Monday, March 4, 2013

Sebuah pesan cinta dari palungan



Keledai kecil, keledai kecil berjalan perlahan di jalan berdebu, menembus kesunyian malam.

Beban tunggangan yang kudus di punggungmu, ternaungi cahaya bintang yang bersinar di langit kelam.

Oh lihatlah, Betlehem telah nampak di hadapan, teruslah melangkah dan jangan menyerah dulu, hantar Bunda Maria dan Bapa Yusuf selamat sampai di tujuan.

Ketika mereka di situ tibalah waktunya bagi Maria untuk bersalin, dan ia melahirkan seorang anak laki-laki, anaknya yang sulung, lalu dibungkusnya dengan lampin, dan dibaringkannya di dalam palungan, karena tidak ada tempat bagi mereka di rumah penginapan (Luk 2 : 6-7)

Saat mengeluarkan berbagai ornamen dari kotak penyimpanan untuk menghias kandang Natal di samping pohon natal keluarga kami, hampir terlewat oleh saya sebuah patung mungil seekor keledai, yang merupakan anggota hiasan kandang Natal yang paling kecil. Satu-satunya anggota kandang yang hampir seukuran dengannya hanyalah patung bayi Yesus dengan palungan yang ditempatiNya, di mana palungan adalah tempat makan dan minum bagi hewan ternak, terbuat dari kayu atau batu, yang biasa diletakkan di kandang. Lagu “Keledai Kecil” yang saya terjemahkan dari versi aslinya “Little Donkey” di atas, menemani saya meletakkan patung keledai itu di atas jerami, berdampingan dengan hewan lain yang mengelilingi palungan, yang sudah lebih dulu terpasang rapi di tempatnya masing-masing. Perasaan saya tercekat oleh keputusan Tuhan untuk bersama-sama dengan manusia yang begitu dikasihiNya, keputusan-Nya untuk hadir di tengah-tengah kita dalam kondisi yang sedemikian sederhana. “Tuhan….”, pikir saya dengan sendu, “Engkau memilih datang dalam kesunyian malam, di tengah berbagai kesulitan dan keterbatasan, dikelilingi figur-figur yang begitu lemah, polos, dan sederhana. Siapakah aku sehingga Engkau sudi datang bagiku dalam keadaan seperti ini. Sesaat saya merasa segala kebanggaan saya sebagai pribadi, yang senantiasa ingin dihargai dan dipandang, terkoyak runtuh, tertunduk malu di hadapan palungan Raja segala raja, yang memilih meninggalkan semua gemilang kuasaNya, menjadi bukan siapa-siapa, supaya Ia bisa bersama-sama dengan saya dan menjadi pembela saya.

Peristiwa kelahiran Tuhan Yesus Kristus di tengah-tengah manusia, bagi saya bagaikan sebuah pembelajaran bagi dunia, yang serba ingin mudah dan senang, bahwa kesulitan dan ketidakpastian bukanlah sesuatu yang harus selalu dianggap akhir dari segala harapan. Pun tantangan dan hambatan tidak selalu merupakan sebuah aib untuk dihindari. Ketika Bunda Maria memilih untuk mengatakan “ya” kepada Allah untuk mengandung dan melahirkan Juruselamat dunia, sesungguhnya kesulitan dan ketidakpastian yang begitu besar membayanginya. Kemungkinan diceraikan oleh Yusuf tunangannya, kemungkinan dirajam sampai mati akibat dianggap melakukan dosa perzinahan. Kebingungan Yusuf tunangannya, yang harus menikahi Maria dalam keadaan sudah mengandung, pun tak kalah mencekam, sampai akhirnya Yusuf berserah dan melangkah maju dengan iman setelah malaikat Tuhan meyakinkannya melalui mimpi.

Perjalanan mereka dari Nazaret menuju Betlehem untuk melakukan pendaftaran diri dalam memenuhi perintah Kaisar Agustus, membuat mereka harus mencari tempat bermalam dadakan, karena Bunda Maria ternyata harus segera bersalin. Tidak lagi tersedianya tempat yang layak di rumah penginapan, membuat Bunda Maria melahirkan Puteranya (yang kelahirannya telah diberitahukan sebelumnya oleh malaikat Allah sendiri), di sebuah kandang hewan. Saya tidak dapat membayangkan bagaimana perasaan Bunda Maria pada saat itu, seorang Putera yang kata Malaikat Tuhan akan menjadi raja keturunan Yakub sampai selama-lamanya, Anak Allah Yang Maha Tinggi, ternyata Tuhan ijinkan lahir di tempat seperti itu. Tetapi Bunda Maria tidak merasa bergeming atau gentar, ia hanya menyimpan semua peristiwa itu dengan lembut dan penuh iman di dalam hatinya.

Lihatlah, pengunjung-pengunjung pertama dari peristiwa kelahiran Pewaris Tahta Daud yang akan menyelamatkan Israel itu. Semuanya berkaki empat. Wajah-wajah polos dan lugu dari kambing, sapi, domba, dan keledai, menyambut senyum pertama Sang Bayi yang baru saja hadir di dunia. Saya tersenyum membayangkan indahnya kepolosan dan penyerahan yang total kepada Sang Pencipta, betapa beruntungnya mereka boleh menjadi tamu kehormatan pertama dari kelahiran Sang Raja.

Tamu-tamu berikutnya yang kemudian menyusul tetap membuat mata hati tercengang. Pada masa itu, gembala adalah golongan masyarakat kelas bawah. Tetapi Tuhan memilih mereka untuk menjadi orang-orang pertama yang menerima kabar gembira itu, melalui berita dari malaikat dan puji-pujian sejumlah besar bala tentara surgawi. Kesederhanaan hati mereka membuat mereka segera berangkat mencari Sang Bayi, tanpa banyak berargumentasi. Sikap hati tanpa prasangka negatif dan penghakiman, memungkinkan manusia dan mahluk ciptaan berkesempatan melihat kemuliaan Allah.

Walau secara mata manusiawi, peristiwa kelahiran Tuhan nampak begitu penuh rintangan, kesulitan, dan kontroversi, ternyata Allah telah merancang dengan sempurna kedatangan Putera Manusia ke dunia. Menolong manusia menemukan apa yang terpenting di dalam perjalanan kehidupan ini dan menemaninya sampai akhir dalam kerendahan hati yang tak terbatas, supaya manusia mampu mencapai keselamatan sejati dalam kekudusan dan kerendahan hati yang sempurna. Semangat kesederhanaan dan tidak anti kepada kesukaran adalah dasar dari sikap penyerahan total kepada Allah, sikap terbuka untuk dipakai Allah bagi pekerjaan-pekerjaan agung-Nya. Sikap tanpa prasangka dan tanpa penghakiman yang merendahkan sesama atau situasi kehidupan, membuka jalan bagi pengakuan akan martabat manusia yang luhur. Sikap itu memanggil kita untuk terus mengarahkan hati kepada peningkatan kesejahteraan sesama manusia, dengan segenap cinta kasih yang dapat kita berikan kepada orang lain, cinta kasih yang sudah selalu kita terima dengan berlimpah dan cuma-cuma dari Allah, setiap saat.

Akhirnya, ornamen kandang Natal yang terakhir saya pasang adalah sebuah bintang besar berwarna keperakan yang saya letakkan di atap bangunan kandang itu. Di dalam gelapnya kepedihan hidup, dinginnya ketidakberdayaan melawan kuasa dosa, ego, dan penderitaan akibat godaan si jahat, manusia amat merindukan hadirnya Terang yang membawa kehangatan dan harapan. Kehadiran Kristus di antara kita sebagai manusia dengan semangat cinta dan solidaritas yang tak terhingga, menjadi jawaban yang dinanti-nantikan manusia dalam peziarahannya di dunia. Nyanyian bala tentara surgawi di malam yang kudus itu adalah sukacita untuk kita karenaTuhan tidak pernah meninggalkan kita. Ia selalu dekat, terang-Nya selalu hangat, dan dalam segala bentuk kesukaran hidup, kasih-Nya justru hadir semakin lekat. Sikap rendah hati dan percaya sepenuhnya akan kasih Allah memampukan kita untuk mengalami kehangatan Terang itu. Bahkan kita dapat turut memantulkan Terang itu, melalui hidup sehari-hari, dengan kerendahan hati seperti Sang Bayi Yesus, mewartakan kepastian kasih Allah itu kepada dunia di sekitar kita. Sebab Allah yang telah berfirman: “Dari dalam gelap akan terbit terang!”, Ia juga yang membuat terang-Nya bercahaya di dalam hati kita, supaya kita beroleh terang dari pengetahuan tentang kemuliaan Allah yang nampak pada wajah Kristus. (2Kor 4:6)

Terima kasih Yesus, bila Engkau ada di sisiku, malam yang tergelap sekalipun tak lagi pekat, karena cahaya cinta-Mu menerangi hatiku, membuatku tetap tersenyum memandang dunia di dalam kerahiman-Mu.

