Monday, March 7, 2011

Resolusi tahun baru bersama Allah


Dosaku kuberitahukan kepada-Mu dan kesalahanku tidaklah kusembunyikan; aku berkata: “Aku akan mengaku kepada TUHAN pelanggaran-pelanggaranku,” dan Engkau mengampuni kesalahan karena dosaku. (Mazmur 32:5).

Bernostalgia umumnya terasa mengasyikkan. Khususnya jika yang dikenang adalah saat-saat yang menyenangkan dalam hidup. Biasanya manusia memerlukan momen tertentu untuk menandai sesuatu yang berarti dalam hidupnya. Saya juga sering menggunakan momen tertentu untuk bernostalgia, misalnya melalui menikmati makanan spesial, melihat foto-foto lama, sambil mendengarkan musik lama, atau dalam acara kebersamaan seperti reuni dan momen pergantian tahun. Umumnya saya hanya memelihara kenangan akan peristiwa-peristiwa kehidupan yang manis dan menyukakan hati. Kenangan akan pengalaman kesedihan, kegagalan, penolakan, atau kesepian, cenderung ingin saya lupakan. Memang segala hal yang berkaitan dengan pengalaman yang pahit seringkali ingin kita singkirkan jauh-jauh. Bahkan peristiwa konyol atau kesalahan yang terjadi karena kelalaian dan kebodohan saya juga rasanya ingin saya lupakan dan kubur dalam-dalam supaya seolah-olah tidak pernah terjadi.

Tetapi di awal sebuah tahun yang baru, ada baiknya kenangan akan peristiwa yang tidak mengenakkan juga saya ingat dan renungkan kembali, supaya saya dapat belajar dari kesalahan yang pernah saya lakukan dan menjadi lebih berhati-hati untuk tidak jatuh ke dalam kelalaian yang sama. Memutuskan untuk belajar dari kesalahan adalah juga bentuk sebuah usaha untuk bertumbuh menjadi lebih baik. Walaupun mungkin pahit, barangkali hal ini juga merupakan sebuah keterbukaan dan kerendahan hati untuk bersedia diubahkan dan dibentuk oleh Tuhan supaya kita dapat hidup semakin dekat dengan Dia, semakin menyerupai Dia, sebagaimana kita temui dalam surat Rasul Paulus kepada umat di Roma, “Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.” (Roma 12:2). Tak seorangpun dari manusia yang hidup di dunia ini yang sudah mencapai kesempurnaan. Kita selalu mempunyai sisi-sisi lemah dan kebiasaan-kebiasaan yang mendatangkan dosa yang perlu untuk diperbaiki. Kadang saya merasa bahwa Tuhan justru memakai kesalahan, kegagalan, dan kekonyolan saya untuk membantu saya menjadi lebih kuat dan dewasa dalam iman, lebih bertekun untuk mau berubah dari kelemahan-kelemahan saya, asalkan saya terbuka untuk mau menerima dan mempelajarinya.

Di antara sederetan resolusi tahun baru yang mungkin kita buat di awal tahun ini, mungkin mengenai studi, bisnis, pernikahan dan keluarga, kesehatan, atau pengembangan diri, saya merasa bahwa pembentukan karakter iman dan kasih saya kepada Tuhan adalah satu resolusi yang paling penting dalam kehidupan ini. Berapapun harganya, akan saya bayar, termasuk harga diri saya bila itu berhadapan dengan Yang Maha Memiliki. Karena kehidupan yang sedang kita jalani ini akan berlalu, dan tahun demi tahun yang terus berganti ini lama kelamaan akan berakhir. Hidup kita yang sebenarnya akan kita habiskan bersama Tuhan dalam tahun-tahun kekekalan di Rumah-Nya yang indah yang tak akan berkesudahan. Sesungguhnya tidak ada yang lebih penting bagi Tuhan selain pembentukan karakter kita supaya menjadi semakin kudus dan tak bercela di hadapan-Nya. Karena adalah kerinduan-Nya agar kita dapat selamanya bersama dengan Dia dan menikmati cinta kasih-Nya dengan sempurna, “ Ia juga akan meneguhkan kamu sampai kepada kesudahannya, sehingga kamu tak bercacat pada hari Tuhan kita Yesus Kristus (1 Kor 1: 8) dan, “Sekarang diperdamaikan-Nya, di dalam tubuh jasmani Kristus oleh kematian-Nya, untuk menempatkan kamu kudus dan tak bercela dan tak bercacat di hadapan-Nya ( Kol 1: 22).

