Tuesday, May 31, 2011

Bunda Maria, Bunda Allah, Bundaku


Kata Maria, “Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu” (Lukas 1 : 38)

“Maaf, Pak, untuk bisa membuka informasi rekening Anda di bank kami, kami harus bertanya dulu kepada Bapak sebuah pertanyaan ini: “Siapa nama ibu kandung Bapak?” Saya ikut mendengarkan percakapan gadis pegawai customer service sebuah bank itu dengan ayah saya. Saya mendengar Ayah bukannya menjawab pertanyaan itu, melainkan malah ganti bertanya (ayah saya memang sangat hobi mempertanyakan segala sesuatu), “Kenapa ya Mbak, pertanyaan yang menjadi kode rahasia itu selalu nama ibu kandung, mengapa bukan yang lainnya; nama ayah kandung, misalnya?” Gadis customer service itu menjelaskan dengan sabar, “Ya Pak, ibu kandung yang melahirkan kita itu kan pasti hanya satu ya Pak, sedangkan ayah kan tidak. Ayah bisa lebih dari satu, atau bahkan tidak diketahui,” urainya sambil tersenyum. Saya yang tidak ikut bertanya, menjadi tercenung mendengarnya, sehingga saya jadi ikut manggut-manggut menyadari kebenaran jawaban gadis pegawai bank itu. Alangkah personal dan indahnya karunia Tuhan dalam hidup manusia melalui seorang ibu. Seseorang yang tidak punya apa-apa sekalipun pasti mempunyai ibu yang melahirkan dan membesarkannya.



Beberapa waktu lalu saya sempat mengikuti sekilas di televisi, upacara pernikahan putra mahkota Kerajaan Inggris, Pangeran William, dengan kekasihnya, Kate Middleton. Dalam beberapa ulasan seputar pernikahannya, dibahas pribadi Pangeran William yang sederhana dan tidak mengundang banyak kontroversi sebagaimana sering terjadi pada seorang selebriti muda dunia. Rupanya pribadinya yang santun itu tidak lepas dari pengaruh ibu dari Pangeran William yaitu mendiang Putri Diana, yang melahirkan dan membesarkannya dengan semangat kesederhanaan dan kepedulian kepada orang kecil dan sering mengajaknya melihat kehidupan orang-orang biasa di luar lingkungan kerajaan. Terutama di masa kecil Pangeran William ketika ibunya masih hidup dan dekat dengannya. Latar belakang dari cara ibunya membesarkannya itu pula yang nampaknya kemudian mendasari pilihannya kepada seorang Kate, yang bukan berasal dari keluarga bangsawan, sebagai pasangan hidupnya. Latar belakang yang mungkin Pangeran William sendiri tidak selalu menyadarinya, sesuatu yang terpendam di bawah sadarnya, namun membentuk hidupnya begitu rupa, dengan indahnya. Di balik senyumnya yang santun, baik disadarinya ataupun tidak, Pangeran William membawa semua teladan kasih dan pengajaran ibunya dalam segala keputusan hidupnya.



Walaupun banyak orang menandai hari Ibu dan merayakan secara khusus ulang tahun ibu sebagai penghormatan dan penghargaan terhadap kasih dan pengabdiannya membesarkan kita, dalam kehidupan sehari-hari, kita tidak selalu menyadari betapa besarnya peran hidup dan cinta seorang ibu di dalam hidup seorang manusia. Dari ibu yang melahirkan dan membesarkan kita, sesungguhnya kita belajar untuk mencintai dan menerima cinta dalam hidup ini, yang akan selanjutnya terus membentuk pribadi kita sebagai manusia dewasa seutuhnya di dalam masyarakat. Dari seorang ibu pula kita belajar mengenal berbagai fungsi-fungsi kehidupan untuk pertama kalinya, dan belajar memahami hidup dengan segala suka dukanya.



Pada bulan Maria, Ibunda Yesus Kristus Tuhan kita, yang jatuh di bulan Mei ini, saya merenungkan keputusan Allah Bapa untuk memilih Maria, seorang gadis bersahaja yang berhati lembut dan penuh iman kepada Tuhan, untuk menjadi ibu kandung dari Yesus. Betapa tidak main-mainnya keputusan itu, betapa akan cermatnya Allah memilih manusia yang akan mengandung, melahirkan, membesarkan, dan mengantar Sang Anak Manusia yang diutus untuk menebus dosa seluruh dunia dari maut dan dosa kekal. Betapa seriusnya tanggung jawab itu, betapa besar dan dalamnya peran itu, betapa Allah pasti telah memilih dengan cermat agar Anak Manusia dibesarkan di dalam teladan cinta yang penuh dan pengawasan penuh kasih sayang yang akan mengantarnya menjadi manusia dewasa yang memikul tugas semulia dan seagung itu. Ya, seorang manusia, dengan segala keterbatasan seorang manusia. Karena Yesus Kristus adalah sungguh manusia dan sungguh Allah. Ibu dari Penebus dunia tidak mungkin dipilih secara acak dan dipikul oleh siapa saja yang bersedia. Ibu Sang Penebus yang dengan tanggungjawab yang demikian besar membentuk Sang Putera menjadi manusia seutuhnya, dan mengantarnya menjalani penderitaan tak terperi di Kalvari, tentu tidak dipercayakan kepada sembarang manusia. Allah telah mempersiapkan Bunda Maria dengan penuh kecermatan, penuh cinta, bahkan sebelum Bunda Maria dilahirkan, yaitu dengan menyucikannya dari dosa asal, sebagai suatu bekal agung yang akan menyertai perjalanan hidup Putera-Nya ke dunia sebagai manusia, dan menyempurnakan misi agung-Nya sampai akhir.