Selamat merayakan Natal, semoga kehangatan cinta dan damai dari Bayi Yesus yang rendah hati, membungkus hati kita dan mengiringi perjalanan hidup kita di dunia menuju kepada Bapa. (Triastuti)

Perjuangan Adven, keindahan Natal



Salah satu ciri suasana menjelang penghujung tahun adalah datangnya musim buah-buahan khas bumi pertiwi. Menjelang bulan September dan Oktober, pohon-pohon mangga yang tampak di jalan-jalan perumahan penduduk atau di wilayah pedesaan menampilkan buah-buahnya yang bergelantungan menarik mata siapa saja yang melihatnya. Demikian juga penjual buah nangka dan durian muncul berderet-deret di sepanjang jalan. Sementara itu, memasuki bulan November, pohon rambutan akan tampak mulai berbunga, memunculkan bulatan-bulatan mungil berwarna hijau berambut yang mengelompok di ujung dahan. Hal yang sama terjadi dengan pohon kelengkeng.

Saya tidak pandai bercocok tanam. Kalau pun saya memiliki pohon buah-buahan, saya hanya tahu menikmati pemandangan indah saat buah-buah yang bergelantungan siap untuk dipetik dan dinikmati. Tidak demikian halnya dengan suami saya. Sebagai orang yang tidak berlatar belakang pertanian, ia mempunyai pemahaman yang cukup baik tentang bercocok tanam, dan “bertangan dingin” bila berurusan dengan tanaman. Baginya, pohon buah-buahan tidak hanya menyajikan keasyikan yang berkaitan dengan saat memetik buah dan menikmatinya. Dengan ketelatenan yang besar, ia mengawali keasyikan sejak memilih bibit yang baik, dengan cara menyisihkan biji dari buah yang manis dan bagus, lalu menebar benih itu di sebuah pot atau polybag, merawatinya dengan pupuk kompos dan menyiraminya dengan teratur. Biji itu pun bertunas dan mulai terbentuk badan tanamannya. Ia rajin membuang tanaman liar yang mengganggu pertumbuhan tanaman mungil itu. Setelah cukup besar dan akarnya mulai kuat, ia memindahkan tanaman itu ke tanah yang lebih luas untuk melanjutkan perawatannya di tempat yang permanen. Akhirnya ketika tanaman buah itu cukup dewasa dan mulai menghasilkan buah yang bisa kami nikmati bersama, saya menyadari bahwa kegembiraan saya menikmatinya tidak sebesar kegembiraan dan kepuasan suami saya, yang mengusahakan pohon buah itu sejak masih berupa biji, merawatinya dengan cermat, dan menjaganya supaya selalu sehat. Saya percaya bahwa kepuasan tersendiri saat menikmati buahnya tidak dapat dibandingkan dengan kelelahan kerja saat menanam dan membesarkannya.

Penghujung tahun juga selalu identik dengan Adven. Minggu ini Gereja sedang memasuki minggu Adven yang ketiga. Peringatan peristiwa kelahiran Kristus Juru Selamat kita sudah semakin mendekat. Saya teringat tahun-tahun di mana masa Adven bagi saya sekedar datang dan kemudian berakhir tanpa saya sadari, dan tahu-tahu hari Natal tiba dengan segala kemeriahannya. Lagu-lagu natal yang meriah, kue-kue berhias yang memikat mata, pusat perbelanjaan dengan semua atributnya yang sangat menarik, dan daftar barang untuk dibeli sebagai hadiah bagi keluarga dan kerabat. Semua kemeriahan itu memang indah dan memberi nuansa tersendiri seputar perayaan Natal, dan saya menikmatinya. Tetapi ketika saya mengamati kandang Natal di altar gereja di mana patung bayi Yesus diletakkan pada malam Natal, tiba-tiba hati saya terasa sepi. Semua kemeriahan menjelang perayaan Natal itu terasa tidak sinkron dengan keheningan keluarga kudus Nazareth di kandang hewan itu. Saya bertanya-tanya dalam hati, apa dan siapa yang sebenarnya sedang saya rayakan.

Adven datang dan pergi, Natal tiba dan berlalu, saya tidak ingat apakah saya sudah menjadi lebih baik dan lebih mengasihi dibandingkan tahun-tahun yang berlalu, sementara Yesus sudah datang berkali-kali mengetuk hati saya dengan pesan kerinduan untuk lahir dan menetap di hati saya. Teringat oleh saya keindahan merawati tanaman sampai menghasilkan buah yang bisa dinikmati bersama, yang sering dilakukan oleh suami saya. Saya tidak merasakan kepuasan dan kegembiraan sebesar seperti yang ia alami, karena saya hanya sekedar memetik buah yang sudah jadi dan memakannya, tidak merasakan seninya memilih bibit, capeknya mencabuti rumput liar, dan kedisiplinan memberi pupuk dan menyiram. Rasa buah itu memang manis di lidah, enak dan memuaskan di perut, tetapi saya melewatkan saat-saat penuh usaha yang menghasilkan semua kemanisan itu. Karena saya hanya menjadi penonton, tidak terlibat dalam pengusahaan yang membuat bernilai keberhasilan dari sebuah usaha. Masa Adven sepertinya berlalu begitu saja dengan hambar, jika saya hanya menjadi penonton, tidak terlibat aktif di dalam menanggapi kesempatan indah yang diberikan Tuhan melalui Gereja-Nya, untuk menelisik apa yang masih harus saya benahi di hadapan Tuhan, melalui kegigihan merenungkan Firman-Nya setiap pagi, meluangkan waktu lebih banyak untuk berdoa dan merayakan Misa harian, serta berkumpul dengan saudara seiman untuk saling menguatkan komitmen kasih kita kepada-Nya. Melakukan semua usaha yang perlu, agar buah-buah kasih dan pertobatan yang memberi saya hidup, dapat saya petik dengan manis di hari kelahiran Yesus Tuhanku. Santo Yohanes Pemandi bahkan mengingatkan dengan keras, “Kapak sudah tersedia pada akar pohon dan setiap pohon yang tidak menghasilkan buah yang baik, akan ditebang dan dibuang ke dalam api.” (Luk3:9)

Hadiah Natal terindah tidak saja berupa benda-benda yang dibungkus dengan cantik, atau hidangan lezat yang disiapkan dengan segenap jerih payah, tetapi bahwa hati saya sudah menjadi palungan yang paling empuk dan nyaman untuk Tuhan berbaring di hari kedatangan-Nya dan berdiam di sana, memberikan saya kekuatan untuk menghasilkan buah-buah kasih yang paling manis yang bisa dinikmati sesama di sekitar saya dan lebih khusus lagi, yang bisa dinikmati oleh Tuhan. Bahagianya bila kita bisa mempersembahkan hadiah paling indah bagi bayi Yesus. Hadiah persembahan hati yang rindu dan siap dibentuk oleh hikmat-Nya, hadiah khusus hasil kerja keras dan usaha pertobatan yang tak kenal lelah, bagi Dia yang telah sudi menjadi seperti kita dan hadir di tengah-tengah kita. Itulah sukacita yang dimaksudkan Tuhan untuk saya hayati di hari kelahiran-Nya, sukacita karena kemenangan atas segala godaan egoisme dan cinta diri. Sukacita karena berusaha mengasihi Tuhan dan sesama dengan lebih sungguh. “Seperti Bapa telah mengasihi Aku, demikianlah juga Aku telah mengasihi kamu; tinggallah di dalam kasihKu itu. Jikalau kamu menuruti perintahKu, kamu akan tinggal di dalam kasihKu, seperti Aku menuruti perintah Bapaku dan tinggal di dalam kasihNya. Semuanya itu Kukatakan kepadamu, supaya sukacitaKu ada di dalam kamu dan sukacitamu menjadi penuh. Inilah perintahku, yaitu supaya kamu saling mengasihi, seperti Aku telah mengasihi kamu.” (Yoh 15: 9-12).

Akhirnya, hari Natal tetap akan tiba, baik saya mempersiapkan diri atau tidak. Tuhan tetap akan datang ke dunia, datang untuk kedua kalinya dengan segala kemuliaan-Nya, dan datang di saat kematian menjemput kita (yang kita tidak pernah tahu kapan), baik kita siap atau tidak. Rahmat dan karunia-Nya telah senantiasa dicurahkanNya dengan berlimpah untuk menopang niat pertobatan kita dan menuntun kita pada jalan kekudusan. Kini pilihan ada di tangan Anda dan saya. Selamat menyongsong Adven minggu ketiga. (Triastuti)

Apakah Ia sungguh seorang Raja bagiku



Ketika saya berkunjung ke kota Bangkok, saya melihat di setiap hari kelahiran Raja Thailand, yaitu hari Senin, hampir seluruh masyarakat, dan tidak hanya pegawai pemerintah, menggunakan pakaian berwarna kuning, yaitu warna kelahiran untuk hari Senin menurut tradisi umat Buddha. Mereka menggunakan pakaian berwarna kuning dengan penuh semangat dan kebanggaan, sebagai tanda cinta dan penghormatan kepada raja yang sangat mereka kasihi. Masih cukup banyak contoh dalam kehidupan sehari-hari yang menunjukkan dalamnya rasa cinta dan hormat masyarakat Thailand kepada raja mereka, Raja Bhumibol Adulyadej, yang mempunyai sejarah masa pemerintahan terlama di dunia dan memang dikenal arif dan banyak membawa perdamaian di dalam berbagai gejolak politik yang terjadi sepanjang sejarah bangsa Thailand.

