Thursday, April 29, 2010

Si Dia


Benarkah Dia bertahta dalam hati manusia
Sungguhkah Ia bersemayam di setiap keindahan alam
Dan berada di balik untaian kejadian yang pelik

Ataukah....

Ia menjadi nyata akibat buah pikiran manusia semata
Yang merindukan figur tuan atas semua kejadian?

Tetapi....

Darimanakah datangnya semua keteraturan alam?
Mengapakah terasakan kerinduan akan Dia di hati manusia?
Kemanakah jiwa-jiwa manusia yang tak sirna ketika sang maut tiba?
Bagaimana cinta dan pengurbanan kasih mampu bertahan dalam dunia yang merintih?
Untuk itu semua...tak mampu kutemukan jawabannya

Karena ....

Sesungguhnya tak untuk Dia dipertanyakan
Sesungguhnya materi dasarNya hanyalah cinta dan cinta
Dan cinta tidak dipertanyakan
tetapi dialami
dan dibagi

Demi cinta itu pula sudi Dia bersembunyi
Tuk membiarkan manusia sungguh bebas memilih tanpa berdalih
Bahwa seandainya tiada konsep tentang Dia sekalipun
manusia boleh melihat...melalui segala pengalaman yang terhimpun
semuanya baik saja berjalan selamat tertaat hukum sebab dan akibat

Namun bagi yang sungguh merana akan harkatNya
Ia selalu ada untuk dirasakan...sebab Ia hanya untuk dirasakan
Ia selalu ada untuk dialami....sebab Ia hanya untuk dialami

Bagaikan merasakan mencinta dan dicinta
tak ada di mana-mana, tetapi juga ada di mana-mana
Sebab itulah hakekatNya yang adalah cinta...
cinta ada tanpa perlu dicari-cari atau diciptakan
cinta tak kenal kata memaksa.
Cinta hanyalah semata-mata membebaskan...
bebas untuk justru mencari daripada dicari,
bebas untuk justru mengalami daripada dialami,
bebas untuk justru memberi daripada diberi.

Akhirnya...

Berhentilah aku mencari.
Kuputuskan...
diriku kuberikan..
untuk ditemukan...
oleh CintaNya.

dengan membiarkan diriku ditemukan...
aku menemukan Tuhan...

Houston, April 29, 2010
dua hari setelah hadir dalam seminar Science VS Religion di Houston Museum of National Science, dibawakan Dr Fransisco Ayala dan Dr George Coyne, dua ilmuwan terkemuka di bidangnya sekaligus seorang Katolik yang taat dan seorang Imam

Saturday, April 3, 2010

Kenang-kenangan Cinta Tuhanku


Lukas 22 : 19 Lalu Ia mengambil roti, mengucap syukur, memecah-mecahkannya dan memberikannya kepada mereka, kataNya: “Inilah Tubuh-Ku yang diserahkan bagi kamu; perbuatlah ini menjadi peringatan akan Aku.”

Selama 38 tahun hidup di dunia, saya beberapa kali mengalami perubahan suasana baru yang cukup signifikan dalam perjalanan hidup. Yang pertama tentu saja saat saya berpindah dari rahim Ibu saya yang hangat, gelap, sunyi dan nyaman menuju ke sebuah tempat maha luas yang bising dan menyilaukan yang bernama dunia.

Kemudian di usia 18 tahun, saya berpindah dari kota kelahiran saya di Malang menuju kota Bandung untuk melanjutkan kuliah, di mana saya berpindah kos sebanyak tiga kali sebelum akhirnya lulus dan menempati rumah idaman di kota Serpong bersama pemuda yang saya kenal di tempat kos yang kemudian menjadi suami saya. Enam tahun di Serpong, ternyata suami saya mendapat tawaran kerja yang lebih baik di negeri jiran, Malaysia. Jadilah saya kembali berpindah ke kota Kuala Lumpur yang semakin memisahkan saya dari tanah kelahiran dan kedua orangtua saya yang sangat saya cintai. Ternyata petualangan saya tak berhenti di sana. Setelah tiga tahun bermukim di Malaysia, pekerjaan yang diterima suami kembali membuat saya berpindah menuju belahan dunia lain yang bahkan lebih jauh dan asing bagi saya, menuju Milan, Italia. Hidup masih terus mengajak saya pindah. Hanya empatbelas bulan saja di Italia, suami saya ditugaskan bekerja di Houston, Amerika. Dan sekarang, berjarak setengah bulatan bumi dari orangtua yang saya cintai dan tempat kelahiran yang saya rindukan, saya tetap tidak tahu apakah akan bisa tinggal agak lama di negeri Paman Sam ini, atau kembali harus packing dan angkat kaki lagi entah kemana, setelah bermukim beberapa waktu.

Setiap kali saya harus berpindah domisili, perasaan yang selalu timbul dalam hati saya adalah sebersit kesedihan karena harus meninggalkan kehidupan dimana saya telah begitu terbiasa dan nyaman menjalaninya, sembari menikmati semua bentuk relasi dan persahabatan dengan sesama yang saya jumpai di negara-negara yang berbeda itu. Selain persahabatan dengan sesama dari Indonesia di tanah perantauan, persahabatan dengan orang dari berbagai suku bangsa merupakan pengalaman yang sangat memperkaya. Persahabatan yang telah sempat terjalin begitu membahagiakan saya hingga bila tiba saatnya saya harus pindah, ada rasa berat di hati karena harus berpisah dengan teman-teman yang semakin lama telah semakin akrab itu. Persahabatan yang telah bersemi namun kemudian harus saya tinggalkan itu kadang-kadang bertahan sampai lama, sekalipun saya sudah berada di tempat baru, dimana saya akan berjumpa dan bersahabat lagi dengan teman-teman baru di tempat baru. Saya tetap berusaha menjaga persahabatan yang telah terjalin dari tempat sebelumnya, berusaha tetap saling berkirim kabar. Tapi tidak jarang hubungan pertemanan itu tidak bertahan dan sirna dengan sendirinya karena telah terpisah jarak yang begitu jauh, kesibukan di tempat baru, dan waktu. Bagaimanapun, saya berharap bahwa perjumpaan yang telah terjadi sungguh telah saling membuat kami menjadi lebih matang. Dan selalu layak untuk dikenang.

