Wednesday, September 29, 2010

Lanjutkan...!



Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku." (Mat 16:24; 10:38).

Ketika Indonesia sedang dalam masa kampanye pemilihan presiden beberapa waktu yang lalu, slogan yang hanya terdiri dari satu kata, “Lanjutkan..!” yang menjadi moto salah satu calon, menjadi populer. Walau hanya satu kata, moto ini dengan cukup jelas mengungkapkan himbauan untuk meneruskan apa yang sudah dikerjakan oleh pencetusnya. Meneruskan. Di dalam tikungan kehidupan, ketika hidup tidak berjalan mulus sesuai dengan harapan kita, kata itu kadang-kadang terasa begitu sulit dan berat untuk dilakukan.

Suatu hari saya sedang menatap ibu saya yang sedang bercerita tak henti kepada saya sejak hampir setengah jam yang lalu. Kisahnya seolah tak berujung. Saya tidak berani memotong cerita yang sedang ia sampaikan. Karena di telinga saya, apa yang ia sampaikan bukan hanya sekedar kisah, melainkan sebuah balada kesedihan hati seorang ibu yang terulang lagi dan lagi. Saya berusaha meredam kesedihan saya karena cinta saya kepada ibu saya, sambil merasakan ketidakberdayaan saya sendiri menyaksikan kekecewaan itu lagi di matanya, dan di hatinya. Kisah semacam itu bukan hal yang pertama kali saya dengar, hadir dalam kerangka peristiwa yang berbeda-beda, namun semuanya mempunyai muatan yang sama. Kesedihan dan kekecewaan seorang ibu karena sikap tidak peduli seorang anak kepada perasaan dan kebutuhan ibu dan ayahnya. Anak itu adalah kakak kandung saya sendiri, yang juga telah cukup lama meninggalkan gereja. Sikap acuh dari kakak saya yang tinggal satu kota dengan orangtua kami, ditambah sikap yang kurang lebih sama dari istri kakak, terhadap ayah dan ibu kami, sudah menjadi kisah lama keluarga kami, yaitu ayah ibu dan kami bertiga bersaudara. Bertahun-tahun saya, seorang kakak saya yang lain serta ayah dan ibu berdoa untuk kakak saya itu, sambil tetap berusaha mencurahkan cinta yang tulus.

Ternyata semakin lama kami makin menyadari bahwa proses pertobatan kakak saya juga adalah proses pertobatan dan pemurnian kami semua sebagai keluarga. Dalam perjalanan doa sekeluarga bagi pertobatan kakak saya itu, kami merasakan bimbingan Tuhan di dalam doa dan permenungan kami bahwa mengampuni kakak secara terus menerus dan selalu berusaha memahami pilihan-pilihannya, akan lebih banyak memberi kemungkinan pertobatan kepada kakak dan keluarganya, dan membuahkan kedamaian di hati kami sendiri. Apalagi kami sendiri belumlah sempurna, masih harus selalu memperbaiki diri di sana sini. Harapan kami untuk kakak seyogyanya adalah untuk kebaikan dirinya dan bagi Tuhan, dan bukan untuk memenuhi ego kami dan kebutuhan kami sendiri untuk dikasihi. Bagaimanapun, berusaha selalu mengerti dan mengampuni untuk memberikan contoh keluhuran kasih Bapa, adalah perjuangan yang berat. Sebuah komitmen yang harus diperbarui lagi hari demi hari. Dan saya merasakannya ketika masih kembali harus mendengarkan ibu saya menceritakan keluhannya seputar sikap dan hati kakak yang dingin terhadap cinta Tuhan dan orangtuanya. Kisah yang seolah tak ada akhirnya. Di akhir pembicaraan ibu dan saya, kami selalu berusaha datang kepada Tuhan dan untuk kesekian kalinya memohon kekuatan untuk terus mengampuni, terus mengerti. Walaupun kami tidak tahu sampai kapan kami harus mengerti dan mengampuni kakak, setidaknya kami menyadari bahwa Yesus sudah berkata supaya kami mengampuni tujuh puluh kali tujuh kali, dan itu kami yakini sebagai: tanpa batas. Di dalam Dia, kami menaruh harapan bahwa teladan kesabaran, tidak menghakimi, dan kasih sesuai teladan-Nya, kelak dapat membawa pertobatan yang sejati bagi kakak.