Pagi ini seusai berdoa pagi saya memutuskan untuk menyapu rumah ibu saya yang lumayan besar. Sejak kembali hidup bersama kedua orangtua saya di Malang sebulan terakhir ini karena penugasan baru dari pekerjaan suami, baru hari ini saya mengambil tugas menyapu seluruh rumah. Pembantu ibu yang biasanya melakukan tugas ini baru saja keluar sehingga saya berinisiatif mengambil alih pelaksanaan pekerjaan rutin ini. Sambil memegang gagang sapu, saya berusaha tidak memikirkan luasnya ruangan yang harus saya sapu. Saya bekerja perlahan-lahan dengan sebaik-baiknya di dalam setiap ruangan satu demi satu sampai akhirnya tanpa saya sadari seluruh ruangan di rumah telah selesai saya sapu. Fokus kepada satu kelemahan untuk diperbaiki lebih mudah dan memberikan harapan daripada sibuk memikirkan betapa banyaknya kesalahan yang telah pernah saya buat dan betapa saya selalu jatuh dalam kesalahan yang sama. Hal itu hanya akan menimbulkan rasa putus asa dan perasaan malas untuk memulai. Tuhan kita adalah seorang Bapa yang sabar dan lemah lembut yang selalu mampu melihat kebaikan dan potensi-potensi yang baik dalam diri setiap anak-Nya betapapun besarnya kesalahan kita, asalkan kita mau datang kepada-Nya dan bertobat. Sejauh Timur dari Barat, demikian dijauhkan-Nya pelanggaran kita daripada kita (Mazmur 103 : 12). Yesus pun mengungkapkan karakter Bapa itu melalui kisah perumpamaan tentang anak yang hilang di dalam Lukas 15: 11-32.

Selanjutnya sambil menyapu saya menyadari bahwa gerakan yang pelan-pelan tetapi cermat membuat lebih banyak kotoran bisa saya kumpulkan ke dalam tempat debu. Kesabaran dan semangat tidak mudah putus asa sangat penting agar kita selalu mempunyai harapan untuk bangkit lagi. Di sudut-sudut yang sulit dijangkau, saya harus mengulurkan tangan lebih panjang dan berusaha lebih keras untuk menjangkau debu di sana. Kadang saya tidak menyadari bahwa beberapa kebiasaan saya ternyata membuat sesama saya merasa tidak damai dan saya gagal menampilkan wajah Allah yang ada di dalam diri setiap dari kita. Sifat dan kebiasaan seperti senang membantah jika ditegur, merasa diri yang paling tahu, kebiasaan menunda pekerjaan tertentu, atau iri hati dan kecenderungan menghakimi sesama, biasanya tersamar di sudut-sudut hati saya yang gelap, dan saya membutuhkan kerendahan hati untuk menyerahkannya kepada Allah agar Ia dapat masuk dan membersihkan sudut-sudut gelap itu. Pemazmur yang selalu rindu untuk bertobat juga mengungkapkannya sedemikian, “ Selidikilah aku, ya Allah, dan kenallah hatiku, ujilah aku dan kenallah pikiran-pikiranku” (Mazmur 139 : 23)


Ketika saya memasuki dapur, segera terlihat kotoran khas dapur, yang muncul dari berbagai aktivitas memasak. Yang sering terdapat di sana adalah debu dan kotoran yang membandel karena bercampur dengan minyak atau bumbu dapur yang berjatuhan. Selain usaha ekstra, kadang saya membutuhkan juga alat bantu lain supaya kotoran yang membandel itu dapat dihilangkan, misalnya dengan bantuan pisau untuk mengerik noda yang telah lama melekat di lantai, atau kain pel yang basah untuk menghapus debu dengan sempurna. Seringkali kita tidak mampu dengan kekuatan kita sendiri untuk bangkit dari kebiasaan yang tidak membangun. Bergantung terus kepada pertolongan Allah yang mampu melunakkan hati sekeras apapun adalah sangat berkenan kepadaNya, sambil tak segan-segan mencari pertolongan sesama yang dapat membantu kita, membaca dan meresapi renungan iman, dan tentu tak jemu-jemu belajar dari Firman-Nya agar niat baik kita diasah dan dikuatkan dengan kuasa Firman Tuhan. “Dalam segala keadaan pergunakanlah perisai iman, sebab dengan perisai itu kamu akan dapat memadamkan semua panah api dari si jahat, dan terimalah ketopong keselamatan dan pedang Roh, yaitu firman Allah (Efesus 6 : 16-17).