Sekalipun perpisahan membuat hati saya sedih karena rasa ketidakpastian di tempat baru, dan kerinduan kepada sahabat yang saya tinggalkan seringkali membayangi keberangkatan saya, ada satu hal yang membuat saya terhibur. Yang membuat saya tetap merasakan kehangatan persahabatan walau perjumpaan dan kebersamaan hidup itu telah berlalu. Yaitu kenang-kenangan dari para sahabat yang saya tinggalkan. Demikian juga biasanya saya akan membuat suatu tanda kenangan untuk mereka. Kami bertukar cenderamata, sebagai tanda kasih dan kenangan akan kebersamaan kami. Sebagai tanda bahwa perjumpaan yang telah terjadi sangat berarti, walau hanya dalam sepenggal babak kehidupan. Bentuk kenangan yang pernah saya terima dari berbagai sahabat di perantauan itu bermacam-macam. Mulai dari sepucuk surat, sebuah kartu yang ditandatangani beramai-ramai, kumpulan foto momen-momen kebersamaan kami, cincin, kalung, lukisan karikatur saya bersama suami, hingga sulaman cantik dengan tulisan nama saya dan suami. Semua benda kenangan itu selalu saya simpan baik-baik sehingga saya bisa selalu mengenang persahabatan yang terjadi dalam hidup saya. Seringkali dalam waktu luang, saya pandangi atau saya baca kembali, untuk mengobati kerinduan kepada sahabat-sahabat yang telah diberikan Tuhan dalam hidup saya. Namun karena seringnya berpindah negara, dan itu juga berarti pindah rumah, dengan segala kesibukan packing dan unpacking (meringkas barang dan membongkarnya lagi di tempat baru), seringkali saya terlupa dimana saya menaruh benda-benda kenangan itu. Saat saya ingin melihatnya lagi, tak jarang saya harus membongkar kardus atau mencari-cari di tumpukan buku dan file saya. Untuk hiasan sulaman dan karikatur, saya membingkainya dalam pigura untuk bisa dipajang di dinding sehingga saya bisa melihatnya setiap saat. Namun setiap kali saya berpindah, tentu saja pigura-pigura itu juga harus kembali diringkas dan dimasukkan ke dalam kardus. Biasanya perlu waktu beberapa bulan sebelum saya bisa membongkarnya dan memasangnya lagi di tempat yang baru.

Di malam saat Tuhan Yesus mengadakan perjamuan terakhir bersama para sahabatNya, saya meyakini bahwa Tuhan Yesus sebagai manusia juga merasakan kesedihan yang sangat dalam menghadapi perpisahan dengan para sahabatNya. Sekalipun pada saat itu murid-muridNya itu belum menyadarinya. Tapi Yesus mengetahui bahwa esok hari Dia akan wafat meninggalkan dunia dan sahabat-sahabatNya, dan dengan penderitaan yang hebat di kayu salib yang hina. Sebagai seorang manusia, saya turut merasakan betapa dalam kesedihan Tuhanku Yesus, walaupun pemahaman saya tak akan pernah sempurna. Namun di saat yang saya bayangkan akan sangat pedih, seperti kalau saya hendak meninggalkan suatu tempat dan berpisah dengan sahabat-sahabat saya, apalagi terpisah oleh sengsara dan kematian, Tuhanku Yesus Kristus justru masih sempat memberikan teladan yang teramat indah. Karena Dia begitu setia akan misi yang diembanNya dari BapaNya. Yaitu teladan untuk saling melayani. Untuk berani dan rela menjadi yang paling rendah demi kasih pelayanan yang tulus bagi sesama. Sehingga teladan kasih sejati yang Dia tinggalkan kepada para sahabatNya, disempurnakan oleh sikap pelayanan yang tulus dan kerendahan hati. Saya berharap, di saat perpisahan dengan sesama, saya juga meninggalkan teladan kerendahan hati, dan bukan kepahitan, kesombongan, atau kepentingan diri sendiri.