Dan semua rencana Allah yang luar biasa indah dan mengagumkan itu hanya mungkin terlaksana, jika sang puteri bersahaja dengan kerendahan hati tak terkira, yang telah dipersiapkan Allah itu, berkata “ya”. Karena Allah harus bekerja atas dasar kehendak bebas manusia yang dikasihi-Nya. Seluruh hidup Bunda Maria adalah sebuah jawaban “ya” kepada Allah. Jawaban yang sangat teguh, walau kadang diucapkannya di tengah keraguan, kepedihan, kebingungan, dan ketakutan. Tetapi karena iman dan kasih Maria kepada Allah, ia bertekad untuk tetap dan selalu mengatakan “Ya, Allah, aku mau, aku siap, pakailah aku”. Dan demikianlah seluruh rencana Allah bagi keselamatan alam semesta dan kebahagiaan seluruh umat manusia menjadi kenyataan. Demikianlah jawaban “ya” seorang gadis bersahaja yang penuh ketaatan membuat kita mempunyai Penebus yang begitu luar biasa indah dan agung.



Dan sebagaimana kita begitu mencintai dan menghormati ibu yang telah melahirkan dan membesarkan kita dengan penuh pengorbanan, betapa Manusia Yesus yang bersifat jauh lebih mulia daripada kita, juga akan mencintai dan menghormati ibu kandung-Nya. Betapapun hal itu tidak sepenuhnya terungkap di dalam Kitab Suci. (Masih banyak hal-hal lain lagi yang diperbuat oleh Yesus, tetapi jikalau semuanya itu harus dituliskan satu per satu, maka agaknya dunia ini tidak dapat memuat semua kitab yang harus ditulis itu, Yoh 21 : 25). Bila kita mencintai seseorang, orang itu akan selalu ada di dalam pikiran kita, di dalam hati kita. Bahkan rasa cinta itu dapat membuat kita makin lama makin menyerupai orang yang kita cintai. Saya yakin Yesus sebagai Tuhan dan manusia, sangat menghormati dan mencintai ibunda-Nya. Dan tentu demikian juga sebaliknya, Bunda Maria kepada Yesus, Puteranya. Yesus menyimpan selalu di dalam hati-Nya, cinta dan penghormatan-Nya sebagai anak, kepada Bunda Maria, ibu-Nya. Seperti juga kita manusia kepada ibu kita, bahkan pasti lebih, karena Yesus adalah Manusia Cinta. Itulah sebabnya menjelang akhir hidup-Nya, saat nafas-Nya sudah tinggal satu-satu, Yesus masih ingin mengingat dan memperhatikan Bunda yang dicintai-Nya. Di sela-sela nafas-Nya yang semakin berat dan menyakitkan, Yesus menyempatkan diri berpesan dengan seluruh sisa tenaga-Nya, demi cinta-Nya kepada Bunda-Nya, demi cinta-Nya kepada manusia, demi supaya cinta Ibunda-Nya dan cinta-Nya sepenuhnya tercurah kepada manusia dengan sempurna, Ketika Yesus melihat ibu-Nya dan murid yang dikasihi-Nya di sampingnya, berkatalah Ia kepada ibu-Nya: "Ibu, inilah, anakmu!" Kemudian kata-Nya kepada murid-Nya: "Inilah ibumu!" Dan sejak saat itu murid itu menerima dia di dalam rumahnya (Yoh 19 : 26-27).



Cinta Yesus akan Bunda-Nya dan cinta-Nya akan manusia memenuhi pikiran-Nya, bahkan dan justru di saat paling kelam dan paling mencekam menjelang akhir nafas-Nya. Oh, betapa pentingnya dan berharganya bunda-Nya itu bagi-Nya. Dan Tuhan Yesus tidak hanya menyerahkan nyawa-Nya bagi sahabat-sahabat-Nya, tetapi Ia juga menyerahkan bunda-Nya untuk menjadi bunda kita semua. Untuk mengasihi, mendoakan, menjadi teladan dan pelindung kita semua juga. Karena Yesus telah merasakan dan mengalami indahnya cinta bunda-Nya, ia ingin manusia yang dicintai-Nya juga mengalami dan memiliki cinta bunda-Nya itu. Itulah satu lagi bukti betapa amat sangat dalamnya cinta Yesus kepada kita, sehingga seorang ibu yang amat dikasihi-Nya pun tak lupa diberikan-Nya sebagai hadiah cinta untuk kita. Sungguh, tak ada cinta demikian besar dan sempurna yang pernah diterima oleh manusia selain dari cinta Tuhan Yesus Kristus yang total, segala-galanya, seluruh jiwa dan raga-Nya, seluruh milik-Nya yang paling berharga, untuk kita semua. Permenungan ini mencengkeram hati saya dengan keharuan yang amat sangat. Yesus yang mencintai saya dan ingin selalu saya cintai dengan lebih sungguh, amat mencintai bunda-Nya. Begitulah juga rasa cintaku kepada bunda Yesus yang kucinta. Demikianlah cinta Bunda Maria kepada Yesus Putera-Nya yang juga sangat mencintai kita, telah menyempurnakan cinta kasih Allah kepada manusia. Ya, Bunda Maria, Bunda Allah, Bundaku. (Caecilia Triastuti)

No comments:

Post a Comment