<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-1926296286733356721</id><updated>2011-10-02T03:10:20.343-07:00</updated><category term='Christmas candle'/><category term='candle of hope'/><category term='candle of prayer'/><category term='the candle of Mother Mary'/><category term='candle of light'/><category term='candle of love'/><category term='candle of faith'/><title type='text'>My Little Candle</title><subtitle type='html'>These are my pieces to keep my faith, my hope, and my love burning as the light of my little candle guides me to blend into the Source of Light and lead me Home.</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://mylittlecandle.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1926296286733356721/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mylittlecandle.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>triastuti</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06669118216388127857</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_rcwu8-Ne2jg/ShxT7i_4VRI/AAAAAAAABF8/Vwh_OTSVurg/S220/DSC05118.JPG'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>65</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1926296286733356721.post-2252383107754313246</id><published>2011-05-31T16:53:00.000-07:00</published><updated>2011-05-31T17:06:59.891-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='candle of faith'/><title type='text'>Oleh bilur-bilur-Nya kamu telah sembuh</title><content type='html'>&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-bHnLQLUslV0/TeWCf6WizXI/AAAAAAAABs4/l2ZhPIxNTJg/s1600/DSC08970.JPG"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 112px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-bHnLQLUslV0/TeWCf6WizXI/AAAAAAAABs4/l2ZhPIxNTJg/s200/DSC08970.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5613035995338558834" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Kita tahu, bahwa kita sudah berpindah dari dalam maut ke dalam hidup, yaitu karena kita mengasihi saudara kita. Barangsiapa tidak mengasihi, ia tetap di dalam maut.  (1 Yoh 3 : 14)&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manusia tentu gembira dengan kesembuhannya dari suatu keluhan atau rasa sakit. Tetapi sewaktu saya masih duduk di bangku sekolah dasar, saya pernah merasa lebih senang kalau saya sakit. Walaupun sudah sembuh, saya berpura-pura masih sakit. Saya mengatakan kepada Ibu (dan kepada diri saya sendiri) bahwa badan saya masih terasa tidak enak, walaupun saat itu sebenarnya saya mulai pulih dan sehat. Alasannya (yang hanya saya sembunyikan dalam hati saya), saya malas kembali ke bangku sekolah. Saya menemukan betapa nikmatnya berbaring santai di tempat tidur, makan diantar, dibelikan apa saja yang saya inginkan, dan tidak perlu bangun pagi-pagi. Daripada duduk di dalam kelas yang melelahkan dan kadang membuat saya bosan, atau tegang ketika harus menjawab soal-soal yang sukar dari guru yang galak. Setelah peristiwa itu berlalu beberapa waktu dan saya sudah kembali bersekolah, tiba-tiba saya sadar betapa bodohnya saya. Jutaan anak miskin seusia saya merindukan untuk bisa mengecap bangku sekolah tetapi tidak mampu karena tidak punya uang untuk membayar biayanya. Sekolah, walaupun memang lelah, membuat saya mengerti banyak hal, dan yang lebih penting saat itu, saya bisa bertemu teman-teman sebaya dan bermain sepuas-puasnya dengan mereka. Apalagi ketika salah satu teman saya kemudian juga sakit, agak serius. Saya menyadari lagi betapa nggak enaknya sakit itu; badan lemah, nafsu makan hilang, tidak bisa bermain. Oh, betapa menggelikan dan konyol pilihan saya untuk tetap sakit ketika itu, di samping perasaan bersalah karena telah berbohong kepada Tuhan, Ibu, dan diri saya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang saya tidak bisa segera tertawa kalau mengenang kekonyolan saya sewaktu kecil itu, karena sebagai orang beriman, ternyata dalam kehidupan ini, saya juga masih sering memilih untuk menjadi orang sakit daripada orang yang sudah disembuhkan dan dipulihkan Tuhan. Melalui derita salib-Nya yang begitu menyakitkan, Tuhan sudah membebaskan saya. Saya seperti seekor domba yang tersesat karena hanya mengikuti keinginan pribadi, namun Tuhan yang bangkit di hari Paskah yang cerah, sudah menemukan saya lagi. &lt;em&gt;Ia sendiri telah memikul dosa kita di dalam tubuh-Nya di kayu salib, supaya kita, yang telah mati terhadap dosa, hidup untuk kebenaran. Oleh bilur-bilur-Nya kamu telah sembuh. Sebab dahulu kamu sesat seperti domba, tetapi sekarang kamu telah kembali kepada gembala dan pemelihara jiwamu (1 Petrus 2 : 24-25). &lt;/em&gt; Tetapi tantangan kehidupan ini memang tak ada habisnya. Ketika kita bahkan belum selesai berperang dengan kelemahan diri sendiri, pada saat yang sama kita juga harus berhadapan dengan Si jahat yang terus menerus memanfaatkan kelemahan kita untuk menjauh dari Allah dan memusuhi sesama. Itulah sebabnya dalam kehidupan sehari-hari, sepertinya saya masih saja ‘memilih’ menjadi orang tersesat. Betapa menyedihkan pilihan itu; orang merdeka yang tidak sadar dengan kebebasannya, orang sehat yang masih saja merasa dirinya sakit, orang yang telah pulang yang menempatkan dirinya sebagai orang tersesat. Apakah memang demikian? Ya, kalau saya membiarkan kemarahan menguasai diri saya ketika seorang teman menyinggung perasaan saya. Ketika saya tidak mengendalikan iri hati melanda kala ada anggota keluarga yang mengalami berkat melimpah dari Tuhan. Ketika saya mengabaikan tetangga saya yang sedang sakit dan kesepian. Ketika saya tidak menjaga mulut saya dari kecenderungan menghakimi orang lain yang sedang jatuh ke dalam dosa, atau menilai situasi hidup yang tidak sesuai harapan dengan celaan yang berkepanjangan. Ketika saya tidak menahan diri untuk diam dan mengalah saat adu argumen dengan sesama menjadi hangat. Ketika saya menyalahkan Tuhan pada saat terjadi peristiwa musibah tak terelakkan, seolah-olah tidak ada harapan lagi sama sekali. Ketika saya malas dan tidak disiplin dengan waktu, atau ketika saya menikmati sesuatu yang bukan hak saya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, sikap-sikap saya tidak selalu mencerminkan bahwa saya orang yang merdeka, orang yang sudah ditebus dengan darah yang mahal, orang yang sudah ditemukan kembali oleh Bapa untuk menikmati hadirat-Nya yang damai, yang sudah disembuhkan sepenuhnya dari belenggu dosa. Betapa ruginya saya. Padahal oleh bilur-bilur-Nya kamu telah sembuh. Tetapi terbelenggu dalam dosa dan kebiasaan yang buruk mungkin terasa lebih nikmat, ya dosa memang nikmat. Dan hidup benar itu memang berat. Kita perlu berjuang sekuat tenaga untuk menghayati hidup orang yang merdeka, orang yang tidak lagi mengarahkan perhatian kepada dunia tetapi &lt;em&gt;berlari-lari kepada tujuan untuk memperoleh hadiah, yaitu panggilan sorgawi dari Allah dalam Kristus Yesus (Filipi 3 : 14). &lt;/em&gt; Seperti saya di waktu kecil, yang merasa enak dengan keadaan sakit yang stagnan, tidak berbuat apa pun, hanya tidur, makan, mendapatkan apa yang diinginkan. Kenapa saya harus repot-repot duduk di bangku sekolah, bangun pagi, mengerjakan PR, berlatih mengerjakan soal yang sukar, dan bergaul dengan teman sebaya. Bukankah lebih enak menjadi sakit dalam dosa, daripada berlelah-lelah belajar memperoleh harta kehidupan kekal: saat saya belajar menahan diri untuk mengasihi sesama dengan lebih tulus, menghentikan kebiasaan saya yang buruk walaupun nikmat, dan melayani sesama yang menderita. Tetapi, saya dan Anda tahu pilihan yang mana yang akan membuat kita lulus ujian, yang membuat kita hidup, berkembang, dan akhirnya berbuah. Dan kemerdekaan Allah adalah kemerdekaan yang sungguh membebaskan, setiap kali kita membiarkan diri ditangkap oleh Allah, menyalibkan keinginan daging kita, mengosongkan diri, berdisiplin, dan membiarkan Allah mengisi hidup kita penuh-penuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang teman saya pernah membaca*), konon salah satu kata-kata paling kuat di dunia ini adalah “saya juga” atau “me too”. Saat kita mendapati ada orang yang telah atau sedang mengalami suatu penderitaan atau kesukaran yang sama dengan yang kita alami, kita merasa mendapatkan kekuatan dan semangat yang luar biasa. Bila kita dihadapkan pada situasi yang sangat sukar atau tidak adil, sehingga kita ingin memilih untuk menjadi orang sakit dan sesat saja tetapi nyaman, daripada memilih untuk bertahan dalam hidup, hendaknya kita ingat bahwa Tuhan Yesus sudah lebih dulu mengalaminya bagi kita. Pengalaman ditolak, diacuhkan, dibuang, ditinggalkan orang-orang terdekat, bahkan disiksa dan dianiaya sampai mati tanpa belas kasihan sama sekali. Kesakitan dan penderitaan yang luar biasa. Kalau bukan karena cinta dan kerendahan hati yang sungguh sungguh tulus, tidak ada seorang manusia pun mampu menjalani apa yang dijalani Yesus bagi kita di jalan salib-Nya itu. &lt;em&gt;Tetapi sesungguhnya, penyakit kitalah yang ditanggungnya, dan kesengsaraan kita yang dipikulnya, padahal kita mengira dia kena tulah, dipukul dan ditindas Allah. Tetapi dia tertikam oleh karena pemberontakan kita, dia diremukkan oleh karena kejahatan kita; ganjaran yang mendatangkan keselamatan bagi kita ditimpakan kepadanya, dan oleh bilir-bilurnya kita menjadi sembuh. (Yesaya 53 : 4-5).&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika kita merasa hidup tidak berpihak pada kita, ketika semua orang terasa membelakangi kita, ketika kesedihan hidup datang tanpa diundang, ketika kita jatuh terus ke dalam kelalaian dan kedosaan, semoga kita tidak putus asa dan kehilangan harapan. Ingatlah akan Yesus, yang selalu berjalan di samping kita, dengan salib di pundak-Nya, membisikkan dalam hati kita, “Aku juga, Aku juga telah mengalaminya, dan Aku telah mengalahkannya” dan oleh karena itu Ia melanjutkan &lt;em&gt;“Dalam dunia kamu menderita penganiayaan, tetapi kuatkanlah hatimu, Aku telah mengalahkan dunia." (Yoh 16 : 33b)&lt;/em&gt;. Kala saya hitung berapa kali Tuhan Yesus mengatakan “jangan takut” kepada para murid di dalam seluruh Injil, saya menemukan Yesus mengatakannya empat belas kali dalam berbagai kesempatan yang berbeda. Bila kata-kata dari Tuhan itu juga dicari di dalam Kisah Para Rasul dan Kitab Wahyu, jumlahnya delapan belas kali.&lt;br /&gt;Pilihan kembali Tuhan letakkan di tangan kita. Hari raya Paskah akan selalu datang dan datang lagi, tetapi makna sejati dari peringatan Paskah yang berkemenangan itu baru terjadi saat kita memilih untuk memiliki jati diri sejati sebagai manusia yang sembuh, utuh, mulia, dan berkelimpahan di dalam Dia. Dia yang sudah menebus kita dan menemukan kita kembali lewat penderitaan dan kebangkitan-Nya dari alam maut.&lt;br /&gt;Selamat Paskah, kiranya kasih Tuhan Yesus yang menyembuhkan, memulihkan kita semua. (uti)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*) Terimakasih kepada Pak Lucas Nasution yang berbagi pengetahuan itu kepada saya&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1926296286733356721-2252383107754313246?l=mylittlecandle.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mylittlecandle.blogspot.com/feeds/2252383107754313246/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mylittlecandle.blogspot.com/2011/05/oleh-bilur-bilur-nya-kamu-telah-sembuh.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1926296286733356721/posts/default/2252383107754313246'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1926296286733356721/posts/default/2252383107754313246'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mylittlecandle.blogspot.com/2011/05/oleh-bilur-bilur-nya-kamu-telah-sembuh.html' title='Oleh bilur-bilur-Nya kamu telah sembuh'/><author><name>triastuti</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06669118216388127857</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_rcwu8-Ne2jg/ShxT7i_4VRI/AAAAAAAABF8/Vwh_OTSVurg/S220/DSC05118.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-bHnLQLUslV0/TeWCf6WizXI/AAAAAAAABs4/l2ZhPIxNTJg/s72-c/DSC08970.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1926296286733356721.post-9133381048311558783</id><published>2011-05-31T16:25:00.000-07:00</published><updated>2011-05-31T16:31:02.841-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='candle of light'/><title type='text'>Saat Listrik Padam</title><content type='html'>&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-uhWge_9IrAw/TeV5kpcx6JI/AAAAAAAABsw/q7ZQylqBjs4/s1600/Keluarga%2Bjaman%2Bsekarang.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 134px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-uhWge_9IrAw/TeV5kpcx6JI/AAAAAAAABsw/q7ZQylqBjs4/s200/Keluarga%2Bjaman%2Bsekarang.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5613026181096007826" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Sebab itu Tuhan menanti-nantikan saatnya hendak menunjukkan kasihNya kepada kamu; sebab itu Ia bangkit, hendak menyayangi kamu. Sebab Tuhan Allah adalah Allah yang adil, berbahagialah semua orang yang menanti-nantikan Dia (Yesaya 30 : 18).&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semalam listrik di rumah orangtua saya padam selama kira-kira satu setengah jam. Sejak saya masih kecil, listrik PLN di kota kelahiran saya ini memang cukup sering padam. Saat listrik mati di malam hari, nyaris tidak ada sesuatu yang berarti yang bisa dilakukan. Kecuali jika ada mesin pembangkit listrik portable yang bisa memberikan energi listrik cadangan dan membuat peralatan listrik, terutama lampu, bisa menyala. Maklum hampir seluruh kegiatan hidup manusia modern ditopang oleh energi listrik. Jangankan internet, membaca buku atau koran saja kurang bisa karena tidak nyaman dilakukan dalam penerangan cahaya pengganti yang biasanya minim. Maka di rumah, satu-satunya yang bisa dilakukan dengan nyaman hanyalah duduk-duduk sambil mengobrol sekeluarga di ruang tengah dalam keremangan cahaya lampu darurat yang terangnya terbatas. Sambil menunggu lampu menyala kembali dan dengan harapan menyala dalam waktu yang tidak terlalu lama. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Terpaksa” duduk bersama dalam keremangan tanpa bisa melakukan hal lain kecuali mengobrol, ternyata terasa sangat mengasyikkan bagi saya. Kisah-kisah kenangan masa kecil, humor-humor keluarga, dan aneka pembicaraan hangat antar anggota keluarga segera mengalir. Aneka percakapan segar yang jarang sempat menemukan momennya dalam kesibukan masing-masing anggota keluarga sehari-harinya. Kegelapan yang di waktu kecil sering membuat saya jengkel terhadap PLN, (karena di masa kecil, malam hari adalah saatnya belajar dan membuat PR), malam itu malahan nyaris saya syukuri. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian, tak lama listrik PLN pun kembali menyala. Dalam waktu singkat, momen kehangatan berkumpul tadi seketika berakhir. Setelah lampu menyala, semua kembali terserap ke kesibukan masing masing, Ibu melanjutkan melihat acara kesayangannya yang tadi sempat terputus di televisi, dan Bapak segera melanjutkan kesibukannya mengoreksi pekerjaan mahasiswanya di depan laptop. Saya terhenyak menyadari diri saya sendiri masih termangu-mangu rindu di ruang tengah, sendirian, masih ingin melanjutkan obrolan seru kenangan masa kecil yang seketika terhenti ketika lampu menyala lagi. Tetapi tidak ada siapa-siapa lagi di dekat saya. Saya menyadari dengan heran bahwa untuk pertama kalinya dalam hidup, saya merindukan listrik PLN mati. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tuntutan dunia modern yang memacu semua orang terlibat dengan aktif di dalamnya dan diiringi tuntutan ekonomi keluarga, kadang-kadang membuat anggota-anggota keluarga tanpa disadari kehilangan momen-momen penting untuk saling mendengarkan, dan saling menguatkan satu sama lain. Apalagi bila acara makan bersama bukan menjadi budaya di keluarga itu. Anak-anak dan pra-remaja merindukan untuk bisa mengobrol berlama-lama menceritakan aneka pengalaman hidupnya kepada orangtuanya; para istri atau suami rindu untuk curhat lebih banyak kepada pasangan hidupnya. Momen-momen kebersamaan dan kebiasaan untuk saling mendengarkan dan bertukar kisah, membuat hidup sebagai keluarga mempunyai makna yang dalam. Kebersamaan ini memberikan keseimbangan dalam jiwa kita, dan merawat kesehatan mental kita sebagai anggota masyarakat, yang penuh dengan tantangan dan dinamika yang kadang tidak mudah untuk dihadapi. Orangtua mempunyai banyak kesempatan emas untuk memberikan pengajaran akan nilai-nilai hidup yang berharga kepada anak-anaknya, manakala aktivitas saling bercerita dan saling mendengarkan sudah menjadi kebiasaan di dalam keluarga. Tetapi jaman sekarang, kalaupun listrik mati, mungkin para remaja masih akan sibuk ber-SMS ria dengan kawan-kawannya atau sibuk bermain-main dengan aneka games yang tersedia di telepon genggamnya dan anak-anak masih bisa sibuk dengan alat permainan anak-anak masa kini sejenis Nintendo-DS portable bertenaga baterai. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau berinteraksi dengan intensif antar anggota keluarga saja sering tidak terlalu sempat, bagaimana halnya dengan membina relasi aktif interaktif dengan Tuhan? Pada saat kita sedang begitu sibuk mengerjakan aneka persiapan untuk pelayanan dan pekerjaan di Gereja, bagaimana seandainya Tuhan yang kita layani ternyata hanya duduk di sudut memperhatikan kesibukan kita sambil menggeleng-gelengkan kepalanya, berkata dengan rindu kepada kita, &lt;em&gt;“Martha, Martha, engkau begitu khawatir akan banyak perkara. Duduklah saja di sini di dekatKu dan marilah menyegarkan dirimu dengan aliran kasihKu yang selalu rindu untuk Kucurahkan kepadamu”. (Bdk.  Lukas 10 : 38-42). &lt;/em&gt; Atau saat kita sedang dilanda rasa malas untuk membaca dan merenungkan Kitab Suci dan enggan meluangkan waktu lebih banyak untuk berdoa, Tuhan memandang kita dengan sedih sambil berkata&lt;em&gt;,” Tidak dapatkah engkau berjaga bersamaKu satu jam saja? “ (Bdk. Markus 14 : 37-38). &lt;/em&gt; Cinta kasih kepada sesama manusia seperti diri kita sendiri adalah sangat penting dan merupakan perintah Allah sendiri. Tetapi mencintai Allah harus tetap menjadi prioritas yang utama. Justru dari cinta yang murni kepada Allahlah, cinta kita kepada sesama menemukan motivasi yang tepat dan kekuatan yang selalu terbarui. Urutannya jelas di dalam perintahNya mengenai hukum yang pertama dan utama. “&lt;em&gt;Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Itulah hukum yang terutama dan yang pertama. Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.” (Matius 22 : 37-39).&lt;/em&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya teringat homili romo di gereja yang saya kunjungi hari ini: orang yang tidak peduli dengan kebutuhan sesamanya disebut egois. Orang yang peduli dan selalu membantu sesamanya tanpa memikirkan tentang Allah disebut humanis. Menjadi humanis sangat baik, tetapi belum cukup. Karena Allah yang menciptakan kita dan memelihara kita yang berhak atas kasih dan pujian serta penyembahan dan pelayanan kita yang mula-mula di atas segalanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengerjakan hal-hal yang baik bagi sesama dan keluarga serta melayani Gereja-Nya tanpa secara khusus menyediakan waktu berdiam di hadapanNya sambil membuka diri untuk mengetahui apa yang Dia sebenarnya kehendaki dari kita, bisa membuat perjalanan kita untuk sampai kepada Tuhan terbelokkan ke arah yang tidak tepat. Mungkin analoginya seperti membuat kunjungan ke sebuah panti jompo, sambil membawa aneka hidangan lezat dan mahal yang sudah kita persiapkan dengan penuh kasih dan semangat, untuk bisa dinikmati para lansia yang akan kita kunjungi. Sesampainya di sana, ternyata hidangan lezat aneka rupa yang sudah kita persiapkan tidak bisa dinikmati oleh mereka, karena ternyata sebagai lansia mereka mempunyai banyak pantangan makanan demi menjaga kesehatan mereka yang sudah semakin rawan di usia lanjut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika Yesus memperhatikan bahwa para murid sangat sibuk dan bahkan sampai tidak sempat makan, Dia berkata, &lt;em&gt;“Marilah ke tempat yang sunyi, supaya kita sendirian, dan beristirahatlah seketika!” (Markus 6 : 31). &lt;/em&gt; Setelah itu Yesus dan para murid kembali mendapatkan kekuatan untuk mengajar dan akhirnya terjadi mukjizat menggandakan roti dan ikan. Saya lantas teringat bahwa berhenti secara rutin untuk meluangkan waktu hanya bagi Tuhan dan bersama Tuhan dalam kehidupan doa dan Firman adalah sumber energi bagi hidup beriman dan pelayanan kita. Seperti saat kita tidur, kita tidak melakukan apa-apa, merelakan waktu-waktu kita yang berharga untuk berbaring diam, memejamkan mata, dan terlelap dalam tidur. Setelah bangun, kita menjadi segar kembali dan siap bekerja lagi dengan kekuatan dua kali lipat lebih efisien daripada saat kita memaksakan diri untuk terus bekerja karena merasa sayang membuang waktu untuk berhenti demi istirahat. Dalam berhenti sejenak demi relasi kita dengan Allah, kita akan mendapatkan terang untuk memurnikan motivasi-motivasi kita dan terus belajar untuk hidup dalam kerendahan hati dalam kebergantungan sepenuhnya kepada Tuhan. &lt;em&gt;Demikian Allah berkata, Diamlah dan ketahuilah bahwa Akulah Allah” (Mazmur 46 : 11). &lt;/em&gt; Tanpa diam dan berhenti, bisa-bisa kita melupakan tujuan perjalanan hidup kita yang sesungguhnya yaitu untuk melakukan kehendak Allah dan mengasihiNya dengan segenap hati tanpa mengikuti kemauan dan hikmat kita sendiri yang serba terbatas ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka jika kita mendapati diri kita dalam kemacetan lalu lintas yang menjemukan, atau terjebak dalam situasi hidup di mana segala sesuatu tidak berjalan seperti yang kita harapkan, bersyukurlah dan nikmatilah, karena mungkin itu adalah saat dimana Tuhan yang sedang rindu memanggil kita dan mengijinkan ‘listrik padam sejenak’, supaya kita mengalami kembali betapa hangatnya berdiam di hadapan Tuhan dan betapa nyamannya mendengarkan Dia berbicara dan sekali lagi menyatakan kasih dan berkatNya yang tidak berkesudahan kepada kita. (uti)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Berbahagialah orang yang tidak berjalan menurut nasehat orang fasik, yang tidak berdiri di jalan orang berdosa, dan yang tidak duduk dalam kumpulan pencemooh, tetapi yang kesukaannya ialah Taurat Tuhan, dan yang merenungkan Taurat itu siang dan malam. Ia seperti pohon, yang ditanam di tepi aliran air, yang menghasilkan buahnya pada musimnya, dan yang tidak layu daunnya; apa saja yang diperbuatnya berhasil (Mazmur 1 : 1-3).&lt;/em&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1926296286733356721-9133381048311558783?l=mylittlecandle.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mylittlecandle.blogspot.com/feeds/9133381048311558783/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mylittlecandle.blogspot.com/2011/05/saat-listrik-padam.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1926296286733356721/posts/default/9133381048311558783'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1926296286733356721/posts/default/9133381048311558783'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mylittlecandle.blogspot.com/2011/05/saat-listrik-padam.html' title='Saat Listrik Padam'/><author><name>triastuti</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06669118216388127857</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_rcwu8-Ne2jg/ShxT7i_4VRI/AAAAAAAABF8/Vwh_OTSVurg/S220/DSC05118.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-uhWge_9IrAw/TeV5kpcx6JI/AAAAAAAABsw/q7ZQylqBjs4/s72-c/Keluarga%2Bjaman%2Bsekarang.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1926296286733356721.post-8308968194930788268</id><published>2011-05-31T04:38:00.000-07:00</published><updated>2011-05-31T04:57:09.066-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='the candle of Mother Mary'/><title type='text'>Bunda Maria, Bunda Allah, Bundaku</title><content type='html'>&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/--zDuYii7chk/TeTXYzYMfwI/AAAAAAAABso/gPA398unqag/s1600/DSC01848.JPG"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 150px;" src="http://2.bp.blogspot.com/--zDuYii7chk/TeTXYzYMfwI/AAAAAAAABso/gPA398unqag/s200/DSC01848.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5612847856719003394" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Kata Maria, “Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu” (Lukas 1 : 38) &lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Maaf, Pak, untuk bisa membuka informasi rekening Anda di bank kami, kami harus bertanya dulu kepada Bapak sebuah pertanyaan ini: “Siapa nama ibu kandung Bapak?” Saya ikut mendengarkan percakapan gadis pegawai customer service sebuah bank itu dengan ayah saya. Saya mendengar Ayah bukannya menjawab pertanyaan itu, melainkan malah ganti bertanya (ayah saya memang sangat hobi mempertanyakan segala sesuatu), “Kenapa ya Mbak, pertanyaan yang menjadi kode rahasia itu selalu nama ibu kandung, mengapa bukan yang lainnya; nama ayah kandung, misalnya?” Gadis customer service itu menjelaskan dengan sabar, “Ya Pak, ibu kandung yang melahirkan kita itu kan pasti hanya satu ya Pak, sedangkan ayah kan tidak. Ayah bisa lebih dari satu, atau bahkan tidak diketahui,” urainya sambil tersenyum. Saya yang tidak ikut bertanya, menjadi tercenung mendengarnya, sehingga saya jadi ikut manggut-manggut menyadari kebenaran jawaban gadis pegawai bank itu. Alangkah personal dan indahnya karunia Tuhan dalam hidup manusia melalui seorang ibu. Seseorang yang tidak punya apa-apa sekalipun pasti mempunyai ibu yang melahirkan dan membesarkannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa waktu lalu saya sempat mengikuti sekilas di televisi, upacara pernikahan putra mahkota Kerajaan Inggris, Pangeran William, dengan kekasihnya, Kate Middleton. Dalam beberapa ulasan seputar pernikahannya, dibahas pribadi Pangeran William yang sederhana dan tidak mengundang banyak kontroversi sebagaimana sering terjadi pada seorang selebriti muda dunia. Rupanya pribadinya yang santun itu tidak lepas dari pengaruh ibu dari Pangeran William yaitu mendiang Putri Diana, yang melahirkan dan membesarkannya dengan semangat kesederhanaan dan kepedulian kepada orang kecil dan sering mengajaknya melihat kehidupan orang-orang biasa di luar lingkungan kerajaan. Terutama di masa kecil Pangeran William ketika ibunya masih hidup dan dekat dengannya. Latar belakang dari cara ibunya membesarkannya itu pula yang nampaknya kemudian mendasari pilihannya kepada seorang Kate, yang bukan berasal dari keluarga bangsawan, sebagai pasangan hidupnya. Latar belakang yang mungkin Pangeran William sendiri tidak selalu menyadarinya, sesuatu yang terpendam di bawah sadarnya, namun membentuk hidupnya begitu rupa, dengan indahnya. Di balik senyumnya yang santun, baik disadarinya ataupun tidak, Pangeran William membawa semua teladan kasih dan pengajaran ibunya dalam segala keputusan hidupnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walaupun banyak orang menandai hari Ibu dan merayakan secara khusus ulang tahun ibu sebagai penghormatan dan penghargaan terhadap kasih dan pengabdiannya membesarkan kita, dalam kehidupan sehari-hari, kita tidak selalu menyadari betapa besarnya peran hidup dan cinta seorang ibu di dalam hidup seorang manusia. Dari ibu yang melahirkan dan membesarkan kita, sesungguhnya kita belajar untuk mencintai dan menerima cinta dalam hidup ini, yang akan selanjutnya terus membentuk pribadi kita sebagai manusia dewasa seutuhnya di dalam masyarakat. Dari seorang ibu pula kita belajar mengenal berbagai fungsi-fungsi kehidupan untuk pertama kalinya, dan belajar memahami hidup dengan segala suka dukanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada bulan Maria, Ibunda Yesus Kristus Tuhan kita, yang jatuh di bulan Mei ini, saya merenungkan keputusan Allah Bapa untuk memilih Maria, seorang gadis bersahaja yang berhati lembut dan penuh iman kepada Tuhan, untuk menjadi ibu kandung dari Yesus. Betapa tidak main-mainnya keputusan itu, betapa akan cermatnya Allah memilih manusia yang akan mengandung, melahirkan, membesarkan, dan mengantar Sang Anak Manusia yang diutus untuk menebus dosa seluruh dunia dari maut dan dosa kekal. Betapa seriusnya tanggung jawab itu, betapa besar dan dalamnya peran itu, betapa Allah pasti telah memilih dengan cermat agar Anak Manusia dibesarkan di dalam teladan cinta yang penuh dan pengawasan penuh kasih sayang yang akan mengantarnya menjadi manusia dewasa yang memikul tugas semulia dan seagung itu. Ya, seorang manusia, dengan segala keterbatasan seorang manusia. Karena Yesus Kristus adalah sungguh manusia dan sungguh Allah. Ibu dari Penebus dunia tidak mungkin dipilih secara acak dan dipikul oleh siapa saja yang bersedia. Ibu Sang Penebus yang dengan tanggungjawab yang demikian besar membentuk Sang Putera menjadi manusia seutuhnya, dan mengantarnya menjalani penderitaan tak terperi di Kalvari, tentu tidak dipercayakan kepada sembarang manusia. Allah telah mempersiapkan Bunda Maria dengan penuh kecermatan, penuh cinta, bahkan sebelum Bunda Maria dilahirkan, yaitu dengan menyucikannya dari dosa asal, sebagai suatu bekal agung yang akan menyertai perjalanan hidup Putera-Nya ke dunia sebagai manusia, dan menyempurnakan misi agung-Nya sampai akhir. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan semua rencana Allah yang luar biasa indah dan mengagumkan itu hanya mungkin terlaksana, jika sang puteri bersahaja dengan kerendahan hati tak terkira, yang telah dipersiapkan Allah itu, berkata “ya”. Karena Allah harus bekerja atas dasar kehendak bebas manusia yang dikasihi-Nya. Seluruh hidup Bunda Maria adalah sebuah jawaban “ya” kepada Allah. Jawaban yang sangat teguh, walau kadang diucapkannya di tengah keraguan, kepedihan, kebingungan, dan ketakutan. Tetapi karena iman dan kasih Maria kepada Allah, ia bertekad untuk tetap dan selalu mengatakan “Ya, Allah, aku mau, aku siap, pakailah aku”. Dan demikianlah seluruh rencana Allah bagi keselamatan alam semesta dan kebahagiaan seluruh umat manusia menjadi kenyataan. Demikianlah jawaban “ya” seorang gadis bersahaja yang penuh ketaatan membuat kita mempunyai Penebus yang begitu luar biasa indah dan agung. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan sebagaimana kita begitu mencintai dan menghormati ibu yang telah melahirkan dan membesarkan kita dengan penuh pengorbanan, betapa Manusia Yesus yang bersifat jauh lebih mulia daripada kita, juga akan mencintai dan menghormati ibu kandung-Nya. Betapapun hal itu tidak sepenuhnya terungkap di dalam Kitab Suci. (Masih banyak hal-hal lain lagi yang diperbuat oleh Yesus, tetapi jikalau semuanya itu harus dituliskan satu per satu, maka agaknya dunia ini tidak dapat memuat semua kitab yang harus ditulis itu, Yoh 21 : 25).   Bila kita mencintai seseorang, orang itu akan selalu ada di dalam pikiran kita, di dalam hati kita. Bahkan rasa cinta itu dapat membuat kita makin lama makin menyerupai orang yang kita cintai. Saya yakin Yesus sebagai Tuhan dan manusia, sangat menghormati dan mencintai ibunda-Nya. Dan tentu demikian juga sebaliknya, Bunda Maria kepada Yesus, Puteranya. Yesus menyimpan selalu di dalam hati-Nya, cinta dan penghormatan-Nya sebagai anak, kepada Bunda Maria, ibu-Nya. Seperti juga kita manusia kepada ibu kita, bahkan pasti lebih, karena Yesus adalah Manusia Cinta. Itulah sebabnya menjelang akhir hidup-Nya, saat nafas-Nya sudah tinggal satu-satu, Yesus masih ingin mengingat dan memperhatikan Bunda yang dicintai-Nya. Di sela-sela nafas-Nya yang semakin berat dan menyakitkan, Yesus menyempatkan diri berpesan dengan seluruh sisa tenaga-Nya, demi cinta-Nya kepada Bunda-Nya, demi cinta-Nya kepada manusia, demi supaya cinta Ibunda-Nya dan cinta-Nya sepenuhnya tercurah kepada manusia dengan sempurna, Ketika Yesus melihat ibu-Nya dan murid yang dikasihi-Nya di sampingnya, berkatalah Ia kepada ibu-Nya: "Ibu, inilah, anakmu!"  Kemudian kata-Nya kepada murid-Nya: "Inilah ibumu!" Dan sejak saat itu murid itu menerima dia di dalam rumahnya  (Yoh 19 : 26-27). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cinta Yesus akan Bunda-Nya dan cinta-Nya akan manusia memenuhi pikiran-Nya, bahkan dan justru di saat paling kelam dan paling mencekam menjelang akhir nafas-Nya. Oh, betapa pentingnya dan berharganya bunda-Nya itu bagi-Nya. Dan Tuhan Yesus tidak hanya menyerahkan nyawa-Nya bagi sahabat-sahabat-Nya, tetapi Ia juga menyerahkan bunda-Nya untuk menjadi bunda kita semua. Untuk mengasihi, mendoakan, menjadi teladan dan pelindung kita semua juga. Karena Yesus telah merasakan dan mengalami indahnya cinta bunda-Nya, ia ingin manusia yang dicintai-Nya juga mengalami dan memiliki cinta bunda-Nya itu. Itulah satu lagi bukti betapa amat sangat dalamnya cinta Yesus kepada kita, sehingga seorang ibu yang amat dikasihi-Nya pun tak lupa diberikan-Nya sebagai hadiah cinta untuk kita. Sungguh, tak ada cinta demikian besar dan sempurna yang pernah diterima oleh manusia selain dari cinta Tuhan Yesus Kristus yang total, segala-galanya, seluruh jiwa dan raga-Nya, seluruh milik-Nya yang paling berharga, untuk kita semua. Permenungan ini mencengkeram hati saya dengan keharuan yang amat sangat. Yesus yang mencintai saya dan ingin selalu saya cintai dengan lebih sungguh, amat mencintai bunda-Nya. Begitulah juga rasa cintaku kepada bunda Yesus yang kucinta. Demikianlah cinta Bunda Maria kepada Yesus Putera-Nya yang juga sangat mencintai kita, telah menyempurnakan cinta kasih Allah kepada manusia. Ya, Bunda Maria, Bunda Allah, Bundaku. (Caecilia Triastuti)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1926296286733356721-8308968194930788268?l=mylittlecandle.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mylittlecandle.blogspot.com/feeds/8308968194930788268/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mylittlecandle.blogspot.com/2011/05/bunda-maria-bunda-allah-bundaku.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1926296286733356721/posts/default/8308968194930788268'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1926296286733356721/posts/default/8308968194930788268'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mylittlecandle.blogspot.com/2011/05/bunda-maria-bunda-allah-bundaku.html' title='Bunda Maria, Bunda Allah, Bundaku'/><author><name>triastuti</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06669118216388127857</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_rcwu8-Ne2jg/ShxT7i_4VRI/AAAAAAAABF8/Vwh_OTSVurg/S220/DSC05118.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/--zDuYii7chk/TeTXYzYMfwI/AAAAAAAABso/gPA398unqag/s72-c/DSC01848.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1926296286733356721.post-4268450974194730482</id><published>2011-03-07T21:21:00.000-08:00</published><updated>2011-03-07T21:27:28.275-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='candle of faith'/><title type='text'>Ketika doaku belum terjawab</title><content type='html'>&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-R1rkeyNBreo/TXW9s3hx0xI/AAAAAAAABsQ/8Bo8YjfeOCA/s1600/DSC06182.JPG"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 112px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-R1rkeyNBreo/TXW9s3hx0xI/AAAAAAAABsQ/8Bo8YjfeOCA/s200/DSC06182.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5581575891713118994" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai di mana kita dapat mempercayai Allah? Ketika hidup berjalan sama sekali tidak sesuai dengan harapan kita, atau saat sakit penyakit dalam berbagai wujud muncul dengan kesembuhan yang terasa begitu jauh, atau saat penderitaan hidup datang akibat sikap-sikap keras kepala dan kesombongan manusia yang begitu parah, apakah kita tetap dapat mempercayai Allah? Ketika doa-doa yang kita panjatkan siang dan malam terasa belum menampakkan tanda-tanda akan dikabulkan, apakah kita tetap setia berharap akan pertolongan Allah atau mulai mencari jawaban di dalam kekuatan-kekuatan lain yang tidak dalam perkenanan Tuhan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada waktu seorang ayah membawa kepada Yesus anaknya yang kerasukan roh jahat sejak ia kecil sehingga membuat sang anak bisu dan tuli serta berkali-kali hendak dibinasakan oleh roh itu, Yesus menegur sang ayah, yang memohon dengan keragu-raguan terhadap kuasa Yesus, kataNya: “Katamu: Jika Engkau dapat? Tidak ada yang mustahil bagi orang yang percaya!” (Markus 9: 23). Saya merenungkan kembali dalam doa saya selama ini apakah dalam hati saya juga mendahului permohonan saya kepada Tuhan dengan kata-kata “Jika Engkau dapat?” Tentu saja Tuhan dapat! Ia adalah Raja Semesta Alam! Sangat penting untuk senantiasa berdoa dengan penuh harapan kepada Allah dan membawa apapun yang kita butuhkan kepadaNya, dengan iman yang penuh bahwa Ia dapat berbuat apapun juga untuk menyelamatkan kita, yang mustahil bagi akal budi kita sekalipun. Tentang kapan dan bagaimana permohonan kita itu akan dikabulkan, itu adalah kebijaksanaan Allah, karena Dia tahu apa yang paling kita butuhkan, dan selalu memberikan yang apa terbaik dalam hidup kita, lebih dari yang kita tahu.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang sebenarnya paling saya butuhkan dalam hidup ini? Keinginan kita selalu berubah, kebutuhan kita juga demikian, seiring dengan dinamika dan perkembangan hidup kita. Apa yang dulu penting bagi kita sekarang tidak lagi, atau sebaliknya. Kita juga umumnya meminta supaya dijauhkan dari segala kesusahan, padahal sesungguhnya ada banyak sekali hadiah kehidupan, ketekunan, dan tahan uji, tersembunyi di dalam kesusahan hidup, yang membuat kita menjadi semakin tangguh, penuh iman dan kasih, serta bijaksana. Hal-hal yang sangat dibutuhkan oleh jiwa kita yang kering. Kita sering tidak tahu apa yang tepat bagi kita, dan bahkan kadang kita tidak tahu apa yang sebaiknya kita minta. Karena itulah, Tuhan tidak selalu mengabulkan doa kita, dan kadang Ia menunda sampai kita siap menerima jawaban doa-doa kita. Karena itulah, apa yang sesungguhnya kita perlukan sebenarnya adalah hikmat untuk bisa menghadapi hidup dengan kepercayaan yang teguh akan penyelenggaraanNya, apapun yang terjadi. Karena itulah, mengetahui apa yang sebetulnya paling kita butuhkan, inilah jawaban Tuhan atas doa-doa yang kita persembahkan dengan tulus kepadaNya, apapun itu, yaitu “Jadi jika kamu yang jahat tahu memberi pemberian yang baik kepada anak-anakmu, apalagi Bapamu yang di Surga! Ia akan memberikan Roh Kudus kepada mereka yang meminta kepada-Nya." (Lukas 11: 13b). Dan apa yang dilakukan oleh Roh Kudus bagi kita? Dia akan berdoa bagi kita dengan keluhan yang tidak terucapkan, bagi kebutuhan-kebutuhan jiwa kita yang sebenarnya, yang sering tidak kita sadari, sebab kita rancu dengan pengaruh riuh rendahnya dunia ini dengan segala kemegahan semu yang ditawarkannya, dan dengan segala norma-norma yang menjadi ukuran kebahagiaannya.... Demikian juga Roh membantu kita dalam kelemahan kita; sebab kita tidak tahu, bagaimana sebenarnya harus berdoa; tetapi Roh sendiri berdoa untuk kita kepada Allah dengan keluhan-keluhan yang tidak terucapkan. (Roma : 8 – 26).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika kita merasa ditinggalkan, saat kita merasakan sedih menyayat karena merasa sendiri di dalam penderitaan hidup, kita patut ingat akan kesepian dan kesedihan Yesus saat berdoa di Taman Getsemani. Bapa memang tidak mengabulkan doa permohonan Yesus untuk mengambil cawan yang hendak diminumNya, karena rencana agungNya harus digenapi. Tetapi seorang malaikat diutusNya untuk menguatkan Yesus di dalam kesengsaraanNya dan ketakutanNya sebagai manusia. “Ya BapaKu, jikalau Engkau mau, ambillah cawan ini dari padaKu, tetapi bukanlah kehendakKu melainkan kehendakMulah yang terjadi” Maka seorang malaikat dari langit menampakkan diri kepadaNya untuk memberi kekuatan kepadaNya. (Lukas 22 : 42-43).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya, penghiburan Allah adalah sumber kekuatan kita yang tidak pernah kering. Saat kita merasa bahwa kesulitan hidup datang dan pertolongan seolah tak kunjung tiba, baiklah kita membaca kembali pernyataan Allah kepada umatNya, Dapatkah seorang perempuan melupakan bayinya, sehingga ia tidak menyayangi anak dari kandungannya? Sekalipun dia melupakannya, Aku tidak akan melupakan Engkau (Yesaya 49 : 15) dan di dalam kesempatan lain Ia berfirman pula, Aku sekali-kali tidak akan membiarkan engkau dan Aku sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau." (Ibrani 13 : 5b). Dua kali Tuhan menggunakan kata “sekali-kali” atau yang artinya sebetulnya adalah “tidak akan pernah” meninggalkan kita. Justru di dalam kesukaran, kita akan semakin banyak mengalami penghiburan dan penyertaan Allah yang membuat jiwa kita sungguh dipuaskan dan terkagum-kagum akan kuasa kasih setiaNya. “Dan supaya Ia menjadikan mata hatimu terang,agar kamu mengerti pengharapan apakah yang terkandung dalam panggilanNya: betapa kayanya kemuliaan bagian yang ditentukanNya bagi orang-orang kudus, dan betapa hebat kuasaNya bagi kita yang percaya, sesuai dengan kekuatan kuasaNya” (Efesus 1 : 18-19).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan inilah seruan Yesus ketika Ia mengutus kita untuk hidup mewartakan Dia, “Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir jaman” (Markus 28 : 20b). Jika Raja Semesta Alam berjanji, kita tahu bahwa janji itu tidak main-main. Tinggal apakah kita bersedia untuk tetap tenang percaya penuh pengharapan seperti Bapa Abraham dan Bunda Maria, dalam teladan iman mereka, tetap percaya sekalipun melangkah dalam segala ketidakpastian dan ketidakmengertian. Sebab beginilah firman Tuhan ALLAH, Yang Mahakudus, Allah Israel: "Dengan bertobat dan tinggal diam kamu akan diselamatkan, dalam tinggal tenang dan percaya terletak kekuatanmu." (Yesaya 30 : 15).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Iman adalah kunci menuju kepenuhan penyelenggaraan Allah, penggenapan janjiNya, dan rencana agungNya dalam hidup kita. Begitu pentingnya iman itu sehingga pertanyaan Yesus kepada kita masing-masing adalah seperti yang tertuang dalam perumpamaan tentang hakim yang tak benar “Tidakkah Allah akan membenarkan orang-orang pilihanNya yang siang malam berseru kepadaNya? Dan adakah Ia mengulur-ulur waktu sebelum menolong mereka? Aku berkata kepadamu: Ia akan segera membenarkan mereka. Akan tetapi, jika Anak Manusia itu datang, adakah Ia mendapati iman di bumi?" (Lukas 18 : 7-8).  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana tanggapan kita terhadap pertanyaan Yesus ini? Allah sesungguhnya sudah banyak memberikan jawaban dan janji akan penyertaanNya, melalui FirmanNya, dan melalui ajaran Tuhan kita Yesus Kristus, PuteraNya. Tinggal bagaimana kita merespon jawaban Allah itu dengan iman di dalam keseharian kita dalam hidup ini. Tetap percaya teguh kepadaNya, dan dengan setia penuh semangat, tetap melakukan pekerjaan-pekerjaanNya dengan penuh kasih, kesungguhan, dan harapan, sekalipun di dalam berbagai-bagai kesukaran dan tantangan hidup. Itulah sesungguhnya respon kasih dan persembahan kita yang sejati kepada Tuhan. Mari kita membaca surat cinta Tuhan Yesus Kristus kepada kita, perihal pengabulan doa, yang Ia nyatakan melalui Filipus: “Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa percaya kepadaKu, ia akan melakukan juga pekerjaan-pekerjaan yang Aku lakukan, bahkan pekerjaan-pekerjaan yang lebih besar daripada itu. Sebab Aku pergi kepada Bapa; dan apa juga yang kamu minta dalam namaKu, Aku akan melakukannya, supaya Bapa dipermuliakan di dalam Anak. Jika kamu meminta sesuatu kepadaKu dalam namaKu, Aku akan melakukannya” (Yohanes 14: 12-14). (uti)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1926296286733356721-4268450974194730482?l=mylittlecandle.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mylittlecandle.blogspot.com/feeds/4268450974194730482/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mylittlecandle.blogspot.com/2011/03/ketika-doaku-belum-terjawab.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1926296286733356721/posts/default/4268450974194730482'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1926296286733356721/posts/default/4268450974194730482'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mylittlecandle.blogspot.com/2011/03/ketika-doaku-belum-terjawab.html' title='Ketika doaku belum terjawab'/><author><name>triastuti</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06669118216388127857</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_rcwu8-Ne2jg/ShxT7i_4VRI/AAAAAAAABF8/Vwh_OTSVurg/S220/DSC05118.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-R1rkeyNBreo/TXW9s3hx0xI/AAAAAAAABsQ/8Bo8YjfeOCA/s72-c/DSC06182.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1926296286733356721.post-5805934976009730164</id><published>2011-03-07T20:44:00.000-08:00</published><updated>2011-03-07T20:48:11.828-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='candle of light'/><title type='text'>Resolusi tahun baru bersama Allah</title><content type='html'>&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-8UTDit24bbs/TXW1A5GuDDI/AAAAAAAABrs/80nr-NGC8B8/s1600/confession%2Broom.JPG"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 150px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-8UTDit24bbs/TXW1A5GuDDI/AAAAAAAABrs/80nr-NGC8B8/s200/confession%2Broom.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5581566340129229874" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Dosaku kuberitahukan kepada-Mu dan kesalahanku tidaklah kusembunyikan; aku berkata: “Aku akan mengaku kepada TUHAN pelanggaran-pelanggaranku,” dan Engkau mengampuni kesalahan karena dosaku. (Mazmur 32:5). &lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bernostalgia umumnya terasa mengasyikkan. Khususnya jika yang dikenang adalah saat-saat yang menyenangkan dalam hidup. Biasanya manusia memerlukan momen tertentu untuk menandai sesuatu yang berarti dalam hidupnya. Saya juga sering menggunakan momen tertentu untuk bernostalgia, misalnya melalui menikmati makanan spesial, melihat foto-foto lama, sambil mendengarkan musik lama, atau dalam acara kebersamaan seperti reuni dan momen pergantian tahun.  Umumnya saya hanya memelihara kenangan akan peristiwa-peristiwa kehidupan yang manis dan menyukakan hati.  Kenangan akan pengalaman kesedihan, kegagalan, penolakan, atau kesepian, cenderung ingin saya lupakan. Memang segala hal yang berkaitan dengan pengalaman yang pahit seringkali ingin kita singkirkan jauh-jauh.  Bahkan peristiwa konyol atau kesalahan yang terjadi karena kelalaian dan kebodohan saya juga rasanya ingin saya lupakan dan kubur dalam-dalam supaya seolah-olah tidak pernah terjadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi di awal sebuah tahun yang baru, ada baiknya kenangan akan peristiwa yang tidak mengenakkan juga saya ingat dan renungkan kembali, supaya saya dapat belajar dari kesalahan yang pernah saya lakukan dan menjadi lebih berhati-hati untuk tidak jatuh ke dalam kelalaian yang sama. Memutuskan untuk belajar dari kesalahan adalah juga bentuk sebuah usaha untuk bertumbuh menjadi lebih baik. Walaupun mungkin pahit, barangkali hal ini juga merupakan sebuah keterbukaan dan kerendahan hati untuk bersedia diubahkan dan dibentuk oleh Tuhan supaya kita dapat hidup semakin dekat dengan Dia, semakin menyerupai Dia, sebagaimana kita temui dalam surat Rasul Paulus kepada umat di Roma, “Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.” (Roma 12:2). Tak seorangpun dari manusia yang hidup di dunia ini yang sudah mencapai kesempurnaan. Kita selalu mempunyai sisi-sisi lemah dan kebiasaan-kebiasaan yang mendatangkan dosa yang perlu untuk diperbaiki.  Kadang saya merasa bahwa Tuhan justru memakai kesalahan, kegagalan, dan kekonyolan saya untuk membantu saya menjadi lebih kuat dan dewasa dalam iman, lebih bertekun untuk mau berubah dari kelemahan-kelemahan saya, asalkan saya terbuka untuk mau menerima dan mempelajarinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di antara sederetan resolusi tahun baru yang mungkin kita buat di awal tahun ini, mungkin mengenai studi, bisnis, pernikahan dan keluarga, kesehatan, atau pengembangan diri, saya merasa bahwa pembentukan karakter iman dan kasih saya kepada Tuhan adalah satu resolusi yang paling penting dalam kehidupan ini. Berapapun harganya, akan saya bayar, termasuk harga diri saya bila itu berhadapan dengan Yang Maha Memiliki. Karena kehidupan yang sedang kita jalani ini akan berlalu, dan tahun demi tahun yang terus berganti ini lama kelamaan akan berakhir. Hidup kita yang sebenarnya akan kita habiskan bersama Tuhan dalam tahun-tahun kekekalan di Rumah-Nya yang indah yang tak akan berkesudahan.  Sesungguhnya tidak ada yang lebih penting bagi Tuhan selain pembentukan karakter kita supaya menjadi semakin kudus dan tak bercela di hadapan-Nya.  Karena adalah kerinduan-Nya agar kita dapat selamanya bersama dengan Dia dan menikmati cinta kasih-Nya dengan sempurna, “ Ia juga akan meneguhkan kamu sampai kepada kesudahannya, sehingga kamu tak bercacat pada hari Tuhan kita Yesus Kristus (1 Kor 1: 8) dan, “Sekarang diperdamaikan-Nya, di dalam tubuh jasmani Kristus oleh kematian-Nya, untuk menempatkan kamu kudus dan tak bercela dan tak bercacat di hadapan-Nya ( Kol 1: 22). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pagi ini seusai berdoa pagi saya memutuskan untuk menyapu rumah ibu saya yang lumayan besar. Sejak kembali hidup bersama kedua orangtua saya di Malang sebulan terakhir ini karena penugasan baru dari pekerjaan suami, baru hari ini saya mengambil tugas menyapu seluruh rumah. Pembantu ibu yang biasanya melakukan tugas ini baru saja keluar sehingga saya berinisiatif mengambil alih pelaksanaan pekerjaan rutin ini. Sambil memegang gagang sapu, saya berusaha tidak memikirkan luasnya ruangan yang harus saya sapu. Saya bekerja perlahan-lahan dengan sebaik-baiknya di dalam setiap ruangan satu demi satu sampai akhirnya tanpa saya sadari seluruh ruangan di rumah telah selesai saya sapu. Fokus kepada satu kelemahan untuk diperbaiki lebih mudah dan memberikan harapan daripada sibuk memikirkan betapa banyaknya kesalahan yang telah pernah saya buat dan betapa saya selalu jatuh dalam kesalahan yang sama. Hal itu hanya akan menimbulkan rasa putus asa dan perasaan malas untuk memulai. Tuhan kita adalah seorang Bapa yang sabar dan lemah lembut yang selalu mampu melihat kebaikan dan potensi-potensi yang baik dalam diri setiap anak-Nya betapapun besarnya kesalahan kita, asalkan kita mau datang kepada-Nya dan bertobat.  Sejauh Timur dari Barat, demikian dijauhkan-Nya pelanggaran kita daripada kita (Mazmur 103 : 12). Yesus pun mengungkapkan karakter Bapa itu melalui kisah perumpamaan tentang anak yang hilang di dalam Lukas 15: 11-32.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya sambil menyapu saya menyadari bahwa gerakan yang pelan-pelan tetapi cermat membuat lebih banyak kotoran bisa saya kumpulkan ke dalam tempat debu. Kesabaran dan semangat tidak mudah putus asa sangat penting agar kita selalu mempunyai harapan untuk bangkit lagi. Di sudut-sudut yang sulit dijangkau, saya harus mengulurkan tangan lebih panjang dan berusaha lebih keras untuk menjangkau debu di sana. Kadang saya tidak menyadari bahwa beberapa kebiasaan saya ternyata membuat sesama saya merasa tidak damai dan saya gagal menampilkan wajah Allah yang ada di dalam diri setiap dari kita. Sifat dan kebiasaan seperti senang membantah jika ditegur, merasa diri yang paling tahu, kebiasaan menunda pekerjaan tertentu, atau iri hati dan kecenderungan menghakimi sesama, biasanya tersamar di sudut-sudut hati saya yang gelap, dan saya membutuhkan kerendahan hati untuk menyerahkannya kepada Allah agar Ia dapat masuk dan membersihkan sudut-sudut gelap itu. Pemazmur yang selalu rindu untuk bertobat juga mengungkapkannya sedemikian, “ Selidikilah aku, ya Allah, dan kenallah hatiku, ujilah aku dan kenallah pikiran-pikiranku” (Mazmur 139 : 23)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika saya memasuki dapur, segera terlihat kotoran khas dapur, yang muncul dari berbagai aktivitas memasak. Yang sering terdapat di sana adalah debu dan kotoran yang membandel karena bercampur dengan minyak atau bumbu dapur yang berjatuhan. Selain usaha ekstra, kadang saya membutuhkan juga alat bantu lain supaya kotoran yang membandel itu dapat dihilangkan, misalnya dengan bantuan pisau untuk mengerik noda yang telah lama melekat di lantai, atau kain pel yang basah untuk menghapus debu dengan sempurna. Seringkali kita tidak mampu dengan kekuatan kita sendiri untuk bangkit dari kebiasaan yang tidak membangun. Bergantung terus kepada pertolongan Allah yang mampu melunakkan hati sekeras apapun adalah sangat berkenan kepadaNya, sambil tak segan-segan mencari pertolongan sesama yang dapat membantu kita, membaca dan meresapi renungan iman, dan tentu tak jemu-jemu belajar dari Firman-Nya agar niat baik kita diasah dan dikuatkan dengan kuasa Firman Tuhan. “Dalam segala keadaan pergunakanlah perisai iman, sebab dengan perisai itu kamu akan dapat memadamkan semua panah api dari si jahat, dan terimalah ketopong keselamatan dan pedang Roh, yaitu firman Allah (Efesus 6 : 16-17).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan akhirnya, ada satu jenis kotoran yang terdapat di mana-mana di seluruh rumah yaitu bulu-bulu anjing si Kiko, anjing kesayangan keluarga kami.  Kiko bebas berkeliaran di rumah sehingga bulunya yang kadang rontok dari badannya terdapat di hampir semua ruangan yang sedang saya bersihkan. Saya segera mengenali bulu-bulu itu, yang karena ringan dan banyak maka membutuhkan kesabaran mengumpulkannya supaya tidak terbang kemana-mana dan mudah dikumpulkan untuk dibuang. Sangat penting bagi saya untuk mengenali kesalahan yang masih berulang-ulang saya lakukan, serta kebiasaan buruk yang sukar saya tinggalkan, mungkin juga karena bawaan dari kepribadian saya.  