lha kapan gilirannya cerita. Aku segera berseru-seru mencarinya, "Yaanngg...ceritamu sendiri hari ini bagaimana yaaa..."

Uti,
Houston, 12 Maret 2010

No comments:

Post a Comment