Tentu saja Yesus juga memberikan kenang-kenangan kepada para sahabatNya yang sebentar lagi akan ditinggalkanNya. Kenangan itulah yang memukau jiwa saya setiap kali saya merayakan Ekaristi dan menghayati dalamnya misteri cinta Tuhan. Hati dan jiwa saya tergetar, pada saat proses konsekrasi dimana Imam berdoa mohon rahmat Roh Kudus mengubah hosti dan anggur menjadi Tubuh dan DarahNya, seperti saat Yesus memecahkan roti bersama para murid di malam perjamuan terakhir itu. Kenang-kenangan yang Tuhan berikan adalah TubuhNya dan DarahNya sendiri. Bukan sekedar tanda mata hasil karya tangan dan pikiran, tetapi seluruh keberadaanNya. Dan saat itu, Dia sungguh hadir secara nyata. Lebih lagi, begitu dalam kerendahan hatiNya sehingga sudi hadir dalam rupa roti dan anggur yang bersahaja. Bentuk roti dan anggur untuk dimakan dan diminum itu adalah cara yang luar biasa yang dipilih oleh Tuhan Raja Semesta Alam untuk meninggalkan kenangan. DipilihNya berupa makanan dan minuman, supaya kenangan itu menyatu dengan kita, menjadi bagian dari kita. Dengan memakan Tubuh dan DarahNya melalui konsekrasi, TubuhNya menyatu dengan tubuh saya, dan DarahNya mengalir dalam darah saya. Betapa luar biasa caraNya memberikan saya kenang-kenangan. Saya hanya cukup melihat ke dalam diri saya bila saya merindukanNya, karena kenangan itu akan selalu bersama saya, di dalam saya. Saya tak perlu meringkasnya ke dalam kardus dan membongkarnya lagi di tempat baru, tak perlu khawatir kenangan itu terhilang atau terselip, sehingga tak bisa saya pandangi terus. Karena kenangan dariNya itu akan selalu di dalam saya, bersama saya, menyatu dengan saya, kemanapun saya pergi.

Peristiwa Perjamuan Malam Terakhir para murid bersama Yesus bagi saya adalah sebuah bukti hidup betapa besarnya kasihNya yang tanpa pamrih kepada manusia yang fana dan lemah ini. Ia ingin menjadi sama dengan kita dan mengalami derita sebagai manusia. Bahkan itu belum semua. Melalui penderitaan yang hebat yang Dia jalani dengan sadar dan rela hingga wafat, Ia ingin membuat kita memahami sepenuh jiwa dan raga, bahwa Ia begitu mencintai manusia. Tuhan begitu haus untuk mencintai kita. Nyawa kita begitu berharga bagiNya hingga nyawaNya sendiri tidak dihargaiNya dan tidak disayang-sayang olehNya. Dan malam terakhir sebelum Ia meninggalkan dunia ini, disediakanNya bekal teladan dan kenangan yang abadi yang teramat sangat indahnya bagi masing-masing dari kita, sahabat-sahabatNya. Hati saya menjerit oleh perasaan dicintai yang begitu dalam. Hati saya menjerit, mengingat bahwa saya merasa belum cukup berbuat sesuatu yang berarti untuk membalas cintaNya yang tulus dan dahsyat itu, bahkan lebih sering saya mengacuhkanNya dan menyakitiNya. Dalam hidup dan mati, baik di langit ataupun di bumi manapun, saya tahu saya tak akan pernah menemui sahabat yang begitu penuh cinta kepada saya seperti Dia.

Bekal kenangan itu yang juga akan selalu menyertai setiap tahap perubahan dan perpindahan yang masih akan terus terjadi dalam dinamika kehidupan kita, yang tidak selalu mulus dan manis, yang juga penuh tantangan dan kesukaran. Termasuk ketika perpindahan kita yang terakhir tiba yaitu dari kehidupan yang fana ini kepada perhentian akhir yang kekal bersama Bapa di Surga, di mana Yesus Tuhan telah menyediakan tempat bagi sahabat-sahabatNya yaitu kita semua, dan menantikan kita pulang. Yesus telah mengatakan hal itu kepada kita : “Di rumah Bapa-Ku banyak tempat tinggal. Jika tidak demikian, tentu Aku mengatakannya kepadamu. Sebab Aku pergi ke situ untuk menyediakan tempat bagimu. Dan apabila Aku telah pergi ke situ dan telah menyediakan tempat bagimu, Aku akan datang kembali dan membawa kamu ke tempat-Ku, supaya di tempat di mana Aku berada, kamupun berada. Dan ke mana Aku pergi, kamu tahu jalan ke situ. ” (Yoh 14 : 2 - 4)

Kisah-kisah menyenangkan dari perjalanan hidup yang telah berlalu tak akan terulang kembali, hanya kenangan manis yang akan selalu tinggal di hati saya. Namun kenangan terindah dari Tuhan kita Yesus Kristus setiap kali saya menyambut tubuhNya, merenungkan teladan dan wafatNya, menghayati pengorbananNya, dan menyambut kebangkitanNya dari alam maut, akan senantiasa bersama saya dan kita semua, tanpa mengenal batas waktu, jarak, tempat, dan keadaan …….melampaui maut dan kehidupan.

EpilogYesus, Guru dan Sahabatku, seluruh hidupku tak akan pernah cukup untuk menyatakan cinta dan terimakasihku kepadaMu. Setiap buah pikiran, perbuatan, dan tindakanku seumur hidupku, tak akan pernah memadai untuk membalas semua cinta dan pengorbananMu. Tapi aku tahu bahwa CintaMu cukup untuk mengatasi semua keterbatasanku, aku tahu CintaMu mampu mengatasi ketidakberdayaanku. Terimakasih Yesusku, untuk CintaMu yang tak akan pernah mampu kuselami, biarlah aku hidup oleh karena Cinta itu. Biarlah dengan terus menghidupi dan menghayati CintaMu, hidupku boleh berubah. Berubah dari orientasi untuk diriku sendiri, menuju hidup demi Cinta. Menjadi karenaMu, untukMu, dan hanya untukMu. Bukan karena Engkau menghendaki aku berubah, karena Engkau selalu mencintaiku apa adanya, dan mencintaiku sejak sangat awal, hingga kekal. Aku rindu untuk berubah, karena aku mencintaiMu, dan hanya itu yang dapat aku lakukan untuk membalas CintaMu, walau itu tak akan pernah terasa cukup bagiku. Dan di akhir nafasku, ijinkan aku sekedar berbisik, “ Yesus, ingatlah akan aku, apabila Engkau datang sebagai Raja” . Karena hanya bersamaMu, aku bahagia, dan hanya didalamMu, aku sungguh-sungguh hidup.