Rasa hormat dan kagum kepada seorang raja, disertai cinta yang besar, pasti akan membuat seseorang memberikan lebih banyak lagi dedikasi yang dipersembahkan bagi sang raja, mungkin bahkan sampai pada titik menyerahkan hidupnya demi kesetiaan dan pengabdian kepada sang raja, yang pada masyarakat tertentu, sudah dianggap penjelmaan dari dewa atau utusan Tuhan. Saya berpikir, pengabdian apakah yang telah saya curahkan bagi Raja Segala Raja, yang kita peringati pada minggu terakhir tahun liturgi sebelum masa Adven dimulai ini?

Apakah Raja Yang Satu ini sudah begitu menempati hati saya dan menjadi raja atas segala keputusan saya, pikiran saya, perkataan saya, dan perbuatan saya? Apakah saya bahkan sudah sungguh-sungguh mengenal Dia sebagai Raja Semesta Alam, Seorang Raja yang begitu mencintai umat-Nya, sehingga rela meninggalkan segala hak dan atribut-Nya sebagai Raja, untuk hidup di tengah umat-Nya yang lemah dan serba terbatas, demi mengajarkan cinta, pengorbanan, kepedulian, kerendahan hati, kelembutan, sembari terus menawarkan pengampunan, sukacita, dan kelepasan sejati dalam hidup ini, bahkan akhirnya rela memberikan nyawa-Nya dengan sengsara yang begitu dalam, demi umat yang amat dikasihi-Nya, supaya umat-Nya bahagia dan selamat? Di manakah di seluruh dunia ini ada Raja sedemikian? Begitu besar kuasa dan kekuatan-Nya, bahkan seluruh alam semesta ini adalah milik-Nya, dapat diubah atau dilenyapkan-Nya semudah membalikkan telapak tangan kalau Dia mau, tetapi semua kebesaran itu rupanya masih kalah oleh rasa cinta yang tak terhingga kepada umat-Nya. Manusia ciptaan-Nya ini yang terus menerus menjadi buah pikiran-Nya, sampai Ia memilih menjadi sama dengan mereka. Penderitaan umat-Nya karena dosa-dosa mereka itu telah menjadi sumber keteguhan hati-Nya, sehingga Ia bertahan hingga akhir di kayu salib kesengsaraan penuh kehinaan. Tetapi sesungguhnya, penyakit kitalah yang ditanggungnya, dan kesengsaraan kita yang dipikulnya, padahal kita mengira dia kena tulah, dipukul dan ditindas Allah (Yesaya 53:4)

Pada hari raya Kristus Raja Semesta Alam ini, saya memandangi gambar-gambar Diri-Nya di seluruh penjuru rumah, di berbagai penjuru bangunan gereja dan tempat aktivitas umat beriman. Saya teringat akan begitu banyak manusia di dunia ini, yang menyembah dan menghormati Dia, menyebut diri pengikut-Nya, menganggap Dia pahlawan tanpa tandingan, Juruselamat yang mengatasi segala kelemahan dan dosa, tetapi…..apakah sebanyak itu juga gambar Diri-Nya memenuhi hati saya? Apakah teladan cinta-Nya, pengurbanan-Nya, kerendahan hati-Nya, kepedulian dan kasih-Nya, memang sudah sungguh-sungguh menjadi patokan bagi setiap langkah hidup saya, tercermin mulai dari hal yang terkecil hingga hal-hal yang besar dalam hidup saya ? Apakah saya telah meluangkan waktu-waktu saya yang sangat berharga, khusus untuk bertemu dengan Dia supaya saya bisa mendengarkan Dia berbicara dalam hati saya, melalui Firman-Firman-Nya, melalui teladan orang-orang Kudus-Nya? Dan apakah segenap pujian dan penyembahan yang pantas Dia terima sebagai Raja, sudah sepenuhnya saya curahkan melalui Perayaan Ekaristi, untuk mengenang dan mensyukuri kurban dan sengsara-Nya bagi saya? Ataukah….sesungguhnya Dia hanya sekedar menjadi lambang bagi iman saya? Ataukah…saya hanya mengingat Dia dalam saat-saat sulit dalam hidup, atau… Dia hanya menjadi semacam Pelayan tempat saya mengajukan berbagai permintaan supaya Ia berikan sesuai dengan keinginan saya? Sungguhkah Ia seorang Raja bagiku, jika hanya sedikit saja sisa waktu dalam satu hariku, yang kuberikan untuk menyapa dan memuji-Nya? Sungguhkah ia seorang Raja bagiku, bila kehendak dan kemauanku saja yang terus menerus aku upayakan supaya terlaksana, tanpa hendak menanyakan lebih dulu, meneliti dan belajar, apa yang sebetulnya Dia inginkan bagiku? Atau kamu berdoa juga, tetapi kamu tidak menerima apa-apa, karena kamu salah berdoa, sebab yang kamu minta itu hendak kamu habiskan untuk memuaskan hawa nafsumu (Yak 4:3)

Di awal dan akhir hari ini, di saat doa Bapa Kami kudaraskan dengan bibirku, “Datanglah Kerajaan-Mu…” sesungguhnya aku sedang mendambakan Kerajaan-Nya menjadi segala yang terpenting di dalam seluruh aspek hidupku. Tetapi sayangnya, segala yang ditawarkan oleh kerajaan dunia ini nyatanya lebih sering menarik perhatianku dan menyedot segenap energi dan aspirasiku. Walau Tuhan sudah berkata,“Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu (Mat 6:33). Semuanya itu adalah kedamaian sejati yang dunia ini tak akan bisa memberi.

Akhirnya, dengan hati penuh penyesalan, saya memberanikan diri datang kepada-Nya, Kristus Raja Semesta Alam, yang memberi saya hidup dan semua yang baik oleh karena kasih-Nya:

Tuhan Yesus Kristus, Raja Semesta Alam yang penuh belas kasihan dan kerendahan hati,

Engkau adalah Raja di atas segalanya, Engkau adalah Rajaku, Juruselamatku, sumber hidupku.

Tetapi, ampunilah aku, karena aku seringkali menempatkan Engkau, bukan sebagai seorang Raja, bukan sebagai segala-galanya bagiku

Engkau layak atas segala pujian dan persembahan, tetapi aku lebih suka memuja kesenangan pribadiku

Engkau yang memberiku hidup dan waktu yang berlimpah, tetapi aku sibuk dengan berbagai kepentinganku sendiri, dan hanya menyisakan sedikit sekali waktu bagi-Mu

Engkau yang selalu menghendaki segala yang terbaik bagiku, tetapi aku lebih sering merusaknya dengan memilih jalanku sendiri Engkau berhak atas seluruh hidupku, kemauanku, aspirasiku, segala citaku…tetapi aku lebih sering tidak taat dan tidak patuh kepada-Mu

Engkau adalah sumber segala kebaikan, keselamatan, kesejahteraan, ….tetapi aku begitu bimbang dan lebih mempercayai kuasa-kuasa dunia untuk mengatasi berbagai kesukaranku

Engkau memiliki seluruh hidupku, …tetapi aku hanya datang kepada-Mu bila aku berada dalam kesulitan

Engkau adalah penguasa jiwa dan ragaku, tetapi ternyata aku lebih sering memberontak melawan Engkau

Ya Tuhan Yesus Kristus Juruselamatku, junjungan jiwaku, aku ingin kembali menjadi abdi-Mu yang setia. Nyatakanlah kepadaku apa yang tidak kupahami, bukalah hatiku dan selidikilah jalan-jalanku, supaya aku hanya menghendaki dan mengusahakan apa yang menyenangkan hati-Mu. Kuakkanlah segala kelemahan dan kealpaanku yang tidak kusadari selama ini, yang telah mengganggu aliran cinta-Mu kepadaku, biarlah aku mengakukan dosa-dosaku di hadapan-Mu, dan kembali berjalan di dalam terang bersama teladan cinta-Mu.

Terima kasih atas kurban salib-Mu yang telah menyelamatkan hidupku. Melalui sengsara-Mu, Engkau telah mengambil alih semua kepedihanku, luka hatiku, ketakutanku, ketidakberdayaanku, supaya dari kaki salib-Mu, aku belajar menyalibkan dosa-dosaku, dan bangkit dalam kemenangan dan kebebasan sejati bersama-Mu.