Kewaspadaan saya harus selalu ditingkatkan karena si jahat sering masuk dari pintu kelemahan saya yang sudah menjadi kekhasan saya itu untuk berbuat dosa lagi dan membuat saya semakin merasa terpuruk karena merasa sulit sekali berubah. Kalau perlu sebisa mungkin saya perlu menghindari waktu, tempat, dan kesempatan yang membuat saya mudah jatuh lagi ke dalam dosa yang sama. Allah selalu menyertai kita dan menguatkan kita untuk tidak menyerah kepada bujukan si jahat.  Sesungguhnya kita tak pernah sendirian dalam berjuang, tinggal apakah kita mau mengklaim penyertaan Allah itu dengan penuh iman, “Kenakanlah seluruh perlengkapan senjata Allah, supaya kamu dapat bertahan melawan tipu muslihat Iblis” (Efesus 6 : 11). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Firman di atas itu juga mengingatkan saya bila berhadapan dengan sesama yang sulit, bagaimana Allah tetap memandang setiap orang dengan penuh cinta, belaskasihan, pengampunan serta harapan. Maka saya pun harus belajar memandang sesama saya dengan penuh harapan akan kebaikan, betapapun sulitnya menemukan kebaikan itu. Tidak perlu kita menyerahkan diri kepada amarah dan kebencian atau dendam, karena sesama adalah teman-teman seperjuangan kita yang juga masih berjuang, yang harus kita rangkul untuk melawan musuh kita yang sesungguhnya…”karena perjuangan kita bukanlah melawan darah dan daging, tetapi melawan pemerintah-pemerintah, melawan penguasa-penguasa, melawan penghulu-penghulu dunia yang gelap ini, melawan roh-roh jahat di udara” (Efesus 6 : 12). Kehidupan doa yang tekun juga tak pelak lagi sangat menopang niat saya untuk bertahan bersama Tuhan dan memberikan kepastian dalam keraguan, Berdoalah setiap waktu di dalam Roh dan berjaga-jagalah di dalam doamu itu dengan permohonan yang tak putus-putusnya untuk segala orang kudus (Efesus 6 : 18).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah satu jam penuh menyapu, saya merasa lega dan puas telah selesai membersihkan seluruh rumah ibu saya. Saya ingin setia melakukan tugas rutin ini demi kebersihan dan kesehatan seluruh penghuni rumah. Demikian pula pemeriksaan batin, pertobatan, dan pembersihan diri menjadi rutinitas yang indah yang ingin saya lakukan menapaki tahun yang baru menjelang ini, agar seluruh jiwa saya sehat dan berkenan kepada Allah, yang menciptakan setiap dari kita indah, murni, dan berharga sejak semula. Tugas saya untuk memelihara kebersihan jiwa saya agar Dia nyaman bersemayam di dalamnya dan saya mampu menghasilkan buah-buah kasih dan kehidupan seperti rencana-Nya yang indah bagi setiap anak-anak-Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Besok rumah tentu akan kotor lagi, dan tentu saya juga masih akan gagal dan jatuh lagi, tetapi saya ingat jati diri saya yang sebenarnya sebagai anak-anak Tuhan, saya tidak akan menyerah dan ingin selalu bersemangat untuk terus bergantung kepada Allah dengan kerendahan dan keterbukaan hati. Menjadi miskin dan rendah di hadapan Allah adalah kekuatan kita, “Karena itu, sebagai orang-orang pilihan Allah yang dikuduskan dan dikasihi-Nya, kenakanlah belas kasihan, kemurahan, kerendahan hati, kelemahlembutan dan kesabaran (Kolose 3 :12). Allah yang Maha Mencintai, akan selalu menyertai kita. Amin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selamat tahun baru 2011, kiranya kasih dan kerahiman Allah Bapa bersama kita selamanya. (uti)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1926296286733356721-5805934976009730164?l=mylittlecandle.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mylittlecandle.blogspot.com/feeds/5805934976009730164/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mylittlecandle.blogspot.com/2011/03/resolusi-tahun-baru-bersama-allah.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1926296286733356721/posts/default/5805934976009730164'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1926296286733356721/posts/default/5805934976009730164'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mylittlecandle.blogspot.com/2011/03/resolusi-tahun-baru-bersama-allah.html' title='Resolusi tahun baru bersama Allah'/><author><name>triastuti</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06669118216388127857</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_rcwu8-Ne2jg/ShxT7i_4VRI/AAAAAAAABF8/Vwh_OTSVurg/S220/DSC05118.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-8UTDit24bbs/TXW1A5GuDDI/AAAAAAAABrs/80nr-NGC8B8/s72-c/confession%2Broom.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1926296286733356721.post-740733982765016629</id><published>2011-03-07T20:38:00.000-08:00</published><updated>2011-03-07T20:42:44.890-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='candle of light'/><title type='text'>Tuhan sedang menunggu saya</title><content type='html'>&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-Fm7QmUJmTew/TXWzfWOioJI/AAAAAAAABrk/FM-ebripjWU/s1600/C%2526D%2Bchurch%2Buti.JPG"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 150px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-Fm7QmUJmTew/TXWzfWOioJI/AAAAAAAABrk/FM-ebripjWU/s200/C%2526D%2Bchurch%2Buti.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5581564664319484050" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;“&lt;em&gt;Lihat, Aku berdiri di muka pintu dan mengetok; jikalau ada orang yang mendengar suara-Ku dan membukakan pintu,  Aku akan masuk mendapatkannya dan Aku makan bersama-sama dengan dia, dan ia bersama-sama dengan Aku.” (Wahyu 3 : 20)&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Membuat orang lain menunggu rasanya sama tidak enaknya dengan kalau kita menunggu orang lain. Ketika saya tidak menyelesaikan suatu kegiatan atau janji pada waktunya dan mengakibatkan orang lain menunggu saya, saya tidak hanya membuat kesal orang lain tetapi juga mengambil waktunya yang berharga, yang terbuang untuk menunggu saya. Tentu saja hal ini tidak berlaku pada seorang supir yang memang digaji untuk menunggu majikannya selesai berbelanja, misalnya. Tetapi bila yang menunggu kita selesai berbelanja itu adalah suami atau teman dekat saya, sesungguhnya saya sedang meminta pengertian dan pengorbanan mereka. Mungkin mereka juga menggerutu karena saya terlalu lama membuat mereka menunggu. Sebaliknya bila saya yang berada pada posisi menunggu, tentu saya juga resah, tetapi setidaknya saya tidak sedang merugikan orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masa Adven adalah masa penantian kita akan kedatangan Kristus untuk hadir di tengah-tengah kita sebagai Sang Immanuel yang membebaskan kita dari semua belenggu kedosaan dan ikatan keduniawian kita. “Sesungguhnya, anak dara itu akan mengandung dan melahirkan anak laki-laki, dan mereka akan menamakan Dia Yesus, karena Dialah yang akan menyelamatkan umat-Nya dari dosa mereka.” Hal itu terjadi supaya genaplah yang difirmankan Tuhan oleh nabi:  “Sesungguhnya anak dara itu akan mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki, dan mereka akan menamakan Dia Immanuel” – yang berarti: Allah menyertai kita. (Matius 1: 22-23). Tuhan yang solider dengan kelemahan dan keterbatasan kita sebagai manusia dan menjadi sama seperti kita kecuali dalam hal dosa, menghantar kita kepada keselamatan yang sejati melalui hidup-Nya sebagai manusia dan penderitaan-Nya di kayu salib dalam wujud manusia Yesus. Namun keselamatan itu hanya dapat terjadi dengan sempurna bila kita senantiasa membuka diri untuk menerima anugerah pengampunan dan penebusan-Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka kadang-kadang dalam masa Adven, saya lebih merasakan bahwa justru Yesuslah yang sedang menunggu saya untuk senantiasa datang kepada-Nya dan menyerahkan diri saya dibentuk sesuai dengan rencana agung-Nya. Namun Yesus menunggu dengan sangat sabar, Dia menunggu tanpa mengeluh, melainkan dengan penuh pengertian, dan cinta. Selama menunggu saya untuk berubah dari kebiasaan-kebiasaan saya yang tidak membuat saya sungguh-sungguh hidup, Tuhan Yesus bekerja melalui berbagai jalan cinta, supaya Dia dapat masuk ke dalam hati saya dan memberikan cinta-Nya yang kekal menjadi harta milik saya yang tak akan diambil oleh apapun juga. Kadang Dia memberikan saya teguran halus lewat perjumpaan,  percakapan, atau bahkan konflik dengan orang lain. Kadang Dia mengijinkan suatu peristiwa tertentu terjadi dalam hidup saya supaya saya mampu melihat Dia lebih jelas lagi dan mengalami pekerjaan-pekerjaan-Nya yang penuh dengan cinta dan rancangan keselamatan. Bersikap terbuka dan mau berubah adalah kunci utama supaya Tuhan dapat bekerja dengan sepenuhnya dan dengan bebas di dalam diri kita untuk menerima dan mengalami rahmat penebusan-Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika membaca mengenai Yohanes Pemandi di Matius 3: 1-12, yang berseru-seru di padang gurun menyerukan pertobatan dan berbalik dari dosa dan kebiasaan yang buruk, dengan pakaian dari bulu unta dan ikat pinggang dari kulit hewan yang pasti sangat sederhana, sesaat ingatan saya melayang kepada pemandangan di sekitar pusat kota (down town) Houston di Amerika di mana saya pernah bermukim. Di down town area itu banyak dijumpai para homeless (kaum gelandangan) yang tidak mempunyai tempat berteduh. Mereka berpakaian sangat kumal dan seadanya. Jumlah mereka sebenarnya tidak banyak, namun penampilan mereka yang kontras dengan situasi sekitarnya yang dikelilingi gedung-gedung bertingkat, taman-taman kota yang cantik, dan jalanan yang rapih, bersih, dan mapan, membuat kehadiran mereka terasa menyolok. Kebanyakan masyarakat umum memandang mereka dengan perasaan tidak aman, karena khawatir mereka akan berbuat kekerasan untuk mendapatkan uang demi memenuhi kebutuhan hidup mereka. Namun pada kenyataannya, sejauh yang saya alami, mereka tidak pernah mengganggu saya. Paling-paling hanya mendekat untuk minta uang satu dollar, dan kalau saya menggelengkan kepala karena kebetulan sedang tidak punya pecahan satu dollar, maka mereka akan menjauh dengan sopan. Hati saya tersentuh oleh kesederhaan dan kemiskinan mereka. Betapa dekatnya orang-orang seperti itu kepada Allah. Hidupnya hanya untuk hari ini, sedangkan hari besok ia bergantung sepenuhnya kepada Yang Punya Hidup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penampilan semacam itulah yang mungkin juga dijumpai dan dirasakan orang-orang Israel jaman dulu pada diri Yohanes Pemandi. Siapakah orang-orang yang tidak tertipu oleh penampilan fisiknya yang sangat sederhana itu, dan mampu melihat pesan yang dibawanya sebagai pesan kebenaran dari Yang Maha Kuasa? Siapakah mereka yang kemudian berbondong-bondong datang untuk dibaptis olehnya di Sungai Jordan sehingga mereka dapat menerima rahmat Allah sepenuhnya? Saya berpikir, pasti orang-orang itu adalah orang-orang yang hatinya selalu terbuka dan rendah hati, yang sadar bahwa dirinya masih jauh dari sempurna, dan oleh karenanya selalu siap dan mau untuk berubah. Orang-orang yang miskin di hadapan Allah. Yang bagaikan seorang homeless di downtown kota Houston, bergantung sepenuhnya pada kemurahan Allah di setiap hari yang baru, karena kemiskinannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yohanes Pemandi mungkin tidak mempunyai keelokan apapun secara fisik, namun hatinya yang selalu haus akan Allah dan tidak mengenal kompromi akan dosa, berani mempertahankan prinsip demi kebenaran dan kasih Allah, dengan mudah memikat hati siapa saja yang terbuka kepada panggilan Tuhan yang halus, yang datang dalam berbagai peristiwa hidup dan perjumpaan dengan sesama di dalam kehidupan kita. Tuhan Yesus masih selalu menunggu saya dan Anda, di masa Adven ini, dan di seluruh masa kehidupan kita. Kerinduan-Nya hanya satu, supaya Dia selalu bisa memeluk dan mencintai kita sepenuhnya, tidak hanya sejak di dalam hidup ini, namun sampai seterusnya kelak di dalam kekekalan. Semoga hati kita selalu terbuka dan siap untuk diubahkan oleh-Nya. Semoga kita tidak terlena oleh kemilaunya kehidupan dunia yang hanya sementara ini, tetapi mengarahkan hati dan budi kita selalu untuk mendengarkan suara-Nya dan mengalami pekerjaan-pekerjaan-Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adalah pilihan saya untuk mengikuti cinta dan kesabaran-Nya yang sedemikian halus. Kita bebas memilih jalan kita sendiri. Namun kesetiaan-Nya akan selalu menemani dalam setiap tantangan dan kesukaran saya untuk berubah. Setiap tetes air mata dan duka saya adalah kedukaan-Nya, dan setiap tawa ria hati saya karena sukacita bersama-Nya adalah kerinduan-Nya. Komitmen untuk selalu bersama Dia adalah komitmen yang harus saya buat setiap hari, setiap jam, setiap detik. Jika saya menyatakan persetujuan dan bersedia untuk bersama-Nya, Dia akan terus memampukan saya untuk mengatasi diri sendiri dan berjalan sepenuhnya bersama-Nya.  Dengan kesabaran dan cinta yang tak terselami, Dia sedang menunggu saya…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk memberikan perhatian yang tulus kepada sesama dan keluarga yang membutuhkan, sekalipun itu adalah waktu dan energi saya yang berharga untuk sekedar mendengarkan dan menemani mereka…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk merelakan dengan cinta sebagian harta benda saya bagi saudara yang lebih membutuhkan…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk mengampuni seorang teman yang sudah lama menyakiti hati saya dan sudah mencoba meminta maaf tetapi saya belum dapat sepenuhnya menerimanya kembali dalam hati saya…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk memperbaiki pengaturan waktu doa saya di tengah kesibukan sehari-hari yang kian padat…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk mengalah dengan penuh kesadaran dari kebiasaan-kebiasaan saya yang mengganggu kedamaian sesama di sekitarku….&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Datang kepada-Nya di setiap awal hari yang baru adalah waktu-waktu terbaik untuk memohon terang-Nya menunjukkan bagian-bagian mana dari diri saya yang Tuhan rindu untuk saya serahkan kepada-Nya pada hari ini. Ini adalah pilihan dan kebebasan saya untuk dibentuk sesuai kerahiman-Nya dan kebijaksanaan-Nya, karena Ialah yang membentuk dan merancang saya, indah sejak awal hingga akhir. Tentu saja semua itu adalah pengorbanan dan penyangkalan diri bagi saya. Tetapi, memikul salib dengan penuh iman dan percaya sepenuhnya bersama Kristus adalah tanda cinta dan kesetiaan kita yang tak tertandingi nilainya di hadapan-Nya, yang akan selalu bersama kita sepanjang jalan salib kehidupan dan menunggu kita di rumah cinta-Nya yang kekal. Marilah kita melakukannya dengan mata yang tertuju kepada Yesus, yang memimpin kita dalam iman, dan yang membawa iman kita itu kepada kesempurnaan, yang dengan mengabaikan kehinaan tekun memikul salib ganti sukacita yang disediakan bagi Dia, yang sekarang duduk di sebelah kanan takhta Allah (Ibrani 12:2). Tidak ada jalan yang lebih damai dan indah bagi sebuah rancangan selain daripada mengikuti keinginan Sang Perancangnya. Seorang Perancang yang tidak hanya merancang dengan cermat dan kerahiman, tetapi juga dengan cinta yang tidak tertandingi dalamnya dan pengorbanan yang melampaui hidup itu sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jauh dalam lubuk hati, saya tidak ingin Tuhan menunggu saya terlalu lama. Walaupun saya tahu bahwa Ia sabar dan pengertian-Nya tidak ada batasnya, namun cinta-Nya kepada saya di atas kayu salib, membuat saya tidak rela kalau Tuhan harus menunggu saya berlama-lama. Tentu juga demikian dengan Anda. Jadi, saudara-saudara, kita adalah orang berhutang, tetapi bukan kepada daging, supaya hidup menurut daging. Sebab, jika kamu hidup menurut daging, kamu akan mati; tetapi jika oleh Roh kamu mematikan perbuatan-perbuatan tubuhmu, kamu akan hidup. Semua orang, yang dipimpin Roh Allah, adalah anak Allah. (Roma 8 : 12-14). Hanya dengan selalu bersikap terbuka, siap untuk diubahkan dan dimurnikan dengan semangat kemiskinan di hadapan-Nya, kita dapat mengundang Dia, untuk dapat segera masuk ke dalam hati dan hidup kita, dan terus bekerja di sana menggenapi rencana-Nya yang penuh kasih dan keagungan, tanpa menunggu terlalu lama lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam suka dan duka dinamika perjalanan kehidupan, di tikungan-tikungan pergumulan dan tantangan, bahkan dalam keputusasaan dan harapan yang datang silih berganti dalam kehidupan, adalah sangat menghibur dan menguatkan hati menyadari bahwa Tuhan ada di dalam setiap momen-momen itu. Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah. Sebab, semua orang yang dipilih-Nya dari semula, mereka juga ditentukan-Nya dari semula untuk menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya, supaya Ia, Anak-Nya itu, menjadi yang sulung di antara banyak saudara. Dan mereka yang ditentukan-Nya dari semula, mereka itu juga dipanggil-Nya. Dan mereka yang dipanggil-Nya, mereka itu juga dibenarkan-Nya. Dan mereka yang dibenarkan-Nya, mereka itu juga dimuliakan-Nya. (Roma 8: 28 – 30).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena Dia adalah setia hingga akhir, maka adalah kekuatan dan sukacita kita untuk terus mengandalkan Dia, sehingga kita menjadi semakin serupa dengan Dia dan siap sepenuhnya untuk selalu bersama-sama Dia di dalam keabadian. Berbahagialah manusia yang kekuatannya di dalam Engkau, yang berhasrat mengadakan ziarah! Apabila melintasi lembah Baka, mereka membuatnya menjadi tempat yang bermata air; bahkan hujan pada awal musim menyelubunginya dengan berkat. Mereka berjalan makin lama makin kuat, hendak menghadap Allah di Sion (Mazmur 84 : 6-8). (uti)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1926296286733356721-740733982765016629?l=mylittlecandle.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mylittlecandle.blogspot.com/feeds/740733982765016629/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mylittlecandle.blogspot.com/2011/03/tuhan-sedang-menunggu-saya.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1926296286733356721/posts/default/740733982765016629'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1926296286733356721/posts/default/740733982765016629'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mylittlecandle.blogspot.com/2011/03/tuhan-sedang-menunggu-saya.html' title='Tuhan sedang menunggu saya'/><author><name>triastuti</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06669118216388127857</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_rcwu8-Ne2jg/ShxT7i_4VRI/AAAAAAAABF8/Vwh_OTSVurg/S220/DSC05118.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-Fm7QmUJmTew/TXWzfWOioJI/AAAAAAAABrk/FM-ebripjWU/s72-c/C%2526D%2Bchurch%2Buti.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1926296286733356721.post-3668073514359265142</id><published>2011-01-04T06:19:00.000-08:00</published><updated>2011-01-04T08:19:59.952-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='candle of light'/><title type='text'>He is still there...and always be</title><content type='html'>&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_rcwu8-Ne2jg/TSMuMzsielI/AAAAAAAABrY/JL2miOrqosg/s1600/DSC05402.JPG"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 112px; height: 200px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_rcwu8-Ne2jg/TSMuMzsielI/AAAAAAAABrY/JL2miOrqosg/s200/DSC05402.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5558337162675649106" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;In the beginning.....&lt;br /&gt;It was just me....and Him&lt;br /&gt;It was so peaceful...so tender...so pure&lt;br /&gt;No worries, no concern about things, no pretence, no insecurity...&lt;br /&gt;Everything is just fine.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;He made me so fine, so tender, so noble, so great, &lt;br /&gt;but at the same time.... fragile, ....and beautiful.&lt;br /&gt;From the very beginning, until the end.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;When life begins, everything goes to its own direction&lt;br /&gt;wildly, uncontrollable, unpredictable...&lt;br /&gt;And I begin to change as well...&lt;br /&gt;I begin to wound, split....and hurt.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;But He is still at the same place in my heart,&lt;br /&gt;with the same love ...&lt;br /&gt;same disposition.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;In His eyes...&lt;br /&gt;I still and always will be ...the very same beauty, as if I am always new... from the beginning.&lt;br /&gt;He is never distracted to look at me just as I am...&lt;br /&gt;to unceasingly love me,&lt;br /&gt;beautiful as I am from the beginning,&lt;br /&gt;no matter what.&lt;br /&gt;He loves me just the way I am&lt;br /&gt;with all my weaknesses, failure, fragility....&lt;br /&gt;He just loves and accepts,unconditionally.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;He died for me...won't He do everything to save my soul and to help me to enter to His kingdom to be with Him again till eternity ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;If He loves everybody the same way,&lt;br /&gt;why should I judge and hate others? No matter how difficult they may be...&lt;br /&gt;Why should I lose hope in finding goodness in this world, good in others?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sometimes....I miss that tender moment &lt;br /&gt;a lot....&lt;br /&gt;to be just with Him, just with myself...and Himself alone.&lt;br /&gt;Just the two uf us....oh...how wonderful....&lt;br /&gt;that will be my truest happiness...when I will be I, peace, pure, noble&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;It's to keep that real happiness...&lt;br /&gt;to keep myself pure and noble,&lt;br /&gt;to be just precious and as pure as from the start...&lt;br /&gt;and not being discouraged by the world....&lt;br /&gt;by my failures, mistakes, ..by the past.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Because He is still at the same place,&lt;br /&gt;with the same love...&lt;br /&gt;waiting and looking at me with the same look ...with the same loving care,&lt;br /&gt;as precious as I could be from His hands.&lt;br /&gt;He is not distracted, never waver...&lt;br /&gt;He keeps loving me,&lt;br /&gt;until eternity....&lt;br /&gt;Letting me be just as I am,&lt;br /&gt;beautiful as from the beginning...&lt;br /&gt;till the very end.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jesus, I love You...I miss You...I long for You desperately....for Yourself alone.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malang, 3 Januari 2011&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1926296286733356721-3668073514359265142?l=mylittlecandle.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mylittlecandle.blogspot.com/feeds/3668073514359265142/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mylittlecandle.blogspot.com/2011/01/he-is-still-thereand-always-be.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1926296286733356721/posts/default/3668073514359265142'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1926296286733356721/posts/default/3668073514359265142'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mylittlecandle.blogspot.com/2011/01/he-is-still-thereand-always-be.html' title='He is still there...and always be'/><author><name>triastuti</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06669118216388127857</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_rcwu8-Ne2jg/ShxT7i_4VRI/AAAAAAAABF8/Vwh_OTSVurg/S220/DSC05118.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_rcwu8-Ne2jg/TSMuMzsielI/AAAAAAAABrY/JL2miOrqosg/s72-c/DSC05402.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1926296286733356721.post-424471710687480326</id><published>2010-11-09T06:19:00.000-08:00</published><updated>2010-11-10T13:14:46.833-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='candle of light'/><title type='text'>Pahlawan Sejati</title><content type='html'>&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_rcwu8-Ne2jg/TNlaImjZ5ZI/AAAAAAAABrM/eI7si9P6q0E/s1600/Jesus%2Bthe%2BGood%2BShepherd.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 144px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_rcwu8-Ne2jg/TNlaImjZ5ZI/AAAAAAAABrM/eI7si9P6q0E/s200/Jesus%2Bthe%2BGood%2BShepherd.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5537556320663233938" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Rasanya sukar memisahkan arti pahlawan dengan cinta. Karena cinta, maka seseorang mampu bertindak melampaui batas-batas kepentingan diri sendiri dan bahkan harga diri, supaya yang dicintai menjadi bahagia, bebas, dan sepenuhnya menjadi utuh. Semangat cinta yang sejati yang mendasari perbuatan kepahlawanan menyingkirkan diri sendiri dan melahirkan pengorbanan bagi kepentingan yang dicintai. Tindakan yang didasari oleh cinta membedakannya dengan tindakan yang dikerjakan karena sekedar kewajiban atau rutinitas belaka, atau karena dipaksa oleh keadaan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Figur-figur yang melenyapkan kepentingan diri supaya pihak lain bahagia dan selamat banyak kita jumpai di keseharian kita. Selain pengorbanan para pejuang kemerdekaan yang memberi kita hidup dan kebebasan, kita juga menemukannya di dalam diri seorang ibu yang menaruh kasih setiap waktu tanpa kenal lelah, dan seorang ayah yang bekerja siang malam bagi kepentingan keluarga. Pada diri para relawan yang meninggalkan kenyamanannya sehari-hari untuk pergi ke daerah bencana dan menyerahkan waktu dan tenaganya membantu para pengungsi, bahkan hingga kehilangan nyawa seperti dua relawan yang membantu para pengungsi Merapi. Pada diri para misionaris yang melupakan kestabilan hidup normal untuk mewartakan Injil di pedalaman atau hidup di tengah masyarakat miskin untuk menjadi penolong. Pada pengabdian seorang guru yang mengajar dengan penuh semangat dan dedikasi walau penghasilannya pas-pasan. Pada seorang sahabat yang selalu menyediakan waktu dua puluh empat jam sehari bagi sahabatnya. Dan juga pada diri seseorang yang karena kerendahan hatinya merelakan tuduhan, kesalahpahaman, atau fitnah tentang dirinya, berserah dalam keheningan demi keselamatan banyak orang, sambil menantikan keadilan. Dan mungkin pada kita sendiri, saat kita mempunyai kerelaan dan kerendahan hati untuk selalu mengampuni sesama yang menyakiti hati kita karena terbuka terhadap kemungkinannya untuk berubah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Motivasi oleh cinta yang tulus melahirkan sifat dasar lain dari seorang pahlawan, yaitu bahwa sang pelaku tidak menganggap dirinya pahlawan dan tidak mencari pujian atau penghargaan ketika melakukan pengorbanan bagi sesamanya. Pengorbanan itu dilakukan dengan sukacita dan kerelaan tanpa mengharapkan balasan apapun. Pengorbanan itu sendiri telah membuatnya bahagia terutama saat melihat yang dikasihi berbahagia, sehingga ia tidak memikirkan atau membutuhkan apresiasi apa-apa. Semua lahir karena kekuatan cinta. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melihat atau mengalami cinta mereka yang berkorban dan melupakan diri sendiri dengan tulus agar sesamanya selamat dan bahagia membawa hati kita kepada sosok pahlawan cinta sejati yang menjadi sumber sukacita iman kita semua dalam pengorbanan Kristus. Dia memberikan diri-Nya seluruhnya di kayu salib demi pembebasan umat manusia dari perbudakan dosa dan kematian. Model semangat cinta Yesus Kristus yang memberikan diri sehabis-habisnya hingga titik kehilangan nyawa supaya yang dicintai memperoleh hidup, membuat kita mempunyai gambaran murni akan arti pahlawan dalam hidup kita. Tuhan Yesus memberikan diri-Nya dengan bebas dan rela, Ia menyongsong salib yang berat itu untuk dipikul-Nya, disertai dengan cinta yang penuh kepada Bapa dan kepada manusia. Hal itu dikatakan-Nya dengan jelas dalam Yohanes 10 : 17-18, “Bapa mengasihi Aku, oleh karena Aku memberikan nyawa-Ku untuk menerimanya kembali. Tidak seorangpun mengambilnya dari pada-Ku, melainkan Aku memberikannya menurut kehendak-Ku sendiri. Aku berkuasa memberikannya dan berkuasa mengambilnya kembali. Inilah tugas yang Kuterima dari Bapa-Ku”.  Tugas dari Bapa-Nya disambut-Nya dengan kerelaan dan kebebasan sepenuhnya. Bagi kita sahabat-sahabat-Nya, Ia adalah seorang pembela dan penolong, seorang gembala yang tidak sekedar menjaga kawanan domba-Nya, tetapi bahkan dengan rela memberikan hidup-Nya bila domba-domba-Nya dalam bahaya. “Pencuri datang hanya untuk mencuri dan membunuh dan membinasakan; Aku datang, supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahan. Akulah gembala yang baik. Gembala yang baik memberikan nyawanya bagi domba-dombanya (Yohanes 10 : 10 – 11a). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yesus mengatakan semuanya itu supaya kita memahami keselamatan dan kehidupan yang akan kita terima bila kita menerima pengorbanan-Nya dan menjadikannya model bagi hidup kita sendiri. Dia mengatakan semuanya itu agar kita menjadi satu dengan-Nya dalam misi keselamatan dunia dan mampu berdiri tegak dalam semua situasi kehidupan.  “Kamu adalah sahabat-Ku, jikalau kamu berbuat apa yang kuperintahkan kepadamu. Aku tidak menyebut kamu lagi hamba, sebab hamba tidak tahu apa yang diperbuat tuannya, tetapi Aku menyebut kamu sahabat, karena Aku telah memberitahukan kepada kamu, segala sesuatu yang telah Kudengar dari Bapa-Ku (Yohanes 15 : 14-15).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dalam segala bentuk pergumulan hidup, tiada yang lebih menentramkan hati selain janji Putra Allah sendiri untuk selalu datang melindungi dan membela kita. Apapun keadaan kita, walaupun kita masih selalu berdosa dan bahkan di saat kita sedang mencari jalan kita sendiri, Dia selalu peduli dan menunggu kita dengan tongkat dan gada-Nya yang meneguhkan kita. “Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku; gada-Mu dan tongkat-Mu, itulah yang menghibur aku” (Mazmur 23 : 4). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dalam hati seorang pahlawan sejati, tercermin kepahlawanan Kristus di kayu salib, pengorbanan oleh karena cinta semata, tidak mengharapkan apapun yang lain selain kebaikan dan keselamatan yang dicintai. Dengan senantiasa menyerap teladan kepahlawanan Kristus dalam penderitaan salib-Nya, kita dimampukan untuk juga menjadi pahlawan-pahlawan iman dan kehidupan, yang tulus berkorban bagi sesama, meluap dari rasa syukur dan cinta kepada Sang Putra, memberikan diri dengan bebas dan sukacita, tanpa mengharapkan balasan apa-apa. Dan sebagaimana kita menghargai jasa-jasa para pahlawan bangsa dengan perbuatan yang nyata untuk mengisi kemerdekaan dengan kinerja dan usaha membangun masyarakat dengan semangat kebaikan dan keadilan, demikian juga kita menghormati dan mensyukuri pengorbanan Kristus di kayu salib bagi kita dengan setia bertekun dalam iman dan pengharapan dan tak lelah-lelahnya berjuang menghasilkan buah-buah kasih bagi sesama dan bagi kemuliaan-Nya, bahkan di saat tak seorangpun memberikan apresiasi. Saat ini mari kita ingat dan doakan pula jasa para pahlawan yang telah memberikan hidupnya bagi sesama, baik para pahlawan bangsa, pahlawan keluarga, maupun pahlawan iman, khususnya mereka yang sering terlupakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-uti, Houston 8 Nov 2010-&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1926296286733356721-424471710687480326?l=mylittlecandle.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mylittlecandle.blogspot.com/feeds/424471710687480326/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mylittlecandle.blogspot.com/2010/11/pahlawan-sejati.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1926296286733356721/posts/default/424471710687480326'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1926296286733356721/posts/default/424471710687480326'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mylittlecandle.blogspot.com/2010/11/pahlawan-sejati.html' title='Pahlawan Sejati'/><author><name>triastuti</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06669118216388127857</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_rcwu8-Ne2jg/ShxT7i_4VRI/AAAAAAAABF8/Vwh_OTSVurg/S220/DSC05118.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_rcwu8-Ne2jg/TNlaImjZ5ZI/AAAAAAAABrM/eI7si9P6q0E/s72-c/Jesus%2Bthe%2BGood%2BShepherd.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1926296286733356721.post-2921516309770933446</id><published>2010-11-08T06:10:00.000-08:00</published><updated>2010-11-08T06:18:04.122-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='candle of light'/><title type='text'>Belajar untuk bahagia</title><content type='html'>&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_rcwu8-Ne2jg/TNgGe90uSaI/AAAAAAAABrE/A9RBJLmPVXE/s1600/summer7_cs.JPG"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 150px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_rcwu8-Ne2jg/TNgGe90uSaI/AAAAAAAABrE/A9RBJLmPVXE/s200/summer7_cs.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5537182870913567138" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Belajar ? Untuk bahagia ? Mengapa untuk merasa bahagia saja kita harus belajar ? Karena kata orang bahagia itu perjalanan, a journey, bukan tujuan, not a destination. Waktu masih kanak-anak, kita sangat mudah merasa bahagia, kita bahagia untuk hal-hal yang sederhana. Setelah dewasa, kita terpaku pada standar-standar dunia untuk bisa merasakan bahagia. Kita tidak selalu sadar bahwa bahagia yang sejati itu bukan ditentukan standar masyarakat. Bahagia kalau uangnya banyak, bahagia kalau sukses, bahagia kalau statusnya terpandang, bahagia kalau istrinya cantik atau suaminya pintar, bahagia kalau semuanya lancar dan sesuai harapan kita. Dan seterusnya. Tapi kebahagiaan yang sesungguhnya mestinya tidak bergantung kepada semua itu. Kalau semuanya itu diambil dari kita, atau tidak menjadi milik kita, apakah kita lantas menjadi tidak bahagia ? Semudah itukah kita menyerah untuk tidak lagi bahagia ? Rasanya Sang Hidup ingin kita selalu bahagia, dan menciptakan kita untuk bahagia, sejak awal kta diciptakan. Seperti halnya hidup, bahagia itu diberikan-Nya dengan cuma-cuma, tanpa alasan, tanpa syarat. Semata karena cinta-Nya kepada kita, karena Dia ingin kita menjadi mitra-Nya untuk menjadikan dunia ciptaan ini semakin penuh cinta. itu saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau rasa bahagia adalah bila harus begini atau harus begitu...baru bahagia kalau saya begini atau kalau kamu sudah begitu....berarti untuk bahagia yang sesungguhnya, memang aku masih perlu belajar. Sebab bahagia yang dari Sang Hidup itu adalah bukan “bahagia kalau....” , melainkan “bahagia karena.....” yaitu bahagia karena bersyukur, bahagia karena diberi hidup. Karena mencintai proses-proses kehidupan. Karena terbuka kepada kemungkinan. Karena selalu penuh harapan. Apakah bahagia ku sudah bahagia yang sejati ? Bahagia yang sejati sudah kualami bila aku bisa tetap memilih untuk bahagia sekalipun hidup sedang tidak berjalan sperti yang kuinginkan, bahkan di saat dunia ada derita dan kekecewaan. Bahagia karena cinta Sang Tujuan, dan bahagia karena selalu ada harapan, kepada Sang Pemelihara Kehidupan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga semua mahluk Tuhan berbahagia&lt;br /&gt;Houston, Nov 5, 2010&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1926296286733356721-2921516309770933446?l=mylittlecandle.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mylittlecandle.blogspot.com/feeds/2921516309770933446/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mylittlecandle.blogspot.com/2010/11/belajar-untuk-bahagia.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1926296286733356721/posts/default/2921516309770933446'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1926296286733356721/posts/default/2921516309770933446'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mylittlecandle.blogspot.com/2010/11/belajar-untuk-bahagia.html' title='Belajar untuk bahagia'/><author><name>triastuti</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06669118216388127857</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_rcwu8-Ne2jg/ShxT7i_4VRI/AAAAAAAABF8/Vwh_OTSVurg/S220/DSC05118.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_rcwu8-Ne2jg/TNgGe90uSaI/AAAAAAAABrE/A9RBJLmPVXE/s72-c/summer7_cs.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1926296286733356721.post-5240554864353753613</id><published>2010-11-05T11:05:00.000-07:00</published><updated>2010-11-05T11:13:47.000-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='candle of light'/><title type='text'>Macet</title><content type='html'>Ketika komunikasi macet, jalanan macet, ide menulis macet, proses penyembuhan macet, proses menuju kebebasan macet, maka rasa frustasi yang mengalir, masuk ke dalam jiwa, merasuki tulang. Hati yang panas semakin gerah, jiwa yang lelah terasa ingin menyerah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Daripada menyesali hal-hal yang kubutuhkan atau harapkan untuk berjalan kembali tetapi nyatanya tak kunjung bergerak, atau menyumpahi keadaan dan kecerobohan yang telah menimbulkan macet, lebih baik diam sejenak. Ada yang terlupakankah ? Tenang, tersenyum, berharap, dan sadar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin selama ini ku sudah bergerak terlalu laju, sehingga tidak sempat mendongak menikmati kerlipan bintang di langit malam, atau tersenyum kepada matahari pagi yang memberi kehidupan. Mengulurkan tangan kepada anak-anak yang merindukan sapaanku. Dan menyapa jiwaku sendiri yang kering karena kerutinan. Mungkin hatiku sudah terlalu penuh dengan ambisi dan keinginan-keinginan duniawi, mungkin ini saatnya membersihkan nurani, memurnikan motivasi, menyadari pemeliharaan Ilahi, yang sesungguhnya tak pernah sepi. Hanya jarang mendapat apresiasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Macet memang menyebalkan, tidak ada ide, tidak ada kelanjutan, harapan menggantung, kepastian melayang. Macet membuat bahtera hidup terhenti, dan semua aspirasi seakan mati. Tetapi mungkin itulah saat yang tepat untuk meluruskan kemudi, mengistirahatkan kendali, dan menyelaraskan diri dengan kehendak Ilahi, supaya kita sungguh sampai ke tujuan kita yang hakiki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Trimakasih macet. &lt;br /&gt;-Houston, Nov 4, 2010-&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1926296286733356721-5240554864353753613?l=mylittlecandle.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mylittlecandle.blogspot.com/feeds/5240554864353753613/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mylittlecandle.blogspot.com/2010/11/macet.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1926296286733356721/posts/default/5240554864353753613'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1926296286733356721/posts/default/5240554864353753613'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mylittlecandle.blogspot.com/2010/11/macet.html' title='Macet'/><author><name>triastuti</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06669118216388127857</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_rcwu8-Ne2jg/ShxT7i_4VRI/AAAAAAAABF8/Vwh_OTSVurg/S220/DSC05118.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1926296286733356721.post-5881896758772100391</id><published>2010-09-29T06:37:00.001-07:00</published><updated>2010-10-06T12:44:12.981-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='candle of love'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='candle of faith'/><title type='text'>Lanjutkan...!</title><content type='html'>&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_rcwu8-Ne2jg/TKNBcOuFKQI/AAAAAAAABqg/jtM3fFKbgu0/s1600/DSC08970.JPG"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 112px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_rcwu8-Ne2jg/TKNBcOuFKQI/AAAAAAAABqg/jtM3fFKbgu0/s200/DSC08970.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5522329521329875202" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku&lt;/em&gt;." (Mat 16:24; 10:38).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika Indonesia sedang dalam masa kampanye pemilihan presiden beberapa waktu yang lalu, slogan yang hanya terdiri dari satu kata, “Lanjutkan..!” yang menjadi moto salah satu calon, menjadi populer.  Walau hanya satu kata, moto ini dengan cukup jelas mengungkapkan himbauan untuk meneruskan apa yang sudah dikerjakan oleh pencetusnya.  Meneruskan. Di dalam tikungan kehidupan, ketika hidup tidak berjalan mulus sesuai dengan harapan kita, kata itu kadang-kadang terasa begitu sulit dan berat untuk dilakukan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu hari saya sedang menatap ibu saya yang sedang bercerita tak henti kepada saya sejak hampir setengah jam yang lalu. Kisahnya seolah tak berujung. Saya tidak berani memotong cerita yang sedang ia sampaikan. Karena di telinga saya, apa yang ia sampaikan bukan hanya sekedar kisah, melainkan sebuah balada kesedihan hati seorang ibu yang terulang lagi dan lagi. Saya berusaha meredam kesedihan saya karena cinta saya kepada ibu saya, sambil merasakan ketidakberdayaan saya sendiri menyaksikan kekecewaan itu lagi di matanya, dan di hatinya.  Kisah semacam itu bukan hal yang pertama kali saya dengar, hadir dalam kerangka peristiwa yang berbeda-beda, namun semuanya mempunyai muatan yang sama. Kesedihan dan kekecewaan seorang ibu karena sikap tidak peduli seorang anak kepada perasaan dan kebutuhan ibu dan ayahnya. Anak itu adalah kakak kandung saya sendiri, yang juga telah cukup lama meninggalkan gereja. Sikap acuh dari kakak saya yang tinggal satu kota dengan orangtua kami, ditambah sikap yang kurang lebih sama dari istri kakak, terhadap ayah dan ibu kami, sudah menjadi kisah lama keluarga kami, yaitu ayah ibu dan kami bertiga bersaudara. Bertahun-tahun saya, seorang kakak saya yang lain serta ayah dan ibu berdoa untuk kakak saya itu, sambil tetap berusaha mencurahkan cinta yang tulus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata semakin lama kami makin menyadari bahwa proses pertobatan kakak saya juga adalah proses pertobatan dan pemurnian kami semua sebagai keluarga. Dalam perjalanan doa sekeluarga bagi pertobatan kakak saya itu, kami merasakan bimbingan Tuhan di dalam doa dan permenungan kami bahwa mengampuni kakak secara terus menerus dan selalu berusaha memahami pilihan-pilihannya, akan lebih banyak memberi kemungkinan pertobatan kepada kakak dan keluarganya, dan membuahkan kedamaian di hati kami sendiri. Apalagi kami sendiri belumlah sempurna, masih harus selalu memperbaiki diri di sana sini. Harapan kami untuk kakak seyogyanya adalah untuk kebaikan dirinya dan bagi Tuhan, dan bukan untuk memenuhi ego kami dan kebutuhan kami sendiri untuk dikasihi. Bagaimanapun, berusaha selalu mengerti dan mengampuni untuk memberikan contoh keluhuran kasih Bapa, adalah perjuangan yang berat. Sebuah komitmen yang harus diperbarui lagi hari demi hari. Dan saya merasakannya ketika masih kembali harus mendengarkan ibu saya menceritakan keluhannya seputar sikap dan hati kakak yang dingin terhadap cinta Tuhan dan orangtuanya. Kisah yang seolah tak ada akhirnya. Di akhir pembicaraan ibu dan saya, kami selalu berusaha datang kepada Tuhan dan untuk kesekian kalinya memohon kekuatan untuk terus mengampuni, terus mengerti. Walaupun kami tidak tahu sampai kapan kami harus mengerti dan mengampuni kakak, setidaknya kami menyadari bahwa Yesus sudah berkata supaya kami mengampuni tujuh puluh kali tujuh kali, dan itu kami yakini sebagai:  tanpa batas. Di dalam Dia, kami menaruh harapan bahwa teladan kesabaran, tidak menghakimi, dan kasih sesuai teladan-Nya, kelak dapat membawa pertobatan yang sejati bagi kakak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meneruskan sikap hidup yang baik walaupun hidup terasa berat dan mengecewakan, bahkan kadang terasa tak terpikul, juga saya jumpai dalam kisah kehidupan lainnya. Teman saya yang selalu berusaha mengampuni suaminya yang selingkuh, teman lain yang berjuang tetap bekerja dengan baik di bawah tekanan bos yang sangat menuntut dan tidak perhatian kepada prestasi bawahan, perjuangan teman ayah saya melawan kanker tenggorokan yang telah membuatnya menderita berbulan-bulan lamanya - penderitaan yang bagi yang mendengarkan dan membayangkannya saja rasanya tak tertahankan lagi.  Atau dalam kesetiaan seorang ibu yang harus selalu bangun di pagi hari melayani suami dan anak-anaknya dalam kesederhanaan dan kekurangan selama puluhan tahun, dan seorang tukang ojek korban PHK yang harus selalu bekerja di atas motornya siang dan malam demi sesuap nasi bagi keluarganya tanpa tahu kapan bisa kembali mendapatkan pekerjaan tetap yang lebih layak. Kisah-kisah itu juga ada dalam hal-hal yang lebih sederhana, namun tetap memerlukan kesabaran dan pengorbanan, misalnya bersabar menghadapi teman sekerja yang kurang giat bekerja dan tidak sepaham dengan kita, kemauan yang harus super teguh saat harus berdiet dan berolahraga dengan kedisiplinan yang tidak bisa ditawar lagi untuk menghindari suatu serangan penyakit turunan, meminjami (atau memberi) lagi dan lagi teman atau saudara yang memerlukan bantuan keuangan, terus berbuat baik dan bersikap baik sekalipun sering tidak dihargai atau disalahartikan, atau tetap berpikir positip dan penuh harapan di saat anak-anak kita belum juga menunjukkan kemajuan berarti di suatu bidang yang harus dikuasainya, sambil memurnikan motivasi kita sendiri bahwa apa yang kita usahakan adalah sungguh bagi kepentingan si anak dan bukan demi ego kita sebagai orangtua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada suatu hari saat sedang mempelajari dokumen kursus katekis yang saya jalani, saya merasa terkejut menemukan sebuah teks di hadapan saya. Dengan pandangan mata nanar, saya membaca tulisan yang tertera di sana, “&lt;em&gt;Jesus was hanging on the cross for 6 hours. Six hours in indescribable agony&lt;/em&gt;”.  (Yesus tergantung di kayu salib selama enam jam. Enam jam dalam penderitaan yang tak tergambarkan). Hati saya tertegun. Saya panik, merasa sekian lama dalam hidup saya, saya mengira Yesus ‘hanya’ bergantung di kayu salib selama tiga jam sebelum wafat-Nya pada pukul tiga sore (Matius 27 ayat 46 dan 50). Saya segera mengecek Kitab Suci saya, saya buka di Markus 15:25, &lt;em&gt;Hari jam sembilan ketika Ia disalibkan&lt;/em&gt;. Memang di Injil lain misalnya di Injil Yohanes tidak dinyatakan demikian (Yohanes 19:14). Dan tentu saja itu masih belum termasuk penderitaan akibat pencambukan dan penghinaan yang berlangsung sejak dini hari. Saya menelan ludah, merasa tenggorokan saya tercekat, menahan airmata yang tiba-tiba mendesak hendak keluar.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yesusku, aku merasa malu dan sedih karena baru sekarang aku mengetahui bahwa Engkau menderita begitu lama untukku. Dalam kesendirian yang begitu mencekam, dan rasa sakit yang begitu dahsyat di seluruh bagian tubuh-Mu, Engkau tetap bertahan. Penderitaan, kesepian, dan kesakitan, yang tak mampu kupahami dengan nalar, dan tak mampu kuungkapkan dengan kata.  Apa yang membuat-Mu begitu teguh untuk bertahan, Tuhan? Begitu berharganya kami sehingga Engkau begitu rela untuk menahan dan menjalani semua itu Tuhan. Jam demi jam yang merambat pelan dalam kesakitan dan kepedihan yang tak berhingga. Pasti terasa berabad-abad lamanya bagi Tuhanku. Pasti terasa berabad lamanya bagi ibuku menantikan pertobatan kakakku,  bagi temanku untuk setia menantikan suaminya kembali kepadanya, bagi mereka yang sakit berat dan menantikan kesembuhan. Ya Bapa, mengapa Engkau tidak menghentikan semua penderitaan itu segera, mengapa harus enam jam Tuhan? Mengapa Engkau tidak segera memanggil Putera-Mu kembali ke Surga supaya penderitaan-Nya segera berakhir, cukuplah Ia telah setia melaksanakan amanat penderitaan itu, Bapa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara manusiawi, kadang kita tidak memahami mengapa harus ada penderitaan. Kita juga kadang bertanya mengapa Tuhan seolah-olah membiarkan penderitaan terjadi dalam kehidupan. Dan sebagai manusia, kita ingin semua yang menyakitkan dan menyedihkan segera diakhiri. Sampai-sampai kita lupa pada kenyataan bahwa Tuhan mencintai kita sehabis-habisnya dan akan selalu menyayangi kita dan menjaga kita. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya terpekur di dalam keheningan hati saya. Kertas dokumen di tangan saya itu sudah basah oleh airmata. Dalam kekaburan pandangan, saya berlutut dan memandang salib Yesus yang tergantung di dinding kamar kerja saya.  Kerendahan hati, cinta murni, dan belaskasihan-Nya kepada manusia, membuat Yesus bertahan hingga akhir. Ampuni aku Raja Semesta Alam yang kesakitan, aku begitu asyik dengan rasa sakitku sendiri sehingga aku lupa bahwa Engkau sudah selesai menjalani rasa sakit yang kekal itu dengan paripurna untukku. Kalau cinta-Mu kepadaku mampu membuat-Mu bertahan begitu gagah berani Tuhan, maka aku juga mau bertahan untuk tidak beringsut dari kaki salib-Mu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada saat perhatian kita tidak terpusat kepada penderitaan, melainkan kepada cinta kasih Kristus yang selalu memikirkan kita dan memelihara kita sampai kekal, bahkan sampai melewati maut, itulah saat dimana kita menjalani penderitaan kita dalam harapan akan salib Kristus, dan hanya dengan cara menjalani penderitaan dalam harapan dan kesabaran oleh karena cinta-Nya itu, segala penderitaan dan kesukaran menemukan maknanya.  Saat itu rasanya kita mendengar Tuhan Yesus berkata kepada kita sebelum Ia menanggung sengsara-Nya, &lt;em&gt;“Aku tidak akan meninggalkan kamu sebagai yatim piatu. Aku datang kembali kepadamu. Tinggal sesaat lagi dan dunia tidak tidak akan melihat Aku lagi, tetapi kamu melihat Aku, sebab Aku hidup dan kamupun hidup&lt;/em&gt;.” (Yohanes 14: 18-19). Itulah juga mengapa para martir dan kudus di Surga yang terus bertahan bersama Yesus di saat hidupnya dulu, sanggup dan berani menghadapi pencobaan maut dan penderitaan yang dahsyat yang secara mata manusiawi tak terbayangkan akan mampu untuk dijalani.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya, jika kita menderita dengan iman dan persatuan dengan Kristus, kita mengambil bagian dalam kesengsaraan Kristus untuk menebus dunia, yang disebut oleh Bapa Suci Yohanes Paulus II sebagai “&lt;em&gt;redemptive suffering&lt;/em&gt;" (penderitaan yang membebaskan/menebus). "&lt;em&gt;Marilah kita melakukannya dengan mata yang tertuju kepada Yesus, yang memimpin kita dalam iman, dan yang membawa iman kita itu kepada kesempurnaan, yang dengan mengabaikan kehinaan tekun memikul salib ganti sukacita yang disediakan bagi Dia, yang sekarang duduk di sebelah kanan takhta Allah&lt;/em&gt;." (Ibrani 12:2). Penderitaan dalam dunia yang dijalani bersama Kristus yang menderita, memungkinkan kita mengambil bagian dalam kemuliaan-Nya di dalam kebangkitan-Nya. Karena menderita bersama Tuhan memberi kita kesempatan untuk dikuduskan dan dimurnikan. Itulah sebabnya menderita bersama Kristus dan di dalam Kristus menjadi penuh arti, karena kesabaran dan ikhtiar kita tidak akan pernah sia-sia. Dalam cinta dan kerahiman-Nya, Dia mengijinkan penderitaan kita alami, dalam pengertian-Nya yang Maha Menyelami, bahwa penderitaan yang kita jalani dengan sabar dan penuh cinta bersama Dia, akan membawa kita kepada kekudusan dan kesempurnaan yang telah Dia rencanakan indah sejak semula bagi masing-masing kita. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salib Kristus telah mengubah kutuk menjadi berkat, sehingga belajar selalu bergantung kepada salib-Nya menyadarkan kita bahwa penderitaan bukanlah hukuman Tuhan, melainkan justru sebuah kesempatan untuk bergantung sepenuhnya kepada Dia, untuk membentuk karakter kita dalam kesabaran, kasih yang murni, keteguhan iman, serta keindahan harapan. Seperti tanah liat yang menyerahkan pembentukan dirinya dalam kerja keras pembentuknya, demikianlah kita menyatukan penderitaan kita dalam sengsara-Nya, di dalam doa, di dalam Kurban Ekaristi Kudus, di dalam cinta-Nya, sehingga kita menjelma menjadi bejana-bejana indah yang memuliakan Sang Pencipta. “..&lt;em&gt;Oleh bilur-bilur-Nya, kamu telah sembuh&lt;/em&gt;” (1 Petrus 2:24). Sebagai seorang Penyembuh yang Terluka (&lt;em&gt;a Wounded Healer&lt;/em&gt;), derita Yesus justru menjadi kekuatan kita. Luka-luka dalam enam jam penyaliban itu menunjukkan Tuhan yang luar biasa kerendahan hati-Nya, pengurbanan-Nya, dan cinta-Nya kepada kita. Maka bergantung terus kepada-Nya membuat kita bukanlah anak-anak biasa. Kita juga bisa menjadi luar biasa untuk meneruskan berjuang dalam kebaikan, dalam mengampuni, dalam memahami, dalam bekerja demi sesama dan keluarga, dalam berdisiplin diri, dalam memerangi kebiasaan buruk kita, dalam mengharapkan segala sesuatu yang baik terjadi pada waktu-Nya. Walaupun kadang perjuangan kita rasanya seperti tak berujung. Dan jawaban yang kita nantikan serasa belum pernah terlihat untuk sekedar mendekat. “&lt;em&gt;Tetapi orang-orang yang menanti-nantikan TUHAN mendapat kekuatan baru: mereka seumpama rajawali yang naik terbang dengan kekuatan sayapnya; mereka berlari dan tidak menjadi lesu, mereka berjalan dan tidak menjadi lelah&lt;/em&gt;”.  (Yesaya 40: 31)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menderita bersama Kristus ibarat menyeduh daun teh, justru di dalam air panas mendidih, keharuman dan citarasa daun teh itu muncul keluar, dan bisa dinikmati. Bergantung pada Salib Kristus memunculkan keindahan sejati di dalam diri manusia. Dalam Kolose 1:24 Rasul Paulus mengatakan, "&lt;em&gt;Sekarang aku bersukacita bahwa aku boleh menderita karena kamu, dan menggenapkan dalam dagingku apa yang kurang pada penderitaan Kristus, untuk tubuh-Nya, yaitu jemaat&lt;/em&gt;." Dan di dalam Roma 5: 3-5 beliau mengatakan, ”&lt;em&gt;Kita malah bermegah juga dalam kesengsaraan kita, karena kita tahu, bahwa kesengsaraan itu menimbulkan ketekunan, dan ketekunan menimbulkan tahan uji, dan tahan uji menimbulkan pengharapan. Dan pengharapan tidak mengecewakan, karena kasih Allah telah dicurahkan di dalam hati kita oleh Roh Kudus yang telah dikaruniakan kepada kita&lt;/em&gt;”. Ketahanan kita di dalam memaknai penderitaan kita di dalam salib Kristus, justru memampukan kita untuk berbuah. Tuhan Yesus menegaskan hal ini ketika Ia bersabda, “&lt;em&gt;Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya jikalau biji gandum tidak jatuh ke dalam tanah dan mati, ia tetap satu biji saja; tetapi jika ia mati, ia akan menghasilkan banyak buah” &lt;/em&gt;(Yohanes 12:24). Teladan kesabaran dan cinta kita, oleh karena salib-Nya, mampu menguduskan orang lain juga dan membawa pertobatan bagi sesama dan pada gilirannya, bagi pengudusan seluruh dunia. Itulah sukacita kebangkitan, sukacita yang disediakan-Nya bagi kita yang rela ambil bagian dalam derita salib-Nya dengan setia. "&lt;em&gt;Sebaliknya, bersukacitalah, sesuai dengan bagian yang kamu dapat dalam penderitaan Kristus, supaya kamu juga boleh bergembira dan bersukacita pada waktu Ia menyatakan kemuliaan-Nya&lt;/em&gt;." (1 Petrus 4:13).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Raja Semesta Alam yang sedang kesakitan di atas tahta-Nya yang berbentuk palang itu, enam jam penuh sengsara yang tak tergambarkan. Meski demikian, dalam derita-Nya saya mendengar Ia menyerukan dengan penuh kasih kelembutan, dan dengan tatapan mata penuh cinta, “Lanjutkan...! Aku tetap bertahan demi engkau, anak-Ku, dan Aku akan selalu menyertai-Mu”. O Tuhan yang menderita, Tuhan yang selalu memahami penderitaan manusia, yang selalu solider dengan derita dan kepahitan kami, demi cinta-Mu padaku, Tuhanku, demi penebusan seluruh dunia, aku juga rindu untuk selalu bertahan. Itulah sukacita dan pengharapanku, yaitu boleh ikut menderita bersama-Mu, menderita dalam cinta dan pengharapan. Dan kalau pun kita masih jatuh dan gagal untuk bertahan dan setia, kita tidak perlu sampai berputus asa, bangunlah lagi dan lanjutkan, Tuhan selalu menguatkan kita. Ingatlah selalu akan hal ini, “&lt;em&gt;Sebab Imam Besar yang kita punya, bukanlah imam besar yang tidak dapat turut merasakan kelemahan-kelemahan kita, sebaliknya sama dengan kita, Ia telah dicobai, hanya tidak berbuat dosa&lt;/em&gt;” (Ibrani 4 : 15) dan “&lt;em&gt;Sebab oleh karena Ia sendiri telah menderita karena pencobaan, maka Ia dapat menolong mereka yang dicobai&lt;/em&gt;.” (Ibrani 2 : 18). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sambil membereskan dokumen-dokumen kursus, lamat-lamat saya bersenandung menyanyikan lagu “&lt;em&gt;Trading My Sorrow&lt;/em&gt;” karya Darrel Evans yang saya kenal dalam sebuah persekutuan doa. Di hatiku, kudengar selalu Tuhan membisikkan dengan penuh kasih, ”&lt;em&gt;Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman TUHAN, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan&lt;/em&gt;.” (Yeremia 29 : 11). Hati saya membalas-Nya dalam suka, ” &lt;em&gt;Jesus, I trust in You..!”&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Trading My Sorrow&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;I'm trading my sorrow&lt;br /&gt;I'm trading my shame&lt;br /&gt;I'm laying it down for the joy of the Lord&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I'm trading my sickness&lt;br /&gt;I'm trading my pain&lt;br /&gt;I'm laying it down for the joy of the Lord&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Chorus:&lt;br /&gt;And we say yes Lord, yes Lord, yes yes Lord&lt;br /&gt;Yes Lord, yes Lord, yes yes Lord&lt;br /&gt;Yes Lord, yes Lord, yes yes Lord Amen&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I'm pressed but not crushed, persecuted not abandoned&lt;br /&gt;Struck down but not destroyed&lt;br /&gt;I'm blessed beyond the curse, for his promise will endure&lt;br /&gt;And his joy's gonna be my strength&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Though the sorrow may last for the night&lt;br /&gt;His joy comes with the morning&lt;/em&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1926296286733356721-5881896758772100391?l=mylittlecandle.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mylittlecandle.blogspot.com/feeds/5881896758772100391/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mylittlecandle.blogspot.com/2010/09/lanjutkan.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1926296286733356721/posts/default/5881896758772100391'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1926296286733356721/posts/default/5881896758772100391'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mylittlecandle.blogspot.com/2010/09/lanjutkan.html' title='Lanjutkan...!'/><author><name>triastuti</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06669118216388127857</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_rcwu8-Ne2jg/ShxT7i_4VRI/AAAAAAAABF8/Vwh_OTSVurg/S220/DSC05118.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_rcwu8-Ne2jg/TKNBcOuFKQI/AAAAAAAABqg/jtM3fFKbgu0/s72-c/DSC08970.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1926296286733356721.post-256881971781361480</id><published>2010-07-23T23:01:00.000-07:00</published><updated>2010-07-28T20:17:53.780-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='candle of light'/><title type='text'>Seperti seorang anak kecil</title><content type='html'>&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_rcwu8-Ne2jg/TEqCXBKEbsI/AAAAAAAABqA/EXaz9qui8Nk/s1600/lord-jesus-christ+and+child.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 154px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_rcwu8-Ne2jg/TEqCXBKEbsI/AAAAAAAABqA/EXaz9qui8Nk/s200/lord-jesus-christ+and+child.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5497349627118382786" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Manusia, yang selalu memiliki sifat ingin tahu, mempunyai harapan dan kerinduan untuk mengenal Tuhan, mengalami Tuhan, mendengar Dia berbicara, bahkan kalau bisa melihatNya dengan mata kepala kita sendiri dalam kehidupan sehari-hari.  Maka topik diskusi mengenai Tuhan selalu terasa menarik. Walaupun diskusi tentang Tuhan kadang berujung pertanyaan yang tetap menggantung. Tak jarang bahkan saling bersitegang karena peserta diskusi seringkali tidak mempunyai dasar tentang pengalaman akan Tuhan,dan saling berbantah seputar asumsi-asumsi yang mereka buat sendiri. Apalagi jika peserta diskusi saling merasa lebih pintar dari pihak lain. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di  jaman yang semakin modern ini dimana semakin banyak orang melupakan Tuhan, masih banyak sekali orang, beragama maupun tidak, disadari atau tidak, merindukan pengalaman menemukan Tuhan dan melihatNya menyatakan DiriNya. Kita menebak-nebak bagaimana seandainya Tuhan ada di saat tertentu dan peristiwa tertentu dalam hidup ini,  terutama saat terjadi kesukaran hidup. Kita bertanya di mana Tuhan di saat terjadi suatu peristiwa yang menyedihkan atau jahat, dan berbagai pikiran kerinduan untuk melihat, mendengar, dan mengalamiNya.  Dalam benak kita, tentunya kita memikirkan bagaimana seharusnya (menurut harapan kita sebagai manusia) Tuhan itu menyatakan diriNya.  Tetapi apakah Tuhan memang memilih atau mempunyai cara dan sarana yang sama dengan yang kita pikirkan atau harapkan untuk menyatakan DiriNya kepada kita ? Saya merasa hal ini sangat penting untuk dicermati, karena sesungguhnya Tuhan sangat rindu untuk menyatakan DiriNya kepada kita dan selalu berusaha untuk mengungkapkan kasihNya kepada kita di dalam hidup ini. Dia sangat setia dan rindu selalu bersama kita. Allah Bapa berkata kepada nabi Yeremia, “Berserulah kepada-Ku, maka Aku akan menjawab engkau, dan akan memberitahukan kepadamu hal-hal yang besar dan tidak terpahami, yakni hal-hal yang tidak kau ketahui “ (Yeremia 33:3). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana kita mampu menerima pernyataan kasihNya dan segala hal mengenai kebijakanNya, baik dalam suka maupun duka hidup ini ? Dalam Matius 11 : 25-26, Tuhan Yesus mengatakan kepada BapaNya, “Aku bersyukur kepada-Mu, Bapa, Tuhan langit dan bumi, karena semuanya itu Engkau sembunyikan bagi orang bijak dan orang pandai, tetapi Engkau nyatakan kepada orang kecil. Ya Bapa, itulah yang berkenan kepada-Mu”.  Tentu Tuhan Yesus tidak bermaksud mencegah kita menjadi pandai dan bijak supaya dapat memahami Tuhan. Tetapi menjadi ‘kecil’ membuat kita mampu dan siap untuk memahami kebenaranNya dan kebesaranNya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah arti menjadi kecil ? Mempunyai kerendahan hati, kemurnian motivasi, dan keterbukaan hati seperti seorang anak kecil. Inilah tantangannya. Walaupun oleh karena pengetahuan dan pengalaman hidup kita merasa pandai dan bijak, kita memerlukan sikap seperti seorang anak kecil dalam menghayati iman dan kasih kita kepada Tuhan.  Kepada para murid, Yesus berkata, “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika kamu tidak bertobat dan menjadi seperti anak kecil ini, kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Surga. Sedangkan barangsiapa merendahkan diri dan menjadi seperti anak kecil ini, dialah yang terbesar dalam Kerajaan Sorga”. Kita memerlukan kualitas seorang anak kecil supaya kita bisa berjumpa dengan Tuhan, mengerti kehendakNya, dan mengalami Dia sepenuhnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walaupun kita bukan anak kecil lagi, kita selalu bisa memilih untuk mempunyai kualitas seorang anak kecil, apalagi semua dari kita pernah menjadi anak kecil. Belajar untuk menjadi ‘kecil’ tidak sukar karena sedari awal kehidupan, kita telah memiliki sifat itu. Seorang anak kecil menaruh kepercayaan penuh. Bukan berarti ia tidak mempertanyakan segala sesuatu, tapi ia merasa aman dan nyaman bersama orang yang ia percaya. Walaupun tidak semua hal yang ingin ia ketahui ia dapatkan jawabannya, dan tidak semua hal yang ia inginkan bisa ia dapatkan, ia merasa tenang, karena ia percaya sepenuhnya kepada orang yang dikasihi dan dikenalnya. Ada ‘trust’, dan tidak hanya sekedar ‘believe’ di sana. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah kita semakin dewasa, kita berusaha segala sesuatu harus ada di dalam kontrol kita. Kadang kita lupa sebagai anak-anak dulu, kita menyerahkan segalanya kepada orang tua kita, pihak kepada siapa kita meletakkan rasa percaya , trust kita. Sebagai seorang anak kita tahu dan sadar secara insting bahwa kita tidak selalu bisa mengontrol segala sesuatu sesuai kemauan kita.  Ada sikap berserah di sana.&lt;br /&gt;Seorang anak kecil bersikap polos, selalu menaruh pikiran positif kepada orang lain, tidak berprasangka buruk, karena dalam alam kesadarannya ia tahu ia bahwa ia tidak mempunyai seluruh pengetahuan yang memadai untuk bisa menghakimi  seseorang atau sesuatu begitu saja. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anak-anak mudah sekali terkagum-kagum. Saya pernah melihat seorang tukang sulap yang sedang beraksi di depan sejumlah anak-anak. Saya terkesan melihat rasa tercengang yang murni di wajah anak-anak itu. Menghargai segala sesuatu dengan rasa kagum yang tulus membantu anak-anak selalu merasa gembira dan bersyukur atas apapun yang diberikan kehidupan kepadanya. Maka anak-anak menjadi sangat mudah dibuat bahagia dan merasa bahagia. Tawa riang anak-anak bukan datang dari segala sesuatu yang serba sophisticated tetapi karena kehadiran dan kasih sayang orang-orang yang ia percayai dan cintai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang anak kecil bersikap ada adanya, tidak “jaga image” (jaim). Anak-anak tidak munafik. Mereka tidak menampilkan sesuatu yang sesungguhnya bukan jati dirinya. Apalagi sampai berusaha dengan segala cara untuk sekedar tampil baik. Anak-anak bebas menjadi dirinya sendiri. Tidak perlu menjadi terkenal atau harus dikenal karena kelebihan-kelebihannya, karena mereka bahagia dengan dirinya sendiri.&lt;br /&gt;Ciri khas anak-anak adalah ketidakberdayaan, karena kemudaan dalam segala sesuatu. Akibatnya, hidup mereka menjadi lebih sederhana, sebab mereka cenderung menerima, menikmati, dan mensyukuri, apa yang ada. Dalam hal kepemilikan, anak-anak umumnya juga tidak serakah. Kalau bisa cukup dengan satu, mereka tidak perlu lima, selama mereka masih bisa menikmatinya, dan mereka cenderung selalu bisa menikmati, karena kesederhanaan hati mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti juga anak-anak kita dan kita sendiri di waktu kecil, anak-anak memang tidak selalu menurut kata orangtua. Namun hal itu bukan dilakukannya karena ingin melawan atau menyakiti orangtuanya, namun karena ia masih belajar menyesuaikan diri dengan berbagai bidang kehidupan yang masih baru baginya sambil merasakan dorongan-dorongan alamiah dalam dirinya. Tidak menurut karena sedang bertumbuh tidak sama dengan memberontak karena kesombongan dan keras kepala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anak-anak adalah tempat kita belajar kerendahan hati. Secara alamiah, di antara kehidupan bersama orang dewasa,  anak-anak memang tidak punya apa-apa untuk membuat mereka merasa superior. Kerendahan hati membuat anak-anak tidak memaksakan pendapatnya kepada orang lain. Mereka mudah memaafkan, tidak cepat iri hati, dan mau mengerti, walau kadang harus ngambek duluan. Maka mudah dipahami bila sifat rendah hati itu juga membuat anak-anak tidak bersikap sok pintar dan merasa tahu segalanya. Dalam kepolosannya, anak-anak mau mendengarkan orang lain, menghargai pendapat dan pengalaman orang lain, dan tidak berusaha mendominasi atau mengintimidasi orang lain dengan pikiran-pikirannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu saja anak-anak juga bisa merasa iri hati, tetapi karena sekali lagi, mereka manusia bebas yang gembira dengan dirinya dan tidak stres oleh hal-hal di luar kemampuannya untuk mengontrol keadaan, mereka lebih mudah menerima dan mengakui kelebihan orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di saat hidup berjalan tidak sesuai dengan harapan, anak-anak akan menangis, tetapi tidak berkepanjangan, karena ia akan segera menemukan hal-hal baru yang menarik perhatiannya dan membuatnya asyik lagi di dalam situasi baru yang dihadapi, sehingga pada dasarnya anak-anak sangat mudah menikmati hidup. Fleksibilitas mereka sangat tinggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anak-anak adalah guru kehidupan yang penuh belas kasihan. Mereka mudah merasakan empati yang dalam kepada binatang yang terluka, sekecil dan segeli apapun binatang itu. Bahkan seringkali merasa simpati kepada boneka atau mainannya sendiri yang telah patah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan akhirnya, anak-anak sangat mudah memaafkan dan melupakan. Walau ia juga menangis kalau disakiti, tetapi keterbukaan hatinya membuatnya segera bisa berbaik kembali dan melupakan kesalahan orang lain. Banyak kesedihan datang dalam hidup karena sikap tidak mau memaafkan. Damai Tuhan sulit untuk hadir di dalam kekerasan hati yang menolak untuk mengampuni.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, bila kita merasakan bahwa Tuhan jauh dan penuh misteri, mungkin ini saatnya membiarkan Dia mengubah kita menjadi seperti seorang anak kecil lagi, sehingga kehadiranNya yang begitu nyata dalam kehidupan ini bagi kita masing-masing, terbuka jelas di hadapan kita. Bagaimana kita tahu bahwa kita telah berjumpa dengan Dia? Kedamaian. Pengalaman bersama Tuhan adalah pengalaman tentang kedamaian. Bila hati kita masih gelisah oleh berbagai hal, dan masih merasa terus ingin mengeluh dan berontak kepada sang hidup, mungkin kita memang belum sepenuhnya mengalami Dia. Dalam Lukas 10: 38-42, ketika Yesus berkunjung ke rumah Maria dan Martha, Maria duduk di kakiNya sambil terkagum-kagum mendengarkan Dia. Martha yang gelisah menegur Yesus yang tidak menegur Maria untuk membantunya. Yesus juga mengasihi dan menghargai Martha, tetapi Dia mengatakan bahwa Maria telah memilih bagian terbaik yang tidak akan diambil dari padanya. Semoga kita terus memutuskan untuk memilih bagian yang terbaik untuk selalu dapat duduk di kakiNya dan menemukan kedamaian mengalami kebesaranNya.(uti)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Houston, 23 Juli 2010&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1926296286733356721-256881971781361480?l=mylittlecandle.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mylittlecandle.blogspot.com/feeds/256881971781361480/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mylittlecandle.blogspot.com/2010/07/seperti-seorang-anak-kecil.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1926296286733356721/posts/default/256881971781361480'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1926296286733356721/posts/default/256881971781361480'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mylittlecandle.blogspot.com/2010/07/seperti-seorang-anak-kecil.html' title='Seperti seorang anak kecil'/><author><name>triastuti</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06669118216388127857</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_rcwu8-Ne2jg/ShxT7i_4VRI/AAAAAAAABF8/Vwh_OTSVurg/S220/DSC05118.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_rcwu8-Ne2jg/TEqCXBKEbsI/AAAAAAAABqA/EXaz9qui8Nk/s72-c/lord-jesus-christ+and+child.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1926296286733356721.post-6617312254491401361</id><published>2010-06-27T20:45:00.000-07:00</published><updated>2010-06-27T20:47:45.728-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='candle of prayer'/><title type='text'>Menunda</title><content type='html'>&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_rcwu8-Ne2jg/TCgbWiDsT7I/AAAAAAAABp4/MCEWhrYZ_1I/s1600/Clock.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 150px; height: 200px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_rcwu8-Ne2jg/TCgbWiDsT7I/AAAAAAAABp4/MCEWhrYZ_1I/s200/Clock.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5487666219864313778" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Adalah baik untuk menyanyikan syukur kepada Tuhan, dan untuk menyanyikan mazmur bagi nama-Mu, ya yang Mahatinggi, untuk memberitakan kasih setia-Mu di waktu pagi, dan kesetiaan-Mu di waktu malam, dengan bunyi-bunyian sepuluh tali dan dengan gambus. Dengan iringan kecapi. Sebab telah Kaubuat aku bersukacita, ya Tuhan, dengan pekerjaan-Mu, karena perbuatan tangan-Mu aku akan bersorak sorai (Mazmur 92 : 2 – 5)&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terlambat memang tidak enak, karena efek negatifnya bisa sambung menyambung. Pagi tadi saya terlambat mengejar bis nomor 26 yang berangkat setiap pukul delapan lebih dua puluh tujuh menit, walau saya sudah berlari-lari dengan tas bergantung di pundak. Bis nomor 26 adalah bis yang akan membawa saya ke tempat kursus saya sehari-hari. Keterlambatan itu sebenarnya akibat berantai dari keterlambatan saya keluar dari rumah, untuk menaiki trem pukul delapan lebih duapuluh yang akan membawa saya sampai di stasiun bis tepat pukul delapan dua puluh lima. Dalam keadaan tidak terlambat, saya masih punya dua menit untuk berjalan ke platform bis nomor 26, dan saya akan sampai di kelas saya sebelum dimulai pukul sembilan tepat.  Kelas saya memang selalu dimulai sangat tepat waktu. Bila sejak keluar rumah saya sudah terlambat, saya harus naik trem di jadwal lima menit berikutnya dan saya hanya bisa berdoa bis no 26 berangkat sedikit terlambat, yang sayangnya hal itu jarang terjadi. Terlambat masuk ke dalam kelas menimbulkan rasa jengah bagi diri sendiri dan mengusik konsentrasi teman-teman yang sudah berada di dalam kelas. Saya juga akan kehilangan petunjuk-petunjuk penting dari pembicara berkaitan sistem yang akan dipakainya saat mengajar atau tugas yang nanti akan diberikan. Dan rentetan kerugian ini masih bisa saya lanjutkan. Bekal makan siang yang saya siapkan secara terburu-buru tidak sempat saya tutup dengan baik di dalam kotaknya, sehingga ketika saya mengejar bis yang melaju, sebagian isinya tumpah di dalam tas dan mengotori tas kesayangan saya. Semuanya berawal dari terlambat keluar dari rumah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu saja waktu yang tersedia bagi saya tidak perlu sesempit itu, bila saya melakukan antisipasi waktu yang cukup sejak berangkat dari rumah, yaitu selalu mengusahakan untuk keluar rumah sejak pukul delapan tepat atau kurang. Ada sesuatu yang membuat antisipasi yang seharusnya saya lakukan itu gagal, yaitu kebiasaan menunda. Menunda untuk melakukan hal yang penting dan kegagalan memprioritaskan hal yang paling penting. Menunda, terutama hal-hal yang bersifat rutinitas dan kewajiban, apalagi bila hal itu sebuah pekerjaan yang memerlukan pengorbanan, memang godaan yang sering saya hadapi. Sebuah kegiatan yang kita sukai seringkali membuat kita menunda melakukan hal lain yang penting yang seharusnya kita prioritaskan untuk dikerjakan.  Kecenderungan ini ditangkap di dalam &lt;em&gt;Amsal 6 : 10, “Tidur sebentar lagi, mengantuk sebentar lagi, melipat tangan sebentar lagi untuk tinggal berbaring”. &lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang bukan mengantuk atau berlambat-lambat bangun dari tempat tidur yang membuat saya terlambat. Menempatkan prioritas kegiatan sangat berperan. Bila saya memilih untuk tidak membuka email atau Facebook, melihat foto teman-teman masa SMA yang baru saja mengadakan reuni, dan memilih segera mematikan komputer untuk segera bersiap berangkat, kemungkinan besar tidak akan ada adegan mengejar bis yang sudah terlanjur bergerak meninggalkan stasiun. Keputusan untuk bangkit dari kursi dan mematikan komputer atau menunda membuka internet di pagi hari adalah sebuah keputusan besar yang harus dibuat kebanyakan manusia di jaman komunikasi maya ini. Bila saya tidak segera mengambil keputusan tentang hal ini, waktu-waktu bersama keluarga dan bahkan waktu-waktu yang seharusnya menjadi milik Tuhan dalam doa pribadi menjadi taruhannya. Kemampuan mengatur waktu dan menempatkan prioritas perlu terus menerus saya pelajari di dalam pergerakan tekonologi komunikasi dan pergaulan dunia maya yang berkembang dengan luar biasa pesat selama sepuluh tahun terakhir. Facebook dan email dengan cepat telah menggantikan waktu-waktu doa pribadi di awal hari, atau merenggut kebersamaan bercengkerama bersama suami dan anak-anak. Sebuah terobosan teknologi komunikasi yang nyaris memutus komunikasi dengan orang terdekat di dalam keluarga. Ia mendekatkan teman yang terpisah waktu dan jarak. Tetapi kalau tidak hati-hati, ia juga sekaligus menjauhkan orang-orang yang berada di samping kita, yang seharusnya menjadi perhatian kita yang paling utama. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila hal-hal yang kita sukai atau yang kita anggap penting lebih mendominasi perhatian dan waktu kita daripada hal-hal yang seharusnya kita kerjakan dan itu menyangkut waktu-waktu doa, maka kebiasaan menunda menjadi serius. Mungkin ada kesalahan menempatkan prioritas di sana. Beberapa teman yang saya jumpai dalam sebuah kelompok doa bercerita bahwa mereka seringkali “merasa” tidak punya waktu untuk berdoa dan sejenak merenungkan Firman Tuhan sekalipun mereka ingin. Rasanya sulit sekali memasukkan waktu doa rutin ke dalam jadwal harian yang telah begitu padat dan mereka mengharapkan ada lebih dari 24 jam per hari supaya mereka lebih bisa mempunyai waktu luang untuk berdoa. Itulah masalahnya,mencari  waktu luang untuk berdoa. Menunda sampai kita merasa semua pekerjaan sudah selesai untuk mulai berdoa. Tidakkah seharusnya berdoa dan menyediakan waktu khusus untuk Tuhan menjadi prioritas nomor satu  yang mendahului kegiatan yang lain ? Kedekatan relasi yang kita bangun bersama Tuhan akan berbeda bila kita berdoa dan membaca FirmanNya di saat seluruh tubuh masih segar dan kondisi prima, dibandingkan kalau kita menempatkannya di waktu yang tersisa dari kegiatan rutin kita saat mata telah berat dan badan telah lunglai siap untuk tidur. Maka waktu untuk berdoa sesungguhnya bukan dicari, tetapi diciptakan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bentuk lain dari menunda adalah mengatakan pada diri sendiri, besok saya akan berdoa lebih baik dan menyediakan waktu khusus, karena hari ini saya sudah lelah sekali dan saya berjanji besok akan lebih baik. Bandingkan jika saya mengatakan demikian, hari esok belum menjadi milik saya, satu-satunya yang saya miliki adalah hari ini, saat ini. Maka saya akan berdoa sekarang juga, saat ini juga, dan begitulah kita katakan hal itu setiap hari, sehingga kita menjadikannya kebiasaan. Jika kita memilih sikap yang kedua,kita akan mendapati diri kita telah berhasil mempunyai waktu doa yang khusus sambil merenungkan FirmanNya di setiap hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tuhan tidak pernah menunda-nunda berkatNya karena cintaNya kepada kita. Tuhan yang memberi kita hidup, Dia yang mengajarkan arti hidup karena cinta, oleh cinta, dan dalam cinta. Sesungguhnya Dia jugalah Pihak yang pertama kali menangis bersama kita saat kita menghadapi kepedihan dan penderitaan hidup.  Dia sudah sepantasnya mendapat waktu yang terbaik dari seluruh hari, karena Dia jugalah yang telah memberikan kita hari dan kesehatan untuk melaluinya. Namun itulah cinta Tuhan. Dia tidak pernah menuntut. Dia menunggu kita memutuskan untuk memberikan waktu kita kepadaNya dengan kesadaran, kebebasan, dan cinta. Bukan dengan terpaksa atau karena sekedar merasakannya sebagai kewajiban dan rutinitas.&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;Seberapa pentingnya Tuhan dalam hidup saya juga tercermin dalam menghadiri perayaan Ekaristi. Alangkah baiknya berusaha untuk datang beberapa menit sebelum Misa dimulai, supaya bisa berdoa dan menyapaNya terlebih dulu secara cukup. Bahkan meluangkan waktu khusus di rumah sebelum berangkat untuk bersiap-siap secara rohani supaya saya sungguh siap dan layak berjumpa denganNya. Maka tidak menunda dan cermat menempatkan prioritas menjadi sangat penting dalam relasi saya dengan Tuhan. Seperti halnya penundaan saya berangkat ke tempat kursus membuat saya mengalami berbagai kerugian berantai, menunda waktu-waktu doa dan menunda membangun relasi yang intim dengan Tuhan membuahkan kerugian berantai yang mungkin tidak saya duga sebelumnya. Jika tiba-tiba saya mendapati hati dipenuhi iri hati, dendam, kurang belaskasihan, menghakimi, malas, korupsi waktu dan uang, hilangnya damai sejahtera dalam relasi dengan sesama, maka itulah saatnya saya perlu mengenali  mungkin ada suatu penundaan serius yang sedang saya lakukan. Itulah saatnya saya datang kepada Tuhan tanpa menunda lagi. Saya jadi teringat kata-kata dari seorang kudus, saya lupa nama beliau, ini pesannya: “Orang-orang yang selalu berdoa sulit untuk jatuh ke dalam dosa. Sebab doa yang tak jemu-jemu menghindarkan kita dari kecenderungan untuk berbuat dosa.” (uti)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1926296286733356721-6617312254491401361?l=mylittlecandle.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mylittlecandle.blogspot.com/feeds/6617312254491401361/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mylittlecandle.blogspot.com/2010/06/menunda.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1926296286733356721/posts/default/6617312254491401361'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1926296286733356721/posts/default/6617312254491401361'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mylittlecandle.blogspot.com/2010/06/menunda.html' title='Menunda'/><author><name>triastuti</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06669118216388127857</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_rcwu8-Ne2jg/ShxT7i_4VRI/AAAAAAAABF8/Vwh_OTSVurg/S220/DSC05118.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_rcwu8-Ne2jg/TCgbWiDsT7I/AAAAAAAABp4/MCEWhrYZ_1I/s72-c/Clock.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1926296286733356721.post-7876300121306024931</id><published>2010-05-20T20:05:00.000-07:00</published><updated>2010-05-20T20:07:01.630-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='the candle of Mother Mary'/><title type='text'>Ibuku di Surga</title><content type='html'>&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_rcwu8-Ne2jg/S_X4wOOtdsI/AAAAAAAABow/CHkUICa5vog/s1600/Ibuku+di+Surga.JPG"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 150px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_rcwu8-Ne2jg/S_X4wOOtdsI/AAAAAAAABow/CHkUICa5vog/s200/Ibuku+di+Surga.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5473554429475911362" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Di negeri tempat saya tinggal, pada hari Minggu yang lalu, dirayakan Hari Ibu atau Mother’s Day. Di Indonesia Hari Ibu dirayakan di bulan Desember, namun di banyak negara Barat, hari untuk menghormati para ibu dirayakan di hari Minggu kedua di bulan Mei. Sejarah lahirnya peringatan ini adalah keinginan untuk menghormati figur seorang ibu dan menghargai jasa-jasa seorang ibu dalam melahirkan dan membesarkan anak-anaknya, seringkali juga dalam situasi yang penuh dengan tantangan dan kesulitan. Perayaan yang indah yang juga dilakukan di komunitas Katolik tempat saya merayakan Misa hari Minggu menyadarkan saya kembali, betapa indah dan patut disyukuri arti dan peran seorang Ibu dalam kehidupan, yang sesungguhnya adalah mitra Allah sendiri dalam melanjutkan generasi manusia yang utuh dan berkelimpahan, sesuai citra Allah Bapa yang menjadikan manusia indah dan baik sejak semula, seturut gambarNya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena saya sendiri belum lagi menjadi seorang ibu, setelah usia pernikahan saya yang telah melewati angka 11 tahun, kemudian ibu kandung saya sendiri yang sangat saya cintai sedang berjarak ribuan kilometer dari tempat saya hidup dan tinggal saat ini, sedangkan ibu mertua saya telah kembali ke rumah Bapa sejak suami saya masih di awal masa remaja, maka pada Hari Ibu ini saya ingin merenungkan karunia Ibu yang sangat istimewa dari Allah Bapa.  Beliau berdiam di Surga. Saya sangat mensyukuri hadiah Allah Bapa ini. Bapa tidak hanya mengaruniakan PutraNya yang tunggal untuk menebus dunia, tetapi juga memberikan Bunda dari PutraNya, Yesus,  menjadi Bunda yang selalu berdoa bagi saya dan semua umat manusia. Tuhan Yesus mengatakannya menjelang wafatNya di kayu salib. Yesus sebagai seorang manusia, memang selalu ingat akan orang lain, terutama yang sangat dikasihiNya. Ia tidak pernah memikirkan diriNya sendiri, padahal saat itu Ia sedang menderita luar biasa hebat di atas kayu salib. Ketika Yesus melihat ibu-Nya dan murid yang dikasihi-Nya di sampingnya, berkatalah Ia kepada ibu-Nya: “Ibu, inilah, anakmu!”  Kemudian kata-Nya kepada murid-murid-Nya : “Inilah ibumu!” Dan sejak saat itu,  murid itu menerima dia di dalam rumahnya (Yoh 19 : 26 – 27).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah Ibu Yesus Tuhanku yang telah dikaruniakanNya menjadi ibu saya juga. Sesuai amanat Yesus Tuhanku, saya pun menerima BundaNya di dalam rumah hati saya, untuk selamanya. Betapa indahnya. Saya tak akan pernah sendirian lagi di dalam perjuangan hidup dan iman saya. Seorang ibu yang tiada duanya, ibu Tuhan saya sendiri, selalu hadir menemani dan menguatkan saya. Dialah Ibu Maria, yang selalu ada di hati saya, menjadi teladan saya, dan setia menghantarkan doa-doa saya kepada Tuhan. Saya bersyukur dan memuji Tuhan bahwa di tengah kerinduan saya kepada ibu kandung saya dan kepedihan hati saya karena rindu untuk menjadi seorang ibu bagi anak-anak yang dipercayakan Tuhan, saya selalu merasakan kekuatan dan penghiburan dalam doa dan teladan bunda saya di Surga, Bunda Maria.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sama halnya dengan kenangan-kenangan manis bersama ibu kandung saya, yang dapat saya gali lagi dari foto-foto maupun surat-surat dari ibu, atau ketika saya berbicara melalui telpon dengannya, saya juga mempunyai sarana untuk berjumpa dengan Ibu Maria di Surga. Saya menyapa dan berbicara dengan beliau melalui Doa Rosario saya setiap malam, dan saya senang sekali menggali lagi kenangan indah teladan kasih dan ketaatannya kepada Bapa, melalui Kitab Suci.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenangan akan ibu saya yang selalu memikirkan apakah semua anggota keluarga sudah tercukupi kebutuhan makan dan minumnya, tanpa memikirkan dirinya sendiri kadang juga belum makan, baik ketika sedang di rumah maupun saat sedang berlibur bersama, juga mengingatkan saya akan kepedulian yang sama dari Bunda Maria di dalam peristiwa perjamuan pernikahan di Kana, yang saya baca di dalam Yoh 2 : 1 – 11. Bunda Maria dengan naluri keibuan, kepedulian, dan kasihnya kepada sesama, segera mengetahui bahwa saat itu tuan rumah perjamuan sedang menghadapi kemungkinan mendapat malu karena kehabisan anggur. Tergerak oleh belas kasihan dan kepeduliannya, Bunda Maria segera mengatakan sebuah kalimat yang sangat dalam maknanya kepada PuteraNya. “Mereka kehabisan anggur” (Yoh 2 : 3).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalimat itu sangat singkat dan sederhana, namun maknanya amat dalam. Di sana ada kepedulian, kasih, dan iman yang begitu besar kepada Yesus, Puteranya, bahwa Puteranya itu dapat melakukan apa pun yang dianggapNya perlu, dalam waktuNya, dan dengan caraNya. Bunda yang sangat mengenal Puteranya, tidak perlu berkata-kata dengan panjang, mereka telah begitu saling memahami. Inilah kasih dan kepedulianku, lakukanlah apa yang perlu untuk mereka, Anakku. Hal itu ditegaskan Bunda Maria dengan melanjutkan kepada para pelayan perjamuan, “Apa yang dikatakan kepadamu, buatlah itu!” (Yoh 2 : 5). Dan Yesus, yang walau telah mengatakan kepada BundaNya bahwa waktuNya belum tiba, akhirnya memberikan instruksi kepada para pelayan, untuk mengisi penuh-penuh tempayan-tempayan pembasuhan dengan air. Yang kemudian secara mukjizat, telah menjadi anggur terbaik setelah dibawa kepada pemimpin pesta. Itu adalah mukjizat Tuhan yang pertama selama perjalanan karyaNya di tengah-tengah manusia. Kasih dan penghormatan Tuhan Yesus kepada ibuNya, telah mengubah keputusanNya untuk membuat mukjizat  sebelum waktu yang dirancangNya tiba. Oh, betapa aku pun rindu menghormati dan mengasihi ibu Tuhanku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepedulian dan kepekaan Bunda Maria melihat kebutuhan anak-anakNya di dalam kesulitan, dan mukijizat yang terjadi karena anak-anakNya patuh melakukan instruksi Bunda untuk melakukan apapun yang menjadi kehendak Allah (dan bukan kehendaknya sendiri), adalah kisah kenangan indah iman Bunda Maria dan keterlibatan Bunda di dalam seluruh pergumulan hidup anak-anak Tuhan termasuk saya, selama pengembaraan saya di dunia ini. Keindahan hidup dan mukijizat kehidupan akan terjadi bila saya mendengarkan kata-kata Bunda Maria, meneladan imannya, untuk selalu mendengarkan dan melakukan kehendak Tuhan. Maka Bunda Maria sesungguhnya selalu mengingatkan saya untuk beriman sepenuhnya kepada Tuhan dan membawa saya makin dekat kepadaNya untuk mengalami mukjizat-mukjizatNya. Bunda selalu peduli kepada kesulitan dan pergumulan manusia, dan membawanya kepada Puteranya. Inilah kasih dan kepedulianku, lakukanlah apa yang perlu untuk mereka, Anakku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bunda Maria telah hadir sepanjang seluruh hidup Yesus, sejak Yesus dikandung di dalam rahimnya (Luk 1 : 31), hingga Dia wafat penuh derita di kayu salib (Yoh 19 : 25). Dan bersama para muridNya, Bunda Maria berdoa menantikan kedatangan Roh Kudus (Kis 1 : 14), menjelang peristiwa terbentuknya Gereja perdana di dunia ini.  Bunda Maria yang selalu taat dan rendah hati, sesungguhnya adalah murid Yesus yang pertama, yang mengatakan “ya” kepada kehendak Allah. Keteguhan Bunda untuk terus berjalan dalam iman, adalah karena kebiasaan kudusnya untuk menyimpan segala sesuatu di dalam hatinya, dan merenungkannya. (Luk 2 : 19 dan Luk 2 : 51b).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikianlah juga sesuai amanat Puteranya, Bunda Maria senantiasa menemani perjalanan hidup dan pergumulan iman umat manusia, dengan doa dan teladannya yang kudus. Teladan ketaatan, kerendahan hati, dan kesetiaan. Itulah misi kudus yang diemban Ibuku di Surga, sejak awal kedatangan Tuhan ke dunia untuk menjadi sama dengan manusia, hingga kesudahannya, dimana Bunda Maria menghantar semua yang percaya dan mengasihi Yesus, Puteranya, untuk berkumpul kembali di Surga dan bersatu dengan Tuhan untuk selama-lamanya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1926296286733356721-7876300121306024931?l=mylittlecandle.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mylittlecandle.blogspot.com/feeds/7876300121306024931/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mylittlecandle.blogspot.com/2010/05/ibuku-di-surga.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1926296286733356721/posts/default/7876300121306024931'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1926296286733356721/posts/default/7876300121306024931'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mylittlecandle.blogspot.com/2010/05/ibuku-di-surga.html' title='Ibuku di Surga'/><author><name>triastuti</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06669118216388127857</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_rcwu8-Ne2jg/ShxT7i_4VRI/AAAAAAAABF8/Vwh_OTSVurg/S220/DSC05118.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_rcwu8-Ne2jg/S_X4wOOtdsI/AAAAAAAABow/CHkUICa5vog/s72-c/Ibuku+di+Surga.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1926296286733356721.post-4102895659146311497</id><published>2010-04-29T12:34:00.000-07:00</published><updated>2010-04-29T12:53:04.956-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='candle of faith'/><title type='text'>Si Dia</title><content type='html'>&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_rcwu8-Ne2jg/S9ngiLC7mHI/AAAAAAAABoY/twGDYC9V-XY/s1600/pemadangan3.JPG"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 150px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_rcwu8-Ne2jg/S9ngiLC7mHI/AAAAAAAABoY/twGDYC9V-XY/s200/pemadangan3.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5465646500476065906" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Benarkah Dia bertahta dalam hati manusia&lt;br /&gt;Sungguhkah Ia bersemayam di setiap keindahan alam&lt;br /&gt;Dan berada di balik untaian kejadian yang pelik&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ataukah....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia menjadi nyata akibat buah pikiran manusia semata &lt;br /&gt;Yang merindukan figur tuan atas semua kejadian?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Darimanakah datangnya semua keteraturan alam?&lt;br /&gt;Mengapakah terasakan kerinduan akan Dia di hati manusia?&lt;br /&gt;Kemanakah jiwa-jiwa manusia yang tak sirna ketika sang maut tiba?&lt;br /&gt;Bagaimana cinta dan pengurbanan kasih mampu bertahan dalam dunia yang merintih?&lt;br /&gt;Untuk itu semua...tak mampu kutemukan jawabannya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena ....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesungguhnya tak untuk Dia dipertanyakan&lt;br /&gt;Sesungguhnya materi dasarNya hanyalah cinta dan cinta&lt;br /&gt;Dan cinta tidak dipertanyakan&lt;br /&gt;tetapi dialami&lt;br /&gt;dan dibagi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demi cinta itu pula sudi Dia bersembunyi&lt;br /&gt;Tuk membiarkan manusia sungguh bebas memilih tanpa berdalih&lt;br /&gt;Bahwa seandainya tiada konsep tentang Dia sekalipun&lt;br /&gt;manusia boleh melihat...melalui segala pengalaman yang terhimpun&lt;br /&gt;semuanya baik saja berjalan selamat tertaat hukum sebab dan akibat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun bagi yang sungguh merana akan harkatNya&lt;br /&gt;Ia selalu ada untuk dirasakan...sebab Ia hanya untuk dirasakan&lt;br /&gt;Ia selalu ada untuk dialami....sebab Ia hanya untuk dialami&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaikan merasakan mencinta dan dicinta&lt;br /&gt;tak ada di mana-mana, tetapi juga ada di mana-mana&lt;br /&gt;Sebab itulah hakekatNya yang adalah cinta...&lt;br /&gt;cinta ada tanpa perlu dicari-cari atau diciptakan&lt;br /&gt;cinta tak kenal kata memaksa.&lt;br /&gt;Cinta hanyalah semata-mata membebaskan...&lt;br /&gt;bebas untuk justru mencari daripada dicari,&lt;br /&gt;bebas untuk justru mengalami daripada dialami,&lt;br /&gt;bebas untuk  justru memberi daripada diberi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berhentilah aku mencari.&lt;br /&gt;Kuputuskan...&lt;br /&gt;diriku kuberikan..&lt;br /&gt;untuk ditemukan...&lt;br /&gt;oleh CintaNya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dengan membiarkan diriku ditemukan...&lt;br /&gt;aku menemukan Tuhan...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Houston, April 29, 2010 &lt;br /&gt;&lt;em&gt;dua hari setelah hadir dalam seminar Science VS Religion di Houston Museum of National Science, dibawakan Dr Fransisco Ayala dan Dr George Coyne, dua ilmuwan terkemuka di bidangnya sekaligus seorang Katolik yang taat dan seorang Imam&lt;/em&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1926296286733356721-4102895659146311497?l=mylittlecandle.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mylittlecandle.blogspot.com/feeds/4102895659146311497/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mylittlecandle.blogspot.com/2010/04/si-dia.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1926296286733356721/posts/default/4102895659146311497'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1926296286733356721/posts/default/4102895659146311497'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mylittlecandle.blogspot.com/2010/04/si-dia.html' title='Si Dia'/><author><name>triastuti</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06669118216388127857</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_rcwu8-Ne2jg/ShxT7i_4VRI/AAAAAAAABF8/Vwh_OTSVurg/S220/DSC05118.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_rcwu8-Ne2jg/S9ngiLC7mHI/AAAAAAAABoY/twGDYC9V-XY/s72-c/pemadangan3.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1926296286733356721.post-3137533106360481215</id><published>2010-04-03T06:38:00.000-07:00</published><updated>2010-04-03T06:40:44.515-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='candle of faith'/><title type='text'>Kenang-kenangan Cinta Tuhanku</title><content type='html'>&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_rcwu8-Ne2jg/S7dFVP-eamI/AAAAAAAABnA/6pLdnrYflMM/s1600/ceiling+C%26D+church.JPG"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 150px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_rcwu8-Ne2jg/S7dFVP-eamI/AAAAAAAABnA/6pLdnrYflMM/s200/ceiling+C%26D+church.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5455905704950786658" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Lukas 22 : 19 Lalu Ia mengambil roti, mengucap syukur, memecah-mecahkannya dan memberikannya kepada mereka, kataNya: “Inilah Tubuh-Ku yang diserahkan bagi kamu; perbuatlah ini menjadi peringatan akan Aku.”&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama 38 tahun hidup di dunia, saya beberapa kali mengalami perubahan suasana baru yang cukup signifikan dalam perjalanan hidup. Yang pertama tentu saja saat saya berpindah dari rahim Ibu saya yang hangat, gelap, sunyi dan nyaman menuju ke sebuah tempat maha luas yang bising dan menyilaukan yang bernama dunia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian di usia 18 tahun, saya berpindah dari kota kelahiran saya di Malang menuju kota Bandung untuk melanjutkan kuliah, di mana saya berpindah kos sebanyak tiga kali sebelum akhirnya lulus dan menempati rumah idaman di kota Serpong bersama pemuda yang saya kenal di tempat kos yang kemudian menjadi suami saya. Enam tahun di Serpong, ternyata suami saya mendapat tawaran kerja yang lebih baik di negeri jiran, Malaysia. Jadilah saya kembali berpindah ke kota Kuala Lumpur yang semakin memisahkan saya dari tanah kelahiran dan kedua orangtua saya yang sangat saya cintai. Ternyata petualangan saya tak berhenti di sana. Setelah tiga tahun bermukim di Malaysia, pekerjaan yang diterima suami kembali membuat saya berpindah menuju belahan dunia lain yang bahkan lebih jauh dan asing bagi saya, menuju Milan, Italia. Hidup masih terus mengajak saya pindah. Hanya empatbelas bulan saja di Italia, suami saya ditugaskan bekerja di Houston, Amerika. Dan sekarang, berjarak setengah bulatan bumi dari orangtua yang saya cintai dan tempat kelahiran yang saya rindukan, saya tetap tidak tahu apakah akan bisa tinggal agak lama di negeri Paman Sam ini, atau kembali harus packing dan angkat kaki lagi entah kemana, setelah bermukim beberapa waktu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap kali saya harus berpindah domisili, perasaan yang selalu timbul dalam hati saya adalah sebersit kesedihan karena harus meninggalkan kehidupan dimana saya telah begitu terbiasa dan nyaman menjalaninya, sembari menikmati semua bentuk relasi dan persahabatan dengan sesama yang saya jumpai di negara-negara yang berbeda itu. Selain persahabatan dengan sesama dari Indonesia di tanah perantauan, persahabatan dengan orang dari berbagai suku bangsa merupakan pengalaman yang sangat memperkaya. Persahabatan yang telah sempat terjalin begitu membahagiakan saya hingga bila tiba saatnya saya harus pindah, ada rasa berat di hati karena harus berpisah dengan teman-teman yang semakin lama telah semakin akrab itu. Persahabatan yang telah bersemi namun kemudian harus saya tinggalkan itu kadang-kadang bertahan sampai lama, sekalipun saya sudah berada di tempat baru, dimana saya akan berjumpa dan bersahabat lagi dengan teman-teman baru di tempat baru. Saya tetap berusaha menjaga persahabatan yang telah terjalin dari tempat sebelumnya, berusaha tetap saling berkirim kabar. Tapi tidak jarang hubungan pertemanan itu tidak bertahan dan sirna dengan sendirinya karena telah terpisah jarak yang begitu jauh, kesibukan di tempat baru, dan waktu. Bagaimanapun, saya berharap bahwa perjumpaan yang telah terjadi sungguh telah saling membuat kami menjadi lebih matang. Dan selalu layak untuk dikenang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekalipun perpisahan membuat hati saya sedih karena rasa ketidakpastian di tempat baru, dan kerinduan kepada sahabat yang saya tinggalkan seringkali membayangi keberangkatan saya, ada satu hal yang membuat saya terhibur. Yang membuat saya tetap merasakan kehangatan persahabatan walau perjumpaan dan kebersamaan hidup itu telah berlalu. Yaitu kenang-kenangan dari para sahabat yang saya tinggalkan. Demikian juga biasanya saya akan membuat suatu tanda kenangan untuk mereka. Kami bertukar cenderamata, sebagai tanda kasih dan kenangan akan kebersamaan kami. Sebagai tanda bahwa perjumpaan yang telah terjadi sangat berarti, walau hanya dalam sepenggal babak kehidupan. Bentuk kenangan yang pernah saya terima dari berbagai sahabat di perantauan itu bermacam-macam. Mulai dari sepucuk surat, sebuah kartu yang ditandatangani beramai-ramai, kumpulan foto momen-momen kebersamaan kami, cincin, kalung, lukisan karikatur saya bersama suami, hingga sulaman cantik dengan tulisan nama saya dan suami. Semua benda kenangan itu selalu saya simpan baik-baik sehingga saya bisa selalu mengenang persahabatan yang terjadi dalam hidup saya. Seringkali dalam waktu luang, saya pandangi atau saya baca kembali, untuk mengobati kerinduan kepada sahabat-sahabat yang telah diberikan Tuhan dalam hidup saya. Namun karena seringnya berpindah negara, dan itu juga berarti pindah rumah, dengan segala kesibukan packing dan unpacking (meringkas barang dan membongkarnya lagi di tempat baru), seringkali saya terlupa dimana saya menaruh benda-benda kenangan itu. Saat saya ingin melihatnya lagi, tak jarang saya harus membongkar kardus atau mencari-cari di tumpukan buku dan file saya. Untuk hiasan sulaman dan karikatur, saya membingkainya dalam pigura untuk bisa dipajang di dinding sehingga saya bisa melihatnya setiap saat. Namun setiap kali saya berpindah, tentu saja pigura-pigura itu juga harus kembali diringkas dan dimasukkan ke dalam kardus. Biasanya perlu waktu beberapa bulan sebelum saya bisa membongkarnya dan memasangnya lagi di tempat yang baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di malam saat Tuhan Yesus mengadakan perjamuan terakhir bersama para sahabatNya, saya meyakini bahwa Tuhan Yesus sebagai manusia juga merasakan kesedihan yang sangat dalam menghadapi perpisahan dengan para sahabatNya. Sekalipun pada saat itu murid-muridNya itu belum menyadarinya. Tapi Yesus mengetahui bahwa esok hari Dia akan wafat  meninggalkan dunia dan sahabat-sahabatNya, dan dengan penderitaan yang hebat di kayu salib yang hina. Sebagai seorang manusia, saya turut merasakan betapa dalam kesedihan Tuhanku Yesus, walaupun pemahaman saya tak akan pernah sempurna. Namun di saat yang saya bayangkan akan sangat pedih, seperti kalau saya hendak meninggalkan suatu tempat dan berpisah dengan sahabat-sahabat saya, apalagi terpisah oleh sengsara dan kematian, Tuhanku Yesus Kristus justru masih sempat memberikan teladan yang teramat indah. Karena Dia begitu setia akan misi yang diembanNya dari BapaNya. Yaitu teladan untuk saling melayani. Untuk berani dan rela menjadi yang paling rendah demi kasih pelayanan yang tulus bagi sesama. Sehingga teladan kasih sejati yang Dia tinggalkan kepada para sahabatNya, disempurnakan oleh sikap pelayanan yang tulus dan kerendahan hati. Saya berharap, di saat perpisahan dengan sesama, saya juga meninggalkan teladan kerendahan hati, dan bukan kepahitan, kesombongan, atau kepentingan diri sendiri. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu saja Yesus juga memberikan kenang-kenangan kepada para sahabatNya yang sebentar lagi akan ditinggalkanNya. Kenangan itulah yang memukau jiwa saya setiap kali saya merayakan Ekaristi dan menghayati dalamnya misteri cinta Tuhan. Hati dan jiwa saya tergetar, pada saat proses konsekrasi dimana Imam berdoa mohon rahmat Roh Kudus mengubah hosti dan anggur menjadi Tubuh dan DarahNya, seperti saat Yesus memecahkan roti bersama para murid di malam perjamuan terakhir itu. Kenang-kenangan yang Tuhan berikan adalah TubuhNya dan DarahNya sendiri. Bukan sekedar tanda mata hasil karya tangan dan pikiran, tetapi seluruh keberadaanNya. Dan saat itu, Dia sungguh hadir secara nyata. Lebih lagi, begitu dalam kerendahan hatiNya sehingga sudi hadir dalam rupa roti dan anggur yang bersahaja. Bentuk roti dan anggur untuk dimakan dan diminum itu adalah cara yang luar biasa yang dipilih oleh Tuhan Raja Semesta Alam untuk  meninggalkan kenangan. DipilihNya berupa makanan dan minuman, supaya kenangan itu menyatu dengan kita, menjadi bagian dari kita. Dengan memakan Tubuh dan DarahNya melalui konsekrasi, TubuhNya menyatu dengan tubuh saya, dan DarahNya mengalir dalam darah saya. Betapa luar biasa caraNya memberikan saya kenang-kenangan. Saya hanya cukup melihat ke dalam diri saya bila saya merindukanNya, karena kenangan itu akan selalu bersama saya, di dalam saya. Saya tak perlu meringkasnya ke dalam kardus dan membongkarnya lagi di tempat baru, tak perlu khawatir kenangan itu terhilang atau terselip, sehingga tak bisa saya pandangi terus. Karena kenangan dariNya itu akan selalu di dalam saya, bersama saya, menyatu dengan saya, kemanapun saya pergi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peristiwa Perjamuan Malam Terakhir para murid bersama Yesus bagi saya adalah sebuah bukti hidup betapa besarnya kasihNya yang tanpa pamrih kepada manusia yang fana dan lemah ini. Ia ingin menjadi sama dengan kita dan mengalami derita sebagai manusia. Bahkan itu belum semua. Melalui penderitaan yang hebat yang Dia jalani dengan sadar dan rela hingga wafat, Ia ingin membuat kita memahami sepenuh jiwa dan raga, bahwa Ia begitu mencintai manusia. Tuhan begitu haus untuk mencintai kita. Nyawa kita begitu berharga bagiNya hingga nyawaNya sendiri tidak dihargaiNya dan tidak disayang-sayang olehNya. Dan malam terakhir sebelum Ia meninggalkan dunia ini, disediakanNya bekal teladan dan kenangan yang abadi yang teramat sangat indahnya bagi masing-masing dari kita, sahabat-sahabatNya. Hati saya menjerit oleh perasaan dicintai yang begitu dalam. Hati saya menjerit, mengingat bahwa saya merasa belum cukup berbuat sesuatu yang berarti untuk membalas cintaNya yang tulus dan dahsyat itu, bahkan lebih sering saya mengacuhkanNya dan menyakitiNya. Dalam hidup dan mati, baik di langit ataupun di bumi manapun, saya tahu saya tak akan pernah menemui sahabat yang begitu penuh cinta kepada saya seperti Dia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bekal kenangan itu yang juga akan selalu menyertai setiap tahap perubahan dan perpindahan yang masih akan terus terjadi dalam dinamika kehidupan kita, yang tidak selalu mulus dan manis, yang juga penuh tantangan dan kesukaran. Termasuk ketika perpindahan kita yang terakhir tiba yaitu dari kehidupan yang fana ini kepada perhentian akhir yang kekal bersama Bapa di Surga, di mana Yesus Tuhan telah menyediakan tempat bagi sahabat-sahabatNya yaitu kita semua, dan menantikan kita pulang. Yesus telah mengatakan hal itu kepada kita : &lt;em&gt;“Di rumah Bapa-Ku banyak tempat tinggal. Jika tidak demikian, tentu Aku mengatakannya kepadamu. Sebab Aku pergi ke situ untuk menyediakan tempat bagimu. Dan apabila Aku telah pergi ke situ dan telah menyediakan tempat bagimu, Aku akan datang kembali dan membawa kamu ke tempat-Ku, supaya di tempat di mana Aku berada, kamupun berada. Dan ke mana Aku pergi, kamu tahu jalan ke situ. ” (Yoh 14 : 2 - 4)&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kisah-kisah menyenangkan dari perjalanan hidup yang telah berlalu tak akan terulang kembali, hanya kenangan manis yang akan selalu tinggal di hati saya. Namun kenangan terindah dari Tuhan kita Yesus Kristus setiap kali saya menyambut tubuhNya, merenungkan teladan dan wafatNya, menghayati pengorbananNya, dan menyambut kebangkitanNya dari alam maut, akan senantiasa bersama saya dan kita semua, tanpa mengenal batas waktu, jarak, tempat, dan keadaan …….melampaui maut dan kehidupan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Epilog&lt;/strong&gt;Yesus, Guru dan Sahabatku, seluruh hidupku tak akan pernah cukup untuk menyatakan cinta dan terimakasihku kepadaMu. Setiap buah pikiran, perbuatan, dan tindakanku seumur hidupku, tak akan pernah memadai untuk membalas semua cinta dan pengorbananMu. Tapi aku tahu bahwa CintaMu cukup untuk mengatasi semua keterbatasanku, aku tahu CintaMu mampu mengatasi ketidakberdayaanku. Terimakasih Yesusku, untuk CintaMu yang tak akan pernah mampu kuselami, biarlah aku hidup oleh karena Cinta itu. Biarlah dengan terus menghidupi dan menghayati CintaMu, hidupku boleh berubah. Berubah dari orientasi untuk diriku sendiri, menuju hidup demi Cinta. Menjadi karenaMu, untukMu, dan hanya untukMu. Bukan karena Engkau menghendaki aku berubah, karena Engkau selalu mencintaiku apa adanya, dan mencintaiku sejak sangat awal, hingga kekal. Aku rindu untuk berubah, karena aku mencintaiMu, dan hanya itu yang dapat aku lakukan untuk membalas CintaMu, walau itu tak akan pernah terasa cukup bagiku. Dan di akhir nafasku, ijinkan aku sekedar berbisik, “ Yesus, ingatlah akan aku, apabila Engkau datang sebagai Raja” . Karena hanya bersamaMu, aku bahagia, dan hanya didalamMu, aku sungguh-sungguh hidup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Uti&lt;br /&gt;Houston, 27 Maret 2010&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-Kisah ini terinspirasi oleh homili bertahun-tahun yang lalu yang dibawakan seorang Imam dari Surabaya (ordo CM), yang memberi kotbah indah  di misa Kamis Putih di Gereja Misericordia, Jalan Jayagiri, Malang, Jawa Timur. Sayang sekali saya lupa nama Imam tersebut karena peristiwanya sudah sangat lama berlalu. Karena indahnya isi homili itu, walau kami semua lupa nama Imam itu, kotbahnya melekat dalam sanubari saya dan keluarga hingga hari ini.