Uti
Houston, 27 Maret 2010

-Kisah ini terinspirasi oleh homili bertahun-tahun yang lalu yang dibawakan seorang Imam dari Surabaya (ordo CM), yang memberi kotbah indah di misa Kamis Putih di Gereja Misericordia, Jalan Jayagiri, Malang, Jawa Timur. Sayang sekali saya lupa nama Imam tersebut karena peristiwanya sudah sangat lama berlalu. Karena indahnya isi homili itu, walau kami semua lupa nama Imam itu, kotbahnya melekat dalam sanubari saya dan keluarga hingga hari ini.-

Tuesday, March 16, 2010

Belajar dari Pertengkaran


Benarkah pernikahan yang baik dan sehat adalah yang bebas dari pertengkaran ? Sekarang saya sadar bahwa jawabannya : tidak benar. Apakah saat sepasang suami istri bertengkar mereka merasakan cinta di antara mereka berkurang atau bahkan semakin menghilang ? Saya rasa tidak. Menurut saya, pertengkaran justru bisa membawa relasi suami istri ke tahapan yang lebih matang karena pertengkaran menjadi sarana untuk saling mengoreksi kelemahan dan saling terus menyesuaikan diri sehingga justru cinta berdua semakin matang dan dimurnikan.

Pertengkaran memang kalau bisa dihindari, tetapi kalau itu tidak terelakkan, kita bisa belajar dari pertengkaran dan menjadikannya sarana untuk saling mendewasakan. Pertengkaran sebenarnya hal yang wajar dalam relasi suami istri yang masih terus berkembang, dan seringkali tak terhindarkan dalam dinamika kehidupan rumah tangga. Apalagi karena dua insan yang menjalaninya tidak selalu seia sekata menghadapi aneka masalah kehidupan dan mempunyai karakter yang tidak selalu sama dalam menyikapi berbagai permasalahan dan dinamika hidup.

Kuncinya adalah kalaupun terpaksa bertengkar, saya bisa memilih untuk bertengkar secara sehat. Sehingga istilah pertengkaran sebenarnya dapat diperhalus menjadi adu argumentasi. Dimana adu pendapat selalu berusaha kita fokuskan pada masalah yang sedang dihadapi, tidak membawa-bawa masalah yang sudah lalu, atau mengungkit-ungkit kelemahan pasangan, dan hal-hal lain yang tidak relevan dengan masalah yang sedang dihadapi. Bagi saya, bertengkar yang baik juga merupakan suatu sarana untuk memecahkan persoalan bersama, dan bukan ajang untuk saling menghina karena melampiaskan kekesalan atau melemparkan cemoohan satu sama lain, dan dengan demikian menjadi ajang untuk saling melukai. Pemakaian kata-kata yang kasar dan berkata sambil berteriak juga merupakan suatu tanda bahwa adu argumentasi yang sebenarnya bisa berlangsung sehat dan membawa kepada pemecahan masalah, telah berubah menjadi pertengkaran dimana emosi dan kemarahan menjadi tuannya. Masalah bukannya terpecahkan tetapi justru ketambahan masalah baru yaitu luka hati yang menganga dan kepahitan akibat kata dan sikap yang tidak dikontrol di dalam pertengkaran itu.

Saya teringat akan ide seorang kawan yang mengatakan sebaiknya pertengkaran yang terjadi antara suami istri dicatat dalam sebuah catatan khusus, atau setidaknya dicatat baik-baik dalam hati kita. Yang dicatat adalah: topik pertengkaran, bagaimana akhirnya solusi dapat dicapai, serta frekuensi pertengkaran. Catatan itu dapat kita amati setelah beberapa waktu. Bila frekuensi bertengkar semakin jarang dan topik yang dipertengkarkan bukan hal yang itu-itu lagi, melainkan semakin berkembang dan tidak hanya akibat dari sikap egois salah satu pihak, maka kemungkinan besar pertengkaran yang timbul telah dapat dimanfaatkan secara sehat dan dengan demikian lebih besar kemungkinannya aneka masalah dapat teratasi dengan baik.

Teman saya yang lain lagi bahkan bercerita setelah bertengkar hebat biasanya justru dia lantas bisa bercinta dengan hangat bersama suaminya. Saya merasa bahwa pertengkaran telah menjauhkan hati dua insan yang sesusungguhnya selalu saling merindu dan mencinta. Maka setelah berbagai argumen dan kejengkelan, hati yang sempat menjauh karena pertengkaran itu merasakan kerinduan yang sangat untuk bersama kembali dan itulah sebabnya keinginan untuk menyatu kembali terwujud dalam hubungan intim yang hangat. Pengalaman teman saya itu memampukan saya untuk sekali lagi melihat keindahan pertengkaran.

Saya pikir mengenali pola-pola bertengkar yaitu mencoba mengerti benar apa penyebabnya dan apa yang bisa dilakukan untuk mencegahnya, sangat baik untuk menghindari berulangnya pertengkaran yang disebabkan oleh alasan yang selalu sama. Misalnya, latar belakang pertengkaran yang terjadi di dalam relasi saya dengan suami umumnya terjadi karena tuntutan yang tidak terpenuhi, keinginan untuk mengontrol pasangan, dan memaksakan kehendak. Tuntutan yang tidak terpenuhi biasanya terjadi karena tuntutan saya kepada suami terlalu tinggi atau kurang dapat menerima dia apa adanya. Demikian juga keinginan untuk mengontrol pasangan disertai pemaksaan kehendak juga biasanya dilatarbelakangi oleh kurang mampunya saya menerima kebiasaan dan kepribadian suami apa adanya.