Meneruskan sikap hidup yang baik walaupun hidup terasa berat dan mengecewakan, bahkan kadang terasa tak terpikul, juga saya jumpai dalam kisah kehidupan lainnya. Teman saya yang selalu berusaha mengampuni suaminya yang selingkuh, teman lain yang berjuang tetap bekerja dengan baik di bawah tekanan bos yang sangat menuntut dan tidak perhatian kepada prestasi bawahan, perjuangan teman ayah saya melawan kanker tenggorokan yang telah membuatnya menderita berbulan-bulan lamanya - penderitaan yang bagi yang mendengarkan dan membayangkannya saja rasanya tak tertahankan lagi. Atau dalam kesetiaan seorang ibu yang harus selalu bangun di pagi hari melayani suami dan anak-anaknya dalam kesederhanaan dan kekurangan selama puluhan tahun, dan seorang tukang ojek korban PHK yang harus selalu bekerja di atas motornya siang dan malam demi sesuap nasi bagi keluarganya tanpa tahu kapan bisa kembali mendapatkan pekerjaan tetap yang lebih layak. Kisah-kisah itu juga ada dalam hal-hal yang lebih sederhana, namun tetap memerlukan kesabaran dan pengorbanan, misalnya bersabar menghadapi teman sekerja yang kurang giat bekerja dan tidak sepaham dengan kita, kemauan yang harus super teguh saat harus berdiet dan berolahraga dengan kedisiplinan yang tidak bisa ditawar lagi untuk menghindari suatu serangan penyakit turunan, meminjami (atau memberi) lagi dan lagi teman atau saudara yang memerlukan bantuan keuangan, terus berbuat baik dan bersikap baik sekalipun sering tidak dihargai atau disalahartikan, atau tetap berpikir positip dan penuh harapan di saat anak-anak kita belum juga menunjukkan kemajuan berarti di suatu bidang yang harus dikuasainya, sambil memurnikan motivasi kita sendiri bahwa apa yang kita usahakan adalah sungguh bagi kepentingan si anak dan bukan demi ego kita sebagai orangtua.

Pada suatu hari saat sedang mempelajari dokumen kursus katekis yang saya jalani, saya merasa terkejut menemukan sebuah teks di hadapan saya. Dengan pandangan mata nanar, saya membaca tulisan yang tertera di sana, “Jesus was hanging on the cross for 6 hours. Six hours in indescribable agony”. (Yesus tergantung di kayu salib selama enam jam. Enam jam dalam penderitaan yang tak tergambarkan). Hati saya tertegun. Saya panik, merasa sekian lama dalam hidup saya, saya mengira Yesus ‘hanya’ bergantung di kayu salib selama tiga jam sebelum wafat-Nya pada pukul tiga sore (Matius 27 ayat 46 dan 50). Saya segera mengecek Kitab Suci saya, saya buka di Markus 15:25, Hari jam sembilan ketika Ia disalibkan. Memang di Injil lain misalnya di Injil Yohanes tidak dinyatakan demikian (Yohanes 19:14). Dan tentu saja itu masih belum termasuk penderitaan akibat pencambukan dan penghinaan yang berlangsung sejak dini hari. Saya menelan ludah, merasa tenggorokan saya tercekat, menahan airmata yang tiba-tiba mendesak hendak keluar.