-&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1926296286733356721-3137533106360481215?l=mylittlecandle.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mylittlecandle.blogspot.com/feeds/3137533106360481215/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mylittlecandle.blogspot.com/2010/04/kenang-kenangan-cinta-tuhanku.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1926296286733356721/posts/default/3137533106360481215'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1926296286733356721/posts/default/3137533106360481215'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mylittlecandle.blogspot.com/2010/04/kenang-kenangan-cinta-tuhanku.html' title='Kenang-kenangan Cinta Tuhanku'/><author><name>triastuti</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06669118216388127857</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_rcwu8-Ne2jg/ShxT7i_4VRI/AAAAAAAABF8/Vwh_OTSVurg/S220/DSC05118.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_rcwu8-Ne2jg/S7dFVP-eamI/AAAAAAAABnA/6pLdnrYflMM/s72-c/ceiling+C%26D+church.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1926296286733356721.post-3198778016568445529</id><published>2010-03-16T08:54:00.000-07:00</published><updated>2010-03-16T09:00:37.726-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='candle of light'/><title type='text'>Belajar dari Pertengkaran</title><content type='html'>&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_rcwu8-Ne2jg/S5-qco75wZI/AAAAAAAABmo/RwtXvH9Wdok/s1600-h/vertikal.JPG"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 150px; height: 200px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_rcwu8-Ne2jg/S5-qco75wZI/AAAAAAAABmo/RwtXvH9Wdok/s200/vertikal.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5449261483143315858" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Benarkah pernikahan yang baik dan sehat adalah yang bebas dari pertengkaran ? Sekarang saya sadar bahwa jawabannya : tidak benar. Apakah saat sepasang suami istri bertengkar mereka merasakan cinta di antara mereka berkurang atau bahkan semakin menghilang ? Saya rasa tidak. Menurut saya, pertengkaran justru bisa membawa relasi suami istri ke tahapan yang lebih matang karena pertengkaran menjadi sarana untuk saling mengoreksi kelemahan dan saling terus menyesuaikan diri sehingga justru cinta berdua semakin matang dan dimurnikan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertengkaran memang kalau bisa dihindari, tetapi kalau itu tidak terelakkan, kita bisa belajar dari pertengkaran dan menjadikannya sarana untuk saling mendewasakan. Pertengkaran sebenarnya hal yang wajar dalam relasi suami istri yang masih terus berkembang, dan seringkali tak terhindarkan dalam dinamika kehidupan rumah tangga. Apalagi karena dua insan yang menjalaninya tidak selalu seia sekata menghadapi aneka masalah kehidupan dan mempunyai karakter yang tidak selalu sama dalam menyikapi berbagai permasalahan dan dinamika hidup. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kuncinya adalah kalaupun terpaksa bertengkar,  saya bisa memilih untuk bertengkar secara sehat. Sehingga istilah pertengkaran sebenarnya dapat diperhalus menjadi adu argumentasi. Dimana adu pendapat selalu berusaha kita fokuskan pada masalah yang sedang dihadapi, tidak membawa-bawa masalah yang sudah lalu, atau mengungkit-ungkit kelemahan pasangan, dan hal-hal lain yang tidak relevan dengan masalah yang sedang dihadapi. Bagi saya, bertengkar yang baik juga merupakan suatu sarana untuk memecahkan persoalan bersama, dan bukan ajang untuk saling menghina karena melampiaskan kekesalan atau melemparkan cemoohan satu sama lain, dan dengan demikian menjadi ajang untuk saling melukai. Pemakaian kata-kata yang kasar dan berkata sambil berteriak juga merupakan suatu tanda bahwa adu argumentasi yang sebenarnya bisa berlangsung sehat dan membawa kepada pemecahan masalah, telah berubah menjadi pertengkaran dimana emosi dan kemarahan menjadi tuannya. Masalah bukannya terpecahkan tetapi justru ketambahan masalah baru yaitu luka hati yang menganga dan kepahitan akibat kata dan sikap yang tidak dikontrol di dalam pertengkaran itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya teringat akan ide seorang kawan yang mengatakan sebaiknya pertengkaran yang terjadi antara suami istri dicatat dalam sebuah catatan khusus, atau setidaknya dicatat baik-baik dalam hati kita. Yang dicatat adalah: topik pertengkaran, bagaimana akhirnya solusi dapat dicapai, serta frekuensi pertengkaran. Catatan itu dapat kita amati setelah beberapa waktu. Bila frekuensi bertengkar semakin jarang dan topik yang dipertengkarkan bukan hal yang itu-itu lagi, melainkan semakin berkembang dan tidak hanya akibat dari sikap egois salah satu pihak, maka kemungkinan besar pertengkaran yang timbul telah dapat dimanfaatkan secara sehat dan dengan demikian lebih besar kemungkinannya aneka masalah dapat teratasi dengan baik. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teman saya yang lain lagi bahkan bercerita setelah bertengkar hebat biasanya justru dia lantas bisa bercinta dengan hangat bersama suaminya. Saya merasa bahwa pertengkaran telah menjauhkan hati dua insan yang sesusungguhnya selalu saling merindu dan mencinta. Maka setelah berbagai argumen dan kejengkelan, hati yang sempat menjauh karena pertengkaran itu merasakan kerinduan yang sangat untuk bersama kembali dan itulah sebabnya keinginan untuk menyatu kembali terwujud dalam hubungan intim yang hangat. Pengalaman teman saya itu memampukan saya untuk sekali lagi melihat keindahan pertengkaran. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya pikir mengenali pola-pola bertengkar yaitu mencoba mengerti benar apa penyebabnya dan apa yang bisa dilakukan untuk mencegahnya, sangat baik untuk menghindari berulangnya pertengkaran yang disebabkan oleh alasan yang selalu sama. Misalnya, latar belakang pertengkaran yang terjadi di dalam relasi saya dengan suami umumnya terjadi karena tuntutan yang tidak terpenuhi, keinginan untuk mengontrol pasangan, dan memaksakan kehendak.  Tuntutan yang tidak terpenuhi biasanya terjadi karena tuntutan saya kepada suami terlalu tinggi atau kurang dapat menerima dia apa adanya. Demikian juga keinginan untuk mengontrol pasangan disertai pemaksaan kehendak juga biasanya dilatarbelakangi oleh kurang mampunya saya menerima kebiasaan dan kepribadian suami apa adanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau saya ingin menghindari pertengkaran yang sama terulang lagi, saya perlu belajar untuk tidak ngotot dan menuntut pihak lain (suami) terus yang berubah. Justru saya perlu terlebih dahulu belajar untuk menyesuaikan diri dan menerima pasangan saya apa adanya. Demi kasih dan pengorbanan yang tulus untuk keutuhan rumah tangga yang sehat, keputusan untuk berubah itu harus saya ambil dengan berani, walau sering tidak mudah dan mengorbankan ego pribadi. Di sini saya melihat bahwa belajar dari pertengkaran dapat menjadi sebuah latihan bagi saya untuk menjadi pribadi yang sabar dan toleran serta menepikan ego dan kepentingan diri. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibu saya pernah mengatakan, tidak berusaha belajar dari pertengkaran-pertengkaran yang terjadi dalam pernikahan lama kelamaan dapat membuat sebuah pernikahan bukan lagi sebuah ajang untuk saling menyayangi, tapi sebuah ajang untuk saling menyakiti. Apalagi seiring dengan berjalannya waktu, dimana sebagai manusia, kedua belah pihak terus berkembang melalui dinamika dan tantangan hidup sehingga apa yang kita hadapi satu sama lain tidak sama lagi dengan kepribadian dan pembawaan di saat berpacaran dulu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hidup yang penuh tantangan ini tentu akan terasa bertambah berat bila teman terdekat dalam hidup yang seharusnya menjadi teman terbaik kita menghadapi kehidupan ternyata justru merupakan "musuh" yang paling sering membuat kita kehilangan rasa damai dan sukacita. Sebagian dari pilihan ada di tangan saya. Kesabaran memang pahit, tetapi buahnya manis, demikian kata pepatah. Saya cenderung menghindari kesukaran dan penyangkalan diri, padahal justru kesukaran dan menahan diri itulah yang akan memampukan saya meraih kesejatian di dalam hidup ini dan memahami sesungguh-sungguhnya apa arti bahagia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya, saya sering mengakhiri pertengkaran dengan berdoa bersama dengan suami. Terutama setelah pertengkaran yang agak hebat. Setelah kemarahan mereda dan permasalahan menjadi lebih jernih, kami bersama-sama menghadap Tuhan sambil saling bergenggaman. Memohon ampun atas kesalahan dan kelalaian, dan memohon kemurahanNya agar kami dapat kembali melangkah dalam terang kasihNya dalam setiap suka dan duka hidup pernikahan, dan agar kami dimampukan untuk senantiasa belajar dari kesalahan-kesalahan kami. Saya yakin pernikahan yang bertahan adalah yang selalu mengandalkan Orang Ketiga, dan yang meletakkan Orang Ketiga itu pada posisi Kepala Rumah Tangga Yang Terutama. Orang Ketiga itu tiada lain adalah Tuhan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Because they argue it doesn’t mean that they don’t love each other, and never argue doesn’t always mean that they love each other &lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Uti &lt;br /&gt;Houston, 15 Maret 2010&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1926296286733356721-3198778016568445529?l=mylittlecandle.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mylittlecandle.blogspot.com/feeds/3198778016568445529/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mylittlecandle.blogspot.com/2010/03/belajar-dari-pertengkaran.html#comment-form' title='4 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1926296286733356721/posts/default/3198778016568445529'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1926296286733356721/posts/default/3198778016568445529'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mylittlecandle.blogspot.com/2010/03/belajar-dari-pertengkaran.html' title='Belajar dari Pertengkaran'/><author><name>triastuti</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06669118216388127857</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_rcwu8-Ne2jg/ShxT7i_4VRI/AAAAAAAABF8/Vwh_OTSVurg/S220/DSC05118.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_rcwu8-Ne2jg/S5-qco75wZI/AAAAAAAABmo/RwtXvH9Wdok/s72-c/vertikal.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1926296286733356721.post-3581005497996638669</id><published>2010-03-12T18:27:00.000-08:00</published><updated>2010-03-17T10:23:09.276-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='candle of light'/><title type='text'>Learn to Talk To Each Other, Not At Each Other</title><content type='html'>&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_rcwu8-Ne2jg/S5r8bgBbR8I/AAAAAAAABmg/0uLPj5Zg-3A/s1600-h/DSC05305.JPG"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 150px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_rcwu8-Ne2jg/S5r8bgBbR8I/AAAAAAAABmg/0uLPj5Zg-3A/s200/DSC05305.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5447944248640620482" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Suamiku pulang dari kantor hari ini dengan wajah terheran-heran. Ia mendapatiku sedang membungkuk di depan jajaran pot-pot mungil yang berisikan tanaman-tanaman hias kami, yang baru dua minggu lalu kami beli untuk menghias rumah baru yang kami tempati. Yang membuatnya heran adalah karena ia mendapati aku sedang bercakap-cakap dengan salah satu tanaman kami, yang daunnya sedang terkulai layu karena aku lupa menyiraminya selama beberapa hari gara-gara masih sibuk dengan urusan-urusan di tempat yang baru&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sayang, kamu ngapain…?” suami ku bertanya dengan khawatir, mungkin karena sebelumnya dia tidak pernah melihat aku berbicara dengan tanaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tidak segera menjawab, masih sibuk berbicara dengan nada memohon kepada tanaman yang daun-daunnya tertunduk lesu itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Please, be alive, I am so sorry, I apologize that I have forgotten you, please don’t be dead, I don’t mean to abandon you. I’m just too busy and I missed to water you every two days. Please, be healthy again,”, aku menghiba-hiba sambil membelai-belai daun-daun yang layu itu dan menepuk-nepuk daun yang masih tegak, walau yang tegak hanya tinggal satu helai saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suamiku semakin penasaran, tetapi ia sudah mulai paham karena terbiasa dengan gelagatku yang kadang suka nyentrik dengan tiba-tiba.&lt;br /&gt;“Waduh, mana pakai bahasa Inggris lagi, mana ngerti tuh” serunya dengan geli.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ssstt..jangan keras-keras Yang kalau ngomong, nanti tanamannya nggak dengar suaraku” bisikku dengan agak kesal, “ Ini kan di Amerika, berarti tanaman di sini sehari-hari sejak awal tumbuhnya pasti sudah terbiasa mendengar pembicaraan bahasa Inggris.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walau mulai geli sendiri dengan penjelasanku sendiri dan mulai merasa tidak logis, terutama tentang penggunaan bahasa Inggris, aku melanjutkan menjelaskan pada suami dengan suara masih dipelankan, “Ini aku sedang berusaha menyemangatinya. Aku pernah membaca, tanaman juga bisa mengerti kalau diajak bicara atau diputarkan musik, dan bisa tumbuh subur kalau sering diajak bicara yang baik-baik” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suamiku tampak semakin geli, tapi dia lalu mengangkat bahu dan melangkah ke dalam rumah, “Yaah besok-besok jangan kelupaan lagi nyiram. Tapi kalau Yayang terus di situ, aku dah lapar, kita makan malamnya apa nih? ”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya aku beranjak mengikuti suamiku ke dapur. Aku masih berharap kata-kata lembutku kepada tanaman yang hampir mati itu akan berhasil dan esok pagi aku akan melihatnya segar kembali. Aku sebenarnya tidak terlalu yakin, tetapi paling tidak aku sudah berusaha dan setidaknya hal itu mengurangi perasaan bersalahku karena telah lupa menyiram tanaman-tanaman itu selama beberapa hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sambil menikmati makan malam berdua, aku masih melamun tentang tanamanku. Apakah dia sudah baikan ya sekarang ? Tapi ada hal lain yang mengganggu pikiranku saat itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sayang, melamun ya, ayo makan”, suamiku menegurku sambil asyik mengunyah tahu goreng kesukaannya dan mengambil sepotong lagi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Enggak tahu ya, rasanya kok jadi nggak selera makan. Rasanya hari ini banyak yang nggak bener”, sahutku sambil meletakkan sendok dan meneguk segelas air putih. “Tadi siang balasan email seorang teman agak mengagetkanku. Aku menulis baik-baik tetapi rupanya dia salah paham dan mengatakan bahwa sementara dia tidak mau membaca email-email dariku lagi. Aku sangat terkejut mendapat reaksi seperti itu. Sudah kujelaskan bahwa aku tidak bermaksud melukainya, aku hanya sekedar memberikan masukan dan berdoa untuknya, tetapi dia telah memutuskan sikapnya, untuk tidak menghubungiku dulu. Mungkin juga dia bosan ya, kami kan email-emailan hampir setiap hari. Ada saja yang kami obrolkan. Tetapi baru kali ini aku mendapat balasan semacam itu dari seorang teman baik” aku langsung menyambung dengan curhat panjang lebar kepada suami, seperti biasanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suamiku menjawab dengan ringan, “Yah, memang komunikasi melalui email kadang bisa salah dimengerti, Yang. Jangankan komunikasi tertulis yang tidak bisa segera diklarifikasi, komunikasi yang muka dengan muka saja bisa salah tangkap. Lha kita kalau sedang bertengkar itu kan contohnya….” Aku memandangi suamiku yang berbicara dengan ringan tanpa beban, mencoba meresapi kata-katanya. Mungkin kaum adam memang lebih bisa bersikap EGP (emang gue pikirin) daripada kaum hawa, pikirku. Apa yang kuanggap serius, baginya mungkin hanya setengah rius atau mungkin seperempat rius saja, terutama yang berhubungan dengan relasi antara teman. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami menyelesaikan makan malam kami dan sambil beranjak ke dapur pikiranku masih terus berputar-putar sekitar pembicaraan kami tentang komunikasi. Tiba-tiba kudengar suara suamiku berseru dari halaman depan, “Yang, tanamanmu segar lagi Yang, daun-daunnya telah tegak kembali” . Aku meninggalkan tumpukan piring yang baru saja hendak kucuci dan mengikuti suamiku yang sedang mengamati tanaman yang tadi kuajak bicara, yang sekarang sudah kembali segar dan tidak layu lagi. Aku ikut berseru gembira, antara lega dan takjub. Entah karena air yang kusiramkan, entah karena kata-kata sayang yang aku bisikkan. Mungkin keduanya. Tetapi yang jelas tanamanku selamat, tidak jadi mati. Dan aku tidak perlu menunggu hingga esok untuk menyaksikan keajaiban itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan bersemangat aku kembali membelai daun-daun tanaman yang telah tegak hidup kembali itu dengan perasaan lega. “Thank you, my dear plant, for listening to me and not giving up. From now on, I promise to take care of you better,” bisikku. Dan aku pun menyadari kata-kataku sendiri tentang “listening” . Ya, seni mendengarkan. Mungkin tanamanku ini sungguh mendengarkan dalam keheningannya. Ia menyerap semua kata-kataku dan bahkan karena ia sendiri diam, ia mungkin mampu juga menangkap getaran-getaran kasih dan penyesalan di dalam kata-kataku, sehingga ia bisa hidup kembali karena mendapat energi kasih sayang. Ah, entahlah, aku tidak tahu banyak tentang tanaman. Namun yang pasti, hari ini tanamanku mengajarkan seni mendengarkan kepadaku. Mendengarkan juga berarti siap untuk diam dan melupakan apa yang aku sendiri sedang ingin katakan, sehingga aku bisa sungguh-sungguh berkonsetrasi kepada perkataan lawan bicaraku. Hanya dengan begitu aku mampu memahami apa yang sedang bergejolak di balik kata-kata sesamaku yang sedang berbicara denganku dan menempatkan diri pada posisinya, sehingga aku dapat menjadi kawan seperjalanan yang penuh pengertian baginya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin itu yang terjadi pada sahabatku yang sedang ngambek hari ini, sehingga dia memutuskan untuk tidak berkomunikasi dulu denganku. Mungkin dia merasa aku tidak sungguh-sungguh menyimak apa yang disampaikannya, karena aku terlalu sibuk mengutarakan pikiran-pikiranku sendiri kepadanya. Mungkin banyak masalah yang timbul di dalam kehidupan ini dan juga di dalam pernikahan, karena kita belum saling mendengarkan dengan sungguh-sungguh satu sama lain. Mungkin karena kita lebih asyik dengan pemikiran-pemikiran dan pendapat-pendapat kita sendiri. I think it is time to learn to talk to each other, not just at each other. Kurasa melalui saling mendengarkan dengan sungguh-sungguh, saling pengertian itu terjadi, dan banyak kesalahpahaman dapat dihindari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian aku kembali tersadar akan sesuatu, haahh...oh iya ya, sedari tadi aku yang sibuk bicara sendiri kepada suamiku, sampai lupa menanyakan bagaimana harinya di kantor hari itu, waakss, kasihan suami disuruh mendengarkan terus, lha kapan gilirannya cerita. Aku segera berseru-seru mencarinya, "Yaanngg...ceritamu sendiri hari ini bagaimana yaaa..."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Uti,&lt;br /&gt;Houston, 12 Maret 2010&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1926296286733356721-3581005497996638669?l=mylittlecandle.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mylittlecandle.blogspot.com/feeds/3581005497996638669/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mylittlecandle.blogspot.com/2010/03/learn-to-talk-to-each-other-not-at-each.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1926296286733356721/posts/default/3581005497996638669'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1926296286733356721/posts/default/3581005497996638669'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mylittlecandle.blogspot.com/2010/03/learn-to-talk-to-each-other-not-at-each.html' title='Learn to Talk &lt;strong&gt;To&lt;/strong&gt; Each Other, Not &lt;strong&gt;At&lt;/strong&gt; Each Other'/><author><name>triastuti</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06669118216388127857</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_rcwu8-Ne2jg/ShxT7i_4VRI/AAAAAAAABF8/Vwh_OTSVurg/S220/DSC05118.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_rcwu8-Ne2jg/S5r8bgBbR8I/AAAAAAAABmg/0uLPj5Zg-3A/s72-c/DSC05305.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1926296286733356721.post-3809364123214476250</id><published>2010-03-10T16:15:00.000-08:00</published><updated>2010-03-10T20:14:08.909-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='candle of love'/><title type='text'>Hadiah di Balik Kesukaran</title><content type='html'>&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_rcwu8-Ne2jg/S5g2q4WHX_I/AAAAAAAABmY/wOhiNFsF64g/s1600-h/DSC05354.JPG"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 150px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_rcwu8-Ne2jg/S5g2q4WHX_I/AAAAAAAABmY/wOhiNFsF64g/s200/DSC05354.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5447163859612164082" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Ketika aku masih lajang, pikiranku mengelana, hatiku merindu, mencari belahan jiwa dambaan hati. Saat itu ada energi mencinta yang rasanya membutuhkan tempat pencurahan dan di situlah aku membutuhkan seorang kekasih hati yang menempati tempat khusus selain tempat yang telah diisi oleh kasih orangtua, sahabat dan saudara-saudaraku. Curahan rasa cinta dan sayangku yang khusus itu juga kuharapkan mendapatkan balasan rasa sayang dan cinta yang kubutuhkan dalam menjalani hidup ini, rasa cinta dan sayang yang tidak dapat diberikan oleh cinta orangtua dan saudara serta sahabat-sahabatku. Kebutuhan akan cinta yang spesial itu adalah anugerah Tuhan kepada manusia, supaya manusia saling mencinta sebagai suami istri dan bersatu untuk melanjutkan generasi manusia sebagai ciptaan yang paling mulia dan secitra denganNya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku pernah membaca di situs IEC (Indonesia Edu Center) di Facebook, bahwa saat manusia kasmaran atau dimabuk cinta, bagian otak yang bertugas menilai secara sehat dan obyektif menjadi tidak berfungsi. Bagian itu disebut dengan The Social Assessment Mediator. Mungkin itulah sebabnya setelah menikah aku merasa kadang-kadang kaget menemukan sifat-sifat suamiku yang tidak sesuai dengan harapanku. Sebenarnya sifat pasanganku itu sejak dulu ya begitu, tapi di saat aku sedang kasmaran aku tidak mampu melihatnya. Dalam sumber bacaan itu juga dinyatakan, itu adalah bagian dari rencana Tuhan yang agung untuk manusia, supaya manusia dapat terus saling jatuh cinta, menikah, dan berketurunan untuk menjadi pendampingNya dalam mengembangkan kehidupan yang mulia di atas bumi ciptaanNya ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang setelah aku menemukan dambaan hatiku dan menjalani hidup pernikahan, hatiku tidak lagi menghauskan cinta dan mengelana mencari sasaran curahan rasa cintaku. Gejolak cinta yang dulu mengembara tak tentu arah kini telah berlabuh dengan damai di pantai cinta yang kunikmati bersama suamiku. Namun, gejolak cinta yang telah berlabuh itu bukan lagi cinta yang sama yang kumiliki saat lajang dulu. Cinta itu telah tumbuh dan bertransformasi seiring pertumbuhan aku dan pasanganku sebagai pribadi dan sebagai pasangan.  Perbedaan pendapat, perbedaan persepsi dan kebiasaan, perbedaan prioritas, dan perbedaan keinginan, semuanya telah mengasah cinta kami sehingga semakin lama semakin berorientasi kepada kepentingan pasangan dan bukan lagi pada diri sendiri saja. Saat semua perbedaan dan konflik itu terjadi, rasanya menyakitkan. Tetapi setelah kami berusaha menjembatani semuanya dengan kebesaran hati dan pengorbanan satu sama lain, aku dapat melihat bahwa semua itu diperlukan agar kami bertumbuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku sadar bahwa pernikahan dengan segala suka dukanya dan usaha untuk terus mencari kesepakatan bersama dengan saling mengalah telah membuatku belajar untuk hidup tidak hanya bagi kesenangan dan ego diri sendiri.  Pemahaman ini membuatku mensyukuri pernikahanku, walaupun setelah 11 tahun menikah aku dan suamiku belum berhasil mempunyai anak, karena kelainan yang terdapat di masing-masing dari fungsi reproduksi kami. Aku percaya Tuhan mempunyai banyak tujuan dalam pernikahan, dan anak bukan satu-satunya tujuan, walau kehadiran anak-anak adalah karuniaNya yang sangat indah yang membuat kehendak Tuhan untuk senantiasa menjadikan manusia menjadi mitraNya dalam memelihara kehidupan ini dapat terus berlangsung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat itulah aku juga menyadari ada kebenaran dalam artikel yang kubaca itu, yaitu mengapa dalam tahap kasmaran dan mabuk kepayang di masa pacaran, Tuhan mengijinkan bagian otak untuk mengenali sifat dasar pasanganku secara obyektif tidak berfungsi. Memang setelah menikah aku terkejut dan sempat kecewa. Namun aku tidak diharapkan untuk mundur dan tenggelam dalam kekecewaan, supaya di dalam ikatan pernikahan yang tak terceraikan itu aku belajar menjadi matang dan tumbuh bersama pasanganku menjadi pribadi yang peduli, siap berkorban, toleran, dan matang secara mental dan spiritual. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka segala perbedaan, kesalahpahaman, sakit hati, atau ketidakcocokan bukanlah hal-hal yang menjustifikasi ku untuk mundur dan mencari cinta yang lain. Itu semua justru adalah bagian dari keindahan cinta yang diberi kesempatan untuk dimurnikan, tahan uji, dan membentuk kami menjadi manusia yang berdaya tahan dengan kasih yang murni seperti kasihNya sendiri kepada setiap manusia. Tuhan ingin aku merasakan dan mengalami kasihNya dengan begitu sempurna yang hanya bisa kualami kalau aku belajar mengasihi seperti Dia sudah mengasihiku. Itu semua adalah hadiahNya bagi yang bertahan dalam ketekunan, pengharapan, dan pengorbanan. Dalam terang kasih Tuhan itu dimana aku belajar untuk mengalah dan menerima, aku justru dimampukan untuk melihat bahwa perbedaan yang ada adalah indah dan memperkaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga dalam menghadapi masa-masa sulit di dalam pernikahan, aku tidak mundur dan menyerah, tetapi terus bertahan dengan penuh semangat dan niat kasih yang tulus, sambil mengejar hadiah indah yang tersembunyi di balik kesukaran-kesukaran yang terjadi di dalam pernikahan.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1926296286733356721-3809364123214476250?l=mylittlecandle.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mylittlecandle.blogspot.com/feeds/3809364123214476250/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mylittlecandle.blogspot.com/2010/03/kesempatan-untuk-bertumbuh.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1926296286733356721/posts/default/3809364123214476250'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1926296286733356721/posts/default/3809364123214476250'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mylittlecandle.blogspot.com/2010/03/kesempatan-untuk-bertumbuh.html' title='Hadiah di Balik Kesukaran'/><author><name>triastuti</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06669118216388127857</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_rcwu8-Ne2jg/ShxT7i_4VRI/AAAAAAAABF8/Vwh_OTSVurg/S220/DSC05118.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_rcwu8-Ne2jg/S5g2q4WHX_I/AAAAAAAABmY/wOhiNFsF64g/s72-c/DSC05354.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1926296286733356721.post-1536189337654665764</id><published>2010-02-09T11:11:00.000-08:00</published><updated>2010-02-09T11:26:41.293-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='candle of love'/><title type='text'>Happy Valentine's day my lovely hubby</title><content type='html'>&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_rcwu8-Ne2jg/S3G0LYinZJI/AAAAAAAABls/5AjN4csA9jM/s1600-h/DSC05232.JPG"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 150px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_rcwu8-Ne2jg/S3G0LYinZJI/AAAAAAAABls/5AjN4csA9jM/s200/DSC05232.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5436324332872098962" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;V&lt;/strong&gt; ery many blessings .......&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;A&lt;/strong&gt; dded to my life,&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;L&lt;/strong&gt; ighten my days,&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;E&lt;/strong&gt; nriching my knowledge and experience,&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;N&lt;/strong&gt; urturing my heart with care and compassion.&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;T&lt;/strong&gt; he day God has made us to encounter one another....&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;I&lt;/strong&gt;  know we are unfolding bit by bit a love story He has in store for us.&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;N&lt;/strong&gt; ow on the day in which love and compassion is being celebrated,&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;E&lt;/strong&gt; nables me to express how grateful I am to know you and to recognize God’s eternal love through you, ....your life, your love, your care, your passion to serve Him, your exemplary deeds, your hospitality, .......your friendship, your understanding, your sacrifice, your laugh and sorrow. They are becoming our life, our love, our care, our passion to serve Him, our laugh and sorrow, our wonderful days together. My life might never be enough to give thanks to God for being with you, loving you, sharing my life with you in renewed love in Him, my lovely hubby. You are my valentine's greatest gift in my life from God the Almighty, God of Love. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;May the God who gives us peace make you holy in every way and keep your whole being – spirit, soul, and body – free from every fault at the coming of our Lord Jesus Christ. He who calls you will do it, because He is faithful &lt;/em&gt;&lt;br /&gt;(1 Thessalonians 5 : 23-24)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1926296286733356721-1536189337654665764?l=mylittlecandle.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mylittlecandle.blogspot.com/feeds/1536189337654665764/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mylittlecandle.blogspot.com/2010/02/happy-valentines-day.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1926296286733356721/posts/default/1536189337654665764'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1926296286733356721/posts/default/1536189337654665764'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mylittlecandle.blogspot.com/2010/02/happy-valentines-day.html' title='Happy Valentine&apos;s day my lovely hubby'/><author><name>triastuti</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06669118216388127857</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_rcwu8-Ne2jg/ShxT7i_4VRI/AAAAAAAABF8/Vwh_OTSVurg/S220/DSC05118.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_rcwu8-Ne2jg/S3G0LYinZJI/AAAAAAAABls/5AjN4csA9jM/s72-c/DSC05232.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1926296286733356721.post-6031344892769568117</id><published>2010-01-19T14:36:00.000-08:00</published><updated>2010-01-20T14:30:14.881-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='candle of light'/><title type='text'>One fine morning</title><content type='html'>&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_rcwu8-Ne2jg/S1Y01pVtnBI/AAAAAAAABlk/jpLaeXU-8Ds/s1600-h/DSC05001.JPG"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 112px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_rcwu8-Ne2jg/S1Y01pVtnBI/AAAAAAAABlk/jpLaeXU-8Ds/s200/DSC05001.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5428584497076345874" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;It was a fine morning. A sunny, warm, and peaceful kind of morning I always praise and love to begin a new day. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I sat on my favorite couch to start working, when I heard a loud noise coming from outside my cozy and beautiful apartment, a residence with beautiful trees surround it and tidy lawn of well-kept groomed grass. A home I newly resided with my husband as our new life in a new place far from home, regarding my husband’s new job in a foreign country, began. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hearing the kind of noise that was went on and on, I believed that someone was trying to fix or just trying-out his or her motorbike. Whatever the situation of the motorbike might be, it was allowing the deafening voice from the machine filling the quiet surrounding of my home and I believed others too. Even worse, the smell of gasoline from its fumes gradually interfered with the coolness and freshness of my perfect morning. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A bit irritated, I could not find a way to escape from the situation that bothered me much. Being a stranger in a new country with totally different culture and language, I could barely think of any solution to my problem. I only knew (or decided) that there was someone inconsiderate outside my house who insisted to keep his or her machine producing that disturbing smell and noise for prolonged time. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;In an effort to avoid my negative thoughts fanning my flame, I finally rose from my couch and decided to at least take a peek through my window to see the perpetrator. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Then I was surprised, not only by what I saw, but to the total embarrassment I felt in my heart. It was not a motor-bike at all; it was a man with his grass-cutting machine, strolling around the lawn of our apartment with his noisy tools, tidying the grass and plants I admire every morning. By doing his job, he letting himself to be exposed by the deafening noise and choking smell of gasoline fumes. He is the one that makes my lawn admirable and tidy, the one that perfects my day and my morning all at once, the one that once out of my hasty and narrow judgment, was being granted as a perpetrator. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I have decided without asking and believed without searching. I leaned only to my own narrow perspectives. In this life, how many times I judge my fellow human being as an ignorant friend, or an inconsiderate mother, or a careless driver just by what I hear or smell? Or judge certain situation in life as bad or rubbish? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Have I risen and looked with the eyes of my heart, or study more carefully, what are the reasons behind all the scenery and persons I catch with merely my physical senses or my own prejudice in a very short time, before deciding what kind of persons they are ? I'm not being fair. I think anyone who is not fair in mind and not in a fair position, has no rights to judge and is not capable to judge. After all, I don't have the whole picture, yet. And I might never have it.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;What lessons might exist in a mundane experience? When Jesus looked up at the tree where Zaccheus climbed and waited for Him to be able to see Him, what did Jesus see? Being marginalized in the society, Zaccheus the tax collector was a man with a deep longing in his heart. It has been overlooked by the society who judged him only by what they think he is without any further considerations. Only a heart with a clear conscience out of love and empathy like Jesus has shown us, can give us the fair truth and beauty about our fellows and life experiences.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;In my being still, silent, and calm, I own more space, more time, more consideration, and finally more understanding, to see my fellows in all their circumstances with my empathy, with the eyes of my heart, where Jesus dwells, before giving any judgment, at all. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Uti&lt;br /&gt;Milan, around end of 2008&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1926296286733356721-6031344892769568117?l=mylittlecandle.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mylittlecandle.blogspot.com/feeds/6031344892769568117/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mylittlecandle.blogspot.com/2010/01/one-fine-morning.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1926296286733356721/posts/default/6031344892769568117'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1926296286733356721/posts/default/6031344892769568117'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mylittlecandle.blogspot.com/2010/01/one-fine-morning.html' title='One fine morning'/><author><name>triastuti</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06669118216388127857</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_rcwu8-Ne2jg/ShxT7i_4VRI/AAAAAAAABF8/Vwh_OTSVurg/S220/DSC05118.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_rcwu8-Ne2jg/S1Y01pVtnBI/AAAAAAAABlk/jpLaeXU-8Ds/s72-c/DSC05001.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1926296286733356721.post-1933936431684200857</id><published>2010-01-06T10:02:00.000-08:00</published><updated>2010-01-06T18:27:50.067-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='candle of light'/><title type='text'>Yang tertinggal dari kisah Natal</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_rcwu8-Ne2jg/S0TQh3XsQNI/AAAAAAAABlE/nVc5Z6GMlIs/s1600-h/100_0163.JPG"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 150px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_rcwu8-Ne2jg/S0TQh3XsQNI/AAAAAAAABlE/nVc5Z6GMlIs/s200/100_0163.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5423689131478499538" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;“Jo, jadi apa rencanamu untuk berbuat kebaikan di hari menjelang Natal ini “ tanyaku kepada keponakanku Jojo yang baru berumur 6 tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai ide acara Natal keluarga tahun ini, aku dan kakakku meminta para keponakan kami untuk memikirkan dan melakukan satu perbuatan baik kepada sesama, terutama sesama yang membutuhkan, untuk kemudian pengalaman itu diceritakan dan disharingkan pada acara Natal keluarga sebelum acara membuka kado-kado Natal dimulai. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walaupun masih sangat belia, Jojo bersemangat menanggapi ide kami dan tampak antusias untuk berpartisipasi. Ia menjawab dengan mata berbinar dan mulut terbuka lebar sambil sedikit berjinjit meninggikan badannya yang mungil seolah-olah khawatir aku yang jauh lebih tinggi darinya tidak mendengar perkataannya. Itu adalah gaya khasnya bila sedang bersemangat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jojo minta sama Eyang supaya membelikan mobil-mobilan untuk teman Jojo yang cuma punya satu mainan mobil-mobilan”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku terdiam sejenak. Ada sedikit rasa kecewa di hati dengan jawaban si kecil Jojo yang bersemangat ini, tetapi aku menegur diriku sendiri untuk bersikap hati-hati. Memangnya jawaban seperti apa yang kuharapkan dari seorang anak yang baru kelas 1 SD? Tapi aku menjadi tergelitik untuk bertanya lebih jauh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Itu bagus sekali Jo, tetapi mengapa Jo ?” &lt;br /&gt;“Yaa.. soalnya teman Jojo itu mobil-mobilannya cuma satu, sedang punya Jojo...banyaakkk…”&lt;br /&gt;“Iya, Tante tahu Jojo punya banyak sekali mainan mobil-mobilan, maka yang Tante tanyakan adalah mengapa Jojo minta Eyang yang membelikan mainan mobil-mobilan buat temanmu itu. Mengapa bukan Jojo sendiri yang merelakan salah satu mobil-mobilan Jojo yang banyak itu untuk diberikan kepada temanmu. Bukankah Jojo sayang kepada temanmu itu ? Kalau Jojo sayang, pasti Jojo tidak keberatan untuk berkorban memberikan satu saja mobil mainanmu dari koleksimu yang sudah berjumlah 30 buah itu”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jojo terdiam, dia nampak berpikir keras.  Binar matanya tampak meredup dan bibirnya yang tadi  merekah perlahan-lahan terkatup. Aku tidak tega melanjutkan pembicaraan dan menuntut Jojo untuk terus menjawab sesuai dengan harapanku.Bagaimanapun aku mungkin sudah berharap terlalu banyak. Bagaimanapun juga aku sudah berusaha untuk mengajak Jojo berpikir mengenai nilai pengorbanan. Bagaimanapun aku sangat menghargai semangat dan antusiasmenya untuk berpartisipasi dalam memikirkan sesama yang lebih berkekurangan dan berbuat kebaikan untuk mereka. Mungkin di kesempatan yang lain aku bisa membantu Jojo untuk bisa mengalami indahnya memberi dan merelakan benda yang kita sukai untuk membahagiakan orang lain. Aku segera berlutut untuk memeluk keponakanku yang menggemaskan dan polos itu sambil berkata, “Ya udah nggak apa-apa Jo, Tante bangga kepada Jojo yang bersimpati kepada teman yang lebih tidak punya dari Jojo dan ingin supaya temanmu itu juga bisa bergembira seperti kamu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hatiku aku merasakan keharuan dan penyesalan yang menyesak di dada. Aku telah sempat bersikap menuntut kepada anak-anak supaya mereka memikirkan dan melakukan kebaikan dan pengorbanan tanpa melihat lebih jauh apakah mereka sudah siap untuk itu. Aku tidak melihat kepada diriku sendiri, kepada siapa diriku di hadapan Tuhan dan sesama. Apakah aku juga sudah melakukan pengorbanan merelakan waktu, benda kesayangan, hobi, energi, untuk berbuat kebaikan dan membahagiakan sesama, atau untuk sekedar menyatakan kepedulian kepada mereka.  Sedangkan kalau sudah duduk asyik di hadapan laptop untuk menulis, beranjak sebentar saja untuk menelpon teman yang sedang menantikan telponku, atau mengunjungi tetangga baru di sebelah rumahku yang tampaknya kesepian, bahkan untuk sebentar saja bangkit membuatkan jahe panas yang diminta suamiku saja aku terkadang ogah-ogahan. Dalam pikiranku, memberikan satu saja dari mobil-mobilan yang sudah banyak nampaknya sepele. Tetapi di mata Jojo, melepaskan sebuah mobil koleksinya jangan-jangan sama sukarnya dengan bagiku mengorbankan satu dari koleksi buku atau sepatuku yang sangat aku sukai dan berharga bagiku. Apakah aku akan siap atau masih harus berjuang untuk melepasnya dengan rela tanpa mengeluh.  Mengapa aku mengajarkan anak-anak hal-hal yang aku sendiri belum tentu mampu melakukannya dengan baik ? Mengapa anak-anak harus menjadi sasaran pembelajaranku dan percobaanku untuk hal-hal yang sesungguhnya harus kukuasai dulu dengan baik sebelum menuntut anak-anak untuk melakukan hal yang sama ? Siapakah aku ini meminta Jojo melakukan kebaikan? Jangankan seorang malaikat yang mungkin lebih berhak untuk  meminta manusia melakukan kebaikan,sebagai seorang manusia pun aku masih dalam keadaan babak belur jatuh bangun memperbaiki kebiasaan-kebiasaan buruk yang diulang-ulang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat aku memeluk Jojo dengan penyesalan, aku menyadari bahwa anak-anak adalah cerminan dari kehidupan kita sendiri sebagai manusia dewasa. Keterbatasan mereka adalah keterbatasan kita juga. Bercermin kepada mereka adalah suatu pembelajaran untuk mendidik diri sendiri dan membereskan PR-PR  kita sebagai pribadi terlebih dahulu sebelum membimbing mereka menuju kedewasaan yang seutuhnya. Berkebalikan dari paham yang lebih umum dalam dunia kita, orang dewasa justru berhutang belajar kepada anak-anak supaya justru dari kepolosan, keceriaan, dan antusiasme mereka yang apa adanya terhadap hidup dan kehidupan itu, aku belajar menjadi pribadi yang dewasa dan bertanggung jawab dan bukan hanya menjadi tua secara otomatis karena berjalannya waktu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;uti-yang sedang di perantauan dan rindu kepada keponakan-&lt;br /&gt;Houston, 6 Januari 2010&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1926296286733356721-1933936431684200857?l=mylittlecandle.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mylittlecandle.blogspot.com/feeds/1933936431684200857/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mylittlecandle.blogspot.com/2010/01/yang-tertinggal-dari-kisah-natal.html#comment-form' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1926296286733356721/posts/default/1933936431684200857'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1926296286733356721/posts/default/1933936431684200857'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mylittlecandle.blogspot.com/2010/01/yang-tertinggal-dari-kisah-natal.html' title='Yang tertinggal dari kisah Natal'/><author><name>triastuti</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06669118216388127857</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_rcwu8-Ne2jg/ShxT7i_4VRI/AAAAAAAABF8/Vwh_OTSVurg/S220/DSC05118.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_rcwu8-Ne2jg/S0TQh3XsQNI/AAAAAAAABlE/nVc5Z6GMlIs/s72-c/100_0163.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1926296286733356721.post-2466312072798761099</id><published>2010-01-03T21:02:00.000-08:00</published><updated>2010-01-05T15:17:12.453-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='candle of faith'/><title type='text'>Tiga Raja dari Timur</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_rcwu8-Ne2jg/S0JHatyM6SI/AAAAAAAABd8/bXu8tfc2zEI/s1600-h/DSC06593.JPG"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 150px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_rcwu8-Ne2jg/S0JHatyM6SI/AAAAAAAABd8/bXu8tfc2zEI/s200/DSC06593.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5422975425599826210" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Sejak kecil saya senang sekali memandangi langit malam. Bintang-bintang yang bertaburan di sana selalu membuat saya terpesona dan mampu menahan kepala saya dalam posisi mendongak bermenit menit lamanya. Benda-benda di langit yang nampaknya begitu jauh, tak tergapai, dan penuh misteri itu memunculkan beribu pertanyaan yang mengasyikkan di kepala saya. Setelah lulus dari bangku SMA, saya menjadi mahasiswa jurusan astronomi (ilmu perbintangan) di satu-satunya perguruan tinggi di Indonesia yang mempunyai bidang studi astronomi sebagai salah satu jurusannya. Walaupun ilmu ini ternyata sangat sulit bagi saya dan saya lulus dengan susah payah, ilmu astronomi tetap menjadi ilmu yang paling menarik perhatian saya lama setelah saya lulus dari jurusan astronomi dan berkarya di bidang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari ini tanggal 3 Januari 2010, gereja merayakan Epifani, atau hari raya penampakan Tuhan, dimana tiga orang majus dari Timur hadir dari jauh membawa persembahan dupa, mas, dan mur untuk Bayi Yesus, Sang Raja semesta alam yang hadir di dunia dalam wujud bayi lembut yang sederhana di sebuah kandang hewan. Saya senang dengan perayaan Epifani, karena dalam perayaan ini profesi astronom menjadi perhatian Gereja dan dikenang sebagai tiga ahli bintang (orang majus atau raja dari Timur) yang mengamati fenomena bintang terang di langit dan menghubungkannya dengan kelahiran Sang Juruselamat yang akan membawa dunia keluar dari kegelapan dosa dan maut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kotbah Romo di gereja kami, Katedral Sacred Heart, Keuskupan Galveston-Houston hari ini juga menyinggung penjelasan dari segi astronomi tentang kemungkinan fenomena langit yang dilihat sebagai bintang terang oleh ketiga majus ini. Alternatif penjelasan ilmiahnya adalah sebuah ledakan bintang (supernova), atau sebuah komet yang sedang melintas, atau beberapa planet di tata surya yang berada dalam lintasan yg sejajar sehingga tampak sebagai bintang yg sangat terang dari bumi. Tetapi apapun kemungkinan penjelasannya, Tuhan berbicara lewat fenomena alam, dan alam semesta dengan segenap isinya dan keunikannya ini adalah juga surat cinta Tuhan kepada manusia dimana kita bisa membaca apa yang menjadi uneg-uneg, keinginan, harapan, dan rencana-rencana Tuhan tentang alam ciptaanNya. Kesadaran yang dibawa oleh kisah tiga raja dari Timur ini makin mengundang kekaguman saya kepada alam semesta ciptaan Tuhan khususnya langit malam dengan bintang-bintangnya yg bertaburan dg kilauannya yang berpendar dalam keheningan dan dinginnya suasana malam yang syahdu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manusia sering meragukan keberadaan Tuhan. Sering mempertanyakan apakah Tuhan memang ada dan berkuasa atas hidup manusia dengan segala sukadukanya. Tetapi saya sudah lama berhenti bertanya. Ketika leher saya mulai pegal karena terlalu lama mendongak melihat ke langit malam yang selalu penuh pesona bagi saya, saya merasa gembira dan bersyukur, bahwa Tuhan mempunyai begitu banyak cara yang sangat mudah kita temui di sekeliling kita, bahwa Dia hadir menyertai kita selalu, dan selalu menyayangi kita. Bahkan di saat alam tampak marah dengan fenomena banjir, gempa atau tsunami. Ada kasihNya yang melampaui segala pengertian di sana. KehadiranNya yang nyata melalui alam dan sesama, keluarga dan teman, melalui Gereja dan Ekaristi, melalui Kitab Suci dan para Kudus, menyelimuti hati saya dengan kehangatan dan kepastian akan penyertaan dan kehadiran Tuhan yang penuh cinta. Dan seperti halnya semangat ketiga majus dari Timur, saya rindu melakukan perjalanan jauh dan perjuangan berliku, untuk mengalami kasihNya lebih dalam lagi dan menyaksikan kebesaran dan pemeliharaanNya yang indah kepada dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Uti&lt;br /&gt;Houston, 3 Januari 2010&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1926296286733356721-2466312072798761099?l=mylittlecandle.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mylittlecandle.blogspot.com/feeds/2466312072798761099/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mylittlecandle.blogspot.com/2010/01/tiga-raja-dari-timur.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1926296286733356721/posts/default/2466312072798761099'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1926296286733356721/posts/default/2466312072798761099'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mylittlecandle.blogspot.com/2010/01/tiga-raja-dari-timur.html' title='Tiga Raja dari Timur'/><author><name>triastuti</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06669118216388127857</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_rcwu8-Ne2jg/ShxT7i_4VRI/AAAAAAAABF8/Vwh_OTSVurg/S220/DSC05118.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_rcwu8-Ne2jg/S0JHatyM6SI/AAAAAAAABd8/bXu8tfc2zEI/s72-c/DSC06593.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1926296286733356721.post-1386056707934631780</id><published>2010-01-01T15:30:00.000-08:00</published><updated>2010-01-01T16:47:32.681-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='candle of hope'/><title type='text'>Harapan, hadiah tahun baruku</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_rcwu8-Ne2jg/Sz6F4lnM2aI/AAAAAAAABXk/c0XCbXKq04o/s1600-h/DSC07517.JPG"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 150px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_rcwu8-Ne2jg/Sz6F4lnM2aI/AAAAAAAABXk/c0XCbXKq04o/s200/DSC07517.