Kalau saya ingin menghindari pertengkaran yang sama terulang lagi, saya perlu belajar untuk tidak ngotot dan menuntut pihak lain (suami) terus yang berubah. Justru saya perlu terlebih dahulu belajar untuk menyesuaikan diri dan menerima pasangan saya apa adanya. Demi kasih dan pengorbanan yang tulus untuk keutuhan rumah tangga yang sehat, keputusan untuk berubah itu harus saya ambil dengan berani, walau sering tidak mudah dan mengorbankan ego pribadi. Di sini saya melihat bahwa belajar dari pertengkaran dapat menjadi sebuah latihan bagi saya untuk menjadi pribadi yang sabar dan toleran serta menepikan ego dan kepentingan diri.

Ibu saya pernah mengatakan, tidak berusaha belajar dari pertengkaran-pertengkaran yang terjadi dalam pernikahan lama kelamaan dapat membuat sebuah pernikahan bukan lagi sebuah ajang untuk saling menyayangi, tapi sebuah ajang untuk saling menyakiti. Apalagi seiring dengan berjalannya waktu, dimana sebagai manusia, kedua belah pihak terus berkembang melalui dinamika dan tantangan hidup sehingga apa yang kita hadapi satu sama lain tidak sama lagi dengan kepribadian dan pembawaan di saat berpacaran dulu.

Hidup yang penuh tantangan ini tentu akan terasa bertambah berat bila teman terdekat dalam hidup yang seharusnya menjadi teman terbaik kita menghadapi kehidupan ternyata justru merupakan "musuh" yang paling sering membuat kita kehilangan rasa damai dan sukacita. Sebagian dari pilihan ada di tangan saya. Kesabaran memang pahit, tetapi buahnya manis, demikian kata pepatah. Saya cenderung menghindari kesukaran dan penyangkalan diri, padahal justru kesukaran dan menahan diri itulah yang akan memampukan saya meraih kesejatian di dalam hidup ini dan memahami sesungguh-sungguhnya apa arti bahagia.

Akhirnya, saya sering mengakhiri pertengkaran dengan berdoa bersama dengan suami. Terutama setelah pertengkaran yang agak hebat. Setelah kemarahan mereda dan permasalahan menjadi lebih jernih, kami bersama-sama menghadap Tuhan sambil saling bergenggaman. Memohon ampun atas kesalahan dan kelalaian, dan memohon kemurahanNya agar kami dapat kembali melangkah dalam terang kasihNya dalam setiap suka dan duka hidup pernikahan, dan agar kami dimampukan untuk senantiasa belajar dari kesalahan-kesalahan kami. Saya yakin pernikahan yang bertahan adalah yang selalu mengandalkan Orang Ketiga, dan yang meletakkan Orang Ketiga itu pada posisi Kepala Rumah Tangga Yang Terutama. Orang Ketiga itu tiada lain adalah Tuhan.

Because they argue it doesn’t mean that they don’t love each other, and never argue doesn’t always mean that they love each other

Uti
Houston, 15 Maret 2010

Friday, March 12, 2010

Learn to Talk To Each Other, Not At Each Other


Suamiku pulang dari kantor hari ini dengan wajah terheran-heran. Ia mendapatiku sedang membungkuk di depan jajaran pot-pot mungil yang berisikan tanaman-tanaman hias kami, yang baru dua minggu lalu kami beli untuk menghias rumah baru yang kami tempati. Yang membuatnya heran adalah karena ia mendapati aku sedang bercakap-cakap dengan salah satu tanaman kami, yang daunnya sedang terkulai layu karena aku lupa menyiraminya selama beberapa hari gara-gara masih sibuk dengan urusan-urusan di tempat yang baru

“Sayang, kamu ngapain…?” suami ku bertanya dengan khawatir, mungkin karena sebelumnya dia tidak pernah melihat aku berbicara dengan tanaman.

Aku tidak segera menjawab, masih sibuk berbicara dengan nada memohon kepada tanaman yang daun-daunnya tertunduk lesu itu.

"Please, be alive, I am so sorry, I apologize that I have forgotten you, please don’t be dead, I don’t mean to abandon you. I’m just too busy and I missed to water you every two days. Please, be healthy again,”, aku menghiba-hiba sambil membelai-belai daun-daun yang layu itu dan menepuk-nepuk daun yang masih tegak, walau yang tegak hanya tinggal satu helai saja.

Suamiku semakin penasaran, tetapi ia sudah mulai paham karena terbiasa dengan gelagatku yang kadang suka nyentrik dengan tiba-tiba.
“Waduh, mana pakai bahasa Inggris lagi, mana ngerti tuh” serunya dengan geli.

“Ssstt..jangan keras-keras Yang kalau ngomong, nanti tanamannya nggak dengar suaraku” bisikku dengan agak kesal, “ Ini kan di Amerika, berarti tanaman di sini sehari-hari sejak awal tumbuhnya pasti sudah terbiasa mendengar pembicaraan bahasa Inggris.”