Semoga rasa syukurku atas kurban salib-Mu dan rasa terima kasihku atas semua cinta dan pengurbanan-Mu, menetapkan langkahku untuk meninggalkan dosa-dosaku, dan menjadi abdi-Mu yang setia, seumur hidupku. Bantulah aku bila aku harus jatuh lagi karena kesombongan dan kekerasan hatiku. Ya Raja Semesta Alam, aku amat menghormati dan mencintai-Mu. Terimalah seluruh hati dan hidupku, karena semuanya itu milik-Mu. Amin.

Pada peringatan Hari Raya Kristus Raja, 19 November 2011 (triastuti)

Melewati kematian, melampaui kefanaan



Dari sekian banyak misteri yang belum diketahui oleh akal budi manusia, misteri mengenai kematian dan kehidupan setelah kematian merupakan misteri yang terbesar dan sering menimbulkan rasa takut yang tersembunyi di dalam lubuk hati siapa saja yang membayangkannya. Setelah sekian lama lalu lalang di dalam kehidupan dengan berbagai pengalaman suka dan duka yang begitu beraneka, dengan begitu banyak teman, saudara, kekasih, dan urusan-urusan kehidupan yang begitu kompleks, penuh tantangan, sekaligus dinamis dan mengasyikkan, rasanya sebuah fakta tak terelakkan mengenai kematian menjadi hal terakhir yang ingin kita pikirkan dalam kehidupan ini. Sebuah bentuk keberadaan baru yang sama sekali asing bagi kita, di situ ada tanda tanya besar, ada kesedihan meninggalkan hidup yang begitu menggairahkan, dan tentunya…kesunyian, karena menghadapi kematian, manusia menjadi seorang diri saja, seperti saat datangnya.

Sayangnya, kematian begitu pasti, tidak terelakkan. Semua manusia akan berurusan dengannya, suka atau tidak suka, hanya masalah waktu saja. Akhirnya, walaupun pada suatu hari dan perlahan-lahan manusia bisa berdamai dengan kepastian hidup yang bernama kematian, kematian tetaplah menghadirkan sensasi kegelapan dan kesunyian yang sulit untuk dibayangkan.

Namun syukur kepada Allah Bapa Sang Raja Semesta, karena karunia iman dari Tuhan dan cinta Tuhan kepada manusia yang dinyatakan-Nya melalui Kitab Suci dan pengajaran Gereja-Nya, manusia mempunyai sumber kekuatan yang tak terbatas, melampaui rasa takut dan ketidakberdayaannya dalam berhadapan dengan sang maut. Gereja mengajak kita untuk memandang kematian justru sebagai sebuah awal dari bentuk hidup yang baru, sebuah transformasi yang menjadi sarana paling indah untuk berjumpa dan bersatu kembali dengan Tuhan Sang Pencipta, yang sebenarnya sudah kita rindukan sejak awal kehadiran kita di dalam peziarahan di dunia. Kerinduan yang sering tidak kita sadari, bahkan sebetulnya sering kita pungkiri, dengan segala macam dalih dunia yang meninabobokan jiwa kita.

Sebuah ilustrasi menarik dari sumber yang tidak diketahui pernah beredar di sirkulasi email. Dikisahkan seekor anjing yang sedang terpisah beberapa minggu dari tuannya yang sedang dirawat di rumah sakit. Suatu hari seorang kerabat berinisiatif memberi kejutan yang menyenangkan dengan membawa anjing itu ke rumah sakit supaya bisa menemui tuannya sejenak dan supaya mereka bisa saling berjumpa melepas rindu. Hari itu tanpa sepengetahuan si kerabat, si tuan rupanya sedang menjalani pemeriksaan kesehatan di ruang lain pada saat anjingnya itu tiba. Sampai di sebuah lantai yang masih berada jauh dari kamar rawat inap si tuan, tiba-tiba si anjing melompat dan mencoba berontak dari pegangannya, berusaha memasuki sebuah ruangan yang pintunya tertutup. Si kerabat keheranan melihat tingkah laku si anjing, sementara anjing itu mulai menggaruk-garuk pintu ruang tertutup itu dengan kaki depannya sambil menggonggong dan mengibas-ngibaskan ekornya dengan sukacita. Sang kerabat sama sekali tidak tahu bahwa tuan si anjing sedang berada di dalam ruangan itu untuk sebuah pemeriksaan, tetapi anjing yang setia itu tahu dari indra penciumannya dan dari instingnya, bahwa tuan yang dirindukannya sedang berada di balik pintu dan ia tak sabar untuk segera menemuinya. Ketika pintu itu akhirnya dibuka dari dalam, si anjing menerjang masuk dan melompat ke dalam pelukan tuannya, yang merasa amat gembira dengan kejutan indah hari itu. Antusiasme dan sukacita anjing itu mewakili sikap manusia menghadapi kematian dalam terang iman. Si anjing dengan antusias mencoba untuk masuk ke dalam ruangan yang sama sekali tak pernah diketahuinya, bahkan ia tak akan bisa tahu apabila ternyata ada bahaya atau sesuatu yang tidak menyenangkan menantinya di balik pintu, tetapi ia tidak peduli, karena yang paling penting adalah ia tahu siapa yang berada di balik pintu yang tertutup itu, sosok tuan yang dikasihinya, yang sangat dikenalnya karena selalu menyayangi dan memeliharanya dengan penuh kasih sayang setiap hari. Dan selama ada orang itu, di manapun juga, bahkan di tempat yang sama sekali asing sekalipun, ia tahu ia akan baik-baik saja, ia tahu ia akan bersukacita.

Itulah gambaran iman manusia yang telah mengenal kasih karunia Allah Bapa dan telah diselamatkan oleh kasih setia Tuhan Yesus yang telah menderita sengsara begitu dalam dan wafat bagi kita. Misteri itu tidak perlu menakutkan lagi, karena kita tahu Siapa yang menunggu kita di balik pintu yang tertutup itu. Kita tahu (dan bukan hanya yakin) bahwa Tuhan sudah menunggu kita di balik kematian untuk bersama dengan kita selamanya. Namun kita hanya akan benar-benar tahu, bila seumur hidup yang singkat ini kita terus mengejar pengetahuan akan jalan-jalan-Nya, sehingga kata-kata Yesus sungguh menjadi kenyataan ketika Ia berkata, “supaya di tempat di mana Aku berada, kamupun berada” (Yoh 14: 3c). Usaha kita untuk mengejar pengetahuan akan jalan-Nya hanya terjadi bila kita berusaha sepanjang waktu untuk mencari dahulu Kerajaan Allah, di atas kesenangan-kesenangan pribadi kita, walaupun seringkali hal itu sukar karena kita harus menyangkal diri dan menyalibkan diri sendiri, “Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu.” (Mat 6:33). Akhir kehidupan yang selalu dipenuhi persekutuan dan hadirat-Nya itu membuat kita tahu bahwa saat itu Tuhan akan berkata seperti dalam Mat 25:23, “Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia, engkau telah setia memikul tanggung jawab dalam perkara yang kecil, aku akan memberikan kepadamu tanggung jawab dalam perkara yang besar. Masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu. Kalaupun di akhir kehidupan ini, kita belum sempat menuntaskan bagian kita untuk sepenuhnya berada di dalam hadirat-Nya, Gereja mengajarkan bahwa kerahiman-Nya melalui proses pemurnian di dunia baka, sanggup memberikan kita kepastian akan akhir yang membahagiakan.

Demikianlah iman dan kasih yang dicurahkan Tuhan melalui kekayaan pengajaran Gereja-Nya, tidak hanya membekali manusia menghadapi kematiannya sendiri, tetapi juga memberikan kekuatan pada saat manusia menghadapi kematian orang-orang terdekat yang sangat dikasihi. Suatu hari, pada peringatan duapuluh tahun meninggalnya paman saya, sepupu saya yang adalah anak paman yang tertua, bertanya-tanya dengan sedih, bagaimana kita bisa tetap berhubungan secara nyata, atau setidak-tidaknya berkontak batin, atau sedikit saling mengetahui perasaan satu sama lain, dengan orang-orang terkasih yang telah meninggal dunia. Pada waktu-waktu tertentu, ia amat merindukan ayahnya, dan ia berharap ia bisa berkomunikasi secara nyata dengan ayahnya, seperti halnya kalau saya sesekali menelpon ayah saya, mengirim email, atau bicara melalui skype dari tempat tinggal saya yang jauh dari ayah. “Aku ingin bisa menjumpainya dalam mimpiku, atau mendengarnya berbisik di dalam doaku, atau merasakan kehadirannya dalam kesendirianku bersama Tuhan dalam waktu-waktu doaku, tetapi ayah seperti lenyap tak berbekas, gone with the wind, “ sepupu saya bercerita dengan sendu.