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5421918208616356258" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Tahun demi tahun berganti. Hmm..apa ya bagusnya tahun yang berganti ? Lalu akan berujung kemana waktu yang terus berjalan ini ya ? Sekilas peristiwa pergantian tahun adalah sesuatu yang rutin saja, seperti juga pergantian hari. Sama rutinnya dengan saat saya menyobek lembaran kalender di dinding. Menyobek atau membalik lembaran yang sudah lewat harinya sambil mengenang peristiwa-peristiwa yang telah terjadi di dalamnya. Lembaran kalender yang telah lewat waktunya kadang tidak dibuang, tetapi tetap disimpan karena gambarnya bagus, dan memori akan peristiwa di dalamnya terlalu indah atau pelajarannya terlalu dalam untuk dilupakan. Sambil memandangi lembaran yang baru, saya sering bertanya-tanya apa yang akan terjadi di lembaran waktu yang baru yang masih membentang di hadapan. Sering sambil berharap-harap berbagai keinginan dan rencana saya, akan berjalan sesuai dengan yang saya inginkan di tahun yang baru. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harapan.  Ya, mungkin itulah yang membuat sebuah momen pergantian tahun selalu menarik dan bukan sekedar sebuah rutinitas menyobek kalender di dinding. Harapan selalu mampu membuat rencana-rencana yang telah gagal terlaksana, dijadwal  dan ditata ulang. Harapan membuat keinginan-keinginan yang tidak terjadi di waktu yang lalu menemukan kemungkinan untuk membuncah dan berbuah lagi. Harapan mampu membuat luka-luka dan kekecewaan di waktu yang telah lewat mereda dan mengering dengan kemungkinan untuk tersembuhkan. Harapan selalu mengajak saya untuk terus hidup dan berjalan.  Terus mencoba berdiri lagi, walaupun telah jatuh. Walaupun ada kegagalan dan luka. Walaupun ada penyesalan dan kekeliruan. Ya, waktu yang berjalan memungkinkan harapan berbunga dan berbuah. Memungkinkan kesempatan kembali terbuka. Mungkin harapan adalah hadiah Tuhan buat manusia untuk terus bertahan dalam perjalanan waktu dalam kehidupan ini. Harapan adalah inti dari kehidupan itu sendiri. Tanpa harapan tidak ada kehidupan, dan tanpa harapan pergantian tahun dan perjalanan waktu menjadi tidak ada maknanya lagi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahun akan terus berganti. Bumi mungkin tetap akan makin panas. Dunia mungkin masih akan banyak peperangan dan permusuhan. Kesulitan dan bencana mungkin masih akan datang silih berganti. Tetapi Tuhan sejak awal telah melihat bahwa segala sesuatu adalah baik. Dan di dalam Tuhan ada harapan. Dia membiarkan waktu terus berjalan tetapi tidak membiarkan manusia berjalan seorang diri mengarunginya. Tuhan menaruh harapan di dalam hati saya. Harapan bahwa semuanya akan menjadi baik dan selalu lebih baik. Dengan harapan akan kebaikan seperti saat Tuhan menjadikan saya dan dunia ini pada mulanya, saya akan berjalan dalam kebaikan dan menuju kebaikan. Harapan membuat semua itu mungkin sekalipun kelihatannya dunia ini bergerak ke arah yang sebaliknya. Tetapi di situ Tuhan bekerja supaya saya terus bertumbuh. Tuhan tidak pernah menyerah. Karena Tuhan sendirilah Harapan itu. Maka harapan bersama Tuhan dan di dalam Tuhan tidak akan pernah menjadi harapan yang kosong dan sia-sia. Demikian juga saya tidak akan menyerah. Untuk terus hidup dan berjalan dalam kebaikan. Harapan akan memungkinkan jalan-jalan kebaikan itu terus terbuka. Karena Sang Sumber Harapan berjalan bersama kita, menjadi bekal yang selalu menggairahkan seluruh perjalanan kita menembus waktu dan kehidupan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Uti,&lt;br /&gt;Houston, 1 Januari 2010&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1926296286733356721-1386056707934631780?l=mylittlecandle.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mylittlecandle.blogspot.com/feeds/1386056707934631780/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mylittlecandle.blogspot.com/2010/01/harapan-hadiah-tahun-baruku.html#comment-form' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1926296286733356721/posts/default/1386056707934631780'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1926296286733356721/posts/default/1386056707934631780'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mylittlecandle.blogspot.com/2010/01/harapan-hadiah-tahun-baruku.html' title='Harapan, hadiah tahun baruku'/><author><name>triastuti</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06669118216388127857</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_rcwu8-Ne2jg/ShxT7i_4VRI/AAAAAAAABF8/Vwh_OTSVurg/S220/DSC05118.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_rcwu8-Ne2jg/Sz6F4lnM2aI/AAAAAAAABXk/c0XCbXKq04o/s72-c/DSC07517.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1926296286733356721.post-1050798867594940758</id><published>2009-12-08T11:35:00.001-08:00</published><updated>2009-12-10T19:14:08.500-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='candle of light'/><title type='text'>Indahnya Diam</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_rcwu8-Ne2jg/Sx6qxiv4QhI/AAAAAAAABWo/dNSmbYbjaOs/s1600-h/uti+berdoa.JPG"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 150px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_rcwu8-Ne2jg/Sx6qxiv4QhI/AAAAAAAABWo/dNSmbYbjaOs/s200/uti+berdoa.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5412951570263851538" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Ketika aku terus bicara dan temanku diam, aku melupakan kesedihan hatinya, karena berfokus pada keinginanku diperhatikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika aku selalu bicara dan orangtuaku diam, aku melupakan keletihan mereka, karena aku berfokus pada kebutuhanku untuk diakui.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika aku sibuk bicara dan suamiku diam, aku melupakan kebutuhannya akan keheningan setelah seharian sibuk di kantor, karena aku berfokus pada argumen-argumen ku mengenai kehidupan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika aku ramai bicara dan tetanggaku diam, aku melupakan kerinduannya untuk juga menceritakan persoalan hidupnya, karena aku berfokus pada permasalahanku sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Betapa banyaknya yang aku lupakan ketika aku sibuk berbicara. Betapa banyaknya keidahan yang aku lewatkan, ketika aku terus saja bicara kepada Tuhan. Aku lupa Tuhan ingin menunjukkan hikmat kehidupan kepadaku, tapi aku tidak memberiNya kesempatan karena aku sibuk memohon dan meminta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika suatu hari aku mencoba diam dan membiarkan Tuhan berbicara……hatiku terbuka….betapa aku menjadi sadar bahwa Ia begitu mengasihiku. Betapa besarnya kasih itu, hingga aku tak sanggup menerimanya seorang diri, hanya dengan meneruskannya kepada sesamaku, aku dapat menikmati kasihNya sepenuhnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan aku yang diam mendengarkan sesamaku yang berbicara, memperhatikan dan merasakan semua keluhan yang ia rasakan di balik kata-katanya, aku melihat kasihNya yang besar di dalam diriku itu menemukan jalan untuk kuteruskan kepada mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika aku diam, aku punya kesempatan untuk menyadari apa yang ada di sekitarku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku memandangi seekor anjing yang dengan setia berjalan di samping tuannya menikmati udara pagi yang cerah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku melihat tanaman-tanaman indah yang subur menghias halaman tempat tinggalku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anjing itu, tanaman-tanaman itu,........ semuanya diam, tak bersuara. Menyuguhkan kehadiran mereka yang penuh kasih kepada kehidupan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam diam, kasih mereka utuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam absennya bicara, tak ada unjuk ego, tak ada pertikaian tak perlu, tak ada saling serang, tak ada luka menganga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diam membuka jalan kepada kesadaran akan keterbatasan diri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diam membuka jalan kepada hati untuk berbicara menyuarakan kedamaian&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diam memberi kesempatan alam kehidupan dan ciptaan merasakan kasih dan kehadiran Sang Pencipta, sedalam-dalamnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alangkah indahnya belajar untuk diam dan sungguh mendengarkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adven pertama,&lt;br /&gt;Houston, 3 Des 09&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1926296286733356721-1050798867594940758?l=mylittlecandle.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mylittlecandle.blogspot.com/feeds/1050798867594940758/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mylittlecandle.blogspot.com/2009/12/indahnya-diam.html#comment-form' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1926296286733356721/posts/default/1050798867594940758'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1926296286733356721/posts/default/1050798867594940758'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mylittlecandle.blogspot.com/2009/12/indahnya-diam.html' title='Indahnya Diam'/><author><name>triastuti</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06669118216388127857</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_rcwu8-Ne2jg/ShxT7i_4VRI/AAAAAAAABF8/Vwh_OTSVurg/S220/DSC05118.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_rcwu8-Ne2jg/Sx6qxiv4QhI/AAAAAAAABWo/dNSmbYbjaOs/s72-c/uti+berdoa.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1926296286733356721.post-3085533306952541592</id><published>2009-11-25T13:45:00.000-08:00</published><updated>2009-11-25T13:50:19.471-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='candle of love'/><title type='text'>A Dressing of Change</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_rcwu8-Ne2jg/Sw2mlfDXPKI/AAAAAAAABWQ/c7M2P-t0Z6Q/s1600/DSC05235.JPG"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 112px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_rcwu8-Ne2jg/Sw2mlfDXPKI/AAAAAAAABWQ/c7M2P-t0Z6Q/s200/DSC05235.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5408161890462809250" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;It was our first month living in the US, and our tenth years of marriage. It seems to me at that period of marriage, nothing would surprise me anymore, even though our life had just about to enter a new chapter of adventure in America. I love my husband very much, and I am content that he loves me back just the way I need it. Everything seems perfect to us, nothing more than our regular ups and downs. My husband is an angel.  And I always think that our marriage sustains beautifully more because of his nature rather than mine.  That’s the way I had perceived it, the way that was like a comfort zone to me, until that particular evening, when we had a casual dinner, in a casual restaurant.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The restaurant was very busy and crowded. “Look honey, the rib eye steak seems tempting”, my hubby exclaimed as we stared at the fancy menu card. He said that to me in a manner of approval-seeking. “Yup, so let’s pick that. I’m about to take the crispy shrimps”, I responded enthusiastically. It’s our habit to order meals for two that both are desirable to me, since I always want to try any new stuff we find at a restaurant. My hubby has always been so kind and understanding to let me choose what I want to try, as long as he can enjoy it too. As far as I know, his choice is always so flexible and that he is more than happy to share meal that satisfies my curiosity. A waiter approached us with a friendly grin, “Are you guys ready?”  The guy was very warm and friendly despite of his juggling service between the demanding customers. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“So what do you want for your dressing, Sir?” he asked my hubby for the salad he chose. Before my husband responded, I heard my voice asking, “What do you have?” The waiter mentioned thousand islands, ranch, honey mustard, and some more. Being only familiar with thousand islands, my hubby picked it, which I cut immediately, almost automatically, “No, darling, it’s better the ranch”. Thousand-islands is just too fatty”.  Actually, claiming about fatty was only my justification to try what I assumed as the new one for me, between the other dressings that have been known to me. However, it was just out of our habit that my hubby would pick anything I want to try. Unexpectedly, the waiter was overwhelmed, lamenting to my husband, “You know Sir, my father has been married for three times, and all his wives had tried to take everything from him, believe me”. He then came back with two kinds of dressing, ranch and thousand-island, special for my hubby. Something he would not do in daily circumstances, obviously because he sympathized with what he might feel as a victim of a dictator wife.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;My hubby was perfectly okay, as usual, but I was not. During his service to our table, while going back and fro, the friendly waiter kept ‘teasing’ my spouse that he won’t get anything he wanted without my permission. I felt that the waiter had hated me for being so authoritarian to my spouse. I was too embarrassed to response. Never in my life had I imagined to have such harsh comments. But from that moment I realized how serious my habit to pick everything just for satisfying me in the sight of others is. How many years I have overlooked my selfishness?  Just because my husband is okay with all his sacrifice to fulfill my needs, it doesn’t mean that I am justified to neglect his rights, his desire, his choice. One day, I might come back to that restaurant, trying to find the cynical waiter and thanking him. It was not his fault for being cynical that night. He had just shown me a knowledge I have missed for years in my marriage, knowledge of knowing myself and of giving respect my soul mate deserves.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Houston,October 2009&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1926296286733356721-3085533306952541592?l=mylittlecandle.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mylittlecandle.blogspot.com/feeds/3085533306952541592/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mylittlecandle.blogspot.com/2009/11/dressing-of-change.html#comment-form' title='4 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1926296286733356721/posts/default/3085533306952541592'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1926296286733356721/posts/default/3085533306952541592'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mylittlecandle.blogspot.com/2009/11/dressing-of-change.html' title='A Dressing of Change'/><author><name>triastuti</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06669118216388127857</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_rcwu8-Ne2jg/ShxT7i_4VRI/AAAAAAAABF8/Vwh_OTSVurg/S220/DSC05118.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_rcwu8-Ne2jg/Sw2mlfDXPKI/AAAAAAAABWQ/c7M2P-t0Z6Q/s72-c/DSC05235.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1926296286733356721.post-407169071138044400</id><published>2009-11-25T13:40:00.000-08:00</published><updated>2009-11-25T13:44:09.307-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='candle of light'/><title type='text'>Benjol (alias benjut)</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_rcwu8-Ne2jg/Sw2lH55KxaI/AAAAAAAABWI/C2A8Q6M5DJU/s1600/DSC05553.JPG"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 150px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_rcwu8-Ne2jg/Sw2lH55KxaI/AAAAAAAABWI/C2A8Q6M5DJU/s200/DSC05553.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5408160282760103330" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Ketika masih duduk di awal bangku sekolah dasar, saya pernah memainkan orang buta-orang butaan dengan kakak perempuan saya. Kakak saya menutup matanya, pura-pura seperti orang yang tidak dapat melihat, dan saya menuntunnya berjalan ke sekitar. Setelah puas berjalan beberapa waktu berdua, kami akan saling berganti peran. Tentunya permainan ini meminta kami untuk saling percaya bahwa dalam keadaan tidak dapat melihat,  salah seorang dari kami yang sedang tidak menjadi orang buta akan selalu membawa kami ke tempat yang aman dan tidak mencelakakan kami.  Di situlah salah satu letak keasyikan permainan ini bagi kami, selain mengalami bagaimana rasanya kalau tidak bisa melihat. Kalau diingat-ingat lagi rasanya geli. Memang anak-anak senang bermain yang aneh-aneh dan mencoba segala kemungkinan yang menarik perhatiannya. Bagi orang dewasa kadang permainan mereka terasa lucu dan konyol. Tetapi begitulah, anak-anak memang mempunyai dunianya sendiri , yang tidak selalu bisa dipahami oleh orang dewasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun pada suatu hari, permainan kepercayaan ini ternyata harus saya nodai karena keisengan yang kemudian saya sesali hingga hari ini. Hari itu kami bermain di sebuah lapangan rumput sebuah universitas dekat rumah kami ,di mana di tengah-tengahnya terpasang sebuah tiang bendera untuk upacara bendera. Saat itu sedang giliran saya menuntun kakak yang sedang berperan sebagai orang buta dan memejamkan mata. Saat kami hendak melewati tiang bendera itu, tiba-tiba timbul pikiran jahil di kepala saya. Sambil memegang lengan kakak saya yang sedang saya tuntun, saya memandangi dahinya dan berpikir apa yang terjadi  bila saya mengadu dahi kakak dengan tiang bendera yang sudah dekat di hadapan kami. Saya mengarahkan kakak saya ke tiang bendera itu dan….dukk, dahinya membentur tiang dengan pelan. Saat itu saya merasa yakin kakak tidak akan kenapa-kenapa karena saya memegangi lengannya supaya tidak terlau keras membentur tiang. Kontan kakak saya membuka matanya dengan terkejut, ia melotot memandangi saya dengan marah, “Lho, hei..! Piye sih kowe ini, kok kamu benturkan aku ke tiang, huuh…kaget aku” serunya sambil mengusap-usap dahinya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semula saya sibuk menahan tawa saya yang hampir meledak, tetapi menyadari kakak marah dan kemungkinan hukuman yang akan diberikan orangtua kami, saya menjadi gentar. Saya lantas berbohong untuk menghindari kemarahan kakak dan orangtua, dengan mengatakan, “Aduh, sori ya, tadi waktu aku menuntun kamu, aku juga sedang mencoba ikut merem (memejamkan mata). Sehingga aku tidak melihat tiang ini” Memang sebuah jawaban yang nyaris tidak masuk akal, tetapi saat itu kakak saya bisa menerima dan hanya menyesali kekonyolan saya tanpa kemarahan yang berlanjut. Yang tidak saya duga adalah akibat dari perbuatan saya itu. Ternyata dahi kakak memar sedikit. Saya makin merasa bersalah dan sedih, serta  sedikit takut. “Aduh, dahi kakakku benjol”, pikir saya galau. Ibu kami menaruh beras tumbuk di dahi kakak sebagai pengobatan tradisional yang dikenal ibu saat itu untuk mengurangi memar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebetulan hari itu adalah hari menjelang kakak saya berulangtahun. Sampai sekarang kami masih menyimpan foto ulang tahun kakak dimana kami sekeluarga makan malam bersama dengan dahi kakak berwarna putih karena beras tumbuk yang dibubuhkan ibu untuk mengobati dahinya yang memar.  Foto itu sangat lucu dan kami sekeluarga selalu tertawa melihatnya. Semua tertawa gembira termasuk kakak. Hanya saya yang menyimpan kesedihan di hati karena menyadari akibat perbuatan saya dan kebohongan saya.  Hati saya berat menyimpan kesedihan dan rasa bersalah yang cukup dalam. Apalagi rahasia kebohongan saya, bahwa saya turut memejamkan mata saat menuntun kakak di hari itu di lapangan bendera, baru saya akui dengan terus terang kepada kakak bertahun-tahun kemudian setelah kami beranjak dewasa.  Kakak saya tidak merasa marah atau jengkel lagi, karena peristiwanya telah lama sekali berlalu.  Saya pun berterimakasih kepada kakak karena telah memaafkan saya dan mengampuni sikap saya yang pengecut. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Benjol di dahi kakak itu memang hanya terjadi sebentar saja, namun benjol di hati saya tidak hilang begitu saja, bertahun-tahun setelah peristiwa itu berlalu. Saya sedih menyadari sisi gelap dari diri saya. Kecenderungan untuk berbuat sesuatu yang saya tahu dapat melukai sesama yang kadang-kadang membuat  saya takut kepada diri saya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kecenderungan-kecenderungan negatif yang tidak dikendalikan, kesalahan-kesalahan yang tidak diakui serta dianggap tidak pernah ada, ternyata membuat jiwa kita benjol-benjol, dan memori kenangan yang seharusnya manis menjadi ternoda. Sekarang saya paham mengapa  Gereja menyediakan Sakramen Pengampunan Dosa.  Sakramen itu tidak hanya memperbaiki relasi kita dengan Tuhan, tetapi juga dengan diri sendiri, yang seringkali menjadi pihak yang paling akhir dan paling sulit untuk diajak berdamai.  Sakramen itu juga menyadarkan saya bahwa kita memang setiap saat dapat jatuh, tetapi Tuhan selalu siap untuk mengampuni, seperti sikap yang ditunjukkan kakak saya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila penyebab penderitaan di dunia ini didata secara statistik, mungkin lebih banyak penderitaan yang disebabkan oleh hubungan antar manusia daripada yang disebabkan oleh bencana alam. Alam tidak pernah secara sengaja menyakiti manusia. Kalaupun ia bereaksi, itu karena keseimbangannya diganggu. Tetapi manusia bisa dengan sangat mudah menyakiti manusia lainnya. Kadang konflik semacam itu wajar karena sifat relasi antar manusia dengan perbedaan kepribadian dan latar belakang adalah sangat dinamis. Tetapi sikap yang didasari pengabaian, iri hati, kesombongan, mementingkan diri sendiri, menjadi sumber-sumber yang berpotensi besar menimbulkan luka pada pribadi dan relasi antar manusia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesediaan Tuhan Yesus untuk melupakan diri sendiri dan menderita bagi sahabat-sahabatNya telah banyak sekali memulihkan luka-luka yang ditimbulkan oleh keegoisan manusia. Itulah sebabnya, mengikuti Dia selalu menjanjikan akhir yang manis dan kenangan yang membahagiakan.  Namun mengikuti jalan Yesus dan ajaran-ajaranNya yang kudus seringkali sangat sulit, kadang terasa menyusahkan dan makan hati. Bahkan teladan memberikan nyawa menurut kebanyakan orang adalah nyaris mustahil.  Sungguh benar, mungkin tidak banyak orang bisa membantahnya. Jalan menuju kehidupan tidak pernah mudah. Jalannya sempit, dan pintunya sesak. Berkorban, mengalah, mengampuni,  jujur, menepikan ego demi kebaikan orang lain, merendahkan diri, setia pada komitmen, menjaga kemurnian, semua itu cenderung tidak enak, dan umumnya sangat sukar. Tetapi bukan tidak mungkin, apalagi bila Dia sendiri yang memberi kekuatan dan menginspirasi sepanjang jalan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memilih jalan saya sendiri dan menuruti apa yang sekedar menyenangkan saya, ternyata seringkali berujung kepada kesedihan dan penyesalan. Bukan hanya untuk saya sendiri, tetapi juga orang lain, bahkan bagi orang yang saya sayangi. Jauh lebih baik saya memilih yang tidak enak demi kasih, untuk kemudian mengalami akhir yang manis bersama Tuhan, daripada senang-senang mengikuti keinginan dan nafsu pribadi, tetapi lalu belakangan  tersisa kepedihan dan penyesalan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yesus sudah benjol-benjol  dan luka habis-habisan untuk saya, Dia yang Maha Tinggi sudah merendahkan diri sedemikian rendahnya, supaya, pada saat situasi memerlukan, saya pun belajar benjol-benjol mengikuti  Dia dalam kerendahan hati, untuk kemudian menikmati akhir perjalanan dalam sukacita dan damai sejahtera. Kalau dipikir-pikir, kedua pilihan itu memang sama-sama benjol dan benjut. Bedanya adalah kalau pilih jalan sendiri, hasilnya mungkin bisa benjut plus bonus luka dan penyesalan. Kalau memilih berjalan bersama Yesus, benjut plus damai sejahtera dan membahagiakan banyak pihak, termasuk diri sendiri dan Tuhan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kerelaan Tuhan Yesus untuk selalu bersama manusia dan ketulusan cintaNya yang tanpa pamrih setiap saat kepada kita, menyembuhkan semua benjut dan benjol jiwa kita. Sesungguhnya manusia telah diciptakan sedemikian sehingga hanya bersama Tuhan jiwa kita menemukan kebahagiaan yg sejati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Your life in Christ makes you strong, and his love comforts you. You have fellowship with the Spirit, and you have kindness and compassion for one another (Phil 2:1)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Uti, Houston, 24 Oktober 2009&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk kakakku tercinta Helena Nursanti “Mbanti” Djiwandono&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1926296286733356721-407169071138044400?l=mylittlecandle.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mylittlecandle.blogspot.com/feeds/407169071138044400/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mylittlecandle.blogspot.com/2009/11/benjol-alias-benjut.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1926296286733356721/posts/default/407169071138044400'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1926296286733356721/posts/default/407169071138044400'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mylittlecandle.blogspot.com/2009/11/benjol-alias-benjut.html' title='Benjol (alias benjut)'/><author><name>triastuti</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06669118216388127857</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_rcwu8-Ne2jg/ShxT7i_4VRI/AAAAAAAABF8/Vwh_OTSVurg/S220/DSC05118.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_rcwu8-Ne2jg/Sw2lH55KxaI/AAAAAAAABWI/C2A8Q6M5DJU/s72-c/DSC05553.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1926296286733356721.post-3189050714788846050</id><published>2009-08-20T08:37:00.000-07:00</published><updated>2009-08-20T11:34:51.943-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='the candle of Mother Mary'/><title type='text'>Sesungguhnya aku ini hamba Tuhan</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_rcwu8-Ne2jg/So1uGc3bk2I/AAAAAAAABQM/2jwEWVd6caQ/s1600-h/DSC01764.JPG"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 112px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_rcwu8-Ne2jg/So1uGc3bk2I/AAAAAAAABQM/2jwEWVd6caQ/s200/DSC01764.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5372070987629826914" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan, jadilah padaku menurut perkataanMu (Lukas 1:38)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bunda yang bersahaja..&lt;br /&gt;dalam kerendahan hati dan ketaatanmu &lt;br /&gt;kau bulat mengatakan  ‘ya’ kepada Bapa.&lt;br /&gt;Keberanianmu mempercayakan segalanya pada Yang Kuasa&lt;br /&gt;telah menghadirkan seorang Penebus Suci tiada bandingnya&lt;br /&gt;menjadi sumber harapan, kehidupan, serta sukacita seluruh umat manusia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Di situ ia masuk ke rumah Zakharia dan memberi salam kepada Elisabet (Lukas 1: 40)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Bunda yang sabar dan sederhana..&lt;br /&gt;suaramu yang lembut penuh cinta kepada sesama&lt;br /&gt;adalah suara pertama yang didengar &lt;br /&gt;oleh Bayi Kudus yang menjadi manusia&lt;br /&gt;di dalam rahimmu.&lt;br /&gt;Dan irama detak setiap jantungmu…&lt;br /&gt;adalah irama kehidupan pertama &lt;br /&gt;seiring degupan jantungNya sebagai manusia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan AnakNya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepadaNya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal. (Yoh 3: 16)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;KerinduanNya untuk menjadi sama seperti manusia &lt;br /&gt;dan berada di tengah-tengah manusia&lt;br /&gt;dengan segala suka duka  dan pergumulannya&lt;br /&gt;kau aliri dengan darah segar kehidupan pertama ..&lt;br /&gt;seorang manusia sempurna.&lt;br /&gt;Ia tumbuh bersama derasnya aliran darahmu,&lt;br /&gt;darah cinta, iman, dan pengabdian kepada Sang Pencipta&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bunda manis tersuci…&lt;br /&gt;di dalam rahim kudusmu,&lt;br /&gt;degup jantung cintamu,&lt;br /&gt;dan deras darah merah imanmu…..&lt;br /&gt;kaunyatakan pengorbanan dan pengabdianmu…&lt;br /&gt;mengandung dan melahirkan Sang Pencipta&lt;br /&gt;membesarkanNya dengan teladan cinta dan kesabaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesetiaan iman yang menopangmu&lt;br /&gt;membentang teguh sepanjang Yerusalem dan Nazaret&lt;br /&gt;menguatkan setiap keputusanmu sejak Betlehem hingga Kalvari&lt;br /&gt;walau engkau tak pernah sepenuhnya memahami&lt;br /&gt;rencana Agung Sang Pemilik Kehidupan&lt;br /&gt;bagi keselamatan dan kedamaian kekal semua ciptaanNya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tersentuh hatiku saat mendaraskan doaku padamu&lt;br /&gt;di saat aku sibuk memikirkan &lt;br /&gt;kepentingan diri dan keinginan-keinginanku sendiri&lt;br /&gt;engkau menyimpan semua perkara dalam hatimu&lt;br /&gt;hati yang selalu haus untuk mengikuti kehendak Bapa&lt;br /&gt;menyangkal  kehendak dan kepentinganmu sendiri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terimakasih buat semua teladan dan doamu Bunda&lt;br /&gt;Biarlah semangat kerendahan hatimu&lt;br /&gt;menghiasi setiap gerak gerik jiwaku&lt;br /&gt;mengantarku pulang kepada kebangkitan kekal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Uti&lt;br /&gt;San donato, 20 Agustus 09&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1926296286733356721-3189050714788846050?l=mylittlecandle.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mylittlecandle.blogspot.com/feeds/3189050714788846050/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mylittlecandle.blogspot.com/2009/08/sesungguhnya-aku-ini-hamba-tuhan.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1926296286733356721/posts/default/3189050714788846050'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1926296286733356721/posts/default/3189050714788846050'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mylittlecandle.blogspot.com/2009/08/sesungguhnya-aku-ini-hamba-tuhan.html' title='Sesungguhnya aku ini hamba Tuhan'/><author><name>triastuti</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06669118216388127857</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_rcwu8-Ne2jg/ShxT7i_4VRI/AAAAAAAABF8/Vwh_OTSVurg/S220/DSC05118.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_rcwu8-Ne2jg/So1uGc3bk2I/AAAAAAAABQM/2jwEWVd6caQ/s72-c/DSC01764.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1926296286733356721.post-424521251546633346</id><published>2009-08-20T08:25:00.000-07:00</published><updated>2010-01-26T11:08:25.438-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='candle of light'/><title type='text'>Menunggu</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_rcwu8-Ne2jg/So1stJWdghI/AAAAAAAABQE/DXk-gbSzb1M/s1600-h/100_1152.JPG"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 150px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_rcwu8-Ne2jg/So1stJWdghI/AAAAAAAABQE/DXk-gbSzb1M/s200/100_1152.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5372069453382910482" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Menunggu umumnya bukan suatu kegiatan yang menyenangkan, dan biasanya jauh dari produktif. Maka mungkin kurang tepat juga disebut sebagai kegiatan. Orang tidak dengan sadar mau menunggu. Biasanya ia hanya dilakukan karena dipaksa oleh keadaan. Apalagi bila menunggu cukup lama, di tempat yang tidak mengenakkan, atau dalam keadaan kita sakit atau lelah, maka menunggu terasa lebih berat. Ditambah lagi bila kepastian hal yang ditunggu tidak jelas dan tidak tampak adanya perkembangan yang berarti. Jaman yang serba tergesa-gesa oleh persaingan hidup dan serba instan ini membuat sebisa mungkin orang menghindari menunggu. Namun kebanyakan kegiatan menunggu menguji kualitas kesabaran kita. Menunggu antrian di bank sementara pekerjaan di kantor masih menumpuk, atau menanti di ruang tunggu rumah sakit dalam keadaan tubuh yang lemah karena sakit, seringkali membuat kita merasa tidak berdaya. Seiring dengan kesabaran yang mulai menipis, kemarahan dan gerutu pun mulai menebal. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayangnya dalam setiap dalam setiap episode kehidupan, pasti ada saatnya kita harus mengalami saat-saat menunggu. Lamanya bervariasi, bisa hanya lima belas menit antri membayar di kasir yang itupun sudah cukup membuat kita resah. Bisa juga sepuluh tahun bila yang ditunggu adalah pertobatan seorang anak atau kehadiran sang buah hati dalam sebuah pernikahan. Menunggu menjadi lebih ringan jika kita mempunyai pengalih perhatian yang produktif atau ditemani seseorang dan / atau situasi yang menyenangkan, sehingga kita tidak bete atau mati gaya, istilah anak muda jaman sekarang. Namun bagi saya itu tidak harus, setelah apa yang saya lihat di sebuah hari yang terik di sudut kota Bandung mengubah cara pandang saya terhadap suatu penantian dan kegiatan terpaksa yang bernama menunggu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siang itu, sambil berjalan di antara kerumunan pengunjung yang berbelanja di pasar Simpang, Bandung, saya melihatnya. Seorang bapak tua yang duduk berjongkok di trotoar jalan masuk menuju jalan Cisitu. Nampaknya tubuhnya yang kurus kering membuatnya tidak sulit untuk bertahan dalam posisi jongkok dalam waktu yang lama. Yang membuat saya trenyuh adalah benda yang ditungguinya dengan sabar di hadapannya. Sebuah timbangan badan. Dan wajah rentanya itu. Begitu pasrah, tenang, dan sabar. Bapak itu tidak tampak diburu apapun, bahkan di mata saya ia tampak tidak memerlukan apapun. Wajahnya begitu damai, walau nampak gurat kelelahan dan kegerahan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Timbangan badan. Di tengah hilir mudik manusia dengan berbagai kepentingan dan urusan yang seolah tidak dapat ditunda lagi atau disela barang sedetik pun. Di tengah kebutuhan perut-perut lapar yang harus segera diisi. Dan panas terik matahari siang yang membuat orang ingin segera sampai ke tempat tujuan. Tak seorangpun rasanya di antara manusia-manusia yang sibuk berlalu lalang itu akan terpikir untuk menghampiri bapak tua itu dan menimbang berat badannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya menelan ludah, terasa kering dan tercekat. Hawa kemisikinan dan ketidakberdayaan tiba-tiba terasa begitu pekat menyekap hidung saya sehingga saya merasa tarikan napas di dada menjadi berat. Gerahnya udara kemarau Bandung seolah menambah rasa ketidakberdayaan itu. Tetapi kesabaran Bapak itu menunggu, dalam kepasrahannya, dalam usahanya yang begitu bersahaja, terasa menyejukkan hati saya sampai ke dalam tulang. Betapa cengengnya saya kalau harus menunggu sebentar saja. Gelisah mencari cara agar proses penantian itu bisa dikurangi semaksimal mungkin atau kalau perlu dipangkas sekaligus. Semuanya harus cepat dan efisien. Tetapi ingatan dan kenangan saya akan bapak tua yang menyewakan timbangan badan demi sepeser seratus rupiah untuk setiap pelanggan, di tengah teriknya mentari kota besar, dengan kesabaran dan ketenangan hingga ke ujung hari, telah mengubah cara pandang saya kepada sebuah proses menunggu. Menunggu melatih kesabaran jiwa, sebuah kesempatan untuk menemukan kembali jati diri kita yang sesungguhnya. Yaitu jati diri manusia yang dinilai karena ikhtiarnya, ketegarannya, dan kerelaannya, untuk menjalani hidup dan tantangan di dalamnya harapan, dengan mawas diri, dengan kerendahan hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak hari itu, menunggu tidak lagi menjadi kegiatan pasif  bagi saya. Bila saya harus menunggu sesuatu di luar kemauan saya, saya mengingat kembali bahwa menunggu memberi saya kesempatan untuk mengamati keberadaan di sekitar saya, mengamati diri saya dalam introspeksi, merenungkan apa yang bisa saya buat bagi keadaan di sekitar saya, mungkin bagi saya sendiri, dan bagi Tuhan.  Menunggu dalam keheningan menyadarkan jiwa saya yang bersyukur  kepada Tuhan yang telah memberi kehidupan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;uti&lt;br /&gt;san donato,20 Agustus 09&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1926296286733356721-424521251546633346?l=mylittlecandle.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mylittlecandle.blogspot.com/feeds/424521251546633346/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mylittlecandle.blogspot.com/2009/08/menunggu.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1926296286733356721/posts/default/424521251546633346'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1926296286733356721/posts/default/424521251546633346'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mylittlecandle.blogspot.com/2009/08/menunggu.html' title='Menunggu'/><author><name>triastuti</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06669118216388127857</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_rcwu8-Ne2jg/ShxT7i_4VRI/AAAAAAAABF8/Vwh_OTSVurg/S220/DSC05118.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_rcwu8-Ne2jg/So1stJWdghI/AAAAAAAABQE/DXk-gbSzb1M/s72-c/100_1152.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1926296286733356721.post-390545915871394082</id><published>2009-08-20T08:21:00.000-07:00</published><updated>2009-08-20T08:35:14.408-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='candle of love'/><title type='text'>Dagu yang cantik</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_rcwu8-Ne2jg/So1qWGrnz7I/AAAAAAAABP8/EfuECb8fcIg/s1600-h/DSC06666.JPG"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 150px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_rcwu8-Ne2jg/So1qWGrnz7I/AAAAAAAABP8/EfuECb8fcIg/s200/DSC06666.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5372066858506112946" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Seorang ibu yang tidak saya kenal di trem yang saya naiki di tengah kota Milan menegur saya sambil berkata, “bella”  sembari menunjuk dagu saya dan mengikuti bentuknya dengan isyarat tangan. Bella dalam bahasa Italia berarti ‘cantik’. Walau tidak bisa dipukul rata, orang Italia memang terkenal dengan keramahan dan kespontanan-nya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya kaget, tak sadar mengangkat tangan saya untuk meraba dagu saya sendiri. Tidak seorangpun pernah mengatakan bahwa dagu saya cantik, bahkan tidak ibu saya dan suami saya sendiri. Satu kata singkat dan sikap simpatik ibu asing di trem itu telah mengubah persepsi saya terhadap bentuk wajah saya untuk selamanya. Sejak hari itu, setiap kali saya bercermin, apa yang saya pikirkan tentang wajah saya tidak pernah sama lagi. Saya baru menyadari setelah umur saya 38 tahun, bahwa wajah manis saya terbentuk antara lain karena bentuk dagu saya yang proporsional dan berbentuk seperti wajik. Dan itu berkat sepatah kata penuh keramahan seorang ibu Italia yang tak pernah saya kenal dan ketahui namanya, serta hanya bersama selama kurang lebih sepuluh menit di dalam trem. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita tak pernah tahu betapa besarnya pengaruh kata-kata yang baik dan sikap yang positif kepada sesama kita. Mungkin hanya didengarkan sambil lalu dan dilupakan kembali, tetapi mungkin juga mengubah hidup seseorang dan memenuhinya dengan semangat dan harapan baru dalam hidupnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu kata yang baik dan hangat di saat apapun tidak akan pernah memberikan dampak yang merugikan. Pakailah setiap kesempatan yang ada dalam hidup kita untuk membesarkan hati sesama dengan kata dan perbuatan yang baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Seseorang bersukacita karena jawaban yang diberikannya, dan alangkah baiknya perkataan yang tepat pada waktunya ! (Amsal 15 : 23)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Uti&lt;br /&gt;San donato, 19 Agustus 09&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1926296286733356721-390545915871394082?l=mylittlecandle.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mylittlecandle.blogspot.com/feeds/390545915871394082/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mylittlecandle.blogspot.com/2009/08/dagu-yang-cantik.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1926296286733356721/posts/default/390545915871394082'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1926296286733356721/posts/default/390545915871394082'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mylittlecandle.blogspot.com/2009/08/dagu-yang-cantik.html' title='Dagu yang cantik'/><author><name>triastuti</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06669118216388127857</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_rcwu8-Ne2jg/ShxT7i_4VRI/AAAAAAAABF8/Vwh_OTSVurg/S220/DSC05118.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_rcwu8-Ne2jg/So1qWGrnz7I/AAAAAAAABP8/EfuECb8fcIg/s72-c/DSC06666.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1926296286733356721.post-1427682107322384361</id><published>2009-08-20T08:14:00.000-07:00</published><updated>2009-08-20T08:21:01.113-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='candle of faith'/><title type='text'>Kontrak hidup</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_rcwu8-Ne2jg/So1o0lCZbNI/AAAAAAAABP0/cD2qjY4hki0/s1600-h/100_1141.JPG"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 150px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_rcwu8-Ne2jg/So1o0lCZbNI/AAAAAAAABP0/cD2qjY4hki0/s200/100_1141.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5372065183027522770" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari-hari awal menginjakkan kaki pertama kali di Italia, saya selalu mengatakan kepada diri saya bahwa di tempat yang baru dan indah ini saya tidak akan tinggal selamanya. Kontrak suami saya dengan perusahaan tempatnya bekerja, yang membuat saya merantau ke negeri pizza ini, adalah untuk dua tahun. Menyadari keindahan dan kemajuan salah satu negara paling terkenal di Eropa karena kekayaan peninggalan budayanya ini, saya mengingatkan diri sendiri untuk tetap ingat akan jangka waktu saya dan berjanji kepada diri sendiri untuk tidak terlalu terbuai dalam kegembiraan sehingga menimbulkan keterikatan yang menyakitkan saat semua petualangan saya berakhir nanti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika kita lahir di dunia ini, sesungguhnya kita terikat dengan kontrak yang serupa. Kita tidak untuk selamanya berada di dunia ini. Kesempatan, kesehatan, masa muda, ingatan, kesuksesan pekerjaan, kecantikan, semuanya adalah hal-hal yang menyurut dengan berjalannya waktu. Semuanya dipercayakan kepada kita untuk digunakan dengan sebaik-baiknya untuk mengembangkan diri spenuh-penuhnya dan menjadi mitra Allah untuk merawat dan mengembangkan manusia dan alam ciptaanNya.  Menjadi kepanjangan tangan-tanganNya untuk membuat dunia dan kehidupan menjadi lebih baik dan indah dengan cinta dan karya kita, seturut kehendakNya.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun seindah dan sehebat apapun perjalanan hidup kita, semuanya akan menuju ke titik yang sama yaitu kematian. Selesainya kontrak dengan masa muda, jabatan dan karir, kesehatan, bahkan hidup itu sendiri  tidak perlu berjalan dengan menyakitkan bila kita mengisi kehidupan ini dengan sebaik-baiknya menurut tugas panggilan dari Allah Bapa sesuai teladan PuteraNya dan menyerahkan kembali dengan lepas bebas segala hal yang kita miliki sebagai hadiah – bukan hak milik yang harus dipertahankan kuat-kuat dan menganggapnya milik pribadi yang mutlak – sampai Yang Memberi memintanya kembali dari kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena hidup yang tidak akan berakhir itu bukan di dunia ini, maka segala energi, waktu, dan perhatian kita sudah selayaknya tidak hanya dikerahkan untuk menimba ilmu dan menumpuk kekayaan, tetapi juga terus menerus diarahkan kepada jalan menuju hidup yang kekal itu. Hidup bersama Tuhan di rumah Bapa, yang sudah disediakan oleh Yesus putra Allah Bapa bagi yang percaya kepadaNya dan mengikuti jalan-jalanNya. Itulah rumah kita yang sesungguhnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Di rumah BapaKu banyak tempat tinggal. Jika tidak demikian, tentu Aku mengatakannya kepadamu. Sebab aku pergi ke situ untuk menyediakan tempat bagimu. Dan ke mana Aku pergi, kamu tahu jalan ke situ (Lukas 14 : 2, 4)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Uti&lt;br /&gt;San donato, 19 Agustus 09&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1926296286733356721-1427682107322384361?l=mylittlecandle.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mylittlecandle.blogspot.com/feeds/1427682107322384361/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mylittlecandle.blogspot.com/2009/08/kontrak-hidup.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1926296286733356721/posts/default/1427682107322384361'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1926296286733356721/posts/default/1427682107322384361'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mylittlecandle.blogspot.com/2009/08/kontrak-hidup.html' title='Kontrak hidup'/><author><name>triastuti</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06669118216388127857</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_rcwu8-Ne2jg/ShxT7i_4VRI/AAAAAAAABF8/Vwh_OTSVurg/S220/DSC05118.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_rcwu8-Ne2jg/So1o0lCZbNI/AAAAAAAABP0/cD2qjY4hki0/s72-c/100_1141.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1926296286733356721.post-4281302433883107257</id><published>2009-08-17T12:10:00.001-07:00</published><updated>2009-08-20T08:35:42.843-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='candle of love'/><title type='text'>Aku cinta Indonesia</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_rcwu8-Ne2jg/Somrf1QS6uI/AAAAAAAABPs/DeBGj4udTXU/s1600-h/100_0751.JPG"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 150px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_rcwu8-Ne2jg/Somrf1QS6uI/AAAAAAAABPs/DeBGj4udTXU/s200/100_0751.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5371012593975749346" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tidak meminta untuk dilahirkan menjadi orang Indonesia. Seperti juga tidak seorangpun meminta dilahirkan menjadi orang Rusia, orang Thailand, atau Orang Somalia. Sesungguhnya, bahkan kita tidak pernah meminta untuk dilahirkan. Tetapi bahwa kita ada di sini, dan menjadi orang yang dilahirkan dan dibesarkan di Indonesia, adalah suatu karunia Tuhan yang tak terkira indahnya, suatu anugerah kehidupan yang mengandung begitu banyak kesempatan, pertumbuhan, pengalaman, untuk menjadi mitra Allah sendiri di dalam dunia ciptaanNya yang begitu agung dan mulia ini. Dan kalau Allah Bapa menempatkan saya sebagai orang Indonesia, maka saya mempunyai kewajiban seiring dengan hak, untuk mencintai negeri saya dan membela kepentingan- kepentingannya, sesuai dengan apa yang sudah saya terima dari Bapa. Allah ingin saya lahir di sini, di Indonesia, dan menjadi orang Indonesia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila saya renungkan kembali, selama hidup di Indonesia, saya menyadari atau menjadi peka terhadap kebangsaan saya hanya pada saat upacara bendera di sekolah, saat bendera merah putih dinaikkan ke angkasa oleh teman-teman pengibar bendera dan lagu Indonesia Raya kami nyanyikan bersama-sama teman sekelas. Kepekaan serupa muncul lagi saat pertandingan Thomas Cup dimana Indonesia sering menjadi finalis berhadapan dengan jawara bulutangkis dunia seperti Cina. Kesadaran dan kepekaan yang lebih kuat sebagai orang Indonesia justru lahir setelah saya hidup di luar negeri.  Misalnya saat batik dan angklung, lagu Rasa Sayange, dan lain-lain, diklaim menjadi milik negara tempat saya tinggal saat itu, Malaysia. Dan selanjutnya setelah saya merantau di Italia dan di manapun saya berada di luar negeri, saya sadar sepenuhnya bahwa saya membawa nama baik Indonesia dengan apapun yang saya lakukan. Saya juga merasa tidak bahagia bila kebudayaan asli Indonesia tidak dihargai orang. Pengalaman merantau membuat cinta saya kepada negara kelahiran saya dimurnikan dan menemukan bentuknya yang hakiki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam perjalanan dengan kereta api untuk kembali ke Milan dari Montecarlo, saya duduk bersebelahan dengan seorang pemuda Italia, yang bertanya dengan bahasa Inggris yang baik, “Where are you from? “ “Oh, I’m Indonesian”, jawab saya dengan bangga. Saya pikir pemuda ini pasti jarang mendapat jawaban seperti itu dari orang-orang Asia yang ia temui di perjalanan. Kebanyakan turis Asia di Italia, seperti juga di negara-negara Eropa lainnya, adalah turis dari Jepang. Saya sendiri sudah dua kali dikira orang Jepang, padahal penampilan saya sangat Indonesia, sangat njawani, walaupun kulit saya memang lumayan terang. Mungkin kebanyakan orang di sini mengira kalau orang berwajah Asia itu ya dari Jepang. Seperti dugaan saya, ada reaksi surprise di wajah pemuda itu mendengar jawaban saya. “Indonesia ? oh, is it in Taiwan?” Giliran saya yang jadi pucat, aduh, kok jauh banget sih mas tebakannya. Saya meralat dengan cepat, “NO, it’s…errr…do you know Bali ? “ saya balik bertanya dengan masygul, menyadari saya harus kembali membawa nama Bali hanya supaya negara saya dikenali. Syukurlah Indonesia masih punya Bali, pikir saya. Padahal pemuda ini bekerja di sebuah agen perjalanan wisata di pusat kota Milan. Ia langsung menyahut “Oh..yeah..okay. .okay…yes, Bali” dan ia melanjutkan ,”Okay, I got it, it’s near Malaysia, right?” Saya mengangguk dengan tidak bersemangat, iya mas, jawab saya dalam hati. Saya pernah hidup selama tiga tahun di Kuala Lumpur, dan saya tahu benar, walau dengan hati gundah, mengapa Malaysia begitu dikenal orang di luar negeri. Saya tahu dengan amat baik, mengapa Malaysia berhasil menempatkan dirinya di antara jajaran negara-negara terkemuka di dunia.  Sementara Indonesia, negara yang lebih besar di sebelahnya, tempat dimana insinyur-insinyur Malaysia dulu belajar dan berguru dalam hal teknologi jalan tol, kurikulum pendidikan di perguruan tinggi,  menyerap kreativitas musik dan kesenian, serta berguru dalam berbagai ilmu teknik penerbangan, perminyakan, dan instrumentasi, tidak banyak diketahui oleh dunia internasional.  Walaupun saya punya gambaran mengapa hal itu bisa terjadi, saya tidak ingin berhenti menangisi nasib. Apa yang saya katakan atau lakukan, sekecil apapun itu, di negeri asing, akan menjadi perhatian orang.  Saya membawa nama bangsa saya kemanapun saya pergi. Melalui apa yang saya perbuat, saya katakan, bahkan saya pikirkan, saya mengabarkan kepada masyarakat di negeri saya berada, bahwa Indonesia adalah negeri yang besar, dimana kasih sayang, iman, dan harapan menjadi tiang-tiang penopang warganya yang terdiri dari berbagai ragam budaya. Dimana kemajuan, seperti juga kemerdekaan dan harga diri, direbut dengan kerja keras dan jerih payah.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika hidup di Malaysia dulu, saya dan teman-teman sering mengalami hal yang sama. Yaitu selalu dikira pembantu rumah tangga / TKI, kalau mereka tahu bahwa kami berasal dari Indonesia. Bagi kebanyakan orang di Malaysia, Indonesia dikenal sebagai pengekspor TKI terbesar. Saat itulah, saya mulai menghargai dengan lebih indah, profesi seorang pembantu rumah tangga. Pertama-tama reaksi saya kalau dikira seorang pembantu, saya merasa terhina. Lalu saya sadar, kalau saya merasa terhina, artinya saya menghina profesi seorang pembantu. Profesi yang telah menyelamatkan jutaan keluarga di Indonesia dari kemiskinan dan kelaparan, berkat salah seorang anggota keluarganya bekerja di luar negeri, walau “hanya” sebagai seorang TKI / buruh kasar, dalam hal ini, pembantu rumah tangga. Saya menjadi tidak risih lagi, setelah saya menyadari betapa kalang kabutnya sebuah rumah tangga jaman sekarang, bila pembantu mudik karena hari raya. Para ibu di Malaysia sama bingungnya dengan ibu-ibu di Indonesia, terutama yang mempunyai anak-anak yang masih kecil. Pulangnya pembantu ke kampung halaman sama dengan hari-hari melelahkan yang kadang diiringi dengan pembatalan acara liburan keluarga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengalaman saya di Malaysia menegaskan saya betapa berharganya profesi yang satu ini dan saya tidak akan malu lagi kalau dikira seorang pembantu rumahtangga. Sebuah profesi yang kalau di Italia kebanyakan dipegang oleh saudara-saudara kita dari Filipina. Dan karena saya dan teman-teman Indonesia  juga sering dikira orang Filipina, karena penampilan kami memang mirip sekali, maka kembali saya kadang juga dikira pembantu dan di tengah jalan pernah dipanggil seorang Ibu Italia untuk membersihkan rumahnya. Saya menjelaskan dengan sopan bahwa saya bukan seorang PRT dan saya mengenali di hati saya bahwa kegundahan hati saya karena dikira pembantu sudah tidak hadir lagi di sana. Harga diri manusia bukan ditentukan dari apa profesi dan tingkatan sosialnya dalam masyarakat, tetapi dari kemauannya untuk bekerja keras dengan cara-cara yang baik dan jujur. Saya melihat bahwa bangsa Indonesia yang hidup merantau di Eropa dan negara Asia lainnya adalah manusia pekerja keras, bukan peminta-minta atau pelaku kejahatan yang merampas harta benda orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya juga belajar melihat Indonesia dari luar sebagaimana orang luar memandang Indonesia. Bertemu dengan imigran dari negara-negara Timur Tengah atau Afrika, setelah mereka tahu bahwa saya adalah orang Indonesia, beberapa dari mereka akan langsung menyapa, 'assalamualaikum' . Saya tersenyum sambil kadang membalas,  walaikum salam, sambil melanjutkan bahwa saya bukan seorang muslim. Mereka akan terheran-heran ketika saya mengatakan saya orang Katolik. “Lho, benarkah ? apakah ada orang Kristen / Katolik di Indonesia ?” begitulah selalu reaksi mereka. Pertanyaan yang juga sering diajukan kepada saya saat masih tinggal di Malaysia. “Tentu saja, kami ada sekitar 20 juta orang, dan kami sangat aktif”, begitu biasanya jawab saya. Bangga. Lebih-lebih karena menyadari bahwa Indonesia memungkinkan keragaman itu terjadi. Entah sampai kapan. Kebanggaan yang kini disertai rasa sedih karena akhir-akhir ini banyak umat Nasrani yang ditindas dan dihalangi untuk beribadah. Biasanya karena sangat heran, orang tidak bertanya lagi lebih lanjut. Saya maklum, Indonesia dikenal sebagai negara dengan jumlah umat muslim terbesar di dunia.  