Walau mulai geli sendiri dengan penjelasanku sendiri dan mulai merasa tidak logis, terutama tentang penggunaan bahasa Inggris, aku melanjutkan menjelaskan pada suami dengan suara masih dipelankan, “Ini aku sedang berusaha menyemangatinya. Aku pernah membaca, tanaman juga bisa mengerti kalau diajak bicara atau diputarkan musik, dan bisa tumbuh subur kalau sering diajak bicara yang baik-baik”

Suamiku tampak semakin geli, tapi dia lalu mengangkat bahu dan melangkah ke dalam rumah, “Yaah besok-besok jangan kelupaan lagi nyiram. Tapi kalau Yayang terus di situ, aku dah lapar, kita makan malamnya apa nih? ”

Akhirnya aku beranjak mengikuti suamiku ke dapur. Aku masih berharap kata-kata lembutku kepada tanaman yang hampir mati itu akan berhasil dan esok pagi aku akan melihatnya segar kembali. Aku sebenarnya tidak terlalu yakin, tetapi paling tidak aku sudah berusaha dan setidaknya hal itu mengurangi perasaan bersalahku karena telah lupa menyiram tanaman-tanaman itu selama beberapa hari.

Sambil menikmati makan malam berdua, aku masih melamun tentang tanamanku. Apakah dia sudah baikan ya sekarang ? Tapi ada hal lain yang mengganggu pikiranku saat itu.

“Sayang, melamun ya, ayo makan”, suamiku menegurku sambil asyik mengunyah tahu goreng kesukaannya dan mengambil sepotong lagi.

“Enggak tahu ya, rasanya kok jadi nggak selera makan. Rasanya hari ini banyak yang nggak bener”, sahutku sambil meletakkan sendok dan meneguk segelas air putih. “Tadi siang balasan email seorang teman agak mengagetkanku. Aku menulis baik-baik tetapi rupanya dia salah paham dan mengatakan bahwa sementara dia tidak mau membaca email-email dariku lagi. Aku sangat terkejut mendapat reaksi seperti itu. Sudah kujelaskan bahwa aku tidak bermaksud melukainya, aku hanya sekedar memberikan masukan dan berdoa untuknya, tetapi dia telah memutuskan sikapnya, untuk tidak menghubungiku dulu. Mungkin juga dia bosan ya, kami kan email-emailan hampir setiap hari. Ada saja yang kami obrolkan. Tetapi baru kali ini aku mendapat balasan semacam itu dari seorang teman baik” aku langsung menyambung dengan curhat panjang lebar kepada suami, seperti biasanya.

Suamiku menjawab dengan ringan, “Yah, memang komunikasi melalui email kadang bisa salah dimengerti, Yang. Jangankan komunikasi tertulis yang tidak bisa segera diklarifikasi, komunikasi yang muka dengan muka saja bisa salah tangkap. Lha kita kalau sedang bertengkar itu kan contohnya….” Aku memandangi suamiku yang berbicara dengan ringan tanpa beban, mencoba meresapi kata-katanya. Mungkin kaum adam memang lebih bisa bersikap EGP (emang gue pikirin) daripada kaum hawa, pikirku. Apa yang kuanggap serius, baginya mungkin hanya setengah rius atau mungkin seperempat rius saja, terutama yang berhubungan dengan relasi antara teman.

Kami menyelesaikan makan malam kami dan sambil beranjak ke dapur pikiranku masih terus berputar-putar sekitar pembicaraan kami tentang komunikasi. Tiba-tiba kudengar suara suamiku berseru dari halaman depan, “Yang, tanamanmu segar lagi Yang, daun-daunnya telah tegak kembali” . Aku meninggalkan tumpukan piring yang baru saja hendak kucuci dan mengikuti suamiku yang sedang mengamati tanaman yang tadi kuajak bicara, yang sekarang sudah kembali segar dan tidak layu lagi. Aku ikut berseru gembira, antara lega dan takjub. Entah karena air yang kusiramkan, entah karena kata-kata sayang yang aku bisikkan. Mungkin keduanya. Tetapi yang jelas tanamanku selamat, tidak jadi mati. Dan aku tidak perlu menunggu hingga esok untuk menyaksikan keajaiban itu.

Dengan bersemangat aku kembali membelai daun-daun tanaman yang telah tegak hidup kembali itu dengan perasaan lega. “Thank you, my dear plant, for listening to me and not giving up. From now on, I promise to take care of you better,” bisikku. Dan aku pun menyadari kata-kataku sendiri tentang “listening” . Ya, seni mendengarkan. Mungkin tanamanku ini sungguh mendengarkan dalam keheningannya. Ia menyerap semua kata-kataku dan bahkan karena ia sendiri diam, ia mungkin mampu juga menangkap getaran-getaran kasih dan penyesalan di dalam kata-kataku, sehingga ia bisa hidup kembali karena mendapat energi kasih sayang. Ah, entahlah, aku tidak tahu banyak tentang tanaman. Namun yang pasti, hari ini tanamanku mengajarkan seni mendengarkan kepadaku. Mendengarkan juga berarti siap untuk diam dan melupakan apa yang aku sendiri sedang ingin katakan, sehingga aku bisa sungguh-sungguh berkonsetrasi kepada perkataan lawan bicaraku. Hanya dengan begitu aku mampu memahami apa yang sedang bergejolak di balik kata-kata sesamaku yang sedang berbicara denganku dan menempatkan diri pada posisinya, sehingga aku dapat menjadi kawan seperjalanan yang penuh pengertian baginya.