Saya tercenung, tetapi lalu saya tergerak untuk mengatakan kepadanya, bahwa Tuhan yang selalu kita ajak bicara setiap saat dalam doa dan pujian penyembahan, juga tidak pernah kita lihat wujud-Nya, pun tidak pernah kita dengar suara-Nya. “Tetapi kita tahu bahwa Ia ada di sana, Ia hadir, dan Ia selalu bersama kita untuk menolong kita dalam pergumulan hidup sehari-hari”, kataku. Iman dan cinta-Nya membuat kita yakin dan bahkan mengalami terus penyertaan-Nya walaupun secara panca indera, kita sama sekali tidak mampu menangkap keberadaan-Nya. “Maut tidak bisa memisahkan kita dengan orang-orang yang kita cintai, Kak, tidak seharusnya begitu, karena aku percaya Tuhan tidak bermaksud begitu, kataku, “kita hanya belajar untuk berhubungan dan berelasi dengan mereka dengan cara yang baru, dan mengembangkan bentuk relasi yang baru itu melalui kerahiman Allah yang selalu merangkul kita sebagai satu keluarga, baik di dalam hidup maupun melewati hidup. Kita adalah satu keluarga besar di dalam Allah Bapa, Allah Putera, dan Allah Roh Kudus, dan maut tidak membuat kekeluargaan dalam Dia itu berakhir.” Lalu saya membuka Kitab Suci dan mengingatkan salah satu ayat favorit saya itu kepada sepupu saya, “Ini buktinya”, dan saya baca perlahan-lahan dari Roma 8:38-39, “Sebab aku yakin, bahwa baik maut, maupun hidup, baik malaikat-malaikat, maupun pemerintah-pemerintah, baik yang ada sekarang, maupun yang akan datang, atau kuasa-kuasa, baik yang di atas, maupun yang di bawah, ataupun sesuatu makhluk lain, tidak akan dapat memisahkan kita dari kasih Allah, yang ada dalam Kristus Yesus, Tuhan kita. “ Tuhan mengasihi kita begitu rupa, sehingga kita dikaruniai ayah, ibu, para saudara dan sahabat serta para kekasih hati. Kehadiran dan cinta mereka di dalam hidup kita adalah tidak terpisahkan dari kasih Allah sendiri di dalam hidup kita. Maka jika kita berpisah untuk sementara karena kematian, seperti juga maut itu tidak akan dapat memisahkan kita dari kasih Allah, demikianlah maut yang sama tidak memisahkan kita dari kasih kita satu sama lain kepada orang-orang terdekat, sekalipun mereka sudah tidak lagi bersama-sama kita secara fisik di dalam dunia ini.

Pada hari Peringatan Arwah Semua Orang Beriman tanggal 2 November, Gereja mengajak anggota-anggota Tubuh Kristus untuk merenungkan dan menggali harta kekayaan sebagai tanda nyata kehangatan kasih Allah Bapa yang mempersatukan semua anggota Tubuh Kristus, baik yang masih mengembara di dunia maupun yang sudah mulia di Surga, bersama-sama berdoa bagi mereka yang masih disucikan di dalam pemurnian. Kehangatan kasih saling mendoakan yang melewati batas-batas dunia fana itu menjadi suatu pesan yang amat kuat bahwa kehangatan kasih Bapa mengalahkan segala bentuk kegelapan, kesunyian, dan kesendirian yang dirasakan manusia menyangkut kematian. Perayaan Ekaristi yang diadakan di gereja maupun di pekuburan tempat peristirahatan terakhir anggota Tubuh Kristus yang telah berpulang, menyiratkan harapan yang begitu nyata akan kerahiman Tuhan yang melampaui hidup dan kematian. Seperti yang dapat kita baca di dalam Katekismus Gereja Katolik, diajarkannya kekayaan sedemikian:

1475. Dalam persekutuan para kudus, “diantara para beriman apakah mereka telah ada di dalam tanah air surgawi atau masih menyilih di tempat penyucian atau masih berziarah di dunia – benar-benar terdapat satu ikatan cinta yang tetap dan satu pertukaran kekayaan yang berlimpah” (ibid.). Dalam pertukaran yang mengagumkan ini kekudusan seseorang dapat berguna untuk orang lain, dan malahan lebih daripada dosa seseorang dapat merugikan orang lain. Dengan demikian penggunaan persekutuan para kudus dapat membantu pendosa yang menyesal, bahwa ia lebih cepat dan lebih berdaya guna dibersihkan dari siksa-siksa dosanya.

Ada banyak nilai-nilai iman dan kasih dari kehidupan yang diberikan Tuhan, yang tidak dapat ditaklukkan oleh maut, betapapun kuatnya cengkeraman maut itu terhadap hidup manusia. Kepedulian kita yang masih mengembara di dunia untuk mempersembahkan doa-doa kita bersama para Kudus demi penebusan saudara-saudara kita yang masih berada di api penyucian adalah suatu bukti nyata dari nilai iman dan kasih itu. Dan puncak dari kemenangan Tuhan atas sengat maut yang melumpuhkan manusia itu terjadi pada hari Paskah, ketika Yesus bangkit dari maut untuk membawa manusia yang percaya kepada-Nya menuju kepada hidup berkelimpahan yang abadi, di mana segala bentuk kasih Tuhan yang kekal kepada seluruh ciptaan dirayakan dan dihayati dalam segala keutuhan dan kesempurnaan. Tuhan tidak pernah membiarkan kita sendirian dalam perjalanan akhir kita menuju ke sana. Hari Peringatan Arwah Semua Orang Kudus dan Peringatan Arwah Semua Orang Beriman mengingatkan kita akan kerahiman dan penyertaan-Nya yang tak pernah berhenti kepada masing-masing dari kita yang mengasihi Tuhan dan mencari kehendak-Nya dengan segenap hati, dalam hidup ini, sampai terus melewati kematian. Semoga kita menanggapinya dengan semangat cinta yang sepenuhnya. (Triastuti)

Doa Rosario : It's all about Jesus and His love to me



Saya memandangi rosario di tangan saya. Dari bahan apapun terbuatnya, butir-butir itu tampak begitu bersahaja. Sesederhana doa-doa berulang yang saya ucapkan di setiap butirnya. Bagaikan kesederhanaan seorang gadis bersahaja di kota kecil Nazaret di Galilea, yang sangat rendah hati dan tulus, yang menyerahkan sepenuhnya keputusan hidupnya pada Allah. Saya tidak ingat lagi pada usia berapa di hidup saya terjadinya awal perkenalan saya dengan benda berbutir-butir yang terangkum menjadi satu untaian ini. Sama seperti reaksi Bunda Maria yang pertama kali terbaca di dalam Kitab Suci adalah rasa terkejut dan kemudian tidak mengerti, dulu saya juga tidak paham mengapa harus mengulangi doa yang sama sebanyak lima kali sepuluh, dan mengapa saya tidak langsung saja berdoa kepada Bapa. Sama seperti seluruh rencana Allah adalah suatu misteri yang amat besar bagi Bunda dalam seluruh perjalanan hidupnya. Bahkan dalam setiap episode perjalanan hidupnya bersama Yesus, ia tidak pernah bisa membayangkan, apalagi memperkirakan, episode seperti apa yang akan dialaminya di hadapan. Semuanya begitu penuh kejutan dengan banyaknya tantangan dan kesukaran. Sampai kemudian di akhir seluruh rancangan yang dijalaninya itu, ia mendapati dirinya dengan hati yang remuk memeluk tubuh Putera-Nya yang bersimbah darah dalam keadaan kaku tidak bernyawa setelah diturunkan dari kayu salib yang hina di mana hidup-Nya berakhir. Namun dengan lemah lembut, ia hanya menyimpan dan merenungkan semua itu dalam hatinya, hatinya yang selalu percaya, percaya sepenuhnya kepada kebaikan dan kebijaksanaan Tuhan.

Demikianlah perjalanan hidup ini saya juga tidak pernah tahu akan menuju ke mana. Rencana Allah dan skenario penyelamatan-Nya yang begitu agung bagi keselamatan saya, juga masih selalu menyisakan misteri bagi akal budi saya. Tetapi, karena butir-butir rosario yang meluncur di antara jemari saya itulah, sambil mendaraskan doa yang sama setiap kali, saya merasa dibimbing oleh Bunda Maria untuk meyakini kasih Allah di balik setiap episode kehidupan yang merupakan misteri itu. Bunda sudah membuktikannya. Ketaatan dan kerendahan hatinya untuk mengatakan ‘ya’ kepada setiap skenario Allah, membuat saya dan seluruh umat manusia di bumi bisa melihat sebuah akhir yang selalunya baik, akhir yang indah dan penuh kemenangan, dari rangkaian peristiwa kehidupan yang panjang dan penuh liku, yang selalu menyisakan ketidakmengertian yang tak berujung bagi akal budiku. Semuanya baik, karena Bunda bertahan sampai akhir. Keyakinan bahwa semuanya akan baik dan semuanya memang baik seperti halnya Bunda sudah menunjukkan teladan itu kepada saya, membuat dalam ketidakmengertian saya, saya berani mencoba berseru dengan penuh keyakinan bersama Bunda, “Tuhan, terjadilah padaku menurut perkataan-Mu”. Ungkapan seperti itu hanya bisa dinyatakan kepada sosok Tuhan yang selalu mempunyai rancangan yang baik dan tahu memegang kendali untuk membuat segalanya baik. Tak peduli betapapun berat dan pahit prosesnya di tengah-tengah, tetapi bersama Dia dan di dalam Dia, semuanya baik, dan akan berakhir baik. Dan orang pertama yang memberi saya contoh bahwa harapan seperti itu bukanlah harapan yang kosong adalah Bunda Maria, melalui keteladanan seluruh hidupnya.