Yesusku, aku merasa malu dan sedih karena baru sekarang aku mengetahui bahwa Engkau menderita begitu lama untukku. Dalam kesendirian yang begitu mencekam, dan rasa sakit yang begitu dahsyat di seluruh bagian tubuh-Mu, Engkau tetap bertahan. Penderitaan, kesepian, dan kesakitan, yang tak mampu kupahami dengan nalar, dan tak mampu kuungkapkan dengan kata. Apa yang membuat-Mu begitu teguh untuk bertahan, Tuhan? Begitu berharganya kami sehingga Engkau begitu rela untuk menahan dan menjalani semua itu Tuhan. Jam demi jam yang merambat pelan dalam kesakitan dan kepedihan yang tak berhingga. Pasti terasa berabad-abad lamanya bagi Tuhanku. Pasti terasa berabad lamanya bagi ibuku menantikan pertobatan kakakku, bagi temanku untuk setia menantikan suaminya kembali kepadanya, bagi mereka yang sakit berat dan menantikan kesembuhan. Ya Bapa, mengapa Engkau tidak menghentikan semua penderitaan itu segera, mengapa harus enam jam Tuhan? Mengapa Engkau tidak segera memanggil Putera-Mu kembali ke Surga supaya penderitaan-Nya segera berakhir, cukuplah Ia telah setia melaksanakan amanat penderitaan itu, Bapa.

Secara manusiawi, kadang kita tidak memahami mengapa harus ada penderitaan. Kita juga kadang bertanya mengapa Tuhan seolah-olah membiarkan penderitaan terjadi dalam kehidupan. Dan sebagai manusia, kita ingin semua yang menyakitkan dan menyedihkan segera diakhiri. Sampai-sampai kita lupa pada kenyataan bahwa Tuhan mencintai kita sehabis-habisnya dan akan selalu menyayangi kita dan menjaga kita.

Saya terpekur di dalam keheningan hati saya. Kertas dokumen di tangan saya itu sudah basah oleh airmata. Dalam kekaburan pandangan, saya berlutut dan memandang salib Yesus yang tergantung di dinding kamar kerja saya. Kerendahan hati, cinta murni, dan belaskasihan-Nya kepada manusia, membuat Yesus bertahan hingga akhir. Ampuni aku Raja Semesta Alam yang kesakitan, aku begitu asyik dengan rasa sakitku sendiri sehingga aku lupa bahwa Engkau sudah selesai menjalani rasa sakit yang kekal itu dengan paripurna untukku. Kalau cinta-Mu kepadaku mampu membuat-Mu bertahan begitu gagah berani Tuhan, maka aku juga mau bertahan untuk tidak beringsut dari kaki salib-Mu.

Pada saat perhatian kita tidak terpusat kepada penderitaan, melainkan kepada cinta kasih Kristus yang selalu memikirkan kita dan memelihara kita sampai kekal, bahkan sampai melewati maut, itulah saat dimana kita menjalani penderitaan kita dalam harapan akan salib Kristus, dan hanya dengan cara menjalani penderitaan dalam harapan dan kesabaran oleh karena cinta-Nya itu, segala penderitaan dan kesukaran menemukan maknanya. Saat itu rasanya kita mendengar Tuhan Yesus berkata kepada kita sebelum Ia menanggung sengsara-Nya, “Aku tidak akan meninggalkan kamu sebagai yatim piatu. Aku datang kembali kepadamu. Tinggal sesaat lagi dan dunia tidak tidak akan melihat Aku lagi, tetapi kamu melihat Aku, sebab Aku hidup dan kamupun hidup.” (Yohanes 14: 18-19). Itulah juga mengapa para martir dan kudus di Surga yang terus bertahan bersama Yesus di saat hidupnya dulu, sanggup dan berani menghadapi pencobaan maut dan penderitaan yang dahsyat yang secara mata manusiawi tak terbayangkan akan mampu untuk dijalani.