Mungkin itu yang terjadi pada sahabatku yang sedang ngambek hari ini, sehingga dia memutuskan untuk tidak berkomunikasi dulu denganku. Mungkin dia merasa aku tidak sungguh-sungguh menyimak apa yang disampaikannya, karena aku terlalu sibuk mengutarakan pikiran-pikiranku sendiri kepadanya. Mungkin banyak masalah yang timbul di dalam kehidupan ini dan juga di dalam pernikahan, karena kita belum saling mendengarkan dengan sungguh-sungguh satu sama lain. Mungkin karena kita lebih asyik dengan pemikiran-pemikiran dan pendapat-pendapat kita sendiri. I think it is time to learn to talk to each other, not just at each other. Kurasa melalui saling mendengarkan dengan sungguh-sungguh, saling pengertian itu terjadi, dan banyak kesalahpahaman dapat dihindari.

Kemudian aku kembali tersadar akan sesuatu, haahh...oh iya ya, sedari tadi aku yang sibuk bicara sendiri kepada suamiku, sampai lupa menanyakan bagaimana harinya di kantor hari itu, waakss, kasihan suami disuruh mendengarkan terus, lha kapan gilirannya cerita. Aku segera berseru-seru mencarinya, "Yaanngg...ceritamu sendiri hari ini bagaimana yaaa..."

Uti,
Houston, 12 Maret 2010

Wednesday, March 10, 2010

Hadiah di Balik Kesukaran


Ketika aku masih lajang, pikiranku mengelana, hatiku merindu, mencari belahan jiwa dambaan hati. Saat itu ada energi mencinta yang rasanya membutuhkan tempat pencurahan dan di situlah aku membutuhkan seorang kekasih hati yang menempati tempat khusus selain tempat yang telah diisi oleh kasih orangtua, sahabat dan saudara-saudaraku. Curahan rasa cinta dan sayangku yang khusus itu juga kuharapkan mendapatkan balasan rasa sayang dan cinta yang kubutuhkan dalam menjalani hidup ini, rasa cinta dan sayang yang tidak dapat diberikan oleh cinta orangtua dan saudara serta sahabat-sahabatku. Kebutuhan akan cinta yang spesial itu adalah anugerah Tuhan kepada manusia, supaya manusia saling mencinta sebagai suami istri dan bersatu untuk melanjutkan generasi manusia sebagai ciptaan yang paling mulia dan secitra denganNya.

Aku pernah membaca di situs IEC (Indonesia Edu Center) di Facebook, bahwa saat manusia kasmaran atau dimabuk cinta, bagian otak yang bertugas menilai secara sehat dan obyektif menjadi tidak berfungsi. Bagian itu disebut dengan The Social Assessment Mediator. Mungkin itulah sebabnya setelah menikah aku merasa kadang-kadang kaget menemukan sifat-sifat suamiku yang tidak sesuai dengan harapanku. Sebenarnya sifat pasanganku itu sejak dulu ya begitu, tapi di saat aku sedang kasmaran aku tidak mampu melihatnya. Dalam sumber bacaan itu juga dinyatakan, itu adalah bagian dari rencana Tuhan yang agung untuk manusia, supaya manusia dapat terus saling jatuh cinta, menikah, dan berketurunan untuk menjadi pendampingNya dalam mengembangkan kehidupan yang mulia di atas bumi ciptaanNya ini.

Sekarang setelah aku menemukan dambaan hatiku dan menjalani hidup pernikahan, hatiku tidak lagi menghauskan cinta dan mengelana mencari sasaran curahan rasa cintaku. Gejolak cinta yang dulu mengembara tak tentu arah kini telah berlabuh dengan damai di pantai cinta yang kunikmati bersama suamiku. Namun, gejolak cinta yang telah berlabuh itu bukan lagi cinta yang sama yang kumiliki saat lajang dulu. Cinta itu telah tumbuh dan bertransformasi seiring pertumbuhan aku dan pasanganku sebagai pribadi dan sebagai pasangan. Perbedaan pendapat, perbedaan persepsi dan kebiasaan, perbedaan prioritas, dan perbedaan keinginan, semuanya telah mengasah cinta kami sehingga semakin lama semakin berorientasi kepada kepentingan pasangan dan bukan lagi pada diri sendiri saja. Saat semua perbedaan dan konflik itu terjadi, rasanya menyakitkan. Tetapi setelah kami berusaha menjembatani semuanya dengan kebesaran hati dan pengorbanan satu sama lain, aku dapat melihat bahwa semua itu diperlukan agar kami bertumbuh.

Aku sadar bahwa pernikahan dengan segala suka dukanya dan usaha untuk terus mencari kesepakatan bersama dengan saling mengalah telah membuatku belajar untuk hidup tidak hanya bagi kesenangan dan ego diri sendiri. Pemahaman ini membuatku mensyukuri pernikahanku, walaupun setelah 11 tahun menikah aku dan suamiku belum berhasil mempunyai anak, karena kelainan yang terdapat di masing-masing dari fungsi reproduksi kami. Aku percaya Tuhan mempunyai banyak tujuan dalam pernikahan, dan anak bukan satu-satunya tujuan, walau kehadiran anak-anak adalah karuniaNya yang sangat indah yang membuat kehendak Tuhan untuk senantiasa menjadikan manusia menjadi mitraNya dalam memelihara kehidupan ini dapat terus berlangsung.

Saat itulah aku juga menyadari ada kebenaran dalam artikel yang kubaca itu, yaitu mengapa dalam tahap kasmaran dan mabuk kepayang di masa pacaran, Tuhan mengijinkan bagian otak untuk mengenali sifat dasar pasanganku secara obyektif tidak berfungsi. Memang setelah menikah aku terkejut dan sempat kecewa. Namun aku tidak diharapkan untuk mundur dan tenggelam dalam kekecewaan, supaya di dalam ikatan pernikahan yang tak terceraikan itu aku belajar menjadi matang dan tumbuh bersama pasanganku menjadi pribadi yang peduli, siap berkorban, toleran, dan matang secara mental dan spiritual.