Sejak pertama kali belajar untuk mengenal siapakah Yesus itu bagi saya, saya semakin menyadari dengan bertambahnya usia, bahwa proses perjalanan mengenal Yesus dan kehendak-Nya bukan proses setahun atau sepuluh tahun, melainkan proses seumur hidup. Saya menemukan bahwa sebagai doa yang dipanjatkan dengan perantaraan Bunda Maria, doa Rosario menolong saya untuk menghayati mengapa Yesus yang adalah Tuhan dan Raja, sudi datang ke dunia untuk menjadi sama seperti saya, dan membebaskan saya dari semua ikatan dunia dan dosa yang membebani manusia. Doa Rosario membawa saya melangkah lebih jauh dalam iman untuk terus menerus diingatkan pada teladan pengurbanan cinta Kristus dan disemangati oleh kerendahan hati Bunda untuk terus mencontoh keteladanan itu, betapapun sulitnya. Hal itu dimungkinkan karena dari seluruh judul dalam peristiwa-peristiwa doa Rosario, hampir seluruhnya bercerita tentang Yesus dan perjalanan hidup-Nya sebagai manusia, hingga kenaikan-Nya ke Surga. Ada empat kategori peristiwa, yaitu Peristiwa Gembira (didoakan hari Senin dan Sabtu), Sedih (didoakan Selasa dan Jumat), Mulia (didoakan Rabu dan Minggu), dan Terang (didoakan Kamis). Masing-masing kategori mempunyai lima peristiwa untuk direnungkan, jadi seluruhnya ada 20 peristiwa, dan dari semua itu nama Bunda Maria hanya disebutkan sebanyak empat kali sebagai judul peristiwa. Dua kali di awal Peristiwa Gembira (Maria menerima kabar dari malaikat dan Maria mengunjungi Elizabeth) serta dua kali di akhir Peristiwa Mulia (Maria diangkat ke Surga dan Maria dimahkotai di Surga). Selebihnya semuanya mengenai Yesus dan yang mengenai Maria pun intinya bercerita tentang Yesus. Sama seperti seorang ibu yang tidak tertarik menceritakan dirinya sendiri atau mencari pujian bagi dirinya sendiri pada saat menceritakan mengenai anak yang dikasihinya, sebagai ibu yang melahirkan-Nya ke dunia, Bunda mengajarkan saya untuk mengenal Yesus lebih baik dan berjalan setiap hari bersama Dia di jalan keteladanan-Nya. Ya, doa Rosario adalah doa Yesus, because it’s all about Jesus, it’s all about His love to me, dan membantu saya untuk terus memahami dan mengalami cinta-Nya kepadaku.

Pengalaman Bunda Maria yang direnungkan secara khusus di dua peristiwa pertama dalam Peristiwa Gembira dan di dua peristiwa terakhir dalam Peristiwa Mulia, menggambarkan bahwa karya keselamatan Allah diawali dari kerjasama Bunda Maria, dan kelak, penggenapan rencana keselamatan-Nya bagi kita juga seperti yang dilakukan Allah kepada Bunda Maria. Sebab jika kita bekerja sama dengan rahmat Allah seperti halnya Bunda Maria, maka kelak kita akan pula menerima janji keselamatan dan mahkota kehidupan sebagaimana digenapi Tuhan di dalam hidup Bunda Maria.

Tuhan Yesus mengatakan dalam Yoh 15:5, “Akulah pokok anggur dan kamulah ranting-rantingnya. Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak, sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa”. Bagaimana saya bisa selalu dekat pada Yesus, bahkan tinggal di dalam Dia dan menyukakan hati-Nya sehingga saya bisa berbuah banyak? Mengerti apa yang menjadi kehendak-Nya, dan terus berjalan di dalam keteladanan pengorbanan salib-Nya yang kudus? Salah satu jawabannya ialah dengan selalu berjalan bersama ibu-Nya dalam doa Rosario. Teladan Bunda Maria mengajarkan saya untuk bertahan dalam kerendahan hati, mempunyai sikap bergantung sepenuhnya kepada Allah, mudah memaafkan dan mengerti sesama, peka terhadap kebutuhan dan kesusahan orang lain, tidak cepat menghakimi suatu peristiwa / sesama yang tidak mengenakkan, merasa diri selalu membutuhkan rahmat pengampunan Tuhan, dan mengajak saya terus menerus mengintrospeksi diri apakah hidup saya sudah selalu selaras dengan cita-cita Puteranya. Doa Rosario membuat saya tidak pernah jauh dari Yesus.

Melalui perenungan peristiwa-peristiwa Rosario, Bunda Maria membawa saya mengenal Alah Tritunggal. Saya belajar dari interaksi Bunda dengan Allah Bapa, Allah Putera, dan Allah Roh Kudus, yang ketiganya saling bersinergi mencapai tujuan keluhuran dan kebahagiaan kekal bagi seluruh umat manusia. Sinergi ketiganya terwujud karena ketaatan Bunda sebagai media penyambung keseluruhan kesempurnaan rancangan-Nya. Bunda mengatakan “ya” kepada Allah Bapa melalui instruksi Malaikat Gabriel yang memberikan kabar gembira kepadanya dalam Peristiwa Gembira. Bunda mengandung, melahirkan, membesarkan, dan mendampingi sampai akhir Allah Putera yang menjadi manusia dengan misi kesetiaan-Nya untuk menjadi Juruselamat dunia. Kesemuanya dalam Peristiwa Gembira, Sedih, serta Peristiwa Terang (yaitu saat Yesus mengubah air menjadi anggur di Kana. Di Kana itu juga saya diingatkan lagi, bahwa segala kerinduan, kebutuhan, dan keputusasaan saya, segera ditangkap Bunda untuk dibawanya kepada Puteranya, “Mereka kehabisan anggur”). Dan setelah kenaikan Puteranya ke Surga, dalam Peristiwa Mulia, Bunda berkumpul bersama para rasul untuk berdoa dengan tekun dan sehati demi menantikan kedatangan Allah Roh Kudus yang menyempurnakan keseluruhan rencana indah Allah Tritunggal bagi seluruh umat manusia.

Hidup manusia yang singkat ini memang penuh misteri, dan kehendak Bapa yang menciptakan manusia juga sebuah misteri agung yang sering tak terselami. Tetapi kita tidak sendiri dalam menempuh semuanya itu. Dalam perjalanan seumur hidup untuk mengerti dan menjalani kehendak Bapa, Bunda Maria selalu di sisi kita mendampingi perjalanan itu, memastikan kita tidak tersesat atau keliru mengambil jalan, untuk mencapai tujuan akhir yang sesungguhnya dari hidup yang fana ini. Sampai akhir hidup ini, dan bahkan hingga melewati hidup, Bunda Maria mendoakan Anda dan saya. “…Santa Maria Bunda Allah, doakanlah kami yang berdosa ini, sekarang dan waktu kami mati, Amin.”

Terima kasih Bunda Maria, atas cinta dan teladan kudus yang engkau tunjukkan kepada kami, terima kasih atas doa dan penyertaanmu yang penuh kesetiaan dalam perjalanan iman kami di dunia. (Triastuti)

Mengasihi sesama (1): Saat sedang tidur



Pernahkah kita mengamati seseorang yang sedang tidur nyenyak? Atau melihat foto Anda sendiri di kala mata Anda terpejam di dalam tidur yang lelap? Saat kita mengamati secara lebih cermat wajah seseorang saat ia tidur, apakah kesan paling kuat yang muncul di dalam hati kita? Bagi saya, perasaan paling kuat yang saya tangkap di ekspresi seseorang saat ia tidur, adalah perasaan damai. Kedamaian itu seringkali ikut menyusup di dalam hati, apalagi bila orang yang sedang tidur itu adalah orang yang kita sayangi, khususnya pasangan hidup, orangtua, atau anak-anak kita.

Ekspresi seseorang saat sedang tidur mungkin merupakan ekspresi paling alamiah dari manusia, ekspresi murni yang tidak terkontaminasi berbagai persoalan hidup yang memicu gejolak emosional kita sehari-hari. Eskpresi cerminan manusia dari hakekatnya yang utuh sejak ia diciptakan baik adanya sejak semula, tanpa terkontaminasi pengaruh-pengaruh karakter yang dibawanya dari lahir. Misalnya orang yang berpembawaan judes, murung, atau sadis sekalipun, dalam keadaan tidur lelap, akan tetap tersirat ketenangan dan kedamaian, dua bekal yang pertama kali ia terima dari Pencipta Kehidupan ketika ia dibentuk di dalam rahim ibu yang mengandungnya.