Sebenarnya, jika kita menderita dengan iman dan persatuan dengan Kristus, kita mengambil bagian dalam kesengsaraan Kristus untuk menebus dunia, yang disebut oleh Bapa Suci Yohanes Paulus II sebagai “redemptive suffering" (penderitaan yang membebaskan/menebus). "Marilah kita melakukannya dengan mata yang tertuju kepada Yesus, yang memimpin kita dalam iman, dan yang membawa iman kita itu kepada kesempurnaan, yang dengan mengabaikan kehinaan tekun memikul salib ganti sukacita yang disediakan bagi Dia, yang sekarang duduk di sebelah kanan takhta Allah." (Ibrani 12:2). Penderitaan dalam dunia yang dijalani bersama Kristus yang menderita, memungkinkan kita mengambil bagian dalam kemuliaan-Nya di dalam kebangkitan-Nya. Karena menderita bersama Tuhan memberi kita kesempatan untuk dikuduskan dan dimurnikan. Itulah sebabnya menderita bersama Kristus dan di dalam Kristus menjadi penuh arti, karena kesabaran dan ikhtiar kita tidak akan pernah sia-sia. Dalam cinta dan kerahiman-Nya, Dia mengijinkan penderitaan kita alami, dalam pengertian-Nya yang Maha Menyelami, bahwa penderitaan yang kita jalani dengan sabar dan penuh cinta bersama Dia, akan membawa kita kepada kekudusan dan kesempurnaan yang telah Dia rencanakan indah sejak semula bagi masing-masing kita.

Salib Kristus telah mengubah kutuk menjadi berkat, sehingga belajar selalu bergantung kepada salib-Nya menyadarkan kita bahwa penderitaan bukanlah hukuman Tuhan, melainkan justru sebuah kesempatan untuk bergantung sepenuhnya kepada Dia, untuk membentuk karakter kita dalam kesabaran, kasih yang murni, keteguhan iman, serta keindahan harapan. Seperti tanah liat yang menyerahkan pembentukan dirinya dalam kerja keras pembentuknya, demikianlah kita menyatukan penderitaan kita dalam sengsara-Nya, di dalam doa, di dalam Kurban Ekaristi Kudus, di dalam cinta-Nya, sehingga kita menjelma menjadi bejana-bejana indah yang memuliakan Sang Pencipta. “..Oleh bilur-bilur-Nya, kamu telah sembuh” (1 Petrus 2:24). Sebagai seorang Penyembuh yang Terluka (a Wounded Healer), derita Yesus justru menjadi kekuatan kita. Luka-luka dalam enam jam penyaliban itu menunjukkan Tuhan yang luar biasa kerendahan hati-Nya, pengurbanan-Nya, dan cinta-Nya kepada kita. Maka bergantung terus kepada-Nya membuat kita bukanlah anak-anak biasa. Kita juga bisa menjadi luar biasa untuk meneruskan berjuang dalam kebaikan, dalam mengampuni, dalam memahami, dalam bekerja demi sesama dan keluarga, dalam berdisiplin diri, dalam memerangi kebiasaan buruk kita, dalam mengharapkan segala sesuatu yang baik terjadi pada waktu-Nya. Walaupun kadang perjuangan kita rasanya seperti tak berujung. Dan jawaban yang kita nantikan serasa belum pernah terlihat untuk sekedar mendekat. “Tetapi orang-orang yang menanti-nantikan TUHAN mendapat kekuatan baru: mereka seumpama rajawali yang naik terbang dengan kekuatan sayapnya; mereka berlari dan tidak menjadi lesu, mereka berjalan dan tidak menjadi lelah”. (Yesaya 40: 31)