Maka segala perbedaan, kesalahpahaman, sakit hati, atau ketidakcocokan bukanlah hal-hal yang menjustifikasi ku untuk mundur dan mencari cinta yang lain. Itu semua justru adalah bagian dari keindahan cinta yang diberi kesempatan untuk dimurnikan, tahan uji, dan membentuk kami menjadi manusia yang berdaya tahan dengan kasih yang murni seperti kasihNya sendiri kepada setiap manusia. Tuhan ingin aku merasakan dan mengalami kasihNya dengan begitu sempurna yang hanya bisa kualami kalau aku belajar mengasihi seperti Dia sudah mengasihiku. Itu semua adalah hadiahNya bagi yang bertahan dalam ketekunan, pengharapan, dan pengorbanan. Dalam terang kasih Tuhan itu dimana aku belajar untuk mengalah dan menerima, aku justru dimampukan untuk melihat bahwa perbedaan yang ada adalah indah dan memperkaya.

Semoga dalam menghadapi masa-masa sulit di dalam pernikahan, aku tidak mundur dan menyerah, tetapi terus bertahan dengan penuh semangat dan niat kasih yang tulus, sambil mengejar hadiah indah yang tersembunyi di balik kesukaran-kesukaran yang terjadi di dalam pernikahan.

Tuesday, February 9, 2010

Happy Valentine's day my lovely hubby


V ery many blessings .......
A dded to my life,
L ighten my days,
E nriching my knowledge and experience,
N urturing my heart with care and compassion.
T he day God has made us to encounter one another....
I know we are unfolding bit by bit a love story He has in store for us.
N ow on the day in which love and compassion is being celebrated,
E nables me to express how grateful I am to know you and to recognize God’s eternal love through you, ....your life, your love, your care, your passion to serve Him, your exemplary deeds, your hospitality, .......your friendship, your understanding, your sacrifice, your laugh and sorrow. They are becoming our life, our love, our care, our passion to serve Him, our laugh and sorrow, our wonderful days together. My life might never be enough to give thanks to God for being with you, loving you, sharing my life with you in renewed love in Him, my lovely hubby. You are my valentine's greatest gift in my life from God the Almighty, God of Love.

May the God who gives us peace make you holy in every way and keep your whole being – spirit, soul, and body – free from every fault at the coming of our Lord Jesus Christ. He who calls you will do it, because He is faithful
(1 Thessalonians 5 : 23-24)

Tuesday, January 19, 2010

One fine morning


It was a fine morning. A sunny, warm, and peaceful kind of morning I always praise and love to begin a new day.

I sat on my favorite couch to start working, when I heard a loud noise coming from outside my cozy and beautiful apartment, a residence with beautiful trees surround it and tidy lawn of well-kept groomed grass. A home I newly resided with my husband as our new life in a new place far from home, regarding my husband’s new job in a foreign country, began.

Hearing the kind of noise that was went on and on, I believed that someone was trying to fix or just trying-out his or her motorbike. Whatever the situation of the motorbike might be, it was allowing the deafening voice from the machine filling the quiet surrounding of my home and I believed others too. Even worse, the smell of gasoline from its fumes gradually interfered with the coolness and freshness of my perfect morning.

A bit irritated, I could not find a way to escape from the situation that bothered me much. Being a stranger in a new country with totally different culture and language, I could barely think of any solution to my problem. I only knew (or decided) that there was someone inconsiderate outside my house who insisted to keep his or her machine producing that disturbing smell and noise for prolonged time.

In an effort to avoid my negative thoughts fanning my flame, I finally rose from my couch and decided to at least take a peek through my window to see the perpetrator.

Then I was surprised, not only by what I saw, but to the total embarrassment I felt in my heart. It was not a motor-bike at all; it was a man with his grass-cutting machine, strolling around the lawn of our apartment with his noisy tools, tidying the grass and plants I admire every morning. By doing his job, he letting himself to be exposed by the deafening noise and choking smell of gasoline fumes. He is the one that makes my lawn admirable and tidy, the one that perfects my day and my morning all at once, the one that once out of my hasty and narrow judgment, was being granted as a perpetrator.

I have decided without asking and believed without searching. I leaned only to my own narrow perspectives. In this life, how many times I judge my fellow human being as an ignorant friend, or an inconsiderate mother, or a careless driver just by what I hear or smell? Or judge certain situation in life as bad or rubbish?

Have I risen and looked with the eyes of my heart, or study more carefully, what are the reasons behind all the scenery and persons I catch with merely my physical senses or my own prejudice in a very short time, before deciding what kind of persons they are ? I'm not being fair. I think anyone who is not fair in mind and not in a fair position, has no rights to judge and is not capable to judge. After all, I don't have the whole picture, yet. And I might never have it.

What lessons might exist in a mundane experience? When Jesus looked up at the tree where Zaccheus climbed and waited for Him to be able to see Him, what did Jesus see? Being marginalized in the society, Zaccheus the tax collector was a man with a deep longing in his heart. It has been overlooked by the society who judged him only by what they think he is without any further considerations. Only a heart with a clear conscience out of love and empathy like Jesus has shown us, can give us the fair truth and beauty about our fellows and life experiences.

In my being still, silent, and calm, I own more space, more time, more consideration, and finally more understanding, to see my fellows in all their circumstances with my empathy, with the eyes of my heart, where Jesus dwells, before giving any judgment, at all.

Uti
Milan, around end of 2008