Bahkan di sebuah toko kosmetik di pusat kota Milan, seorang pria berwajah Arab menegur saya tanpa basa basi, “Kamu pasti dari Indonesia”. Saya terkejut, “Wah darimana Anda tahu?” Pria itu menunjuk liontin kalung saya yang berbentuk huruf “U” (inisial nama saya) dan dia mengatakan bahwa bentuk liontin saya itu sangat mirip dengan symbol yang sangat penting dalam agama Islam. Dari situlah dia menyimpulkan bahwa saya orang Indonesia. Keterkejutan saya akan penampakan symbol inisial nama saya, tidak mampu menandingi keheranan saya betapa terkenalnya Indonesia dalam hal keagamaannya. Apakah negeri yang religius kehidupan agamanya juga mencerminkan kebaikan dan kententraman warganya sesuai ajaran kasih agama ? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya teringat seorang sahabat saya orang Malaysia yang akan berkunjung ke Jakarta untuk pertama kalinya. Berkali-kali dia sibuk bertanya kepada saya apakah Jakarta aman, bagaimana dengan ancaman bom, bagaimana jalur transportasi umumnya, dan kekawatiran lainnya. Setelah dia kembali dari kunjungannya, dia berkata bahwa Jakarta ternyata kota yang sangat besar, sangat modern, dan yang ia alami, sangat aman. Dan saya hanya bisa tersenyum, dengan kelegaan di hati. Sebagai warga negara sebuah bangsa besar yang memelopori perjuangan kemerdekaan melawan penjajah di kawasan Asia, saya sendirilah yang harus menyandang nama Indonesia dengan kebanggan dan kehormatan yang wajar dan pantas. Betapapun terpuruknya wajah penegakan hukum, kebebasan beragama, dan pemerataan sosial di bumi pertiwi, Indonesia masih mau terus berjuang, dan saya menghargai setiap titik perjuangan setiap warganya, baik yang berada di dalam Indonesia maupun di luar. Perjuangan bahwa bangsa Indonesia adalah bangsa besar yang selalu ingin maju dan mempunyai warisan nilai-nilai luhur dan khas yang mendasari pembentukannya sebagai bangsa. Harapan itulah yang akan selalu membayang di hati saya, kemanapun saya akan pergi, sejauh apapun dari pangkuan ibu pertiwi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang kita lakukan dalam kehadiran kita, walau hanya sebentuk senyum ramah atau pertolongan kecil kepada seorang bapak tua yang akan naik ke bis umum, membawa nama Indonesia kepada dunia. Seperti saat saya,suami, dan ketiga orangtua kami sedang berada di kota Zurich, Swiss, di dalam sebuah bis umum yang membawa kami ke rumah paman saya di pinggir kota Zurich. Seorang bapak tua warga kota Zurich tiba-tiba mendekati kami berlima dan bertanya kepada saya dalam bahasa Inggris yang baik, “ “Kalian orang Indonesia ya ?” saya terbelalak saking terkejutnya, nah lho, kalau bapak ini nih, darimana lagi dia bisa tahu kalau kami orang Indonesia ya ? saya membalas dengan senyum berseri campur penasaran, “Oh yes you’re right, how do you know?” dan bapak itu menjawab dengan ramah, “Because you all look so happy and optimistic” dan sebelum kami berlima sempat bertanya lebih jauh, bapak tua itu telah pergi meninggalkan kami yang terbengong-bengong bercampur bangga dalam hati. Ya, kami tidak sempat bertanya kepadanya bagaimana ia bisa sampai kepada kesimpulan yang menyenangkan itu. Tetapi memang benar, saya beberapa kali mengalaminya, di tengah himpitan kemiskinan dan sulitnya mendapat pekerjaan serta carut marutnya penegakan hukum serta keadilan sosial sebuah bangsa, tapi warganya masih bisa tertawa lepas dan terbahak-bahak bersama kawan-kawannya, bisa dipastikan…itu pasti orang Indonesia….! Soalnya, ada lho bangsa yang makmur dan sejahtera tapi wajah warganya banyak yang cemberut dan susah diajak ketawa / humor. Tidak perlu saya tulis bangsa mana, karena yang penting, saya cinta Indonesia. Walau belum bisa sepenuhnya dibilang saya bangga karena masih mengharapkan banyak sekali perbaikan untuk Indonesia, terutama dari segi mental, saya bisa menjadikan Indonesia lebih baik dengan cinta saya, dan saya rasa ibu pertiwi masih selalu menunggu buah-buah dari cinta saya, berupa karya-karya nyata saya kepadanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;caecilia triastuti&lt;br /&gt;San Donato, Milano, 17 Agustus 2009&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1926296286733356721-4281302433883107257?l=mylittlecandle.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mylittlecandle.blogspot.com/feeds/4281302433883107257/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mylittlecandle.blogspot.com/2009/08/aku-cinta-indonesia.html#comment-form' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1926296286733356721/posts/default/4281302433883107257'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1926296286733356721/posts/default/4281302433883107257'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mylittlecandle.blogspot.com/2009/08/aku-cinta-indonesia.html' title='Aku cinta Indonesia'/><author><name>triastuti</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06669118216388127857</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_rcwu8-Ne2jg/ShxT7i_4VRI/AAAAAAAABF8/Vwh_OTSVurg/S220/DSC05118.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_rcwu8-Ne2jg/Somrf1QS6uI/AAAAAAAABPs/DeBGj4udTXU/s72-c/100_0751.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1926296286733356721.post-9158990896600832408</id><published>2009-08-07T13:15:00.001-07:00</published><updated>2009-08-12T03:37:44.651-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='candle of love'/><title type='text'>Ujian Kasih</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_rcwu8-Ne2jg/SnyLZiFeMyI/AAAAAAAABPk/k2XhcaZ_lBU/s1600-h/tulip2.JPG"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 150px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_rcwu8-Ne2jg/SnyLZiFeMyI/AAAAAAAABPk/k2XhcaZ_lBU/s200/tulip2.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5367318126681535266" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari ini teman saya bercerita ia sedang mengamati dengan seksama apakah anak lelakinya yang berusia 5 tahun mengalami demam setelah mendapat imunisasi campak seminggu yang lalu. Dokter anaknya mengatakan bahwa respon tubuh anak terhadap vaksin campak biasanya akan berupa suhu badan yang meningkat dan timbul tanda-tanda merah di badan, yang akan hilang setelah tubuhnya berhasil melawan virus yang telah dilemahkan dalam bentuk vaksinasi itu. Namun bila tubuh si anak lebih kuat daripada vaksin virus campak, ia akan baik-baik saja dan tidak akan merasakan apapun. Umumnya campak akan menjangkiti manusia sekali dalam hidup pada saat masih anak-anak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya membayangkan bahwa seorang manusia pada awal-awal hadir dalam dunia harus berkenalan dengan banyak sekali hal baru. Termasuk harus mengalami berbagai penyakit untuk pertama kalinya, sembari beranjak menuju manusia dewasa yang semakin kuat tubuhnya. Semakin kaya pengetahuan dan ketrampilannya. Seringkali Tuhan membiarkan saya mengenal berbagai perlakuan yang buruk dari sesama, atau mengalami peristiwa yang tidak enak karena sifat sesama manusia yang kurang baik dan tidak mengenakkan bagi saya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebanyakan mungkin bukan maksudnya untuk menjahati / melukai tetapi karena latar belakang, situasi kehidupan, pengalaman hidup, dan kepribadian yang berbeda. Mengenali adanya kemungkinan itu sangat penting supaya kita tidak terlalu cepat menghakimi seseorang yang kita anggap berbuat kurang baik kepada kita atau bertingkah laku tidak menyenangkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tuhan tidak selalu mempertemukan saya dengan situasi yang enak dan mudah serta orang-orang baik yang sepaham dan sepikiran dengan saya. Tetapi pengalaman-pengalaman yang buruk dan perlakuan sesama yang tidak mengenakkan membentuk ketahanan iman saya kepada Tuhan. Menguji kemurnian kasih saya kepada Tuhan dan sesama. Ujian itu bagaikan vaksin campak yang disuntikkan sebagai imunisasi ke tubuh anak teman saya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena ego dan kesombongan manusiawi, daya tahan iman dan kasih saya seringkali lebih lemah dari ujian itu dan hasilnya hati saya menjadi panas. Saya mengalami demam hati. Apa yang saya lakukan dalam keadaan hati panas adalah membalas perlakuan yang buruk dari sesama dengan keburukan juga atau memutuskan sebuah hubungan yang sebelumnya telah terjalin. Hasilnya mudah ditebak. Saya dan sesama berpotensi sama-sama terluka dan sama-sama merasa sakit. Tetapi bila saya selalu berusaha untuk bersikap rendah hati, sabar, introspeksi diri, dan mencoba untuk mengerti, sesungguhnya saya melindungi diri saya sendiri dan orang lain terhadap luka-luka yang tidak perlu. Saya menyiapkan diri saya untuk mengampuni. Itulah pertahanan jiwa yang sesungguhnya. Bukankah saya sendiri tidak sempurna dan sering menyakiti hati sesama, walau tidak selalu saya sadari. Sekali lagi perbedaan kebiasaan, penderitaan dan pengalaman hidup, situasi kehidupan, dan kepribadian, yang tidak selalu dapat kita ketahui pada saat kejadian, bisa memicu penyebabnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terlintas di ingatan saya sebuah pernyataan seorang rohaniwan, orang yang tidak dicintai biasanya menjadi sulit dan orang yang sulit biasanya tidak dicintai. Kasihan kan, seperti lingkaran setan. Kalau orang yang membuat kita resah adalah saudara kita yang mnegalami hal sedemikian, bukankah mereka justru harus kita perhatikan dan cintai lebih lebih lagi ? Yesus sudah memberikan saya pegangan yang saya perlukan saat Dia mengajak saya berpikir demikian “Dan sebagaimana kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah juga demikian kepada mereka” (Lukas 6 : 31)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bersikap lapang dada dan kepala dingin membuat jiwa saya tetap merasakan keteduhan dan saya akan baik-baik saja. Hanya saja saya perlu terus bergantung kepada Tuhan dan menyerap teladan kasihNya di jalan salibNya sehingga saya mampu memenangkan latihan iman itu dan lulus ujian. Bagaikan imunisasi campak yang membuat tubuh anak semakin kuat, tanpa harus jatuh sakit dan menjadi demam karena efek virus campak yang disuntikkan ke tubuhnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi bagaimana kalau sudah berusaha konsisten bersikap baik dan tulus tetap saja mendapat perlakuan yang tidak enak atau tidak adil ? Kita sudah melakukan apa yang kita ingin sesama lakukan kepada kita, tapi yang terjadi tidak timbal balik seperti yang kita harapkan. Yesus mengajarkan kita untuk memberikan pipi yang lain bila satu sisi pipi kita ditampar, namun apakah itu berarti Yesus membiarkan harga diri kita diinjak-injak dan diabaikan ? Tubuh anak yang sedang divaksinasi mempunyai sistem daya tahan. Tubuh manusia dilengkapi Tuhan dengan mekanisme yang mengagumkan untuk menahan serangan virus dan bakteri. Demikian juga saya tidak berpikir bahwa dengan memberikan juga baju kalau orang meminta jubah saya atau berjalan dua mil kalau diminta berjalan satu mil, adalah berarti membiarkan diri terus menerus menjadi bulan-bulanan sesama yang sedang memanfaatkan kebaikan kita. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya ingat saat Tuhan menyampaikan hukum utama yang kedua “Kasihilah sesamamu seperti dirimu sendiri “ (Matius 22 : 39). Bagi saya itu berarti kita baru bisa mengasihi sesama sepenuhnya bila kita sudah mengasihi diri sendiri terlebih dahulu. Mengasihi diri sendiri menyangkut menghargai diri sendiri, yaitu menghargai hak diri sendiri termasuk memastikan bahwa hak diri sendiri juga diperhatikan dan dilindungi. Dalam hal ini termasuk juga hak untuk membela diri dan menjaga harga diri. Sama seperti kita wajib menjaga dan melindungi hak dan harga diri sesama kita. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang diajarkan Yesus adalah bahwa sebagai orang-orang yang telah ditebus, kita diajak untuk berani tampil beda. Tidak membalas kejahatan dengan kejahatan, melainkan dengan kebaikan, seperti yang Yesus sampaikan selanjutnya di Lukas 6 : 32, “Dan jikalau kamu mengasihi orang yang mengasihi kamu, apakah jasamu ? Karena orang-orang berdosa pun mengasihi juga orang-orang yang mengasihi mereka.“ Memang ini sebuah perjuangan yang tidak ringan dan merupakan suatu seni tersendiri. Betapa menyenangkan mengikuti Yesus, yang penuh dengan citarasa seni dan kreativitas dalam mengasihi…! Supaya kita menjadi sempurna, seperti Bapa di Surga sempurna adanya. Itulah cita-cita Yesus bagi kita semua, cita-cita yang amat indah bagi setiap kita, mahakarya ciptaanNya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi semua itu tidak mudah. Ya, tentu saja. Untuk hal-hal yang berharga, tidak ada yang mudah, perlu perjuangan. Tetapi bukan berarti tidak mungkin. Saya perlu berdialog dengan Tuhan melalui firmanNya dan bertekun dalam doa, supaya saya menemukan kekuatan untuk terus berjalan bersama Yesus. Di dalam doa serta firmanNya, saya selalu menemukan kembali bahwa bersama Yesus di samping saya, di hati saya, saya mampu. Kalau Yesus meminta saya melakukan sesuatu, itu pasti sesuatu yang bisa saya lakukan. Tuhan tidak akan meminta sesuatu yang tidak bisa kita kerjakan, termasuk saat Yesus meminta saya mengampuni tujuh kali tujuh kali dalam sehari (Lukas 17: 4). Kuncinya sederhana, berpegang terus pada kasihNya dan belajar dari hatiNya yang lemah lembut, karena dengan kekuatan kita sendiri, kita memang belum mampu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenangan masa kecil membantu saya. Saat kita masih kecil, jika kita berkelahi dengan teman atau saudara, kita akan cepat berbaik kembali dan bermain bersama lagi tidak lama kemudian. Itulah anak-anak: polos, murni, tidak mudah dendam. Kita semua pernah menjadi anak kecil, mengapa kita harus jadi berbeda dalam hal mudah mengampuni dan cepat berbaik kembali setelah kita menjadi dewasa? Terus berusaha untuk mengampuni adalah daya tahan jiwa yang sesungguhnya, terbentuk dan terasah setelah kita bersedia menjalani ujian dan lulus, ketika berjumpa dan mengalami orang-orang yang tidak selalu membalas kasih kita, yang tidak peduli pada kita, bahkan melukai kita, baik secara sadar dan sengaja, maupun tidak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kasih yang sejati memerdekakan, tidak hanya bagi yang menerimanya, tetapi lebih-lebih bagi yang memberikannya. Saling berbagi kasih membuat orang merasa berharga, menumbuhkan rasa percaya diri, dan menyehatkan jiwa. Semoga saya belajar untuk terus menimba dari Yesus, sumber inspirasi kasih sejati, yang tulus dan tidak pernah mengharapkan balasan apa-apa. Yang terus mengasihi, walaupun dilukai. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Filipi 4: 13: “Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku”. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yesus ada di sini, saya pasti bisa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;San Donato,Milano, &lt;br /&gt;3 Agustus 2009&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1926296286733356721-9158990896600832408?l=mylittlecandle.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mylittlecandle.blogspot.com/feeds/9158990896600832408/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mylittlecandle.blogspot.com/2009/08/ujian-kasih.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1926296286733356721/posts/default/9158990896600832408'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1926296286733356721/posts/default/9158990896600832408'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mylittlecandle.blogspot.com/2009/08/ujian-kasih.html' title='Ujian Kasih'/><author><name>triastuti</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06669118216388127857</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_rcwu8-Ne2jg/ShxT7i_4VRI/AAAAAAAABF8/Vwh_OTSVurg/S220/DSC05118.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_rcwu8-Ne2jg/SnyLZiFeMyI/AAAAAAAABPk/k2XhcaZ_lBU/s72-c/tulip2.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1926296286733356721.post-3682683309510060396</id><published>2009-06-22T07:47:00.000-07:00</published><updated>2010-01-26T11:31:34.452-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='candle of light'/><title type='text'>Pay It Forward</title><content type='html'>&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_rcwu8-Ne2jg/Sj-fjcTmJJI/AAAAAAAABH8/WlgN12CE5jI/s1600-h/DSC05034.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5350170313582060690" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 200px; CURSOR: hand; HEIGHT: 150px" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_rcwu8-Ne2jg/Sj-fjcTmJJI/AAAAAAAABH8/WlgN12CE5jI/s200/DSC05034.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;“Pit, sepedamu hilang Pit ? Dimana ? Kapan ?“ tanyaku bertubi-tubi kepada Pipit sahabatku, dengan mata mendelik setengah tak percaya. Rasa tidak percayaku dobel-dobel. Bagaimana mungkin berita sepenting itu tidak kudengar langsung dari mulut sahabatku yang bawel itu. Bawel adalah istilahnya sendiri untuk menyebut dirinya sendiri yang suka bercerita, apa saja kepadaku. Tetapi aku mendapat berita bahwa sepedanya dicuri dari teman kekasihnya. Pipit tidak pernah bercerita kepadaku tentang hal itu. Sepeda itu jenis yang bagus dan cukup mahal harganya. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Pipit sangat menyukai olahraga dan alam. Ia sangat suka bersepeda bersama kekasihnya. Kemana-mana mengayuh sepeda berdua menelusuri kota kecil kami San Donato di pinggir kota metropolitan Milan, Italia, yang memang banyak berpohon rindang dan lebar jalannya. Dengan jalur khusus untuk pejalan kaki dan pengendara sepeda. Keindahan yang ideal dinikmati sambil bersepeda. Apalagi saat musim semi tiba. Udara dingin yang menggigit selama berbulan-bulan berganti dengan kehangatan cahaya matahari yang sering absen di musim dingin. Tak hanya itu, bunga-bunga aneka warna seolah muncul begitu saja dari segala penjuru di tengah rerumputan dan dari balik pepohonan. Keindahan yang sempurna untuk melengkapi kehangatan musim semi.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Pipit tampak kaget karena aku akhirnya tahu. Tetapi ia masih tampak enggan untuk mengklarifikasi atau mengiyakan pertanyaanku itu. Aku baru sadar bahwa sahabatku itu merasa terpukul sehingga ia sedang tidak ingin mengatakan apapun kepadaku. Aku tidak memaksa. Aku menanti dengan sabar sampai ia mau membuka suara.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya ia berkata dengan lesu, “Iya, …” tanpa keinginan untuk menceritakan lebih lanjut&lt;br /&gt;“Wah, gawat nih….” pikirku&lt;br /&gt;Pipit lantas bertanya dengan malas, “Kok tahu darimana Ti ?” dan aku tahu ia tidak membutuhkan jawaban atas pertanyaannya itu.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Lalu ia menyambung dengan pertanyaan kedua yang membuatku kaget. “Menurut kamu, boleh nggak aku mencuri sepeda orang lain lagi supaya aku bisa punya sepeda lagi “&lt;br /&gt;Aku tidak dapat menjawab. Tentu saja Pipit tahu aku tidak akan setuju. Tanpa menunggu jawabanku Pipit melanjutkan, “Kan aku sudah kehilangan sepeda yang begitu bagus dan mahal. Aku membutuhkannya sekarang. Musim semi sudah tiba, cuaca mulai hangat dan cerah. Aku ingin kembali bersepeda setelah musim dingin yang membosankan ini berlalu” &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;“Terus kalau kamu ditangkap polisi gimana ? tanyaku pura-pura berusaha mengakomodasi idenya. Aku tahu ia sedang merasa sangat kesal. Aku hanya berharap ia tidak sungguh-sungguh.&lt;br /&gt;“Akan aku tunjukkan bon pembelian sepedaku kepada pak polisi. Supaya ia tahu bahwa aku sudah membeli sepeda yang mahal dan dicuri oleh orang. Maka ia akan mengerti bahwa aku juga punya hak untuk mencuri sepeda orang. Kalau perlu aku akan usulkan hal itu kepada kepolisian sebelum aku mencuri. Nanti akan kucuri yang sebagus dan semahal punyaku yang dicuri. “&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Wah, Pipit stress&lt;/em&gt;, pikirku. Aku mengenal Pipit belum setahun. Tapi aku kenal kepribadiannya yang ramah, hangat, dan suka menolong. Aku merasa tak percaya bahwa suatu musibah dapat begitu cepat mengubah kepribadian seseorang. Rasa kecewa dan dikhianati membuat seseorang dapat kehilangan kasih dan kesadaran dirinya. Aku menelan ludah, tidak tahu harus berkata apa. Aku merasa belum pernah mengalami musibah. Aku menyadari bhw kehilangan sepeda kesayangan bagi Pipit adalah suatu musibah yang lumayan baginya. ‘Penderitaan’ hidup membuat orang menjadi pahit dan tidak menjadi dirinya sendiri.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Aku jadi teringat sebuah film Amerika berjudul “Pay It Forward” dimana seorang anak bertekad meneruskan kebaikan yang diterimanya kepada orang lain yang dia jumpai dan demikian seterusnya hingga kebaikan menjadi suatu rantai yang menyentuh banyak orang. Ide sahabatku Pipit yang justru berkebalikan dari ide film itu membuatku sadar bahwa kejahatan dan kepahitan juga bisa ditularkan kepada orang lain menjadi rantai dendam yang tidak berkesudahan. &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;“Pit, nanti orang yang kamu akan curi sepedanya itu kan bukan pencuri sepedamu, dan dia akan jadi korban seperti kamu juga dong “&lt;br /&gt;“ Ya biar saja ia mencuri sepeda orang yang lain lagi kalau dia merasa perlu” balas Pipit dengan masam.&lt;br /&gt;Aku mulai merasa geli melihat tampang sahabat baikku ini. Aku setengah berharap bahwa ia sebenarnya sedang kesal saja dan tidak bermaksud benar-benar akan melaksanakan niatnya itu&lt;br /&gt;Aku mencubit pinggangnya sambil bercanda, “Ah, ayolah Pit, you can’t be serious, yang bener aja loo..” &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Syukurlah, digoda seperti itu sahabatku itu tampak mulai melunak. Ia masih pura-pura cemberut tapi pipinya mulai tampak merah menahan senyum.&lt;br /&gt;“Pokoknya besok aku mau curi sepeda yang bagus” katanya sambil berkelit menghindari cubitanku yang kedua yang sudah nyaris menyambar pipinya.&lt;br /&gt;“Besok kamu siap-siap diinterogasi Polizia ya. Kalau kamu ditanya aku sedang berada dimana pada saat kejadian, bikin alibi yang cerdas ya Ti, awas kalau alibimu jelek, kupecat kamu jadi sahabat ya….” Dan sambil menyelesaikan kalimatnya Pipit menghilang di balik pintu menghindari lemparan bantal yang kulayangkan ke arah tubuhnya. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Aku menghela napas lega sambil memungut bantal itu dari lantai. Yah, kuharap dengan memiliki sedikit ide ‘gila’, kesedihan dan kekecewaan Pipit karena kehilangan sepeda kesayangan dapat sedikit terobati. Walau kekecewaan itu akan tetap ada. Mungkin ia hanya sekedar memerlukan sarana pelampiasan kekesalan karena sepedanya hilang dicuri maling tak berperikesepedaan. Aku melangkah keluar dengan pikiran menerawang. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Kekecewaan Pipit mengajarkan aku satu sikap mengerti bila orang yang kuhadapi terasa menyulitkan dan tidak berperasaan. Mungkin mereka hanyalah korban dari kepahitan yang mereka alami tanpa diundang, seperti yang dialami sahabatku Pipit. Barangkali mencoba untuk memahami dan mengampuni akan menghentikan rantai dendam dan kepahitan. Sehingga kebencian tidak menyebar seperti wabah dan memakan korban-korban lain yang tidak perlu.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Semoga dunia ini tidak menjadi sasaran kepedihan dan kekecewaan yang tidak ada akhirnya tetapi tempat manusia bisa saling bergandengan tangan memberikan kekuatan dan dukungan menghadapi penderitaan yang kadang datang tanpa diundang&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;dedicated to one of my dearest girl friend in san donato, Fransisca Prananto&lt;br /&gt;San donato, mezzo marzo 2009&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1926296286733356721-3682683309510060396?l=mylittlecandle.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mylittlecandle.blogspot.com/feeds/3682683309510060396/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mylittlecandle.blogspot.com/2009/06/pay-it-forward.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1926296286733356721/posts/default/3682683309510060396'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1926296286733356721/posts/default/3682683309510060396'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mylittlecandle.blogspot.com/2009/06/pay-it-forward.html' title='Pay It Forward'/><author><name>triastuti</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06669118216388127857</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_rcwu8-Ne2jg/ShxT7i_4VRI/AAAAAAAABF8/Vwh_OTSVurg/S220/DSC05118.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_rcwu8-Ne2jg/Sj-fjcTmJJI/AAAAAAAABH8/WlgN12CE5jI/s72-c/DSC05034.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1926296286733356721.post-1718946916506725499</id><published>2009-06-22T07:35:00.000-07:00</published><updated>2009-06-22T07:45:33.879-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='candle of love'/><title type='text'>sahabat wanita</title><content type='html'>&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_rcwu8-Ne2jg/Sj-YzvBJRxI/AAAAAAAABH0/pci8e0ny4TA/s1600-h/DSC08381.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5350162896901457682" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 200px; CURSOR: hand; HEIGHT: 150px" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_rcwu8-Ne2jg/Sj-YzvBJRxI/AAAAAAAABH0/pci8e0ny4TA/s200/DSC08381.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Seperti sebuah simfoni yang mengalun merdu di ujung senja&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;sahabat wanita menemaniku menulis kisah-kisah perjalanan&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;yang terukir tertinggal di jejak langkah ku &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;mengarungi pantai-pantai landai kehidupan&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;maupun tebing-tebing terjal menuntut langkah penuh perhitungan&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Sahabat wanitaku selalu di hati memaknai hari&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;canda tawanya menghiasi hati yang sepi&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;kegembiraan dan harapannya mengeringkan airmata kami&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;dan cerita-cerita kami nan tiada habisnya mewarnai ufuk pagi&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Dalam banyak momen kehidupan&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;hanya sahabat wanita yang mengerti&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;memaknai kehidupan hingga setiap sudutnya yang paling inti&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;mulai dari merasakan kelezatan aneka makanan &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;dan taktik pembahasan cara pembuatan&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;hingga merangkai cara terbaik menikmati aneka benda duniawi&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;dengan teknik ‘antisipasi’ dan diskon musim semi&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;sebagai modus memenangkan persetujuan suami&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Hanya sahabat wanita yang mengerti&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;mengapa sebuah topik layak untuk dibahas berulang kali&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;dan argumen untuk selisih harga satu perak pun dilayani&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;serta airmata mengalir untuk setiap senyum dan kata pertama si buah hati&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Dan mungkin hanya sahabat wanita yang memahami&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;bahwa tawa dan airmata dapat meluap bersamaan bagai kompromi&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;meluap dari satu hati yang rindu mengerti &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;mensyukuri aneka warna sang hidup yang penuh ironi &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Semua jejak langkah kami di atas pasir landai kehidupan&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;mungkin tak akan selamanya terukir hingga kekekalan&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;ombak perjalanan waktu yg tak dapat berhenti&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;dan riak gelombang kehidupan fana&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;akan membawa semuanya pergi &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;bersama tiupan bayu waktu yg berkelana.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Tetapi kasih dan kehangatan seorang sahabat wanita&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;tertinggal di setiap tikungan perjalanan hati&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;membawa kami sampai kepada keabadian&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;indahnya persahabatan karunia Sang Ilahi&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;San donato, setelah kembalinya satu sahabat wanita kami, Lita, ke Indonesia, 20 Juni 2009. Inspired by my beloved friends in San Donato, Milan, after one year we have been together:&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Fitri Septiani, Fransisca Prananto, dan Lita Lunanta(terus jadi inget sama my others sahabat wanita that always remain in my heart: Hesi Silayanti, Herlina Soetanto, Irene Kartika, Siska Kusumawardhani, Liely Tjahjono dan Fitrika Lubis) &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1926296286733356721-1718946916506725499?l=mylittlecandle.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mylittlecandle.blogspot.com/feeds/1718946916506725499/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mylittlecandle.blogspot.com/2009/06/sahabat-wanita.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1926296286733356721/posts/default/1718946916506725499'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1926296286733356721/posts/default/1718946916506725499'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mylittlecandle.blogspot.com/2009/06/sahabat-wanita.html' title='sahabat wanita'/><author><name>triastuti</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06669118216388127857</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_rcwu8-Ne2jg/ShxT7i_4VRI/AAAAAAAABF8/Vwh_OTSVurg/S220/DSC05118.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_rcwu8-Ne2jg/Sj-YzvBJRxI/AAAAAAAABH0/pci8e0ny4TA/s72-c/DSC08381.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1926296286733356721.post-2223623820514616355</id><published>2009-06-22T07:16:00.000-07:00</published><updated>2009-06-22T07:33:56.863-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='candle of light'/><title type='text'>Happy Ascension Day</title><content type='html'>&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_rcwu8-Ne2jg/Sj-WPKNNBAI/AAAAAAAABHs/-CoNRhvtfJs/s1600-h/DSC04061.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5350160069521376258" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 150px; CURSOR: hand; HEIGHT: 200px" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_rcwu8-Ne2jg/Sj-WPKNNBAI/AAAAAAAABHs/-CoNRhvtfJs/s200/DSC04061.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Perpisahan umumnya tidak mengenakkan, terutama perpisahan dengan orang yang dekat. Perpisahan dengan orang yang kita sayangi dan telah banyak memberikan arti dalam hidup kita. Sampai ada kalimat populer yang sering kita dengar,&lt;em&gt; ‘bukan perpisahan yang kusesali, melainkan perjumpaan’&lt;/em&gt;. Karena perjumpaan yang telah menghangatkan dan menggembirakan hati, pada saatnya akan melahirkan kesedihan, yaitu saat orang yang telah membawa semua kegembiraan itu pergi dari kehidupan kita. Kalau bukan karena pindah kerja atau domisili, ya karena kematian. &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Beberapa kali berpindah domisili dan negara, membuat saya sendiri merasa kenyang mengalami perpisahan dengan teman dan sahabat yang begitu baik dan menyentuh hati. Sering mengalami tidak membuat saya lantas menjadi ahli menghadapinya. Perpisahan dengan orang yang kita sayangi selalu terasa berat dan menyakitkan, kapan pun, dan di manapun. Untunglah teknologi komunikasi sudah semakin maju. Memelihara kontak secara cepat dengan sahabat yang tidak lagi bisa dijumpai secara fisik, selain lewat telepon dan email, sekarang ada facebook. Sarana komunikasi baru yang cukup fenomenal dalam sejarah peradaban manusia. Di situ, kabar kehidupan pribadi dan sehari-hari teman-teman kita, baik yang lama maupun yang baru, dapat dengan mudah kita akses kapan saja. Sekalipun begitu, sarana komunikasi yang ada tidak pernah dapat menggantikan nilai dan bobot perjumpaan secara fisik. Bagaimanapun, saya berusaha belajar untuk membangkitkan kehangatan dan getaran rasa lewat perjumpaan fisik melalui sarana komunikasi yang ada. Itulah jalan saya untuk tetap dapat mengalami selalu kegembiraan dan arti perjumpaan yang telah pernah saya alami bersama orang yang terkasih tersebut. Atau bila perpisahan terjadi karena kematian, maka kenangan dan memori akan menjadi sarana untuk membuat kebersamaan dengan orang yang kita sayangi itu tetap hidup.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Hari ini dalam perayaan Yesus naik ke Surga, para murid akhirnya harus berpisah dengan Yesus. Setelah tiga tahun mengalami perjumpaan yang luar biasa dengan seorang yang kasih dan karismanya juga luar biasa mengubah hidup mereka, para rasul harus menyaksikan Sang Guru yang terkasih terangkat ke awan diiringi malaikat-malaikat surga. Kini mereka didampingi oleh Roh Kudus yang akan melengkapi dan menyertai tugas pewartaan kasih itu ke berbagai penjuru angin. Saya membayangkan betapa gamang, sedih dan rindu para murid kepada Yesus. Tetapi seperti juga hasil dari sebuah perjumpaan, para rasul telah menjadi tidak sama lagi dengan saat mereka pertama kali berjumpa dengan Dia di pinggir danau. Kenangan akan pengajaran, pengorbanan, kasih, dan kehadiranNya di tengah mereka telah terpatri dalam sanubari dan mengubah hidup mereka secara total. Kini mereka melanjutkan hidup dengan segenap keyakinan dan tekad untuk mewartakan apa yang telah mereka saksikan dan telah membuat hidup mereka menjadi baru. &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Saya merasa bahwa kata-kata yang diungkapkan oleh kedua malaikat setelah Yesus berangkat ke surga memberi mereka kepastian, bahwa perjuangan mereka tidak akan sia-sia,tetapi selalu penuh pengharapan. “Hai orang-orang Galilea, mengapakah kamu berdiri melihat ke langit ? Yesus ini, yang terangkat ke sorga meninggalkan kamu, akan datang kembali dengan cara yang sama seperti kamu melihat Dia naik ke surga” Dan berangkatlah mereka memenuhi panggilan perutusan yang diberikan Yesus. Mereka memberikan hidupnya untuk Tuhan dengan sukacita yang penuh, walau tantangan dan penderitaan menanti di depan. &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Semoga perjumpaan saya dengan Yesus dan teladan kasihNya juga mengubah saya menjadi manusia yang baru yang selalu rindu untuk mewartakan kasih dan damaiNya kepada dunia. &lt;em&gt;Bukan perpisahan yang kusesali, melainkan perjumpaan&lt;/em&gt;. Tetapi perjumpaan yang membuat kita sedih kalau berpisah, adalah perjumpaan berkat, perjumpaan syukur. Perjumpaan cinta. Maka sebenarnya penyesalan yang sesungguhnya terjadi, bila perjumpaan itu tidak mengubah apa-apa dari kita untuk menjadi lebih baik. Atau bila perjumpaan itu tidak membuat kita menjadi insan yang lebih mengasihi dan lebih dewasa.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;San donato, 20 Mei 2009 &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1926296286733356721-2223623820514616355?l=mylittlecandle.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mylittlecandle.blogspot.com/feeds/2223623820514616355/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mylittlecandle.blogspot.com/2009/06/happy-ascension-day.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1926296286733356721/posts/default/2223623820514616355'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1926296286733356721/posts/default/2223623820514616355'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mylittlecandle.blogspot.com/2009/06/happy-ascension-day.html' title='Happy Ascension Day'/><author><name>triastuti</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06669118216388127857</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_rcwu8-Ne2jg/ShxT7i_4VRI/AAAAAAAABF8/Vwh_OTSVurg/S220/DSC05118.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_rcwu8-Ne2jg/Sj-WPKNNBAI/AAAAAAAABHs/-CoNRhvtfJs/s72-c/DSC04061.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1926296286733356721.post-1210206131057769582</id><published>2009-06-03T00:43:00.000-07:00</published><updated>2009-06-03T01:22:04.312-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='candle of prayer'/><title type='text'>Doa mohon karya dan kuasa Roh Kudus</title><content type='html'>&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_rcwu8-Ne2jg/SiYuDZSMslI/AAAAAAAABHk/O77sv1OoQQU/s1600-h/DSC09737.JPG"&gt;&lt;span style="font-size:0;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5343008643783373394" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 200px; CURSOR: hand; HEIGHT: 150px" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_rcwu8-Ne2jg/SiYuDZSMslI/AAAAAAAABHk/O77sv1OoQQU/s200/DSC09737.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;em&gt;Bapa Kami yang di surga, &lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;em&gt;kami bersyukur kepadaMu&lt;br /&gt;atas karunia &lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="color:#ff0000;"&gt;Roh Kudus&lt;/span&gt; &lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;em&gt;yang Engkau curahkan bagi kami&lt;br /&gt;hari ini dan setiap hari &lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;em&gt;dalam hidup kami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ajar kami untuk merindukan karya-karyaNya&lt;br /&gt;dan membuka hati kami untukNya&lt;br /&gt;supaya Dia dapat berkarya &lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;em&gt;secara optimal dalam diri kami&lt;br /&gt;sesuai dengan rencanaMu yang agung &lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;em&gt;bagi semua ciptaan yang Engkau kasihi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kadang kami tak mampu mengenali&lt;br /&gt;betapa kami membutuhkanNya&lt;br /&gt;melebihi segala harta benda &lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;em&gt;dan hikmat pengetahuan semesta&lt;br /&gt;karena kenikmatan dunia &lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;em&gt;dan semua daya tariknya yang fana&lt;br /&gt;sering menarik kami untuk menjadi asing &lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;em&gt;terhadap citra diri kami yang sesungguhnya&lt;br /&gt;yang sejak awal &lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;em&gt;telah Engkau tiupkan &lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;em&gt;dalam nafas kehidupan kami&lt;br /&gt;untuk mengejar nilai kasih &lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;em&gt;dan cinta yang murni&lt;br /&gt;terhadap semua mahluk ciptaan tanpa kecuali&lt;br /&gt;tanpa merasa takut untuk berkorban diri&lt;br /&gt;seperti teladan Yesus puteraMu yang kudus, &lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;em&gt;sumber hidup dan panutan kami&lt;br /&gt;seperti hari ini Roh KudusMu telah hadir &lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;em&gt;untuk semua orang tanpa kecuali&lt;br /&gt;dari segala bahasa, bangsa dan budaya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami rindu untuk menyambutNya &lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;em&gt;masuk dan berkarya &lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;em&gt;dalam hati kami selalu&lt;br /&gt;dalam semua aspek &lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;em&gt;baik kehidupan keluarga dan pergaulan,&lt;br /&gt;pekerjaan dan tugas-tugas sehari-hari, &lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;em&gt;maupun pelayanan kami.&lt;br /&gt;Tiada yang lebih indah dan sempurna &lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;em&gt;untuk menjalani dan menyelesaikan &lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;em&gt;semua aspek kehidupan&lt;br /&gt;bersama hikmat dan pengertian &lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;em&gt;di dalam Roh KudusMu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami merindukannya &lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;em&gt;berkarya dengan bebas sempurna&lt;br /&gt;kami rindu membuka hati kami selalu&lt;br /&gt;agar Dia hadir, &lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;em&gt;sesuai dengan semua &lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;em&gt;sisi keindahan dan hidup yang dibawaNya&lt;br /&gt;untuk setiap kebutuhan jiwa kami&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manakala muncul kesedihan dan penderitaan&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="color:#ff0000;"&gt;………………Roh penghiburan&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;Manakala lahir keputusasaan&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="color:#663366;"&gt;&lt;span style="color:#ff0000;"&gt;…………Roh pengharapan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;Manakala tumbuh bibit kepahitan dan dendam&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="color:#ff0000;"&gt;………………Roh pengampunan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Manakala terjadi perselisihan&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="color:#ff0000;"&gt;……………..Roh pendamaian&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;Manakala terjadi kebimbangan&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="color:#ff0000;"&gt;…………….Roh hikmat untuk membedakan kebenaran&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Manakala terjadi kesesatan&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="color:#ff0000;"&gt;…………..Roh pengertian dan hikmat&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;Manakala terjadi penyelewengan&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="color:#cc0000;"&gt;&lt;span style="color:#ff0000;"&gt;…………..Roh kesetiaan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;Manakala timbul kesombongan&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="color:#ff0000;"&gt;……………….Roh kerendahan hati&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;Manakala hadir keserakahan&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="color:#ff0000;"&gt;……………..Roh hikmat akan kesederhanaan dan solidaritas&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;Manakala kemalasan membelenggu&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="color:#cc0000;"&gt;&lt;span style="color:#ff0000;"&gt;…......…Roh bekerja dengan sukacita&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;Manakala kesalahpahaman harus muncul&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="color:#ff0000;"&gt;………....Roh pengampunan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Manakala terjadi persaingan yang tidak sehat&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="color:#ff0000;"&gt;…..Roh pengertian dan kerjasama&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Manakala kami acuh tak acuh dan apatis&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="color:#ff0000;"&gt;…………..Roh harapan dan kepedulian&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;Manakala iri hati dan dengki menghampiri&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="color:#cc0000;"&gt;&lt;span style="color:#ff0000;"&gt;…………Roh kerelaan dan kasih murni&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;Manakala kegelisahan menerpa&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="color:#ff0000;"&gt;……..Roh kedamaian dan ketenangan&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;Manakala terjadi ketidakadilan&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="color:#ff0000;"&gt;......... ....Roh keberanian menegakkan kebenaran&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Manakala kami tenggelam dalam kelemahan&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="color:#ff0000;"&gt;... .......Roh pengendalian diri&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;Manakala kekuatiran akan masa depan menghantui&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="color:#ff0000;"&gt;……………Roh kepastian akan penyelenggaraan Allah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Manakala krisis iman dan spiritual melanda kami&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="color:#ff0000;"&gt;………….Roh kebenaran dan terang Ilahi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Manakala hal-hal tidak terjadi sesuai harapan&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="color:#ff0000;"&gt;………………….Roh kesabaran dan kemampuan belajar mengambil hikmah dari peristiwa&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Manakala ketakutan akan kematian tak terhindarkan&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="color:#cc0000;"&gt;.&lt;/span&gt;&lt;span style="color:#ff0000;"&gt; ........Roh kepasrahan dan kedamaian&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Manakala terjadi kemiskinan dan penderitaan&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="color:#ff0000;"&gt;.&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="color:#ff0000;"&gt; ......Roh kelemahlembutan dan kerelaan pengurbanan diri&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Semoga hidup kami yang hanya sementara di atas bumi ini&lt;br /&gt;kami isi sebaik-baiknya di dalam terang RohMu &lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;em&gt;yang membebaskan dan memberi hidup&lt;br /&gt;hidup yang berkelimpahan dan berkepenuhan&lt;br /&gt;sampai kelak kami kembali kepadaMu Bapa&lt;br /&gt;bersama benih-benih cinta &lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;em&gt;dan daya kuasa Rohmu &lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;em&gt;yang membentuk kami&lt;br /&gt;untuk diam selamanya &lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;em&gt;di dalam kemahMu yang abadi&lt;br /&gt;Terpujilah Engkau ya Allah Bapa &lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;em&gt;yang selalu mengasihi dan menyertai kami. &lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Amin. &lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;em&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#663333;"&gt;HaPPy PeNtEcOst ..today and every day.......&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="color:#663333;"&gt;&lt;em&gt;san donato, 2 Juni '09&lt;/em&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1926296286733356721-1210206131057769582?l=mylittlecandle.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mylittlecandle.blogspot.com/feeds/1210206131057769582/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mylittlecandle.blogspot.com/2009/06/doa-mohon-karya-dan-kuasa-roh-kudus.html#comment-form' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1926296286733356721/posts/default/1210206131057769582'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1926296286733356721/posts/default/1210206131057769582'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mylittlecandle.blogspot.com/2009/06/doa-mohon-karya-dan-kuasa-roh-kudus.html' title='Doa mohon karya dan kuasa Roh Kudus'/><author><name>triastuti</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06669118216388127857</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_rcwu8-Ne2jg/ShxT7i_4VRI/AAAAAAAABF8/Vwh_OTSVurg/S220/DSC05118.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_rcwu8-Ne2jg/SiYuDZSMslI/AAAAAAAABHk/O77sv1OoQQU/s72-c/DSC09737.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1926296286733356721.post-7495279066342943169</id><published>2009-05-29T04:19:00.000-07:00</published><updated>2009-05-29T04:25:12.063-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='candle of light'/><title type='text'>Selembar kertas kosong</title><content type='html'>&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_rcwu8-Ne2jg/Sh_FAsNA2sI/AAAAAAAABHc/RIK2_8XXxm4/s1600-h/selembar+kertas+kosong.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5341204298741111490" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 200px; CURSOR: hand; HEIGHT: 150px" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_rcwu8-Ne2jg/Sh_FAsNA2sI/AAAAAAAABHc/RIK2_8XXxm4/s200/selembar+kertas+kosong.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="color:#006600;"&gt;Suatu hari....&lt;br /&gt;aku diberi &lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="color:#006600;"&gt;sebuah kertas kosong .........&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="color:#006600;"&gt;guruku bilang&lt;br /&gt;tulislah di sana ...&lt;br /&gt;apa yang kau ketahui tentang ....&lt;br /&gt;kehidupan. &lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="color:#006600;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="color:#006600;"&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt;Aku termenung memandangi kertas putih itu&lt;br /&gt;tak satu kata pun&lt;br /&gt;berhasil kutuangkan ke atasnya&lt;br /&gt;guruku bertanya&lt;br /&gt;apakah kesulitanmu .....&lt;br /&gt;aku bilang&lt;br /&gt;terlalu banyak hal di dalam kehidupan&lt;br /&gt;aku tak tahu&lt;br /&gt;darimana aku harus memulai &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Lalu ia berkata&lt;br /&gt;tulislah tentang dirimu sendiri&lt;br /&gt;itulah wujud yang paling indah&lt;br /&gt;dan paling ajaib&lt;br /&gt;dari kehidupan ....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika aku lulus bersekolah&lt;br /&gt;dan berpisah dengannya&lt;br /&gt;aku larut dalam perjalananku&lt;br /&gt;dan melupakannya &lt;/p&gt;&lt;p&gt;sampai suatu hari ...&lt;br /&gt;aku kembali disodori kertas putih kosong&lt;br /&gt;namun kali ini oleh seorang mahluk mungil&lt;br /&gt;yang hadir dari tubuhku,&lt;br /&gt;jiwanya yang polos bak kertas putih itu&lt;br /&gt;meminta hal yang sama&lt;br /&gt;supaya aku menuliskan ....&lt;br /&gt;kehidupan,&lt;br /&gt;dan bagaimana ia harus menjalaninya&lt;br /&gt;aku tertegun .....&lt;br /&gt;tiba-tiba teringat olehku bapa guruku dulu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dan menulislah aku di situ ....&lt;br /&gt;anakku, aku akan memberimu&lt;br /&gt;sepasang sayap&lt;br /&gt;untuk terbang ....&lt;br /&gt;merentas cakrawala&lt;br /&gt;merengkuh hidup &lt;/p&gt;&lt;p&gt;namun ...belajarlah sendiri&lt;br /&gt;dengan caramu,&lt;br /&gt;dengan ikhtiarmu&lt;br /&gt;bagaimana..engkau akan terbang&lt;br /&gt;ke manapun jiwamu menginginkannya...&lt;/p&gt;&lt;p&gt;dan tulislah sendiri di sini ...&lt;br /&gt;semua kegembiraan perjalananmu&lt;br /&gt;dan bagaimana engkau mengisi hidupmu&lt;br /&gt;dengan aspirasimu sendiri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kelak kertas ini akan menjadi saksi&lt;br /&gt;bagaimana engkau&lt;br /&gt;menuliskan makna dan sejarah ....&lt;br /&gt;hidupmu sendiri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;terbanglah sebebas awan&lt;br /&gt;seluas cakrawala&lt;br /&gt;sebentang langit&lt;br /&gt;sejauh ufuk ....&lt;/p&gt;&lt;p&gt;hingga kautemukan ...&lt;br /&gt;indahnya kehidupan&lt;br /&gt;di dalam engkau....&lt;br /&gt;menjalaninya ....&lt;br /&gt;dengan cinta dan harapan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;san donato, 29 mei 2009&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1926296286733356721-7495279066342943169?l=mylittlecandle.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mylittlecandle.blogspot.com/feeds/7495279066342943169/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mylittlecandle.blogspot.com/2009/05/selembar-kertas-kosong.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1926296286733356721/posts/default/7495279066342943169'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1926296286733356721/posts/default/7495279066342943169'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mylittlecandle.blogspot.com/2009/05/selembar-kertas-kosong.html' title='Selembar kertas kosong'/><author><name>triastuti</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06669118216388127857</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_rcwu8-Ne2jg/ShxT7i_4VRI/AAAAAAAABF8/Vwh_OTSVurg/S220/DSC05118.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_rcwu8-Ne2jg/Sh_FAsNA2sI/AAAAAAAABHc/RIK2_8XXxm4/s72-c/selembar+kertas+kosong.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1926296286733356721.post-3570169559260838153</id><published>2009-05-29T04:13:00.000-07:00</published><updated>2009-05-29T04:18:09.837-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='candle of hope'/><title type='text'>Kerinduan itu</title><content type='html'>&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_rcwu8-Ne2jg/Sh_EBDicZsI/AAAAAAAABHU/9VEdncahl1I/s1600-h/kerinduan+itu.