Menderita bersama Kristus ibarat menyeduh daun teh, justru di dalam air panas mendidih, keharuman dan citarasa daun teh itu muncul keluar, dan bisa dinikmati. Bergantung pada Salib Kristus memunculkan keindahan sejati di dalam diri manusia. Dalam Kolose 1:24 Rasul Paulus mengatakan, "Sekarang aku bersukacita bahwa aku boleh menderita karena kamu, dan menggenapkan dalam dagingku apa yang kurang pada penderitaan Kristus, untuk tubuh-Nya, yaitu jemaat." Dan di dalam Roma 5: 3-5 beliau mengatakan, ”Kita malah bermegah juga dalam kesengsaraan kita, karena kita tahu, bahwa kesengsaraan itu menimbulkan ketekunan, dan ketekunan menimbulkan tahan uji, dan tahan uji menimbulkan pengharapan. Dan pengharapan tidak mengecewakan, karena kasih Allah telah dicurahkan di dalam hati kita oleh Roh Kudus yang telah dikaruniakan kepada kita”. Ketahanan kita di dalam memaknai penderitaan kita di dalam salib Kristus, justru memampukan kita untuk berbuah. Tuhan Yesus menegaskan hal ini ketika Ia bersabda, “Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya jikalau biji gandum tidak jatuh ke dalam tanah dan mati, ia tetap satu biji saja; tetapi jika ia mati, ia akan menghasilkan banyak buah” (Yohanes 12:24). Teladan kesabaran dan cinta kita, oleh karena salib-Nya, mampu menguduskan orang lain juga dan membawa pertobatan bagi sesama dan pada gilirannya, bagi pengudusan seluruh dunia. Itulah sukacita kebangkitan, sukacita yang disediakan-Nya bagi kita yang rela ambil bagian dalam derita salib-Nya dengan setia. "Sebaliknya, bersukacitalah, sesuai dengan bagian yang kamu dapat dalam penderitaan Kristus, supaya kamu juga boleh bergembira dan bersukacita pada waktu Ia menyatakan kemuliaan-Nya." (1 Petrus 4:13).

Raja Semesta Alam yang sedang kesakitan di atas tahta-Nya yang berbentuk palang itu, enam jam penuh sengsara yang tak tergambarkan. Meski demikian, dalam derita-Nya saya mendengar Ia menyerukan dengan penuh kasih kelembutan, dan dengan tatapan mata penuh cinta, “Lanjutkan...! Aku tetap bertahan demi engkau, anak-Ku, dan Aku akan selalu menyertai-Mu”. O Tuhan yang menderita, Tuhan yang selalu memahami penderitaan manusia, yang selalu solider dengan derita dan kepahitan kami, demi cinta-Mu padaku, Tuhanku, demi penebusan seluruh dunia, aku juga rindu untuk selalu bertahan. Itulah sukacita dan pengharapanku, yaitu boleh ikut menderita bersama-Mu, menderita dalam cinta dan pengharapan. Dan kalau pun kita masih jatuh dan gagal untuk bertahan dan setia, kita tidak perlu sampai berputus asa, bangunlah lagi dan lanjutkan, Tuhan selalu menguatkan kita. Ingatlah selalu akan hal ini, “Sebab Imam Besar yang kita punya, bukanlah imam besar yang tidak dapat turut merasakan kelemahan-kelemahan kita, sebaliknya sama dengan kita, Ia telah dicobai, hanya tidak berbuat dosa” (Ibrani 4 : 15) dan “Sebab oleh karena Ia sendiri telah menderita karena pencobaan, maka Ia dapat menolong mereka yang dicobai.” (Ibrani 2 : 18).


Sambil membereskan dokumen-dokumen kursus, lamat-lamat saya bersenandung menyanyikan lagu “Trading My Sorrow” karya Darrel Evans yang saya kenal dalam sebuah persekutuan doa. Di hatiku, kudengar selalu Tuhan membisikkan dengan penuh kasih, ”Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman TUHAN, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan.” (Yeremia 29 : 11). Hati saya membalas-Nya dalam suka, ” Jesus, I trust in You..!”

Trading My Sorrow

I'm trading my sorrow
I'm trading my shame
I'm laying it down for the joy of the Lord

I'm trading my sickness
I'm trading my pain
I'm laying it down for the joy of the Lord

Chorus:
And we say yes Lord, yes Lord, yes yes Lord
Yes Lord, yes Lord, yes yes Lord
Yes Lord, yes Lord, yes yes Lord Amen

I'm pressed but not crushed, persecuted not abandoned
Struck down but not destroyed
I'm blessed beyond the curse, for his promise will endure
And his joy's gonna be my strength

Though the sorrow may last for the night
His joy comes with the morning

No comments:

Post a Comment