Saya berpikir bahwa ekspresi Saul saat sedang tidur jugalah yang antara lain membuat Daud tidak membunuhnya di saat Daud menemukan orang yang selalu mengejar-ngejarnya itu, ada di depan matanya dalam keadaan tidur lelap dan tidak siaga sama sekali. Keadaan itu sempat disimpulkan Abisai sebagai bukti, bahwa musuh Daud sudah diserahkan Allah ke dalam tangan Daud untuk diakhiri hidupnya. Tetapi Daud menolak. Itu adalah untuk kedua kalinya Daud mendapat kesempatan untuk membunuh Saul, tetapi ia kembali membiarkannya hidup. Ketaatan Daud kepada Tuhan yang telah mengurapi Saul, membuat Daud tidak hendak membunuh Saul (lih. 1 Sam 26 : 7 – 11). Dan mungkin juga karena dilihatnya wajah Saul yang damai dan jauh dari kesan garang, di dalam tidurnya yang lelap. Kedamaian yang menimbulkan belas kasihan dan meredakan amarah.

Pernahkah kita memikirkan bahwa Tuhan mengasihi kita begitu indah dan sempurna, seolah-olah Ia selalu memandangi kita saat kita sedang tidur? Di mata-Nya, kita adalah anak-anak-Nya yang begitu lembut dan rapuh, selalu menghauskan damai (walau kita sendiri sering tak menyadarinya, bahkan merusak damai itu sendiri dengan ego-ego kita), dan yang membutuhkan pertolongan setiap saat. Hati-Nya luluh setiap kali Ia memandang kita. Walaupun Dia tahu dan melihat betapa banyaknya pelanggaran-pelanggaran kita, betapa sukarnya mengubah kebiasaan-kebiasaan kita yang jelek dan menyedihkan hati-Nya, atau betapa egois dan tidak perdulinya kita kepada sesama manusia. Tuhan mempunyai mata yang kekal yang dapat melihat manusia dalam keadaannya yang paling murni sejak awal ia diciptakan, keadaan damai seperti saat ia sedang tidur. Diciptakan baik sejak semula. Dan Tuhan tahu, betapapun kerasnya hati manusia akibat tempaan hidup, namun kelembutan dan kedamaian di awal kehidupan manusia di saat Tuhan pertama kali membentuknya, tidak pernah hilang, betapapun sedikitnya.

Tuhan menciptakan Hawa sebagai penolong dan teman bagi manusia pertama, Adam, ketika ia sedang tidur (lih. Kej 2 : 21). Pada saat itu, tentulah Adam pun tampak begitu damai, dan tidak berdaya, dan belas kasihan Allah begitu besar saat Ia menciptakan Hawa dari tulang rusuk Adam. Mungkin itu pula sebabnya mengapa wanita pada umumnya dikenal mempunyai hati yang lembut dan penuh belas kasihan, karena wanita diciptakan Tuhan dalam keadaan yang penuh cinta dan belas kasihan kepada manusia.

Bagaimana jika dalam saat-saat penuh konflik dengan sesama, kita meluangkan waktu untuk memandang sesama kita, seolah-olah kita melihat mereka dalam keadaan tidur, penuh damai dan kepasrahan? Mampukah itu menolong kita untuk memaklumi dan mengampuni orang-orang yang sikapnya begitu menjengkelkan kita, orang-orang yang berbeda pandangan dengan kita, orang-orang yang telah melukai kita, orang-orang yang cuek kepada kita? Dapatkah itu mengingatkan kita bahwa orang-orang itu juga dicintai Allah? Menyadari bahwa pada awal mula ia diciptakan, ia begitu damai dan tak berdaya, dan bahwa proses-proses kehidupan atau perjumpaannya dengan berbagai pengalaman pahitlah yang mungkin telah menggerusnya begitu rupa, sehingga ia menjadi orang yang nampaknya begitu sulit dan menjengkelkan kita. Ya, seperti yang kita baca dalam perumpamaan tentang pengampunan, yang diajarkan sendiri oleh Yesus, yaitu jika Tuhan sudah begitu mengasihi saya, melimpahi saya dengan begitu banyak berkat kehidupan setiap saat, dan mengampuni saya setiap kali saya datang kepadaNya untuk bertobat, apakah saya masih tega untuk setiap kali menghakimi sesama saya, melupakan kebutuhan dan ketidakberdayaan mereka, atau bersikukuh tidak ingin mengampuni orang-orang yang sudah bersalah kepada saya dan mengacuhkan saya? Sementara mereka pun masih bergumul dengan berbagai masalah hidup yang kompleks, termasuk upaya-upaya pengendalian diri yang masih sering gagal, seperti juga saya?

Pasangan suami isteri yang sedang bersitegang hingga dibawa tidur, mungkin dapat mencoba meredakan amarah atau kecewa kepada pasangannya bukan dengan cara memunggunginya, tetapi justru berbaliklah padanya, tinggalkanlah sejenak segenap kemarahan dan kekecewaan. Pandanglah wajahnya dalam tidurnya. Mungkin di tengah guratan kelelahan di wajahnya, ada secercah damai yang diberikan Tuhan dalam hatinya dan yang tidak dapat diambil oleh apapun juga. Dan rasakanlah itu memenuhi hati kita juga. Tuhan sangat mengasihi dia, sebagaimana Dia mengasihi saya dan Anda. Atau ketika anak-anak kita terasa sangat menjengkelkan kita pada hari itu, tataplah wajah mereka di peraduan mereka di akhir hari, dan di wajah-wajah itu, mungkin kita akan menemukan cerminan belas kasih Allah yang melampaui segala keterbatasan kita, yang juga selalu menolong kita. Dan Dia memanggil kita untuk juga selalu memandang jiwa sesama kita dengan penuh kasih yang tulus dan belas kasihan. Sambil mengakhiri hari dengan doa mohon belas kasihan Allah, kita pun mohon agar Tuhan menyentuh hati kita dengan damai-Nya, sehingga semua beban kekesalan, kebencian, dan kegelisahan kita kepada sesama, larut dalam lautan belas kasih Allah yang sempurna.

Karena itu, sebagai orang-orang pilihan Allah yang dikuduskan dan dikasihiNya, kenakanlah belas kasihan, kemurahan, kerendahan hati, kelemahlembutan, dan kesabaran. Sabarlah kamu seorang terhadap yang lain, dan ampunilah seorang akan yang lain apabila yang seorang menaruh dendam terhadap yang lain, sama seperti Tuhan telah mengampuni kamu, kamu perbuat jugalah demikian. Dan di atas semuanya itu: kenakanlah kasih, sebagai pengikat yang mempersatukan dan menyempurnakan. Hendaklah damai sejahtera Kristus memerintah dalam hatimu, karena untuk itulah kamu telah dipanggil menjadi satu tubuh. (Kol 3 : 12 – 15)

Berbaliklah, cermatilah, ….lalu kecaplah dan lihatlah, betapa baiknya Tuhan..!

Kecaplah dan lihatlah, betapa baiknya Tuhan itu! Berbahagialah orang yang berlindung pada-Nya! (Mazmur 34 : 8).

Kiranya kasih Tuhan menyertai dan memampukan kita. (triastuti)

Melompat dalam iman bersama Roh Kudus

Sebab kami tidak memperhatikan yang kelihatan, melainkan yang tak kelihatan, karena yang kelihatan adalah sementara, sedangkan yang tak kelihatan adalah kekal (2 Kor 4:18)

Suatu peristiwa langka yang berharga terjadi di acara doa penghormatan terakhir kepada tetangga di sebelah rumah orangtua saya, yang wafat minggu lalu dalam usia 82 tahun. Jumlah tahun lamanya beliau menjadi tetangga orangtua saya sama dengan jumlah umur saya. Kenangan bersama beliau sebagai tetangga sebelah rumah telah turut mewarnai masa kecil dan masa remaja saya. Peristiwa langka yang saya maksud itu adalah saling bertemunya kembali para kolega dan para tetangga ayah dan ibu saya dari berbagai penjuru di sekitar perumahan tempat orangtua saya tinggal, karena melayat tetangga kami yang wafat tersebut. Secara tak terduga, acara itu menjadi suatu ajang reuni yang mengharukan. Suasana sedih dan haru karena kematian seorang tetangga yang baik, menjadi kontras karena ditingkahi oleh suara-suara kegembiraan yang tertahan, suasana saling melepas rindu antar tetangga dan kolega yang sudah bertahun-tahun, bahkan bagi saya, puluhan tahun, tidak berjumpa.