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5341203205493384898" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 200px; CURSOR: hand; HEIGHT: 150px" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_rcwu8-Ne2jg/Sh_EBDicZsI/AAAAAAAABHU/9VEdncahl1I/s200/kerinduan+itu.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="color:#990000;"&gt;&lt;em&gt;Sekalipun kami telah mencoba untuk membiasakan diri&lt;br /&gt;hidup tanpa kehadirannya….&lt;br /&gt;kami tahu bahwa hati kami tetap menantikannya….&lt;br /&gt;di persimpangan jalan asa ….&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;Dalam setiap tikungan tikungan doa…&lt;br /&gt;kami menitipkan sebentuk cinta&lt;br /&gt;yang kehangatannya ....&lt;br /&gt;belum sempat tersampaikan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="color:#990000;"&gt;Di antara berkas-berkas mentari senja…&lt;br /&gt;menyelusup kehangatan di antara dedaunan&lt;br /&gt;di antara segenap usaha….&lt;br /&gt;yang tampaknya sia-sia…&lt;br /&gt;menyelusup kehangatan cinta &lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="color:#990000;"&gt;tangan-tangan kecil&lt;br /&gt;menggapai kerinduan ...&lt;br /&gt;tuk pulang ….&lt;br /&gt;memeluk keriangan tawamu&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;span style="color:#cc0000;"&gt;san donato, medio Mei 2009&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1926296286733356721-3570169559260838153?l=mylittlecandle.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mylittlecandle.blogspot.com/feeds/3570169559260838153/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mylittlecandle.blogspot.com/2009/05/kerinduan-itu.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1926296286733356721/posts/default/3570169559260838153'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1926296286733356721/posts/default/3570169559260838153'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mylittlecandle.blogspot.com/2009/05/kerinduan-itu.html' title='Kerinduan itu'/><author><name>triastuti</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06669118216388127857</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_rcwu8-Ne2jg/ShxT7i_4VRI/AAAAAAAABF8/Vwh_OTSVurg/S220/DSC05118.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_rcwu8-Ne2jg/Sh_EBDicZsI/AAAAAAAABHU/9VEdncahl1I/s72-c/kerinduan+itu.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1926296286733356721.post-2637469544258996928</id><published>2009-05-29T03:58:00.000-07:00</published><updated>2009-05-29T04:12:10.082-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='candle of love'/><title type='text'>If I'm going to be a mother</title><content type='html'>&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_rcwu8-Ne2jg/Sh_AzZLcYLI/AAAAAAAABHM/Owru_dALNuU/s1600-h/ibu+dan+aku.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5341199672249442482" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 200px; CURSOR: hand; HEIGHT: 150px" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_rcwu8-Ne2jg/Sh_AzZLcYLI/AAAAAAAABHM/Owru_dALNuU/s200/ibu+dan+aku.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#6666cc;"&gt;I would never know whether I’ll be a mother ..&lt;br /&gt;It might happen to me, just like any other women&lt;br /&gt;or not….&lt;br /&gt;but even though I will never be a one&lt;br /&gt;I know that I have treasures belong to me forever&lt;br /&gt;memories that will last to eternity ....&lt;br /&gt;they are my precious memories with my lovely mother&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;she ain’t an ordinary mother ...&lt;br /&gt;not to me ...&lt;br /&gt;although she might be for anybody else&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;we used to walk together ...&lt;br /&gt;through life ....&lt;br /&gt;she is the one who always stands beside me&lt;br /&gt;although sometimes she doesn’t agree with me&lt;br /&gt;For reasons I never fully comprehend&lt;br /&gt;I have very often...&lt;br /&gt;found myself to be on the other side from hers&lt;br /&gt;because I was and still am&lt;br /&gt;her opinionated and fussy daughter ...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;But eventually,&lt;br /&gt;I’ll find her setting aside her own ego&lt;br /&gt;to walk beside me, through sick and pain&lt;br /&gt;light and darkness, joy and sorrow&lt;br /&gt;no matter how much it may cost her..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;we have walked through&lt;br /&gt;a long and windy road&lt;br /&gt;when I chose to study&lt;br /&gt;a subject she has warned me&lt;br /&gt;I might not to succeed.....&lt;br /&gt;but she endured my struggle&lt;br /&gt;and gave encouragement&lt;br /&gt;whenever she could&lt;br /&gt;whenever possible...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;my gratefulness, thankfulness&lt;br /&gt;for your patience and understanding...&lt;br /&gt;will always be beyond words...&lt;br /&gt;only God knows&lt;br /&gt;how I thank you&lt;br /&gt;and owe you, Mother&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I remember some simple...&lt;br /&gt;yet truly enjoyable moments&lt;br /&gt;when we spent a lot of time&lt;br /&gt;doing our favorite things together&lt;br /&gt;in a really mutual understanding..&lt;br /&gt;it is going shopping.....!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;But she has also taught me&lt;br /&gt;to find my own resources&lt;br /&gt;like many examples she achieves&lt;br /&gt;by her own effort and initiatives&lt;br /&gt;and many talents&lt;br /&gt;she continues to develop..&lt;br /&gt;to be able to sustain herself&lt;br /&gt;and being fully independent,&lt;br /&gt;in material and spiritual&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;and she is the one in the house&lt;br /&gt;teach me not to be too easy to judge..&lt;br /&gt;always look at the brighter side..&lt;br /&gt;everybody must have within them&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="color:#6666cc;"&gt;She has always been faithful, persevere&lt;br /&gt;in a lifelong struggle with her illnesses...&lt;br /&gt;although I know sometimes she wants to give up..&lt;br /&gt;I really desire she will just be as strong....&lt;br /&gt;as she used to show me&lt;br /&gt;in all kinds of tearful experience in our family..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;she also always make herself available..&lt;br /&gt;to listen to my stories..&lt;br /&gt;and give advise wherever needed&lt;br /&gt;without missing a single chance..&lt;br /&gt;to share with others in need..&lt;br /&gt;a sincere help and care..&lt;br /&gt;food, financial aid, information, talent,&lt;br /&gt;or simply yet powerful prayers&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I don’t know whether I’d be a mother.....&lt;br /&gt;in the future..&lt;br /&gt;it might happen to me&lt;br /&gt;just like any other women&lt;br /&gt;or not…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;But one thing I’ll know for sure..&lt;br /&gt;gifts of life I will always treasure&lt;br /&gt;and to be fully grateful..&lt;br /&gt;having you as my mother…&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;For a great mother God has sent me to give me joyful, cheerful, complete, and sustainable life who has just celebrated her birthday on Jan 8, 2008, Sri Esti Wuryani Djiwandono. I miss you through all paths of my life, Mother….but even though you are not always present to cheer me and be always with me again like our olden days…I know that your life and love are always in my heart and sustain me to be a blessing for others, an everlasting hope you wish all your children to be, just like your life to all of us&lt;/em&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;with much prayer, love, and admiration, &lt;/p&gt;&lt;p&gt;your daughter,&lt;/p&gt;&lt;p&gt;uti&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1926296286733356721-2637469544258996928?l=mylittlecandle.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mylittlecandle.blogspot.com/feeds/2637469544258996928/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mylittlecandle.blogspot.com/2009/05/if-im-going-to-be-mother.html#comment-form' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1926296286733356721/posts/default/2637469544258996928'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1926296286733356721/posts/default/2637469544258996928'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mylittlecandle.blogspot.com/2009/05/if-im-going-to-be-mother.html' title='If I&apos;m going to be a mother'/><author><name>triastuti</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06669118216388127857</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_rcwu8-Ne2jg/ShxT7i_4VRI/AAAAAAAABF8/Vwh_OTSVurg/S220/DSC05118.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_rcwu8-Ne2jg/Sh_AzZLcYLI/AAAAAAAABHM/Owru_dALNuU/s72-c/ibu+dan+aku.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1926296286733356721.post-9147606090676566650</id><published>2009-05-29T03:46:00.000-07:00</published><updated>2009-05-29T03:52:29.822-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='candle of love'/><title type='text'>A birthday serenade for my daddy</title><content type='html'>&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_rcwu8-Ne2jg/Sh--VehOXDI/AAAAAAAABHE/a_KDYIaBEZM/s1600-h/DSC02366.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5341196959263644722" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 200px; CURSOR: hand; HEIGHT: 150px" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_rcwu8-Ne2jg/Sh--VehOXDI/AAAAAAAABHE/a_KDYIaBEZM/s200/DSC02366.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;Daddy,&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;Your loving concern and caring&lt;br /&gt;flowing endlessly like a fountain of love&lt;br /&gt;quenches my thirsty soul&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;your deep faith and commitment&lt;br /&gt;overflowing my empty heart&lt;br /&gt;like the morning air I rejoice to breathe&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;your every step is my living inspiration&lt;br /&gt;your every thought and wish&lt;br /&gt;lead me to the wonder of life wisdom&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I cherished every moment you walked by my side&lt;br /&gt;In the journey of life, not always shone with joy and delight&lt;br /&gt;yet you keep telling me to hold Him tight&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;when the life did not grant me&lt;br /&gt;all the things I need&lt;br /&gt;you convinced me it’s worth to be patient&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;It was you&lt;br /&gt;when I recognized myself&lt;br /&gt;pursuing virtues of life to its very fullness&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;It was you&lt;br /&gt;when I saw I reached others&lt;br /&gt;with a helping hand&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I have seen you&lt;br /&gt;In all the good deeds you imparted in me&lt;br /&gt;to surrender my vanity and selfishness&lt;br /&gt;for the sake of others&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;You have been a strong and constant&lt;br /&gt;wonderful and inspiring example&lt;br /&gt;in all choices always available in life&lt;br /&gt;you have to decide every step of your way&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I have seen your gritty determination&lt;br /&gt;when it comes to choose&lt;br /&gt;to serve Him in ultimate loyalty&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;you decided to counter every temptation&lt;br /&gt;every challenges and obstacles&lt;br /&gt;offering the best for Him by all means&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;your flawless marriage&lt;br /&gt;your dedication to your job and study&lt;br /&gt;your church community serving&lt;br /&gt;your effort to praise health through exercise&lt;br /&gt;there are all where your heart will always be&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Life is always about making choices&lt;br /&gt;and you have always been making an honored one&lt;br /&gt;you constantly choosing what best for Him&lt;br /&gt;in a world full of changing&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;you mould me by walking the talk&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;You took me to understand the secret of life&lt;br /&gt;The words and ways of eternal life&lt;br /&gt;Yes, you are the one who brought me to His acquaintance&lt;br /&gt;a treasure I’ll hold every moment of my life&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;your prayer, your faith and perseverance&lt;br /&gt;they all showed me what is the beauty&lt;br /&gt;of being with Him, in Him, because of Him&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;you taught me what it feels to be His&lt;br /&gt;once I’ve experienced Him&lt;br /&gt;wherever life would take me&lt;br /&gt;I will be like the fresh of a spring&lt;br /&gt;I will be like a budding tree&lt;br /&gt;and a flower ready to blossom in its time&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I praise Him with all my heart and soul&lt;br /&gt;beyond words and hymn ever exist in the world&lt;br /&gt;that He has granted me a beautiful Dad like you&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;And I thank Him unceasingly&lt;br /&gt;that He has been blessing you a truly rich and meaningful life&lt;br /&gt;no description would ever enough&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;That He makes you lovingly&lt;br /&gt;to be one of His wonderful instruments&lt;br /&gt;and fulfilling every divine plan He designs for you…&lt;br /&gt;….till the very end&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I wish you will always be in a full bloom of His creation, in every age of your life&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selamat Ulang Tahun ke-71 buat Bapakku tercinta Michael Soenardi Djiwandono&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kuala Lumpur, August 28, 2006&lt;br /&gt;With love and pray,&lt;br /&gt;Uti &amp;amp; Yoyok &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1926296286733356721-9147606090676566650?l=mylittlecandle.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mylittlecandle.blogspot.com/feeds/9147606090676566650/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mylittlecandle.blogspot.com/2009/05/birthday-serenade-for-my-daddy.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1926296286733356721/posts/default/9147606090676566650'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1926296286733356721/posts/default/9147606090676566650'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mylittlecandle.blogspot.com/2009/05/birthday-serenade-for-my-daddy.html' title='A birthday serenade for my daddy'/><author><name>triastuti</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06669118216388127857</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_rcwu8-Ne2jg/ShxT7i_4VRI/AAAAAAAABF8/Vwh_OTSVurg/S220/DSC05118.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_rcwu8-Ne2jg/Sh--VehOXDI/AAAAAAAABHE/a_KDYIaBEZM/s72-c/DSC02366.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1926296286733356721.post-3337473383639811109</id><published>2009-05-29T03:30:00.000-07:00</published><updated>2009-05-29T03:45:30.391-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='candle of love'/><title type='text'>Ayahku, guruku, panutanku</title><content type='html'>&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_rcwu8-Ne2jg/Sh-5ttUyx8I/AAAAAAAABG8/9bvz6mF6QEg/s1600-h/akudanbapak.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5341191877996758978" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 200px; CURSOR: hand; HEIGHT: 150px" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_rcwu8-Ne2jg/Sh-5ttUyx8I/AAAAAAAABG8/9bvz6mF6QEg/s200/akudanbapak.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;strong&gt;PROLOG&lt;/strong&gt; : &lt;em&gt;Misa Sabtu sore di gereja St . John Cathedral baru usai. Gelap baru saja tiba saat aku melangkah keluar dari pintu gereja, walau jam tanganku sudah menunjukkan waktu pukul 19.30 malam. Sebuah bintang terang menampakkan dirinya di antara bangunan tinggi, menghias langit Kuala Lumpur yang mulai kelam. Cahayanya cukup untuk mengalahkan sinar lampu kota yang mulai semarak. Bintang itu seakan tersenyum kepadaku. Aku memandanginya berlama-lama, teringat hari istimewa yang baru akan berlalu di rumah orangtuaku nun jauh di sana. Hari ini adalah hari ulangtahun ayahku yang ke-70, tapi ada satu hal yang membedakannya dengan hari-hari ultahnya yang lain, yaitu bahwa hari ini ayahku resmi memasuki masa pensiunnya , setelah 41 tahun mengabdi sebagai dosen bahasa Inggris di IKIP Malang. Lebih dari separuh usia ayahku dihabiskannya sebagai seorang pendidik. Ada rasa rasa bangga, syukur, kenangan, juga kesedihan bercampur aduk jadi satu dalam hatiku saat ini, menyertai keinginan untuk berada di rumah bersama orangtuaku untuk ikut merayakan peristiwa penting ini.&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Seluruh masa kecil dan masa remajaku diwarnai oleh karya ayahku sebagai seorang dosen. Dulu kalau ayahku pulang dari bepergian jauh untuk tugas, misalnya ke luar negeri, kedatangannya selalu disambut gembira oleh kami bertiga. Karena ayah tak pernah lupa untuk membawa es krim yang lezat untuk anak-anak. Waktu itu aku mengira bahwa es krim adalah suatu jenis barang oleh-oleh yang didapatkan ayah bila sedang berada di luar negeri. Aku tidak tahu bahwa ayah selalu membelinya di toko Avia di jl. Basuki Rahmat dalam perjalanan pulang ke rumah, setelah dijemput Pak Sunar, supir yang diberikan kantor untuk melayani ayah. Es krim adalah oleh-oleh yang hebat buatku, walau tak pernah merupakan satu-satunya hadiah. Kakakku laki-laki pernah mendapat sepur-sepuran dari Jepang, kakakku perempuan dan aku pernah mendapat baju bagus berwarna merah bata dari Kuala Lumpur. Model dan warnanya persis sama, (mungkin supaya kami berdua tidak bertengkar karena berebutan), sehingga kami memakainya bersama dan berfoto. Baju itu terasa gatal di kulit, tapi modelnya manis dan karena dari luar negeri, aku bangga memakainya. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Memasuki jenjang2 awal di sekolah dasar, tiba-tiba mobil Fiat abu-abu kebanggaan kami sekeluarga menghilang bersama dengan pak Sunar-nya yang lucu dan selalu berpeci itu sekalian. Bersamanya menghilang juga semua kenangan manis perjalanan kami ke rumah nenek di Jogja dan ke pantai Pasir Putih kesukaan kami. Ibuku bilang bahwa mulai saat itu ayah menempuh studi doktor, dan tidak ada mobil lagi, yang diberikan kepadanya karena jabatannya sebagai Pembantu Rektor saat itu. Ayahku lalu membeli sepeda motor baru sebagai moda transportasinya. Aku berpikir ayahku sedang belajar sambil terus bekerja. Tapi selebihnya tidak terlalu kupikirkan karena mulai saat itu kami merasakan keasyikan baru bermalam minggu naik turun bemo yang berisik untuk makan malam di luar sekeluarga. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Lalu bila hari Minggu tiba, ada 4 buah sepeda beriringan menyusuri jalan Ijen. Ayah ibuku berboncengan di depan, disusul kakak laki-lakiku di depan, kakak perempuan dan aku dengan sepeda mini. Kami mengeluh kalau tiba saatnya harus membersihkan sepeda. Kakakku perempuan mengomel karena kakinya jadi besar gara-gara harus mengayuh sepeda setiap hari ke sekolah. Itulah sebabnya saat giliranku tiba untuk naik sepeda ke sekolah, aku memilih berjalan kaki. Keputusan yang tidak banyak membantu karena ternyata kaki besar adalah bawaan dari ibu kami dan bukan persoalan mengayuh sepeda atau tidak. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Kulihat ayahku berhenti berkata-kata, ia tampak tercekat, dan melanjutkan kalimatnya dengan bergetar&lt;/em&gt;. Ayahku menangis, pikirku. Hari itu ayahku telah berhasil menyelesaikan studi doktornya dengan baik dan sangat memuaskan. Aku tidak tahu persis mengapa ayahku menangis. Aku hanya berdiri dengan kaku di samping kedua kakakku, yang juga tampak kaku seperti kawat, serta ibuku yang cantik memakai sanggul dan kebaya. Kami sibuk menerima ucapan selamat dari orang-orang di jurusan bahasa Inggris yang mengantri untuk bergantian menyalami kami. Diam-diam aku merasa bangga juga, walau tidak tahu persis apa yang telah dicapai ayahku. Namun aku tahu Ayah telah mencapai sesuatu yang amat penting dan bernilai, sehingga orang banyak datang dan menyalaminya. Aku mengerti Ayah telah berhasil mencapai sesuatu yang berharga yang telah dicapainya dengan kerja keras.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Sejak hari itu, bila hari Natal tiba dan kartu-kartu natal berdatangan, aku melihat gelar Dr. di depan nama ayahku di amplop kartu. Ayahku tampak bangga melihatnya, demikian juga aku. Perlahan-lahan keadaan ekonomi orangtuaku menjadi lebih baik lagi sehingga ayah bisa membeli sebuah minicab baru. Walau mobil kecil itu tidak lincah tapi hari-hari ceria kami di Pasir Putih kembali lagi bersamanya. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Hari-hari terus berlalu, aku mulai mendapat gambaran yang jelas dan indah tentang profesi ayahku. Entah karena pengaruh lingkungan keluarga atau yang lain, kelas 4 sekolah dasar aku mulai suka main guru-guruan. Bila libur sekolah tiba, aku asyik mengatur bangku-bangku kecil di depan sebuah papan tulis kecil yang dibelikan ayahku untuk kami belajar. Aku mengajak seorang teman bermainku dan seorang anak tetangga untuk duduk tenang di sana dan menjadi muridku. Aku sibuk menyiapkan bahan pengajaran dari buku lamaku dan memberikan mereka latihan di papan tulis untuk dikerjakan di buku mereka. Setelah beberapa waktu aku membuat rapor untuk mereka berdua dan mengumumkan siapa juara kelasnya. Hadiah yang kusiapkan berupa botol-botol kosong bekas kosmetik milik ibuku. Aku merasa sangat senang dan puas saat itu. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Kami mempunyai kamar belajar yang saling berdampingan dengan kamar kerja orangtuaku. Di tengah kesibukan ayahku belajar dan bekerja, ia masih menyempatkan diri untuk memeriksa ulangan harianku di sekolah serta sesekali memberiku latihan untuk membaca sebuah teks bahasa inggris. Bila hari penerimaan rapor tiba dan aku muncul menjadi juara kelas serta kebetulan ikut ayahku ke ruang kerjanya di kantor, ia akan memberitahu staf di kantornya bahwa aku juara kelas. Mereka menyalamiku sambil memujiku. Tentu saja aku gembira. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Saat di bangku SMP, ketika aku berjalan kaki bersama teman menuju sekolah, kadang mobil ayahku melintas- saat itu mobil ayah sudah sedan Ford Laser yang keren, karena jabatannya yang sudah semakin tinggi di kantor- di tengah perjalananku. Maka aku pun segera meloncat masuk ke dalam mobilnya dan pulang bersamanya. Lalu saat makan di luar sekeluarga di malam minggu, aku dan kedua kakakku sering berkelakar untuk mencari restoran yang ada mahasiswanya ayah, karena kemungkinan besar kami akan makan gratis. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Aku juga senang mendengar cerita ayah bahwa ia termasuk seorang dosen yang sangat disegani karena cara mengajarnya yang ’killer’. Julukan itu diberikan oleh para mahasiswa yang tidak siap untuk mengikuti kelasnya karena tidak mempersiapkan diri. Pertanyaan dan umpan dari ayahku tentu saja tidak bisa dikembalikan dengan baik oleh mereka yang tidak siap. Cara mengajar dan memberi tes ayahku pun sangat efisien sehingga ia tidak pernah terlambat menyerahkan nilai murid-muridnya pada waktunya. &lt;/div&gt;&lt;div&gt; &lt;/div&gt;&lt;div&gt; &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Kurasa sikap ayah yang fair dan demokratis juga terbawa dalam mendidik anak-anaknya. Sikap demokratisnya lah yang mendorong aku untuk meninggalkan rumah dan melanjutkan sekolah di luar kota sekalipun kemampuanku dan jurusan yang kuambil masih mengandung banyak kontroversi. Ayah mendorongku untuk mengikuti keinginan hati dan mengambil keputusan yang berani. Aku ingat aku sering kesal pada dosen-dosen di kampusku yang seringkali sangat lama memberikan hasil ujian akhir, bahkan hingga pendaftaran semester baru sudah dimulai. Keterlambatan itu justru sering dilakukan oleh para profesor yang dikenal dengan istilah ‘dewa’ oleh mahasiswa. Aku ingat ayahku yang saat itu juga sudah seorang professor, dan aku bangga karena aku tahu bahwa kedisiplinannya tidak akan pernah mempersulit mahasiswa seperti yang aku alami di almamaterku. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Saat yang paling menyenangkan ketika aku sedang kuliah adalah ketika ayahku kebetulan ada rapat di kota tempatku belajar. Itu adalah kesempatan untuk bersama-sama dengan ayah yang kurindukan, sekalipun hanya beberapa hari saja. Itu juga berarti mandi air panas,tidur di tempat tidur empuk berpendingin ruangan, dan sarapan pagi. Semua kemewahan yang tentu saja tidak aku temui di tempat kost. Aku berdiskusi dengan ayah di hotel dan pernah menyelesaikan tugas kuliahku di kamar tempat ayah menginap. Aku sedih kalau sudah tiba saatnya ayah pulang. Aku melepasnya pergi di depan tempat kostku dan melihat taksi yang membawa ayahku menghilang di tikungan jalan. &lt;/div&gt;&lt;div&gt; &lt;/div&gt;&lt;div&gt; &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Namun kesedihan yang cukup mengesan adalah saat akhirnya aku diwisuda dan ayah harus berada di luar gedung wisuda bersama kakak perempuanku. Tempat itu juga disediakan bagi puluhan orangtua mahasiswa lainnya yang anak-anaknya menyelesaikan masa studi lebih dari 5 tahun. Entah apa yang dipikirkan ayahku saat itu, aku tidak berani bertanya kepadanya. Bagaimanapun, masa2 kuliahku memberiku pelajaran hidup yang tak ternilai. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Setelah aku bekerja dan menikah, aku tinggal di ibu kota bersama suamiku. Akhirnya aku menjadi guru seperti cita-cita masa kecilku. Aku senang sekali karena ayah masih sering datang karena tugas-tugasnya sebagai ketua proyek penelitian mengharuskannya untuk datang ke ibu kota. Kami akan jalan-jalan bertiga ke pertokoan, mencari sesuatu untuk ibu, dan berburu makanan enak di restoran sekitar tempat tinggal kami. Bila sore tiba dan ayah sudah luang, aku suka bersepeda berdua dengannya mengelilingi telaga yang indah yang terletak di area perumahan tempat tinggalku. Kenangan masa kecil seolah kembali bersama kicauan burung sore, diiringi riak-riak air telaga yang berkilauan ditimpa cahaya matahari senja. &lt;/div&gt;&lt;div&gt; &lt;/div&gt;&lt;div&gt; &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Aku bangga dan senang karena ayahku masih sangat sehat dan gesit di usianya yang mulai senja, serta masih terus dipercaya untuk menangani berbagai hal di kantornya. Aku yakin departemen tempat ayah bekerja sangat beruntung dengan adanya ayah di sana. Seringkali aku pun bertanya tentang masalah yang kujumpai dengan murid-muridku. Cara ayah mengajar dan membuat ujian juga menjadi inspirasi buatku saat mengajar. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Kebanggaanku pada ayah kembali memenuhi hatiku saat ayah diundang oleh sekolah tempatku mengajar untuk memberi ceramah tentang tes, bidang keahlian ayahku. Aku senang bila seluruh dunia dapat melihat siapa ayahku. Seorang pekerja keras yang kompeten di bidangnya, seorang yang penuh dedikasi dan disegani oleh koleganya, tidak berkompromi dengan hambatan baik dari dirinya maupun dari luar, dan tentu saja seorang inspirator bagi anak-anaknya, yang selalu muncul dengan ide-ide orisinil untuk memecahkan berbagai permasalahan kehidupan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;EPILOG&lt;/strong&gt; : &lt;em&gt;Aku melangkah menuju jalan raya di depan gereja. Bintang terang yang tadi bersinar di atas kepalaku kini turut mengiringi langkahku pulang. Semua perjalanan karir yang panjang yang ditandai oleh prestasi dan dedikasi ayahku telah usai secara resmi hari ini. Apa yang sudah dijalani dan dicapai oleh ayahku di depan mataku sepanjang hidupku adalah seperti bintang terang yang kini sedang mengikutiku pulang. Ia jauh dan tidak tergapai, tetapi sinarnya menempuh jarak dan waktu menembus keabadian hidup. Kapanpun aku membutuhkan sinarnya untuk menerangi kegelapan jalanku, ia akan selalu di sana untuk memanduku menemukan tujuan akhir perjalananku.&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#339999;"&gt;THE GIFT : (diambil dari berbagai sumber) &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#339999;"&gt;Ayahku pernah bercerita awal karirnya sebagai guru dulu. Karena tidak punya uang, ia harus bersekolah guru dengan ikatan dinas. Ketika tiba saatnya ia diberitahu dimana ia harus bertugas, ayah membanting surat penugasannya. Di sana tercantum sebuah kota kecil di Kalimantan yang bahkan tidak tertera di peta. Kini, aku tahu bahwa ayah telah menuntaskan jalan yang diberikan Tuhan kepadanya dengan sangat baik. Memang tak ada yang kebetulan bagi anak-anak Tuhan yang dikasihiNya. Tuhan membimbing langkah ayahku sedemikian ajaib dan indah hingga kini kami semua dapat menikmati sebuah lukisan Tuhan yang sangat indah yang telah paripurna dengan ayah sebagai kuasNya. Seperti seorang hamba yang melaporkan apa yang telah dibuatnya dengan talenta yang sudah diberikan oleh tuannya, aku tahu bahwa Sang Tuan kelak akan berkata kepada ayahku “Masuklah dalam kerajaanKu hai hambaKu yang setia, karena engkau sudah mengembangkan talenta yang sudah Kuberikan kepadamu hingga berbuah berkali-kali lipat. Kini nikmatilah kebahagiaan bersama Ku” &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#339999;"&gt;Beranjak tua dan pensiun mungkin merupakan tugas tersulit yang harus dihadapi dalam hidup ini. Tetapi sebenarnya ia hanyalah satu lagi langkah peralihan hidup. Ketika kita lahir, kita beralih dari hidup dalam kandungan ke hidup dalam keluarga. Ketika kita masuk sekolah, kita beralih dari hidup dalam keluarga ke hidup dalam komunitas yang lebih besar. Ketika kita menikah, kita beralih dari dari hidup dengan banyak pilihan ke hidup yang terikat ke satu pribadi. Ketika kita pensiun, kita beralih dari hidup dengan pekerjaan yang jelas menuju hidup yang menuntut kreativitas dan kebijaksanaan. Itulah seabnya ada sebuah perumpamaan yang mengatakan “beranjak menjadi tua bukanlah tugas untuk para pengecut” . &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#339999;"&gt;Bagi anak-anak Tuhan, ada satu hal yang takkan pernah menjadi tua dan usai, yaitu kasih Tuhan. Dia mengatakan kepada kita : “ Sampai masa tuamu Aku tetap Dia dan sampai masa putih rambutmu Aku menggendong kamu. Aku telah melakukannya dan mau menanggung kamu terus; Aku mau memikul kamu dan menyelamatkan kamu .” (Yesaya 46:4)&lt;br /&gt;Selamat menikmati masa pensiun, ayahku tercinta. Semoga engkau akan terus berbuah di dalam Tuhan dan menikmati damai sejahtera dalam karya-karyamu yang masih terus menanti curahan bakat dan kemampuanmu. Semoga Tuhan selalu melengkapimu dengan kesehatan, kegembiraan, kebijaksanaan dan iman. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#cc0000;"&gt;&lt;em&gt;“Mereka yang ditanam di bait Tuhan akan bertunas di pelataran Allah kita . Pada masa tua pun mereka masih berbuah, menjadi gemuk dan segar“ (Mazmur 92 : 14-15)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;Kuala Lumpur, 29 Agustus 2005&lt;br /&gt;“Buat ayahku tercinta Michael Soenardi Djiwandono&lt;br /&gt;di hari pensiun dan ultahnya yang ke-70 , 27 Agustus 2005”&lt;br /&gt;Yang selalu bangga dan selalu mengasihimu, Uti &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1926296286733356721-3337473383639811109?l=mylittlecandle.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mylittlecandle.blogspot.com/feeds/3337473383639811109/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mylittlecandle.blogspot.com/2009/05/ayahku-guruku-panutanku.html#comment-form' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1926296286733356721/posts/default/3337473383639811109'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1926296286733356721/posts/default/3337473383639811109'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mylittlecandle.blogspot.com/2009/05/ayahku-guruku-panutanku.html' title='Ayahku, guruku, panutanku'/><author><name>triastuti</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06669118216388127857</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_rcwu8-Ne2jg/ShxT7i_4VRI/AAAAAAAABF8/Vwh_OTSVurg/S220/DSC05118.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_rcwu8-Ne2jg/Sh-5ttUyx8I/AAAAAAAABG8/9bvz6mF6QEg/s72-c/akudanbapak.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1926296286733356721.post-2677173872058969006</id><published>2009-05-29T02:39:00.000-07:00</published><updated>2009-05-29T02:48:45.864-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='candle of love'/><title type='text'>Ayahku, kadoku</title><content type='html'>&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_rcwu8-Ne2jg/Sh-uD2FQSfI/AAAAAAAABG0/ddxQa5hO9aA/s1600-h/bapak+dan+aku.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5341179064165091826" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 200px; CURSOR: hand; HEIGHT: 150px" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_rcwu8-Ne2jg/Sh-uD2FQSfI/AAAAAAAABG0/ddxQa5hO9aA/s200/bapak+dan+aku.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;em&gt;Saat hari ulang tahun ayahku….&lt;br /&gt;adalah saat aku mengingat ……………..&lt;br /&gt;akan sebuah kado ….berbungkus warna-warni, berpita emas.&lt;br /&gt;Isinya penuh dengan mutiara &lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;em&gt;dan permata ratna mutu manikam.&lt;br /&gt;Kotaknya gemerlapan……pitanya berkilauan&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;em&gt;kualitasnya istimewa. &lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;em&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Aku mendapatkannya di depan mataku……….&lt;br /&gt;sesaat setelah aku lahir ke dunia ini.&lt;br /&gt;Kado itu kubawa ke mana pun aku pergi……kujaga dengan hati-hati…&lt;br /&gt;dan dengan segenap cinta…&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Tahun demi tahun yang berlalu,&lt;br /&gt;tidak membuatnya jadi kusam, ..ataupun lapuk.&lt;br /&gt;Ia tahan segala cuaca, selalu awet,… bahkan semakin bersinar ……………&lt;br /&gt;sampai-sampai cahaya sinarnya itu berpendar ke sekelilingnya.&lt;br /&gt;Karena kado itu selalu bersamaku, …dan selalu menemani tiap langkahku………..&lt;br /&gt;maka aku dapat melihat dan membukanya &lt;/em&gt;&lt;div&gt;&lt;em&gt;kapan pun aku mau ……….atau perlu.&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Saat hari ulang tahun ayahku ………….&lt;br /&gt;adalah saat aku mengucapkan syukur tidak terhingga….&lt;br /&gt;kepada Tuhan Maha kasih ….&lt;br /&gt;yang telah memberikan kado istimewa itu kepadaku.&lt;br /&gt;Begitu istimewanya, ………begitu berartinya bagi hidupku..…&lt;br /&gt;Hingga rasanya seribu ucapan terima kasihku padaNya….&lt;br /&gt;tak akan pernah cukup.&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Saat hari ulang tahun ayahku tiba,&lt;br /&gt;hari ini….dengan hati-hati…… kukeluarkan ia …………dari tempat penyimpananku.&lt;br /&gt;Oh lihatlah….betapa indah cahayanya, sedikitpun ia tak menjadi usang&lt;br /&gt;justru semakin indah, makin terang, …….hingga menyilaukanku. &lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;em&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Ingatanku melayang …&lt;br /&gt;Berkilas pada perjalanan hidupku bersama kado itu….&lt;br /&gt;Dulu saat aku lahir, kertas pembungkusnya masih polos,&lt;br /&gt;dan isinya masih agak kosong……pitanya sederhana.&lt;br /&gt;Saat itulah aku mengenal ….Ayahku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seiring waktu berjalan, kado itu mulai terisi………oleh mutiara.&lt;br /&gt;Mutiara pengorbanan dan kasih sayang ayahku……..membesarkan diriku.&lt;br /&gt;Ketika aku mulai dapat berbicara, membaca dan menulis&lt;br /&gt;ayahku mulai mengajarkan…ilmu pengetahuan dan kebaikan hidup….&lt;br /&gt;saat itulah…pita pembungkusnya berubah menjadi emas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari-hari selanjutnya…&lt;br /&gt;yang kujalani bersama ayahku…membuat kado itu makin berisi.&lt;br /&gt;Cinta kasih dan perhatian ayahku kepadaku……&lt;br /&gt;mengisi kado itu dengan butiran-butiran permatanya yang pertama.&lt;br /&gt;Cerita-cerita dan kelucuan ayahku…&lt;br /&gt;membuat pembungkusnya memunculkan semburat warna-warni.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masa-masa ayahku meluangkan setiap waktunya yang sibuk…&lt;br /&gt;untuk bermain bersamaku…dan bercerita tentang masa kecilnya yang jenaka&lt;br /&gt;menambah isi kado itu dengan permata lainnya…. dan mutiara berharga,….&lt;br /&gt;sehingga akhirnya……..kado itu mulai mengeluarkan cahaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cahaya kado itu semakin terang…..bersamaan dengan kerja keras ayahku&lt;br /&gt;untuk berusaha mendapatkan karir yang terbaik bagi keluarga.&lt;br /&gt;Bersamaan dengan kasih ayahku kepada ibuku…..&lt;br /&gt;yang selalu diusahakannya tetap berkilau……hingga aku belajar untuk mencinta.&lt;br /&gt;Bersamaan dengan semua keteladanan dan keteguhan prinsip ayahku&lt;br /&gt;dalam pekerjaannya…. serta semua perhatian dan kepeduliannya kepada sesamanya….&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Akhirnya nilai kado itu telah tak terkirakan lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya aku pun memasuki masa dewasa&lt;br /&gt;Kado itu membuat aku dapat memasuki masa ini….&lt;br /&gt;penuh dengan rasa aman dan bahagia…..yang kualami bersama dalam keluarga.&lt;br /&gt;Rasa aman dan bahagia itu……………&lt;br /&gt;memberiku segenap rasa percaya diri ……….&lt;br /&gt;hingga aku jadi manusia dewasa seutuhnya.&lt;br /&gt;Aku utuh dan sempurna…….bersama kado itu dalam pelukanku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku ingat…saat kado itu benar-benar bersinar&lt;br /&gt;warna-warninya sempurna….. pitanya berkilau&lt;br /&gt;saat ayahku memberiku kebebasan&lt;br /&gt;untuk memilih jurusan pendidikan yang kusukai….. sejak ku masih kecil…&lt;br /&gt;dan membebaskanku ….memilih pasangan hidupku.&lt;br /&gt;Ayahku membebaskanku….untuk memilih cara hidupku..&lt;br /&gt;sambil terus mengawasi dan memberikan nasehatnya…..bila kupinta&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kado itu adalah perjalanan hidupku bersama ayahku.&lt;br /&gt;Ia adalah bukti nyata dari kasih Tuhan kepadaku.&lt;br /&gt;Kapanpun aku memerlukan kekuatan dan inspirasi,…….&lt;br /&gt;atau penerang dalam kegelapan hidupku…..dan hiburan dalam dukaku…&lt;br /&gt;aku akan mengambil dan membuka kado itu kembali…..dan aku…&lt;br /&gt;akan menjadi kuat dan tegak lagi berdiri.&lt;br /&gt;Ayahku, kadoku…. adalah harta milikku yang terindah……tak ada apapun juga……&lt;br /&gt;dapat mengambilnya dari padaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/em&gt;Buat ayahku Michael Soenardi Djiwandono,&lt;br /&gt;di hari ulang tahunnya yang ke 69.&lt;br /&gt;Aku tak kan pernah menjadi seperti ini &lt;div&gt;bila bukan engkau yang menjadi ayahku. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Serpong, 27 Agusutus 2004 &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;With love and pray, Uti&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1926296286733356721-2677173872058969006?l=mylittlecandle.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mylittlecandle.blogspot.com/feeds/2677173872058969006/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mylittlecandle.blogspot.com/2009/05/ayahku-kadoku.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1926296286733356721/posts/default/2677173872058969006'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1926296286733356721/posts/default/2677173872058969006'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mylittlecandle.blogspot.com/2009/05/ayahku-kadoku.html' title='Ayahku, kadoku'/><author><name>triastuti</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06669118216388127857</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_rcwu8-Ne2jg/ShxT7i_4VRI/AAAAAAAABF8/Vwh_OTSVurg/S220/DSC05118.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_rcwu8-Ne2jg/Sh-uD2FQSfI/AAAAAAAABG0/ddxQa5hO9aA/s72-c/bapak+dan+aku.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1926296286733356721.post-2101988364763130275</id><published>2009-05-29T02:25:00.000-07:00</published><updated>2009-05-29T02:38:51.255-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='candle of love'/><title type='text'>Yang terindah dari Ibuku</title><content type='html'>&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_rcwu8-Ne2jg/Sh-q8rJpKQI/AAAAAAAABGs/_QmlyJIlwF0/s1600-h/akudanibu.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5341175642436741378" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 200px; CURSOR: hand; HEIGHT: 150px" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_rcwu8-Ne2jg/Sh-q8rJpKQI/AAAAAAAABGs/_QmlyJIlwF0/s200/akudanibu.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="color:#009900;"&gt;&lt;span style="color:#cc33cc;"&gt;&lt;em&gt;entah sudah berapa banyak waktumu…..&lt;br /&gt;tersita untuk menolong dan membesarkan aku&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;em&gt;Hingga aku jadi tumbuh dan kuat seperti sekarang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="color:#cc33cc;"&gt;entah sudah berapa banyak tenagamu…..&lt;br /&gt;tercurah untuk menjaga dan merawatiku&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Hingga aku jadi utuh sempurna sebagaimana kini&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;span style="color:#993300;"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="color:#cc33cc;"&gt;entah sudah berapa malam tidurmu tak jenak….&lt;br /&gt;karena menjagaku di waktu sakit&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;em&gt;Hingga aku jadi sehat jiwa dan raga sampai kini&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="color:#cc33cc;"&gt;entah sudah berapa banyak kesabaranmu….&lt;br /&gt;habis untuk menghadapi kenakalan dan perlawananku&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;Hingga kini aku jadi dewasa dengan belajar bertoleran dan menahan diri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="color:#cc33cc;"&gt;entah sudah berapa dalam pikiranmu tercurah….&lt;br /&gt;karena memikirkan semua tantangan hidup yang mesti kulalui&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;Hingga aku jadi merasa didukung dan dipahami&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="color:#cc33cc;"&gt;entah sudah berapa kalimat dan nasehatmu….&lt;br /&gt;terucap keluar untuk membuatku mengerti hidup&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;Hingga kini aku jadi sahabat kehidupan&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="color:#cc33cc;"&gt;entah sudah berapa tetes air matamu mengalir di pipi….&lt;br /&gt;menghadapi kesulitan dalam membesarkanku&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;Hingga kini aku belajar menjadi manusia berpengertian&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="color:#cc33cc;"&gt;entah sudah berapa bait doamu terucap….&lt;br /&gt;untuk menyerahkan aku ke dalam pemeliharaan Tuhan&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;Hingga kini aku merasakan sukacita akan kasih Tuhan sepanjang waktu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;IBU, Pengorbananmu tak terhitung…Pengertianmu tak terukur…&lt;br /&gt;Bagiku anakmu….hingga aku jadi manusia seutuhnya…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;span style="color:#cc33cc;"&gt;&lt;em&gt;Mungkin orang akan berkata…&lt;br /&gt;Memang sudah sedemikianlah tugas seorang Ibu terhadap anaknya..&lt;br /&gt;Tapi bila tidak dengan cinta dan kerelaan Ibu melakukannya..&lt;br /&gt;Maka tidak akan banyaklah artinya bagiku&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Terimakasih Ibu, atas semua cintamu......yang sangat berarti bagiku..&lt;br /&gt;Akan selalu kukenang dan kusyukuri…di dalam hatiku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Serpong, 8 Januari 2004&lt;br /&gt;Untuk Ibuku tercinta Sri Esti Wuryani Djiwandono yang berulangtahun ke-62&lt;br /&gt;Semoga Tuhan selalu melimpahkan segala berkat yang Ibu perlukan sehingga Ibu selalu merasakan damai sejahtera dan sukacita dalam Dia. Amin.&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1926296286733356721-2101988364763130275?l=mylittlecandle.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mylittlecandle.blogspot.com/feeds/2101988364763130275/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mylittlecandle.blogspot.com/2009/05/yang-terindah-dari-ibuku.html#comment-form' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1926296286733356721/posts/default/2101988364763130275'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1926296286733356721/posts/default/2101988364763130275'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mylittlecandle.blogspot.com/2009/05/yang-terindah-dari-ibuku.html' title='Yang terindah dari Ibuku'/><author><name>triastuti</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06669118216388127857</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_rcwu8-Ne2jg/ShxT7i_4VRI/AAAAAAAABF8/Vwh_OTSVurg/S220/DSC05118.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_rcwu8-Ne2jg/Sh-q8rJpKQI/AAAAAAAABGs/_QmlyJIlwF0/s72-c/akudanibu.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1926296286733356721.post-4132527746234707156</id><published>2009-05-29T02:16:00.000-07:00</published><updated>2009-05-29T02:25:27.730-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='candle of love'/><title type='text'>How we remember you</title><content type='html'>&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_rcwu8-Ne2jg/Sh-pSDaUHBI/AAAAAAAABGk/3Mb-yq-E8Kg/s1600-h/akudanbapakibu.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5341173810703113234" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 150px; CURSOR: hand; HEIGHT: 200px" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_rcwu8-Ne2jg/Sh-pSDaUHBI/AAAAAAAABGk/3Mb-yq-E8Kg/s200/akudanbapakibu.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;kupersembahkan untuk Bapak Ibuku yang terkasih,&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;em&gt;“How We Remember You”&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Pada hari yang bahagia ini, tepatnya pada hari ulang tahun perkawinan B-I yang ke-37 tahun, 14 Mei 2003, kami berdua ingin sejenak meluangkan waktu untuk mensyukuri rahmat karunia Tuhan, terutama karena DIA telah menyelenggarakan sebuah perkawinan yang indah dari B-I berdua. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Khususnya kami merasa bahagia dan bersyukur karena melalui perkawinan indah itu, kami jadi punya orangtua yang begitu istimewa dan penuh kasih seperti B-I. Dengan segala kelebihan dan kekurangan B-I, kami merasa bahwa B-I adalah orangtua yang paling komplit sedunia. Komplit dalam hal ini kami maksud adalah B-I telah membuat kami menjadi manusia yang seutuhnya. B-I memberikan semua kebutuhan kami, mulai dari yang ragawi sampai yang rohani, tanpa lalai seharipun dan tanpa pamrih sedikitpun. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;B –I mengayomi, melindungi, memberi teladan, merawat, memperdulikan, memberi kesempatan, mengarahkan, membiarkan supaya mengerti sendiri (good way of lesson, by the way), mengingatkan, memberi kebebasan, menghargai, dan akhirnya..melepaskan. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Kami mengagumi semua itu dan seringkali tak tahu lagi bagaimana harus berterima kasih. Kiranya tepat pepatah yang mengatakan “…….butuh tinta sebanyak lautan,…..butuh kanvas seluas langit….untuk melukiskan cinta dan pengorbanan kalian, Bapak dan Ibu, kepada kami anak-anakmu……” (satu hal yang Uti ingat dari sekian banyak kasih dan pengertian B-I…waktu kuliah di Bandung, walau kuliahnya nggak bener, hasilnya jelek, dan bikin was-was,…belum pernah satu bulan pun selama 8 tahun Uti di Bandung, Ibu terlambat mengirim uang. Not a single month. Selalu tiba sebelum atau pas tanggal 25). Your love is so real like the sun rises in the east.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Entah seberapa jauh B-I sudah melihat atau merasakan, tetapi mungkin tidak pernah menduga betapa cinta dan teladan B-I telah menginspirasi kami begitu rupa, baik dalam berkarya, bergaul, berrelasi sebagai suami istri, bersosialisasi dengan orang lain dari segala latar dan kepribadian, dan juga kami ingin memelihara inspirasi itu sampai kami punya anak-anak sendiri kelak, kalau Tuhan menghendaki.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Karena sulit untuk menggambarkan betapa B-I menginspirasi kami, dan selalu memenuhi hati dan jiwa kami, kami akan kutipkan sebait syair dari lagu Michael Franks, untuk mewakili perasaan kami, yang berjudul “&lt;em&gt;How I Remember You&lt;/em&gt;” . Lagu itu nampaknya dibuat untuk seorang kekasih. Tepat juga dalam hal ini, karena B-I adalah kekasih hati kami berdua, yang cintanya tak mengenal musim, selalu manis tuk dikenang sepanjang waktu :&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;em&gt;A chorus of sparrows in summer…...is how we remember you&lt;br /&gt;A fire of maple in autumn…..is how we remember you&lt;br /&gt;The silence of snowfall in winter…….is how we remember you&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;HAPPY 37th ANNIVERSARY, BAPAK IBU TERCINTA&lt;br /&gt;May you two always have an everlasting love…………&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;To our wonderful parents with love and pray, Yoyok &amp;amp; Uti &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1926296286733356721-4132527746234707156?l=mylittlecandle.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mylittlecandle.blogspot.com/feeds/4132527746234707156/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mylittlecandle.blogspot.com/2009/05/how-we-remember-you.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1926296286733356721/posts/default/4132527746234707156'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1926296286733356721/posts/default/4132527746234707156'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mylittlecandle.blogspot.com/2009/05/how-we-remember-you.html' title='How we remember you'/><author><name>triastuti</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06669118216388127857</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_rcwu8-Ne2jg/ShxT7i_4VRI/AAAAAAAABF8/Vwh_OTSVurg/S220/DSC05118.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_rcwu8-Ne2jg/Sh-pSDaUHBI/AAAAAAAABGk/3Mb-yq-E8Kg/s72-c/akudanbapakibu.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1926296286733356721.post-536373320599529459</id><published>2009-05-27T02:01:00.000-07:00</published><updated>2009-05-27T02:19:50.092-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='candle of love'/><title type='text'>Happy Ascension Day</title><content type='html'>&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_rcwu8-Ne2jg/Sh0FrGAykzI/AAAAAAAABGc/ZHqysYZCgPQ/s1600-h/DSC09787.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5340430971037717298" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 150px; CURSOR: hand; HEIGHT: 200px" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_rcwu8-Ne2jg/Sh0FrGAykzI/AAAAAAAABGc/ZHqysYZCgPQ/s200/DSC09787.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Perpisahan umumnya tidak mengenakkan, terutama perpisahan dengan orang yang dekat. Perpisahan dengan orang yang kita sayangi dan telah banyak memberikan arti dalam hidup kita. Sampai ada kalimat populer yang sering kita dengar, ‘&lt;em&gt;bukan perpisahan yang kusesali, melainkan perjumpaan’&lt;/em&gt;. Karena perjumpaan yang telah menghangatkan dan menggembirakan hati, pada saatnya akan melahirkan kesedihan, yaitu saat orang yang telah membawa semua kegembiraan itu pergi dari kehidupan kita. Kalau bukan karena pindah kerja atau domisili, ya karena kematian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa kali berpindah domisili dan negara, membuat saya sendiri merasa kenyang mengalami perpisahan dengan teman dan sahabat yang begitu baik dan menyentuh hati. Sering mengalami tidak membuat saya lantas menjadi ahli menghadapinya. Perpisahan dengan orang yang kita sayangi selalu terasa berat dan menyakitkan, kapan pun, dan di manapun. Untunglah teknologi komunikasi sudah semakin maju. Memelihara kontak secara cepat dengan sahabat yang tidak lagi bisa dijumpai secara fisik, selain lewat telepon dan email, sekarang ada facebook. Sarana komunikasi baru yang cukup fenomenal dalam sejarah peradaban manusia. Di situ, kabar kehidupan pribadi dan sehari-hari teman-teman kita, baik yang lama maupun yang baru, dapat dengan mudah kita akses kapan saja. Sekalipun begitu, sarana komunikasi yang ada tidak pernah dapat menggantikan nilai dan bobot perjumpaan secara fisik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimanapun, saya berusaha belajar untuk membangkitkan kehangatan dan getaran rasa lewat perjumpaan fisik melalui sarana komunikasi yang ada. Itulah jalan saya untuk tetap dapat mengalami selalu kegembiraan dan arti perjumpaan yang telah pernah saya alami bersama orang yang terkasih tersebut. Atau bila perpisahan terjadi karena kematian, maka kenangan dan memori akan menjadi sarana untuk membuat kebersamaan dengan orang yang kita sayangi itu tetap hidup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari ini dalam perayaan Yesus naik ke Surga, para murid akhirnya harus berpisah dengan Yesus. Setelah tiga tahun mengalami perjumpaan yang luar biasa dengan seorang yang kasih dan karismanya juga luar biasa mengubah hidup mereka, para rasul harus menyaksikan Sang Guru yang terkasih terangkat ke awan diiringi malaikat-malaikat surga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini mereka didampingi oleh Roh Kudus yang akan melengkapi dan menyertai tugas pewartaan kasih itu ke berbagai penjuru angin. Saya membayangkan betapa gamang, sedih dan rindu para murid kepada Yesus. Tetapi seperti juga hasil dari sebuah perjumpaan, para rasul telah menjadi tidak sama lagi dengan saat mereka pertama kali berjumpa dengan Dia di pinggir danau. Kenangan akan pengajaran, pengorbanan, kasih, dan kehadiranNya di tengah mereka telah terpatri dalam sanubari dan mengubah hidup mereka secara total. Kini mereka melanjutkan hidup dengan segenap keyakinan dan tekad untuk mewartakan apa yang telah mereka saksikan dan telah membuat hidup mereka menjadi baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya merasa bahwa kata-kata yang diungkapkan oleh kedua malaikat setelah Yesus berangkat ke surga memberi mereka kepastian, bahwa perjuangan mereka tidak akan sia-sia, tetapi selalu penuh pengharapan. “Hai orang-orang Galilea, mengapakah kamu berdiri melihat ke langit ? Yesus ini, yang terangkat ke sorga meninggalkan kamu, akan datang kembali dengan cara yang sama seperti kamu melihat Dia naik ke surga” Dan berangkatlah mereka memenuhi panggilan perutusan yang diberikan Yesus. Mereka memberikan hidupnya untuk Tuhan dengan sukacita yang penuh, walau tantangan dan penderitaan menanti di depan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga perjumpaan saya dengan Yesus dan teladan kasihNya juga mengubah saya menjadi manusia yang baru yang selalu rindu untuk mewartakan kasih dan damaiNya kepada dunia. &lt;em&gt;Bukan perpisahan yang kusesali, melainkan perjumpaan&lt;/em&gt;. Tetapi perjumpaan yang membuat kita sedih kalau berpisah, adalah perjumpaan berkat, perjumpaan syukur. Perjumpaan cinta. Maka sebenarnya penyesalan yang sesungguhnya terjadi, bila perjumpaan itu tidak mengubah apa-apa dari kita untuk menjadi lebih baik. Atau bila perjumpaan itu tidak membuat kita menjadi insan yang lebih mengasihi dan lebih dewasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;San donato, 20 Mei 2009&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1926296286733356721-536373320599529459?l=mylittlecandle.