Dan akhirnya, ada satu jenis kotoran yang terdapat di mana-mana di seluruh rumah yaitu bulu-bulu anjing si Kiko, anjing kesayangan keluarga kami. Kiko bebas berkeliaran di rumah sehingga bulunya yang kadang rontok dari badannya terdapat di hampir semua ruangan yang sedang saya bersihkan. Saya segera mengenali bulu-bulu itu, yang karena ringan dan banyak maka membutuhkan kesabaran mengumpulkannya supaya tidak terbang kemana-mana dan mudah dikumpulkan untuk dibuang. Sangat penting bagi saya untuk mengenali kesalahan yang masih berulang-ulang saya lakukan, serta kebiasaan buruk yang sukar saya tinggalkan, mungkin juga karena bawaan dari kepribadian saya. Kewaspadaan saya harus selalu ditingkatkan karena si jahat sering masuk dari pintu kelemahan saya yang sudah menjadi kekhasan saya itu untuk berbuat dosa lagi dan membuat saya semakin merasa terpuruk karena merasa sulit sekali berubah. Kalau perlu sebisa mungkin saya perlu menghindari waktu, tempat, dan kesempatan yang membuat saya mudah jatuh lagi ke dalam dosa yang sama. Allah selalu menyertai kita dan menguatkan kita untuk tidak menyerah kepada bujukan si jahat. Sesungguhnya kita tak pernah sendirian dalam berjuang, tinggal apakah kita mau mengklaim penyertaan Allah itu dengan penuh iman, “Kenakanlah seluruh perlengkapan senjata Allah, supaya kamu dapat bertahan melawan tipu muslihat Iblis” (Efesus 6 : 11).

Firman di atas itu juga mengingatkan saya bila berhadapan dengan sesama yang sulit, bagaimana Allah tetap memandang setiap orang dengan penuh cinta, belaskasihan, pengampunan serta harapan. Maka saya pun harus belajar memandang sesama saya dengan penuh harapan akan kebaikan, betapapun sulitnya menemukan kebaikan itu. Tidak perlu kita menyerahkan diri kepada amarah dan kebencian atau dendam, karena sesama adalah teman-teman seperjuangan kita yang juga masih berjuang, yang harus kita rangkul untuk melawan musuh kita yang sesungguhnya…”karena perjuangan kita bukanlah melawan darah dan daging, tetapi melawan pemerintah-pemerintah, melawan penguasa-penguasa, melawan penghulu-penghulu dunia yang gelap ini, melawan roh-roh jahat di udara” (Efesus 6 : 12). Kehidupan doa yang tekun juga tak pelak lagi sangat menopang niat saya untuk bertahan bersama Tuhan dan memberikan kepastian dalam keraguan, Berdoalah setiap waktu di dalam Roh dan berjaga-jagalah di dalam doamu itu dengan permohonan yang tak putus-putusnya untuk segala orang kudus (Efesus 6 : 18).

Setelah satu jam penuh menyapu, saya merasa lega dan puas telah selesai membersihkan seluruh rumah ibu saya. Saya ingin setia melakukan tugas rutin ini demi kebersihan dan kesehatan seluruh penghuni rumah. Demikian pula pemeriksaan batin, pertobatan, dan pembersihan diri menjadi rutinitas yang indah yang ingin saya lakukan menapaki tahun yang baru menjelang ini, agar seluruh jiwa saya sehat dan berkenan kepada Allah, yang menciptakan setiap dari kita indah, murni, dan berharga sejak semula. Tugas saya untuk memelihara kebersihan jiwa saya agar Dia nyaman bersemayam di dalamnya dan saya mampu menghasilkan buah-buah kasih dan kehidupan seperti rencana-Nya yang indah bagi setiap anak-anak-Nya.

Besok rumah tentu akan kotor lagi, dan tentu saya juga masih akan gagal dan jatuh lagi, tetapi saya ingat jati diri saya yang sebenarnya sebagai anak-anak Tuhan, saya tidak akan menyerah dan ingin selalu bersemangat untuk terus bergantung kepada Allah dengan kerendahan dan keterbukaan hati. Menjadi miskin dan rendah di hadapan Allah adalah kekuatan kita, “Karena itu, sebagai orang-orang pilihan Allah yang dikuduskan dan dikasihi-Nya, kenakanlah belas kasihan, kemurahan, kerendahan hati, kelemahlembutan dan kesabaran (Kolose 3 :12). Allah yang Maha Mencintai, akan selalu menyertai kita. Amin.

Selamat tahun baru 2011, kiranya kasih dan kerahiman Allah Bapa bersama kita selamanya. (uti)

No comments:

Post a Comment