Dalam doa bersama kami sekeluarga di malam harinya, ibu saya mengucap syukur kepada Tuhan atas kesempatan yang dikaruniakan-Nya kepada kami pada hari itu, untuk berjumpa lagi dengan banyak teman dan sahabat lama yang pernah menjadi bagian dari perjalanan hidup kami sekeluarga. Ada keharuan yang menyeruak di hati saya. Ternyata sebuah kepergian dan perpisahan bisa menjadi sarana terjadinya perjumpaan lain yang indah dan berharga. Pada saat yang sama, saya membayangkan perasaan para Rasul di hari kenaikan Yesus ke Surga. Saat mereka mengalami perpisahan dengan Guru yang mereka cintai dan hormati, yang selama tiga tahun telah mengubah hidup mereka secara total. Apakah kemudian para Rasul mengalami kesedihan, kegamangan, dan kehampaan hidup? Sebagai manusia, pasti jawabnya sempat ya. Tetapi, perpisahan dengan Yesus itu ternyata tidak membuat mereka merasa ditinggalkan sendirian, bahkan mereka bersukacita, …lalu mereka pulang ke Yerusalem dengan sangat bersukacita (Lukas 24: 52b). Justru perpisahan dengan Sang Guru adalah awal dari karya besar mereka bersama Tuhan di dalam iman. Perpisahan itu membuka kesempatan terjadinya suatu perjumpaan lain, yang juga menjadi titik tolak perjalanan iman kita sendiri sebagai murid-murid Tuhan Yesus Kristus, yang pada saat kita hidup sekarang ini, Dia juga tidak nampak secara fisik bagi mata manusiawi kita. Melalui apa yang dialami para Rasul-Nya, Tuhan Yesus mengajak kita untuk menemukan keindahan relasi yang intim dengan Dia dalam dimensi yang baru. Dimensi yang melibatkan ketekunan dan komitmen, dimensi yang menantang iman.

Ketika Yesus hendak meninggalkan para murid untuk kembali ke Surga, Dia memberikan janji yang memberikan sumber kekuatan dan kepastian yang indah bagi anggota Gereja perdana itu. Kata-kata-Nya terus mengiang di telinga dan hati para murid, mengikis kegamangan dan kehampaan yang sempat hadir di hati mereka. “Aku akan minta kepada Bapa, dan Ia akan memberikan kepadamu seorang Penolong yang lain, supaya Ia menyertai kamu selama-lamanya, yaitu Roh Kebenaran. Dunia tidak dapat menerima Dia, sebab dunia tidak melihat Dia dan tidak mengenal Dia. Tetapi kamu mengenal Dia, sebab Ia menyertai kamu dan akan diam di dalam kamu. (Yoh 14:16-17). Untuk pertama kalinya, mereka akan memulai tugas mulia akan pewartaan Kabar Gembira ke seluruh penjuru dunia, yang dipercayakan kepada mereka, tanpa Yesus di sisi mereka. Tetapi sekarang mereka mempunyai apa yang disebut Yesus sebagai ‘Penolong yang lain’. Dan tidak ada kata lain yang lebih tepat untuk menggambarkan Penolong lain itu, selain kata, dahsyat, karena Ia adalah Pribadi Tritunggal yang ketiga. Sekaranglah saatnya kita mengenal Dia dan mengalami karya-karya-Nya. Roh Kudus Penghibur justru dirasakan sepak terjangnya secara penuh, manakala Yesus sudah tidak lagi berada di tengah-tengah mereka secara fisik seperti sebelumnya. Roh Kudus, yang akan diutus oleh Bapa dalam nama-Ku, Dialah yang akan mengajarkan segala sesuatu kepadamu dan akan mengingatkan kamu akan semua yang telah Kukatakan kepadamu” (Yoh 14: 25-26).

Bersama para Rasul yang berdoa bersama Bunda Maria menantikan turunnya Roh Kudus di hari-hari sesudah kenaikan-Nya ke Surga, kita mempunyai kesempatan untuk belajar mengalami perjumpaan yang baru. Memusatkan seluruh perhatian kita kepada Yesus yang tidak nampak, yang tidak dapat kita alami dengan panca indera manusiawi kita, tetapi yang hadir secara nyata, terus menyertai kita, sebagaimana Ia berkata, “Aku tidak akan meninggalkan kamu sebagai yatim piatu. Aku datang kembali kepadamu” (Yoh 14:18). Inilah saatnya kita menghayati kehadiran Tuhan melalui buah-buah Roh-Nya, yang memberi kita kerinduan untuk terus berada dalam perbuatan kasih, dalam damai sejahtera, dalam keadaan selalu haus untuk mewartakan Kabar Gembira yang dibawa oleh kebangkitan-Nya. Tentu hal ini bukan hal yang mudah. Dengan cepat, hiruk pikuk dunia ini dengan segala pesonanya yang memikat, membuat kita mudah lupa untuk berkonsentrasi merasakan Ia hadir, berkarya, dan menarik kita mendekat kepada Allah. Apalagi ditambah sifat dasar kita sebagai manusia yang selalu menuntut bukti, meminta penjelasan yang dapat diterima akal sehat, dan mengharapkan efek yang cepat dan nyata. Tetapi sebenarnya, sama halnya ketika kita sedang berada jauh dari orang yang kita sayangi, kita merasakan kasih dan perhatiannya, sekalipun kita tidak melihatnya. Inilah saatnya kita menghayati apa yang dinyatakan oleh Rasul Paulus dalam Ibrani 11:1, di mana Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat.

Justru iman yang terus memerlukan bukti inderawi tidak berkesempatan untuk tumbuh dan teruji. Iman hanya tumbuh kalau diberi kesempatan untuk berkembang di dalam hal-hal yang tidak kelihatan. Pada saat itulah iman itu memberi kita peluang untuk mengalami karya-karya Tuhan yang luar biasa, yang pada akhirnya tidak hanya dapat dialami dengan kacamata iman, tetapi juga sebagai sesuatu yang nampak dan dirasakan buahnya oleh orang lain di sekitar kita. Kita sendiri dapat menilai bahwa buah-buah itu nyata, yaitu kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, penguasaan diri (Gal 5:22-23). Dan kasih dijabarkan sebagai sabar, murah hati, tidak cemburu, tidak memegahkan diri, tidak sombong. Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain, Ia tidak bersukacita karena ketidakadilan, tetapi karena kebenaran, Ia menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu (1 Kor 13:4-8). Ketaatan dan kasih para Rasul kepada Allah membuat mereka terus mengalami penyertaan Yesus, lama setelah Dia tidak lagi berada secara fisik di tengah mereka. Merekapun pergilah memberitakan Injil ke segala penjuru, dan Tuhan turut bekerja dan meneguhkan firman itu dengan tanda-tanda yang menyertainya (Markus 16 : 20).

Seperti yang pernah diungkapkan St Ignasius, dalam kehidupan beriman, kita tidak melihat dulu baru percaya, tetapi justru percaya dulu, baru kita akan melihat. Sebab hidup kami ini adalah hidup karena percaya, bukan karena melihat (2 Kor 4 : 7).

Inilah keindahan yang diwariskan Yesus yang telah meninggalkan dunia untuk kelak datang kembali dalam kemuliaan. Warisan yang memberi kesempatan bagi iman kita untuk tidak lagi merangkak pelan karena sibuk mencari bukti dan tanda-tanda lahiriah, tetapi menjadi sebuah lompatan iman, mempercayai Dia yang secara indera manusawi tidak kelihatan, tidak bersuara, tidak teraba, namun yang hadir dalam segala sesuatu dan menginspirasi setiap langkah kita menuju kepada-Nya. Membuat jadi baru seluruh keberadaan kita di dalam api kasih, menyalakan semangat untuk menghidupi hidup dengan sukacita yang selalu baru setiap pagi, karena kita tahu pasti dalam iman, keselamatan dalam kasih-Nya yang telah menanti kita di depan. (caecilia triastuti)

Tinggal sesaat lagi dan dunia tidak akan melihat Aku lagi, tetapi kamu melihat Aku, sebab Aku hidup dan kamu pun akan hidup. Pada waktu itulah kamu akan tahu, bahwa Aku di dalam Bapa-Ku dan kamu di dalam Aku dan Aku di dalam kamu. (Yoh 14: 19-20).

Marilah berdoa: Allah Bapa di Surga, kami bersyukur atas karunia Roh Kudus yang selalu menyertai kami dan membantu kami memahami kehendak-Mu yang indah bagi hidup kami. Ampunilah kami kalau kami lebih sering mengikuti jalan dan hikmat kami sendiri, sehingga kami belum menemukan kepenuhan hidup seperti yang selalu Engkau rindukan melimpah atas kami masing-masing. Mohon bukalah hati kami untuk selalu mampu mengalami penyertaan Roh-Mu yang menyelamatkan dan membawa kepada kedamaian sejati, dan kuatkanlah kami untuk terus melangkah di jalan teladan Yesus Kristus Putera-Mu, agar oleh karena kerendahan hati dan ketaatan-Nya yang penuh kepada-Mu, kami pun sanggup mengosongkan diri kami untuk dapat dijiwai, dihidupi, ditopang sepenuhnya oleh kuasa Roh Kudus-Mu yang sangat indah dan selalu kami rindukan dalam jiwa kami melebihi apapun juga. Engkaulah sumber keselamatan dan sukacita jiwa kami yang sejati. Kami serahkan hidup kami sepenuhnya bagi-Mu Tuhan, dan hanya kepada-Mu. Dalam nama Yesus Kristus, Tuhan dan Juruselamat kami, kami berdoa, amin. (Triastuti)