Wednesday, March 10, 2010

Hadiah di Balik Kesukaran


Ketika aku masih lajang, pikiranku mengelana, hatiku merindu, mencari belahan jiwa dambaan hati. Saat itu ada energi mencinta yang rasanya membutuhkan tempat pencurahan dan di situlah aku membutuhkan seorang kekasih hati yang menempati tempat khusus selain tempat yang telah diisi oleh kasih orangtua, sahabat dan saudara-saudaraku. Curahan rasa cinta dan sayangku yang khusus itu juga kuharapkan mendapatkan balasan rasa sayang dan cinta yang kubutuhkan dalam menjalani hidup ini, rasa cinta dan sayang yang tidak dapat diberikan oleh cinta orangtua dan saudara serta sahabat-sahabatku. Kebutuhan akan cinta yang spesial itu adalah anugerah Tuhan kepada manusia, supaya manusia saling mencinta sebagai suami istri dan bersatu untuk melanjutkan generasi manusia sebagai ciptaan yang paling mulia dan secitra denganNya.

Aku pernah membaca di situs IEC (Indonesia Edu Center) di Facebook, bahwa saat manusia kasmaran atau dimabuk cinta, bagian otak yang bertugas menilai secara sehat dan obyektif menjadi tidak berfungsi. Bagian itu disebut dengan The Social Assessment Mediator. Mungkin itulah sebabnya setelah menikah aku merasa kadang-kadang kaget menemukan sifat-sifat suamiku yang tidak sesuai dengan harapanku. Sebenarnya sifat pasanganku itu sejak dulu ya begitu, tapi di saat aku sedang kasmaran aku tidak mampu melihatnya. Dalam sumber bacaan itu juga dinyatakan, itu adalah bagian dari rencana Tuhan yang agung untuk manusia, supaya manusia dapat terus saling jatuh cinta, menikah, dan berketurunan untuk menjadi pendampingNya dalam mengembangkan kehidupan yang mulia di atas bumi ciptaanNya ini.

Sekarang setelah aku menemukan dambaan hatiku dan menjalani hidup pernikahan, hatiku tidak lagi menghauskan cinta dan mengelana mencari sasaran curahan rasa cintaku. Gejolak cinta yang dulu mengembara tak tentu arah kini telah berlabuh dengan damai di pantai cinta yang kunikmati bersama suamiku. Namun, gejolak cinta yang telah berlabuh itu bukan lagi cinta yang sama yang kumiliki saat lajang dulu. Cinta itu telah tumbuh dan bertransformasi seiring pertumbuhan aku dan pasanganku sebagai pribadi dan sebagai pasangan. Perbedaan pendapat, perbedaan persepsi dan kebiasaan, perbedaan prioritas, dan perbedaan keinginan, semuanya telah mengasah cinta kami sehingga semakin lama semakin berorientasi kepada kepentingan pasangan dan bukan lagi pada diri sendiri saja. Saat semua perbedaan dan konflik itu terjadi, rasanya menyakitkan. Tetapi setelah kami berusaha menjembatani semuanya dengan kebesaran hati dan pengorbanan satu sama lain, aku dapat melihat bahwa semua itu diperlukan agar kami bertumbuh.

Aku sadar bahwa pernikahan dengan segala suka dukanya dan usaha untuk terus mencari kesepakatan bersama dengan saling mengalah telah membuatku belajar untuk hidup tidak hanya bagi kesenangan dan ego diri sendiri. Pemahaman ini membuatku mensyukuri pernikahanku, walaupun setelah 11 tahun menikah aku dan suamiku belum berhasil mempunyai anak, karena kelainan yang terdapat di masing-masing dari fungsi reproduksi kami. Aku percaya Tuhan mempunyai banyak tujuan dalam pernikahan, dan anak bukan satu-satunya tujuan, walau kehadiran anak-anak adalah karuniaNya yang sangat indah yang membuat kehendak Tuhan untuk senantiasa menjadikan manusia menjadi mitraNya dalam memelihara kehidupan ini dapat terus berlangsung.

Saat itulah aku juga menyadari ada kebenaran dalam artikel yang kubaca itu, yaitu mengapa dalam tahap kasmaran dan mabuk kepayang di masa pacaran, Tuhan mengijinkan bagian otak untuk mengenali sifat dasar pasanganku secara obyektif tidak berfungsi. Memang setelah menikah aku terkejut dan sempat kecewa. Namun aku tidak diharapkan untuk mundur dan tenggelam dalam kekecewaan, supaya di dalam ikatan pernikahan yang tak terceraikan itu aku belajar menjadi matang dan tumbuh bersama pasanganku menjadi pribadi yang peduli, siap berkorban, toleran, dan matang secara mental dan spiritual.

Maka segala perbedaan, kesalahpahaman, sakit hati, atau ketidakcocokan bukanlah hal-hal yang menjustifikasi ku untuk mundur dan mencari cinta yang lain. Itu semua justru adalah bagian dari keindahan cinta yang diberi kesempatan untuk dimurnikan, tahan uji, dan membentuk kami menjadi manusia yang berdaya tahan dengan kasih yang murni seperti kasihNya sendiri kepada setiap manusia. Tuhan ingin aku merasakan dan mengalami kasihNya dengan begitu sempurna yang hanya bisa kualami kalau aku belajar mengasihi seperti Dia sudah mengasihiku. Itu semua adalah hadiahNya bagi yang bertahan dalam ketekunan, pengharapan, dan pengorbanan. Dalam terang kasih Tuhan itu dimana aku belajar untuk mengalah dan menerima, aku justru dimampukan untuk melihat bahwa perbedaan yang ada adalah indah dan memperkaya.

Semoga dalam menghadapi masa-masa sulit di dalam pernikahan, aku tidak mundur dan menyerah, tetapi terus bertahan dengan penuh semangat dan niat kasih yang tulus, sambil mengejar hadiah indah yang tersembunyi di balik kesukaran-kesukaran yang terjadi di dalam pernikahan.

No comments:

Post a Comment