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mylittlecandle.blogspot.com/feeds/536373320599529459/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mylittlecandle.blogspot.com/2009/05/happy-ascension-day.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1926296286733356721/posts/default/536373320599529459'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1926296286733356721/posts/default/536373320599529459'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mylittlecandle.blogspot.com/2009/05/happy-ascension-day.html' title='Happy Ascension Day'/><author><name>triastuti</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06669118216388127857</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_rcwu8-Ne2jg/ShxT7i_4VRI/AAAAAAAABF8/Vwh_OTSVurg/S220/DSC05118.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_rcwu8-Ne2jg/Sh0FrGAykzI/AAAAAAAABGc/ZHqysYZCgPQ/s72-c/DSC09787.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1926296286733356721.post-1402121582324809528</id><published>2009-05-20T05:45:00.000-07:00</published><updated>2009-06-05T23:07:10.064-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='the candle of Mother Mary'/><title type='text'>Selamat hari raya Kabar Sukacita</title><content type='html'>&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_rcwu8-Ne2jg/ShP8bESuZtI/AAAAAAAABFM/gaNhd-0ps0E/s1600-h/100_1441.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5337887525303117522" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 200px; CURSOR: hand; HEIGHT: 150px" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_rcwu8-Ne2jg/ShP8bESuZtI/AAAAAAAABFM/gaNhd-0ps0E/s200/100_1441.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="color:#333399;"&gt;Sebab bagi Allah tidak ada yang mustahil (Lukas 1 : 37)&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Keponakan saya yang bernama Jojo, di usianya yang ke-empat dengan logat bicara yang masih cadel, sering mengatakan kalimat / frasa yang dia sendiri tidak tahu artinya, yaitu “ndak matuk akal” (tidak masuk akal). Mungkin karena ia sering mendengar ayahnya (alias kakak saya) mengatakan hal yang sama, maka ia gemar sekali mengucapkannya. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Anak-anak memang suka meniru. Apapun pembicaraan yang kebetulan didengar oleh Jojo, akan ditanggapinya dengan kalimat favoritnya itu. Kadang ia akan mengatakannya dengan mimik serius, seolah dia mengerti apa yang sedang dia katakan. Namun kadang dia mengucapkannya sambil berlari ke halaman dengan senyum yang lebar menggoda, membuat saya menjadi gemas, ingin menangkapnya untuk mengacak-acak rambutnya yang halus dan mencubit pipinya yang membal seperti kue bapau. Saya sendiri tidak tahu mengapa kakak saya sering mengatakan kata-kata itu sehingga Jojo menirukannya atau mengapa kata-kata itu yang paling menarik untuk Jojo sehingga menjadi frasa favoritnya. Biasanya saya tidak mampu berbuat lain selain tertawa tergeli-geli sampai lupa sendiri pada apa yang hendak saya katakan.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Saya tidak sering berada di dekat keponakan saya tersayang itu karena saya selalu merantau. Jauh di dalam hati saya selalu merasa rindu kepada Jojo dan ingin terus mengikuti perkembangannya. Seringkali bila saya mengalami situasi yang menjengkelkan atau berhadapan dg orang yang sulit, secara iseng saya bilang saja dalam hati ‘ndak matuk akal ini” dg logat Jojo, untuk menghilangkan kekesalan dan menghibur diri sendiri. Sering kekesalan saya jadi berkurang membayangkan wajah Jojo mengatakan kalimat favoritnya itu. Hati saya menjadi lebih tenang dan kepala menjadi lebih dingin. Kalimat itu sendiri pada saat saya mengingatnya tidak ada artinya tetapi kepolosan dan keceriaan Jojo serta kerinduan saya kepadanya membuat kata-kata itu seperti obat mujarab untuk mengusir keresahan.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Pagi ini di gereja, kepolosan dan ketidak mengertian Jojo sekali lagi menghiasi hati saya saat mendengarkan bacaan Injil mengenai kabar sukacita yang dibawa oleh Malaikat Gabriel kepada Bunda Maria. Kabar itu berisikan pemberitahuan bahwa Bunda akan mengandung seorang Putera dari Roh Kudus. Bunda belum bersuami saat itu. Saya membayangkan betapa bingung dan tidak paham nya Bunda saat mencoba mencerna pemberitahuan ini dengan akal budinya. Betapa mungkin secara manusiawi, Bunda akan berkata kepada malaikat Gabriel bahwa semua yang dikatakan kepadanya itu ‘tidak masuk akal’.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Saya sesekali berdiskusi dengan saudara seiman mengenai Allah, mengenai Tuhan, mengenai Kitab Suci, mengenai rencana Tuhan bagi manusia, dan kata-kata ‘tidak masuk akal’ sering mendominasi perdebatan dan diskusi kami. Mungkin terlalu banyak mengandalkan logika dan pikiran manusia yang terbatas membuat diskusi kami seringkali mentok dan buntu. Saya yakin bila Bunda Maria hanya mengandalkan logika manusianya maka beliau hanya akan berkutat pada ‘tidak masuk akal” dan rencana agung penebusan tidak bisa dilanjutkan. Tetapi apakah akal itu ? darimana akal itu berasal ? Seperti Jojo yang tidak paham apa artinya ‘tidak masuk akal’, berkutat dengan akal tidak membawa kita kemana-mana, mungkin hanya jalan di tempat saja.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Tetapi saya merasa bahwa Bunda berani melangkah lebih jauh daripada sekedar berhenti pada akal. Bunda menyadari ada yang jauh lebih tinggi nilai dan fungsinya daripada akal. Bunda memutuskan untuk berjalan selangkah lebih jauh dengan kacamata iman. Dan saya merasa bahwa di atas segalanya, Bunda Maria yang tetap tidak mengerti keseluruhan rencana Allah, menyediakan diri untuk menjadi mitra Allah untuk bekerja sama dengan Sang Pencipta yang Bunda imani dan kasihi, untuk membuat dunia dan kehidupan menjadi tempat yang lebih baik bagi manusia dan semua mahluk ciptaan.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Selamat memperingati hari raya kabar sukacita 25 Maret, yaitu kabar malaikat Gabriel kepada Bunda Maria bahwa Allah menjadi manusia, untuk bersama-sama dengan kita dan menjadi sama seperti kita kecuali dalam hal dosa.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;San donato, 25 maret 2009&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1926296286733356721-1402121582324809528?l=mylittlecandle.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mylittlecandle.blogspot.com/feeds/1402121582324809528/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mylittlecandle.blogspot.com/2009/05/selamat-hari-raya-kabar-sukacita.html#comment-form' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1926296286733356721/posts/default/1402121582324809528'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1926296286733356721/posts/default/1402121582324809528'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mylittlecandle.blogspot.com/2009/05/selamat-hari-raya-kabar-sukacita.html' title='Selamat hari raya Kabar Sukacita'/><author><name>triastuti</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06669118216388127857</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_rcwu8-Ne2jg/ShxT7i_4VRI/AAAAAAAABF8/Vwh_OTSVurg/S220/DSC05118.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_rcwu8-Ne2jg/ShP8bESuZtI/AAAAAAAABFM/gaNhd-0ps0E/s72-c/100_1441.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1926296286733356721.post-5905718138587818499</id><published>2009-05-20T05:38:00.000-07:00</published><updated>2009-05-20T05:44:58.613-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='candle of faith'/><title type='text'>Hari Rabuku tanpa abu</title><content type='html'>&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_rcwu8-Ne2jg/ShP7OmikqKI/AAAAAAAABFE/oLPo3ppeY20/s1600-h/DSC06999.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5337886211646466210" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 200px; CURSOR: hand; HEIGHT: 150px" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_rcwu8-Ne2jg/ShP7OmikqKI/AAAAAAAABFE/oLPo3ppeY20/s200/DSC06999.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Hari ini untuk pertama kalinya adalah Rabu Abu tanpa abu bagiku. Pagi-pagi aku dan suamiku bangun untuk bisa merayakan misa Rabu Abu di gereja Santa Barbara di dekat rumah. Seperti hari-hari yang lain, misa hari ini dihadiri tidak lebih dari duapuluhan umat. Setelah Homili dan bahkan Komuni selesai, semakin jelas bagi kami bahwa di gereja di Milan tempat kami bermukim ini tidak ada pembagian salib abu di hari Rabu Abu. Aku dan suamiku berpisah di halaman gereja karena ia harus ke kantor dan aku sendiri melangkah pelan kembali ke arah rumah kami.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Cuaca menjelang berakhirnya musim dingin menuju datangnya musim semi di hari-hari ini sangat cerah. Matahari tidak pernah lupa untuk mampir di langit yang biru menghamburkan cahayanya yang hangat dan ceria. Sambil menikmati pemandangan sekitar yang dipenuhi pepohonan yang belum mulai berdaun kembali, aku setengah melamun masih memikirkan absen-nya abu di perayaan misa yang baru saja kuhadiri. &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Walaupun tidak ada abu, hari-hari di Milan saat musim dingin yang hampir berlalu ini begitu akrab dengan warna abu-abu. Tidak hanya pepohonan yang tidak berdaun dan hanya menampilkan batang dan rantingnya yang berwarna kelabu, tetapi juga pakaian musim dingin orang-orang dimanapun aku berjumpa selalu bernuansa abu-abu atau hitam dan coklat tua. Belum lagi sering absen-nya matahari karena selalu tertutup awan tebal atau hujan salju yang renyai. Mungkin orang di sini sudah kenyang dengan warna abu di musim dingin sehingga tidak merasa perlu adanya abu di hari Rabu Abu, pikirku mencoba bercanda dengan diri sendiri.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Teringat saat pelajaran menggambar di sekolah dulu, aku bisa mendapatkan warna kelabu dengan mencampurkan warna putih dengan warna hitam. Semakin banyak warna hitam yang aku campurkan, semakin gelap warna kelabu yang dihasilkan. &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Pergulatan batin manusia juga selalu ditarik ke dua arah putih dan hitam, negatif dan positif, mudah dan sulit, sukacita dan dukacita, dingin dan ramah, optimis dan pesimis, rajin dan malas, pelit dan murah hati. Walau tentang baik dan buruk kadang tidak selalu bisa diambil batas yang jelas. Banyak hal berada di wilayah abu-abu. Mungkin karena kita tidak pernah sepenuhnya hitam atau sepenuhnya putih tetapi selalunya komposisi dari keduanya.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Dalam masa masa berpantang dan berpuasa ini warna abu mengingatkanku untuk mengatur keseimbangan komposisi hitam dan putih yang menjadi pilihan-pilihanku setiap hari. Warna-warna hitam kegelisahan, iri hati, kemalasan, kesombongan, kehilangan harapan, diimbangi dengan warna-warna putih cerah dari kemurahan hati, belaskasihan, solidaritas, harapan, kasih pengampunan dan pengorbanan. &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Pergulatanku setiap hari untuk memadukan dua warna yang berbeda ini akan menghasilkan komposisi warna yang akhirnya akan mewarnai seluruh hari-hariku dan relasiku dengan sesama dan Tuhan. Semuanya kembali kepada diriku. Kadang memilih untuk mencampurkan lebih banyak warna putih sangat berat dan ‘makan hati’ , tetapi aku teringat kepada perumpamaan yang diberikan Yesus kepada para murid, “Demikian pula hal Kerajaan Surga itu seumpama seorang pedagang yang mencari mutiara yang indah. Setelah ditemukannya mutiara yang sangat berharga, ia pun pergi menjual seluruh miliknya lalu membeli mutiara itu”.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Bagaimanapun beratnya, keputusanku dan kesadaranku untuk mencampurkan lebih banyak warna putih setiap hari mengantarkanku kepada harta mutiara yang terindah yang tersembunyi yang hanya bisa ditemukan dalam warna abu-abu muda yang tidak terlalu banyak warna hitamnya.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;San donato, 25 Februari 2009&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1926296286733356721-5905718138587818499?l=mylittlecandle.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mylittlecandle.blogspot.com/feeds/5905718138587818499/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mylittlecandle.blogspot.com/2009/05/hari-rabuku-tanpa-abu.html#comment-form' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1926296286733356721/posts/default/5905718138587818499'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1926296286733356721/posts/default/5905718138587818499'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mylittlecandle.blogspot.com/2009/05/hari-rabuku-tanpa-abu.html' title='Hari Rabuku tanpa abu'/><author><name>triastuti</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06669118216388127857</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_rcwu8-Ne2jg/ShxT7i_4VRI/AAAAAAAABF8/Vwh_OTSVurg/S220/DSC05118.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_rcwu8-Ne2jg/ShP7OmikqKI/AAAAAAAABFE/oLPo3ppeY20/s72-c/DSC06999.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1926296286733356721.post-8104072357092037120</id><published>2009-05-20T05:29:00.000-07:00</published><updated>2009-05-20T05:36:48.649-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='candle of faith'/><title type='text'>Takut</title><content type='html'>&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_rcwu8-Ne2jg/ShP5GylAKyI/AAAAAAAABE8/v9yiOEJSs38/s1600-h/100_2281.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5337883878415674146" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 200px; CURSOR: hand; HEIGHT: 150px" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_rcwu8-Ne2jg/ShP5GylAKyI/AAAAAAAABE8/v9yiOEJSs38/s200/100_2281.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;em&gt;(terimakasih untuk sahabatku Lita dan kakakku Santi yang telah menginspirasiku untuk menuliskan ini..)&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Kalau dipikir-pikir dan dirasa-rasa lagi dengan jernih, ternyata manusia boleh dikata selalu hidup dalam ketakutan. Dari sekian banyak emosi natural manusia yang sifatnya netral yaitu sedih, marah, kecewa, takut (cemas), maka rasa takut yang tampaknya paling sering mendominasi perasaan manusia.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Takut mati, takut tua, takut sakit, takut bencana alam, takut kehilangan orang yang dicintai, takut nggak lulus ujian, takut kehilangan atau nggak dapat pekerjaan, takut terpeleset saat jalan di atas jalanan bersalju atau kamar mandi yang licin, takut dikhianati pacar, takut terbang, takut keracunan, takut bangkrut /usahanya gagal, takut nggak dapat pasangan hidup, takut nggak punya anak dan kesepian di hari tua, dan masih panjang lagi daftar ketakutan itu kalau dilanjutkan. Jika kita membaca surat kabar atau melihat TV, entah berapa kali kata takut itu akan kita jumpai.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Kalau rasa takut itu berusaha dijauhi, adanya hanya menipu diri. Karena rasa takut itu tetap ada dan tidak bisa diingkari. Paling hanya mengalihkan sebentar perhatian kepada rasa takut sesudah itu ia muncul lagi dan harus kita hadapi kembali. Yesus juga mengalami rasa takut yang sangat saat berdoa di Taman Getsemani. Rasa takutNya sebagai manusia karena mengetahui akan menghadapi suatu penderitaan yang besar. KeputusanNya untuk tetap maju menyongsong salib menunjukkan bahwa ada celaka-celaka dan derita-derita yang tidak untuk dihindari walaupun rasa takut itu pada mulanya adalah untuk menghindarkan manusia dari celaka / derita.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Teori mengatakan bahwa rasa takut adalah bagian dari karunia alam sebagai mekanisme pertahanan diri dan sarana survival untuk bertahan hidup. Kenyataannya rasa takut itu sendiri sering begitu melumpuhkan sampai rasanya kita tidak berani bergerak apapun dan kemanapun dan menjadi sangat pasif untuk menghindari resiko yang kita takutkan itu terjadi. Jika demikian reaksi kita, maka hilanglah fungsi rasa takut itu sebagai alat untuk survive. Sebaliknya, ia membuat kita mati sebelum waktunya, menjadi renta tiba-tiba padahal umur baru kepala tiga dan badan merasa sakit dan tak berdaya sebelum sakit sungguhan. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Berarti rasa takut yang sifatnya netral dan karunia alam itu harus disikapi sedemikian supaya fungsinya sebagai alat pertahanan diri dan survival bisa terus berjalan dan justru kita mendapat manfaat dan gaya dorong untuk hidup dan berkembang dari rasa takut yang disikapi dengan sepatutnya.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Rasa takut yang sewajarnya membuat kita berhati-hati dan penuh perhitungan yang akan menyelamatkan kita dari bahaya. Jika kita tidak mempunyai rasa takut, kita akan cenderung lengah dan tidak menyadari adanya bahaya sehingga memudahkan kita mengalami celaka. Tanpa rasa takut, saya akan berjalan dengan langkah-langkah lebar dan cepat di atas jalanan yang licin sehingga saya bisa terpeleset dan jatuh. Rasa takut adalah sarana untuk menyelamatkan, yang sepatutnya menjadi sahabat kita dan tidak perlu dijauhi. Seperti halnya rasa takut akan Tuhan, hal itu bukanlah suatu sikap untuk dicemooh dan dianggap usang. Takut kepada Yang Membuat Hidup akan membuat kita tidak semena-mena jadi manusia karena sadar ada Yang Lebih Besar daripada kita.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana mengolah rasa takut sehingga ia menjadi konstruktif dan membuat kita selamat dan tetap semangat menjalani hidup?&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Pada saat saya merasa takut dan merasa lumpuh karena dikuasai olehnya, saya biasanya akan datang kepada Tuhan dan berdoa. Setelah berdoa, rasa takut saya itu biasanya tidak hilang, tetap saja takut, tetapi biasanya timbul suatu cara baru untuk melihat dan menyikapinya. Saya sadar bahwa saya tidak punya kendali atas apapun juga, bahkan atas tubuh saya sendiri, sebaik-baiknya saya menjaganya. Semua hal bisa terjadi di luar harapan saya dengan sewaktu-waktu dan saya hanya akan menontonnya terjadi dengan penuh ketakutan dan kecemasan. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Tetapi melalui doa dan berjumpa dengan Tuhan di dalam keheningan, sambil mengingat kembali kata-kata Yesus yang selalu bergema di hati kita, “Jangan takut, karena Aku telah mengalahkan dunia”, maka saya mengumpulkan kekuatan untuk mulai mengendalikan rasa takut yang tetap ada itu.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Yang membuat saya memutuskan untuk bangkit dari ketakutan itu, karena saya menyadari bahwa Tuhan tahu bahaya-bahaya apa yang mengintai anak-anakNya dan karena Ia tahu, maka Ia memegang kendali sepenuhnya atas semua bahaya itu. Saya akan tetap takut untuk hal-hal dan kemungkinan- kemungkinan menyeramkan yang terjadi di luar kendali saya. Tetapi Tuhan sudah berkata jangan takut dan itu berarti Ia sudah memegang kendali atas segala hal sehingga saya akan melanjutkan hidup saya dengan tenang dan menghadapi rasa takut saya sebagai teman untuk membuat saya selalu bersikap rendah hati, waspada, dan memperhitungkan segala sesuatu secara sehat. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Dan seandainya terjadi juga apa yang saya takutkan, maka penderitaan Yesus dan para martir kudus mengingatkan saya bahwa ada penderitaan penderitaan yang tidak harus dihindari.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;San Donato, Jan 14 2009&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1926296286733356721-8104072357092037120?l=mylittlecandle.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mylittlecandle.blogspot.com/feeds/8104072357092037120/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mylittlecandle.blogspot.com/2009/05/takut.html#comment-form' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1926296286733356721/posts/default/8104072357092037120'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1926296286733356721/posts/default/8104072357092037120'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mylittlecandle.blogspot.com/2009/05/takut.html' title='Takut'/><author><name>triastuti</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06669118216388127857</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_rcwu8-Ne2jg/ShxT7i_4VRI/AAAAAAAABF8/Vwh_OTSVurg/S220/DSC05118.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_rcwu8-Ne2jg/ShP5GylAKyI/AAAAAAAABE8/v9yiOEJSs38/s72-c/100_2281.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1926296286733356721.post-3065097952544905526</id><published>2009-05-20T05:07:00.000-07:00</published><updated>2009-05-20T05:25:24.015-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='the candle of Mother Mary'/><title type='text'>Sepatu kerendahan hati</title><content type='html'>&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_rcwu8-Ne2jg/ShP2m8TEPJI/AAAAAAAABE0/Hkf3SvyCNnY/s1600-h/DSC08076.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5337881132245728402" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 200px; CURSOR: hand; HEIGHT: 150px" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_rcwu8-Ne2jg/ShP2m8TEPJI/AAAAAAAABE0/Hkf3SvyCNnY/s200/DSC08076.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;em&gt;&lt;span style="color:#330033;"&gt;Terjadilah padaku menurut &lt;/span&gt;&lt;span style="color:#330033;"&gt;perkataanMu &lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;span style="color:#330033;"&gt;(Lukas 1 : 38)&lt;/span&gt;&lt;span style="color:#330033;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;Kata-kata yang diucapkan Bunda Maria dalam menanggapi kabar yang kudus Malaikat Gabriel untuk mengandung Putera Allah bagi keselamatan manusia, lahir dari kerendahan hati yang amat dalam dari Bunda Maria di hadapan Tuhan. Kata-kata itu sebetulnya bentuk lain dari kalimat, “Ya, Tuhan, ya, aku menurut, apapun yang Engkau ingin aku lakukan dan lalui, jadilah itu, Engkau tahu apa yang Engkau lakukan, Engkau yang selalu mencintai manusia dan menginginkan kebaikan yang sepenuhnya bagi manusia.”&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Kerendahan hati Bunda juga membuatnya mampu mempercayai sepenuhnya kuasa penyelenggaraan Allah walaupun kadang ia sendiri tidak selalu mampu memahami jalan-jalan yang harus ia lalui untuk menggenapi rencana agung Allah menyelamatkan dunia dari kegelapan dosa dan kematian. Kerendahan hati itulah yang membuat Bunda memutuskan untuk pasrah dan taat sepenuhnya untuk bekerja sama dengan Allah mengemban tugas yang amat mulia sekaligus sama sekali tidak ringan dan menuntut banyak pengorbanan itu.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Betapa banyaknya yang dapat aku pelajari dari sebuah sikap kerendahan hati. Betapa sikap itu membuatku menghayati keindahan hidup ini walaupun ada banyak suka duka, tantangan dan penderitaan, kebimbangan dan kekecewaan di dalamnya. Kerendahan hati membuat aku meletakkan diriku pada perspektif yang berbeda dari sekedar selalu ‘berpusat pada diriku’.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Melulu memikirkan kepentingan, kemuliaan, kehormatan, kesenangan, dan kebutuhan diriku sendiri membuatku seperti berjalan dengan sepatu yang alasnya halus / rata di atas salju bercampur es yang licin. Aku jadi hanya berkonsentrasi pada cara bagaimana supaya aku tidak terpeleset. Aku jadi tidak mampu memandang ke arah lain, dan memikirkan apa yang menjadi kesedihan atau kebutuhan orang lain di sekitarku, karena mataku terpusat ke kakiku, langkahku, keseimbanganku, agar aku tidak terjatuh. Aku menjadi terlalu sibuk memikirkan kepentinganku, kekecewaan-kekecewaanku, kesedihan diriku sendiri, kegagalan dan penyesalan-penyesalan, dan kekhawatiranku akan masa depan.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Sikap kerendahan hati seperti memilih sebuah sepatu khusus dengan gerigi di alasnya sehingga langkahku di atas lapisan es menjadi stabil, mencengkeram, dan mencegahku terjatuh karena terpeleset. Baru saat itulah aku dapat melihat keindahan jalan-jalan yang kulalui, menikmati pemandangan, dan menyapa orang-orang yang kujumpai serta menawarkan bantuanku bagi orangtua yang sedang menyeberang jalan, karena aku tidak perlu lagi melulu mengarahkan pandangan dan keseimbanganku pada kakiku sendiri. Sepatu bergerigi itu akan melakukan tugasnya mencegahku terpeleset. Aku tidak perlu memikirkan kakiku sendiri lagi. Karena sejak semula aku ditakdirkan untuk menikmati perjalanan, mengemban misiku untuk berkonsentrasi pada pelajaran-pelajaran dan keindahan yang kujumpai sepanjang jalan kehidupan.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Memakai sepatu kerendahan hati, mengakui bahwa aku hanyalah sebentuk manusia ciptaan karena kemurahan dan belaskasihan Tuhan dan sesama, membebaskanku dari sikap malas, sombong, acuh tak acuh, dan kekecewaan terhadap hal-hal yang tak mampu kuubah serta harapan-harapan yang tak terpenuhi dalam hidup ini.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Kerendahan hati memampukanku melepaskan fokus hidup pada diri sendiri dan mulai menikmati kehidupan ini apa adanya dan mensyukuri setiap kesempatan dan anugerah di dalamnya yang tak ada habis-habisnya. Kerendahan hati mencegahku mengurangi arti keindahan hidup yang sesungguhnya dan mencegahku terpeleset jatuh kepada kesombongan dan sikap apatis.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Seperti juga Bunda Maria yang melupakan mimpi-mimpi pribadinya dan menyerahkan semua keinginannya kepada kehendak Tuhan yang Maha Kasih demi kehidupan, demikian pula aku rindu untuk mulai menikmati kehidupan yang sesungguhnya yang sudah terpolusi oleh belenggu kesombongan dalam hidup yang penuh dengan kompetisi ini, luka-luka di hati, kekhawatiran akan masa depan, penyesalan atas kegagalan, dengan selalu memakai sepatu bergerigi pada kakiku, mempercayakan kestabilan langkahku padanya supaya aku tetap stabil dan bisa memfokuskan diri pada orang lain dan keindahan hidup ini.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Seperti Bunda Maria, aku ingin mempercayakan dan memasrahkan diriku sepenuhnya kepada Tuhan, yang telah membentukku sejak semula, percaya kemana Ia sedang membawaku dan bagaimana Ia sedang membentukku. Aku rindu untuk percaya sepenuhnya, dengan segenap kerendahan hati, bahwa Ia yang memberi hidup, tahu bagaimana menghandle dan membawaku tiba pada tujuan-tujuannya yang sebenarnya.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;San Donato, five days before Christmas 2009&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1926296286733356721-3065097952544905526?l=mylittlecandle.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mylittlecandle.blogspot.com/feeds/3065097952544905526/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mylittlecandle.blogspot.com/2009/05/sepatu-kerendahan-hati.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1926296286733356721/posts/default/3065097952544905526'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1926296286733356721/posts/default/3065097952544905526'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mylittlecandle.blogspot.com/2009/05/sepatu-kerendahan-hati.html' title='Sepatu kerendahan hati'/><author><name>triastuti</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06669118216388127857</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_rcwu8-Ne2jg/ShxT7i_4VRI/AAAAAAAABF8/Vwh_OTSVurg/S220/DSC05118.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_rcwu8-Ne2jg/ShP2m8TEPJI/AAAAAAAABE0/Hkf3SvyCNnY/s72-c/DSC08076.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1926296286733356721.post-2839110442481898981</id><published>2009-05-20T04:28:00.000-07:00</published><updated>2009-05-20T04:55:44.455-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='candle of prayer'/><title type='text'>Kisah meja doaku</title><content type='html'>&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_rcwu8-Ne2jg/ShPvmkT88iI/AAAAAAAABEs/W4NGI2Rl5Vs/s1600-h/DSC04981.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5337873429225599522" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 200px; CURSOR: hand; HEIGHT: 150px" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_rcwu8-Ne2jg/ShPvmkT88iI/AAAAAAAABEs/W4NGI2Rl5Vs/s200/DSC04981.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Hmm…dimana nanti aku bisa meletakkan meja doa ya ? ruang tamu ini sudah tampak penuh dengan sofa berbentuk huruf L dan 2 kursi santai berbentuk bundar itu. Rasanya tidak ada lagi tempat yang tersisa yang cukup nyaman buat meletakkan meja doaku. Bagaimana dengan kamar tidur ? Aku melongok ke dalamnya, berharap menemukan suatu sudut yang cukup lapang dan nyaman untuk aku bersimpuh di depan meja doa yang sudah aku beli beberapa waktu sebelum kepindahanku ke apartemen ini. Aku ingin meletakkannya di sudut yang paling nyaman dan teduh dimana aku dapat bersimpuh di depannya dan bercakap-cakap dengan penuh kehangatan dengan Tuhan serta mendengarkan Dia berbicara dengan lembut di dalam hatiku.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Di mana aku meletakkan Tuhan dalam hidup ini ? Di mana aku meletakkan diriku dan pikiran-pikiranku dalam menghadapi peristiwa-peristiwa kehidupan sehari-hari ? Di sudut pikiran positif ? atau di kamar besar tempat pikiran negatif bersemayam ? Kamar itu besar sekali tetapi di dalamnya dingin dan gelap. Di kamar itu rasa curiga, iri hati, acuh tak acuh, dan sinisme menjadi hiasan dindingnya. Perabotannya adalah kejenuhan, kemalasan, rasa cepat menyerah, dan putus asa. Dindingnya didominasi warna ketakutan.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Ya..sayang sekali, jika aku memilih untuk sering berada di ruangan itu…berarti aku telah melewatkan saat-saat penuh kedamaian di mana meja doaku berada, yaitu di ruangan dimana Tuhan juga duduk di sana, dan menungguku untuk menikmati peristiwa kehidupan ini dengan hati yang gembira dan penuh syukur, hati yang selalu siap untuk memberi dan mengasihi, hati yang siap melupakan diri sendiri supaya orang lain bahagia. Itulah sebabnya kamar di mana meja doaku berada tidak memerlukan cahaya apapun sebagai penghangat dan penerangan, berada di sana bersamaNya membuat ruangan itu selalu cerah, hangat, dan bercahaya dengan sendirinya.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Hanya saja...kamar dimana meja doaku itu berada, tidak selalu mudah untuk dimasuki. Sebetulnya pintunya selalu terbuka lebar, tetapi anehnya aku tidak dapat masuk sebelum aku memakai pakaian ketaatan dan kerendahan hati. Dan pakaian itu hanya bisa kupakai jika aku melepaskan dulu egoku, kesombonganku, kesibukanku.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;San Donato, malam minggu yang dingin di penghujung November&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1926296286733356721-2839110442481898981?l=mylittlecandle.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mylittlecandle.blogspot.com/feeds/2839110442481898981/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mylittlecandle.blogspot.com/2009/05/kisah-meja-doaku.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1926296286733356721/posts/default/2839110442481898981'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1926296286733356721/posts/default/2839110442481898981'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mylittlecandle.blogspot.com/2009/05/kisah-meja-doaku.html' title='Kisah meja doaku'/><author><name>triastuti</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06669118216388127857</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_rcwu8-Ne2jg/ShxT7i_4VRI/AAAAAAAABF8/Vwh_OTSVurg/S220/DSC05118.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_rcwu8-Ne2jg/ShPvmkT88iI/AAAAAAAABEs/W4NGI2Rl5Vs/s72-c/DSC04981.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1926296286733356721.post-6957868899124666054</id><published>2009-05-20T03:45:00.000-07:00</published><updated>2009-05-20T03:53:16.053-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='candle of love'/><title type='text'>Kasih tak pernah gagal</title><content type='html'>&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_rcwu8-Ne2jg/ShPg-50ikNI/AAAAAAAABEk/Rihe_tcUpi0/s1600-h/DSC06898.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5337857354641871058" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 200px; CURSOR: hand; HEIGHT: 150px" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_rcwu8-Ne2jg/ShPg-50ikNI/AAAAAAAABEk/Rihe_tcUpi0/s200/DSC06898.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="color:#003300;"&gt;“If you love until it hurts, there will be no more hurts, only more love&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;”(Mother Teresa)&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Mengapa kasih dikatakan “tidak pernah gagal”, dan “tidak akan berkesudahan ?” (1 Kor 13:8). Bukankah sudah banyak bukti bahwa mengasihi itu seringkali menyakitkan, dan sering juga menghancurkan ego seorang manusia normal. Apalagi jika yang dikasihi tidak balas mengasihi, atau bahkan malah balas menyakiti. Dalam hal ini apakah berarti kasih itu telah gagal? Kasih juga tak segan-segan menuntut pengorbanan yang tidak sedikit, bukan hanya waktu, tenaga, pikiran, dan uang, bahkan sampai menuntut seluruh kehidupan, kebebasan, dan bahkan nyawa. &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Apakah rahasia di balik kasih, yang membuat kasih tak pernah gagal dan tak berkesudahan, melampaui norma-norma manusiawi kita ?&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Kasih yang berpamrih, kasih yang timbul karena ada maunya, kasih karena sudah dikasihi duluan, mungkin tidak akan bertahan lama, karena pengharapan yang membebani perbuatan kasih itu. Dan pengharapan kepada yang fana seringkali sia-sia. Tetapi kasih yang bersumber dari Yang Maha Pengasih itu dilakukan semata-mata demi kasih itu sendiri, supaya ia bersinar di tengah kegelapan, bertegar di dalam kegalauan. Ia juga tidak mempersyaratkan apapun terhadap penerima kasih. Karena kasih yang sejati itu membebaskan. Free dan unconditional. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Kebahagiaan dari pelakunya adalah hanya bila ia bisa terus mengasihi tanpa mengharapkan apapun, tanpa membutuhkan apapun, tidak perlu balasan apapun, hanya butuh untuk lebih lagi mau mengerti, lebih lagi mau memberi, lebih lagi mau berkorban, supaya yang lain bahagia. Bahagianya hanya pada lebih lagi mengasihi…dan terus mengasihi...tanpa berkesudahan.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Milano, 19 Novembre 2009&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1926296286733356721-6957868899124666054?l=mylittlecandle.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mylittlecandle.blogspot.com/feeds/6957868899124666054/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mylittlecandle.blogspot.com/2009/05/kasih-tak-pernah-gagal.html#comment-form' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1926296286733356721/posts/default/6957868899124666054'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1926296286733356721/posts/default/6957868899124666054'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mylittlecandle.blogspot.com/2009/05/kasih-tak-pernah-gagal.html' title='Kasih tak pernah gagal'/><author><name>triastuti</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06669118216388127857</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_rcwu8-Ne2jg/ShxT7i_4VRI/AAAAAAAABF8/Vwh_OTSVurg/S220/DSC05118.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_rcwu8-Ne2jg/ShPg-50ikNI/AAAAAAAABEk/Rihe_tcUpi0/s72-c/DSC06898.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1926296286733356721.post-7331319456842630185</id><published>2009-05-20T02:57:00.000-07:00</published><updated>2009-05-20T03:26:23.965-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='the candle of Mother Mary'/><title type='text'>Belajar dari kesederhanaan Bunda Maria</title><content type='html'>&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_rcwu8-Ne2jg/ShPaxekhYKI/AAAAAAAABEc/RsoeNLBN4FM/s1600-h/DSC02038.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5337850526918860962" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 150px; CURSOR: hand; HEIGHT: 200px" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_rcwu8-Ne2jg/ShPaxekhYKI/AAAAAAAABEc/RsoeNLBN4FM/s200/DSC02038.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Dua hari setelah peringatan Bunda Maria Diangkat ke Surga dan bertepatan dengan perayaan Kemerdekaan Indonesia ke-63 tanggal tujuh belas Agustus 2008 yang lalu, saya berkesempatan mengunjungi gereja Santa Maria di Nazareth di kota Venesia, yg dibangun sekitar thn 1670. Di dalamnya banyak patung orang kudus dan berbagai ukiran yang dipahat dengan sangat indah seperti umumnya gereja-gereja di Italia. &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Di atas altar utama terdapat patung Bunda yang sedang tersenyum manis dengan sebuah mahkota raksasa berwarna emas bergantung di langit-langit. Di bagian samping kanan dari altar terdapat ruangan dengan fokus utama patung keluarga kudus dari Nazareth dan di bagian kiri altar terdapat ukiran dan patung yang menggambarkan ramalan Simeon bahwa sebuah pedang akan menembus hati Bunda Maria. Ukiran, pahatan, dan lukisan fresco yg sangat artistik di hampir seluruh bagian gereja dengan pilar-pilar marmer terpuntir berwarna merah marun yang cerah menjadikan gereja yang indah ini tambah memukau dan membuat saya tercenung sejenak menikmati dan mensyukurinya sebelum mulai berdoa dan mendaraskan rosario saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bangunan gereja-gereja di Italia yg punya sejarah yang panjang merentang jaman selama ratusan bahkan ribuan tahun dengan kekayaan filosofi yang dalam di balik setiap dekorasinya yg bercitarasa seni tinggi memang sangat mencengangkan. Kekayaan seni dan keindahan daya imaginasi manusia dicurahkan secara total sebagai ekspresi rasa cinta dan hormat yang dalam kepada Sang Pencipta. Khususnya di gereja Maria di Nazareth ini, curahan keindahan bercitarasa tinggi itu dipersembahkan kepada seorang wanita bersahaja bernama Maria, yang melalui sikap pasrah, percaya, dan rendah hati yang total kepada Bapa, memampukan kita memiliki seorang Penebus yang sangat mulia, Yesus Kristus, sang Putera Allah sendiri, yang datang ke dunia sebagai wujud cinta Bapa yang tak terbatas kepada manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tercenung di dalam gereja, betapa kerendahan hati dan ketaatan Bunda Maria telah membuahkan bangunan seindah ini, yang bagaikan kebal terhadap panjangnya perjalanan waktu dan berbagai peristiwa besar di dunia (langit-langitnya yang berlukiskan fresco artistik sempat rusak terkena granat pada saat Perang Dunia I dan diperbaiki kembali hingga tetap utuh seperti sekarang). Saya kagum pada sebuah sikap kerendahan hati yang akhirnya melahirkan karya-karya seni mengagumkan sebagai tanda penghormatan yang setinggi-tingginya dari Tuhan dan manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bunda Maria yang sekarang berada di tempat yang paling tinggi bersama Bapa sudah melewati begitu banyak masa-masa yang sangat menegangkan dalam hidupnya, termasuk saat-saat yang membingungkan dan penuh dengan ketidakpastian. Namun Bunda bisa melewati semuanya dengan baik dan tetap fokus pada penyelenggaraan Allah, karena sikap jiwanya yang sederhana dan rendah hati, yang selalu belajar untuk percaya sepenuhnya kepada Allah, apapun yang terjadi, mengerti atau tidak mengerti, suka maupun tidak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya ingat setiap kali menjumpai peristiwa-peristiwa besar dan mencengangkan dalam hidupnya, Bunda selalu menyimpan segala sesuatu di dalam hatinya dan merenungkannya. Sikap batin inilah yang membuat saya kagum. Saya merasa kebiasaan Bunda untuk masuk dalam keheningan jiwanya yang sederhana dan berserah sepenuhnya kepada Bapa adalah kunci mengapa Bunda selalu tegar dan mampu menyelesaikan panggilan Allah sampai akhir. Kedamaian yang Bunda miliki di dalam hatinya karena percaya sepenuhnya kepada Bapa membuat Bunda selalu berhasil mengatasi semua keraguan kemanusiawiannya. Kerendahan hati dan kesederhanaanlah yang membuatnya menjadi manusia yang merdeka dalam arti sesungguhnya, yang bebas dari cengkeraman ego manusiawi yang cenderung membawa manusia kepada ketamakan, iri hati, kesombongan dan ketidakpedulian, sehingga melupakan fokus panggilan hidup yang hakiki yg sudah diamanatkan oleh Tuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam keheningan hati manusia yang murni dan sederhana itulah sesungguhnya tempat Tuhan bersemayam. Tempat kita selalu bisa memurnikan lagi motivasi dan arah hidup kita yang sejati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terimakasih Bunda Maria, bisik saya sambil melangkah keluar dari gereja Santa Maria della Nazareth. Ada doa kerinduan dalam hati saya bahwa kedamaian dan keheningan hati Bunda yang sederhana itu boleh senantiasa menjadi suluh penerang bagi saya untuk membawa saya kepada kemerdekaan yang sesungguhnya di dalam Tuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Milan, 18 Agustus 2008&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1926296286733356721-7331319456842630185?l=mylittlecandle.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mylittlecandle.blogspot.com/feeds/7331319456842630185/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mylittlecandle.blogspot.com/2009/05/belajar-dari-kesederhanaan-bunda-maria.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1926296286733356721/posts/default/7331319456842630185'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1926296286733356721/posts/default/7331319456842630185'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mylittlecandle.blogspot.com/2009/05/belajar-dari-kesederhanaan-bunda-maria.html' title='Belajar dari kesederhanaan Bunda Maria'/><author><name>triastuti</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06669118216388127857</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_rcwu8-Ne2jg/ShxT7i_4VRI/AAAAAAAABF8/Vwh_OTSVurg/S220/DSC05118.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_rcwu8-Ne2jg/ShPaxekhYKI/AAAAAAAABEc/RsoeNLBN4FM/s72-c/DSC02038.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1926296286733356721.post-2635935568653376025</id><published>2009-05-20T02:35:00.000-07:00</published><updated>2009-05-20T03:44:46.915-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='candle of faith'/><title type='text'>Sebentuk perantauan bernama Hidup</title><content type='html'>&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_rcwu8-Ne2jg/ShPRDuGhlvI/AAAAAAAABEU/fhHDMdnkyGg/s1600-h/DSC03381.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5337839845209380594" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 200px; CURSOR: hand; HEIGHT: 150px" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_rcwu8-Ne2jg/ShPRDuGhlvI/AAAAAAAABEU/fhHDMdnkyGg/s200/DSC03381.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Selama 37 tahun hidup di dunia, saya beberapa kali mengalami perubahan suasana baru yang cukup signifikan dalam perjalanan hidup. Yang pertama tentu saja saat saya berpindah dari rahim Ibu saya yang hangat, gelap, sunyi dan nyaman menuju ke sebuah tempat maha luas yang bising dan menyilaukan yang bernama dunia. &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Kemudian di usia 18 tahun, saya berpindah dari kota kelahiran saya di Malang menuju kota Bandung untuk melanjutkan kuliah, di mana saya berpindah kos sebanyak tiga kali sebelum akhirnya lulus dan menempati rumah idaman di kota Serpong bersama pemuda yang saya kenal di tempat kos yang kemudian menjadi suami saya. Enam tahun di Serpong, ternyata suami saya mendapat tawaran kerja yang lebih baik di negeri jiran, Malaysia. Jadilah saya kembali berpindah ke kota Kuala Lumpur yang semakin memisahkan saya dari tanah kelahiran dan kedua orangtua saya yang sangat saya cintai.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Tak lama lagi, saya juga kembali harus berpindah menuju belahan dunia lain yang bahkan lebih jauh dan asing bagi saya. Milan, Italia. Wow, tak terbayangkan asingnya, walau pasti juga sangat menarik. Setiap kali saya harus berpindah domisili, perasaan yang selalu timbul dalam hati saya adalah sebersit kesedihan karena harus meninggalkan kehidupan dimana saya telah begitu terbiasa dan nyaman menjalaninya, sembari menikmati semua bentuk relasi dan persahabatan dengan sesama yang saya jumpai dalam setting lingkungan dan karakternya masing-masing di tempat saya berada. &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Sekalipun tujuan baru selalu mengandung tantangan dan perkembangan hidup yang lebih baik, saya selalu merasa gamang dan khawatir membayangkan bahwa dunia baru yang akan saya jalani tidak seperti yang saya harapkan dan perkirakan. Tetapi bersamaan dengan perasaan sedih karena menghadapi perpisahan dengan teman-teman yang baik dan kehidupan yang menyenangkan, sebuah kesadaran muncul dan membawa saya kepada suatu perasaan syukur yang dalam. Kesadaran itu dibawa oleh sebuah pertanyaan terhadap perasaan berat saya kepada perubahan yang saya alami, “Mengapa setiap kali hendak meninggalkan suatu tempat dan bentuk kehidupan menuju kepada yang baru, saya selalu merasa sedih ? Bukankah itu berarti setiap kehidupan baru yang awalnya saya takutkan itu akhirnya selalu membuat saya bahagia dan merasa berat untuk meninggalkannya ? Bukankah itu berarti di tempat yang baru selalu akan ada sebentuk kehidupan lain yg juga penuh dengan dinamika yang manis dan persahabatan baru yang penuh berkat ? &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Saya juga menyadari bahwa kehidupan sehari-hari ini pun selalu sarat dengan perpindahan, baik yang sederhana dan sementara maupun yang lebih permanen. Pindah dari keadaan damai ke perasaan gusar, pindah dari rasa bersahabat kepada rasa segan, pindah dari semangat yang menggebu kepada hari yang lesu, atau pindah dari keadaan sehat ke keadaan sakit, dst dan sebaliknya. Perubahan yang selalu terjadi sebagai bagian dari dinamika kehidupan itu rasanya tak terhindarkan dan pasti dialami oleh setiap insan. Ternyata hidup adalah benar-benar sebentuk perantauan.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Saat misa Kamis Putih di katedral St John usai, tim paduan suara gereja menyanyikan lagu penutup berjudul “In Remembrance”. Ketika Tuhan Yesus membasuh kaki para murid di malam terakhirNya di dunia dan memberikan teladan untuk saling melayani dengan rendah hati, lalu memecahkan roti lambang tubuhNya yang dikurbankan demi pembebasan kita dari dosa, Tuhan mengatakan supaya kita melakukan semua itu kembali sebagai peringatan akan Dia. Sebuah kenang-kenangan yang tak ternilai harganya dari Tuhan semesta alam kepada umat manusia ciptaanNya. Sebuah bukti hidup betapa kasihNya yang tanpa pamrih kepada manusia yang fana dan lemah itu tak terbayangkan besarnya. Sebuah bekal yang juga akan selalu menyertai setiap tahap perubahan dalam dinamika kehidupan kita, tak peduli betapapun berat dan menantangnya, menuju bentuk kehidupan baru yang penuh harapan dan aneka kemungkinan yang manis dan tak terlupakan. &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Termasuk ketika perpindahan kita yang terakhir tiba yaitu dari kehidupan yang fana kepada perhentian akhir yang kekal bersama Bapa di surga, di mana Dia telah menantikan kita. &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Kisah-kisah menyenangkan dari perjalanan hidup yang telah lalu tak akan terulang kembali, hanya kenangan manis yang akan selalu tinggal di hati saya. Namun kenangan terindah dari Tuhan kita Yesus Kristus setiap kali saya menyambut tubuhNya, merenungkan teladan dan wafatNya dan menyambut kebangkitanNya dari alam maut yang kita rayakan pada hari ini, akan senantiasa bersama saya dan kita semua tanpa mengenal batas waktu, tempat, dan keadaan …….melampaui maut dan kehidupan.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Kuala Lumpur, Maret 2008&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1926296286733356721-2635935568653376025?l=mylittlecandle.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mylittlecandle.blogspot.com/feeds/2635935568653376025/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mylittlecandle.blogspot.com/2009/05/hidup-adalah-sebentuk-perantauan.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1926296286733356721/posts/default/2635935568653376025'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1926296286733356721/posts/default/2635935568653376025'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mylittlecandle.blogspot.com/2009/05/hidup-adalah-sebentuk-perantauan.html' title='Sebentuk perantauan bernama Hidup'/><author><name>triastuti</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06669118216388127857</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_rcwu8-Ne2jg/ShxT7i_4VRI/AAAAAAAABF8/Vwh_OTSVurg/S220/DSC05118.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_rcwu8-Ne2jg/ShPRDuGhlvI/AAAAAAAABEU/fhHDMdnkyGg/s72-c/DSC03381.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1926296286733356721.post-2508854481732934744</id><published>2009-05-19T16:40:00.000-07:00</published><updated>2009-05-19T16:46:36.681-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Christmas candle'/><title type='text'>Pohon Natal plastik kami</title><content type='html'>&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_rcwu8-Ne2jg/ShNEx79rJFI/AAAAAAAABEM/hSaVqKSGkB4/s1600-h/DSC09270.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5337685608064820306" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 200px; CURSOR: hand; HEIGHT: 150px" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_rcwu8-Ne2jg/ShNEx79rJFI/AAAAAAAABEM/hSaVqKSGkB4/s200/DSC09270.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Libur natal dan tahun baruku baru saja usai. Walau sudah tiga minggu namun rasanya baru dua hari. Cepat benar berlalu liburan yang meriah ini, pikirku setengah menyesal. Dengan tatapan kosong aku memandangi tumpukan cabang-cabang pohon natal plastikku yang sudah seluruhnya kulepaskan dari pokoknya untuk siap dikembalikan ke dalam kemasan kardusnya, sampai setahun lagi mereka dikeluarkan pada natal tahun depan. Aneka lampion dan boneka gantung penghias pohon sudah selesai kurapikan dalam kotak kardus lain yang menjadi wadah penyimpanan mereka.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Pohon natal plastik ini hampir setua diriku usianya. Ayahku membelinya ketika aku masih kecil sekali. Walau kadang terkena kencing tikus selama hari-harinya di gudang penyimpanan rumah ayahku, ia tetap akan tampil dengan manis di rumah keluarga kami setiap pertengahan bulan Desember hingga pertengahan Januari di tahun yang baru. Pembantu ayahku yang juga merayakan natal akan mencucinya dengan sabar sebelum memasangnya menjelang natal. Kadang-kadang karena ia belum kembali dari rumah keluarganya untuk juga berlibur tahun baru, maka tugas membongkar pohon natal menjadi bagianku. Kami belum pernah mempunyai pohon cemara asli sebagai pohon natal keluarga. Dulu ayah mertuaku yang suka mencarinya dan memasangnya di rumah keluarga suamiku. Ayah mertuaku lebih mudah mendapatkan cemara asli karena ia tinggal di kawasan pegunungan di luar kota .&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Sambil mulai menaruh cabang-cabang pohon itu ke dalam kotaknya, aku membayangkan seandainya pohonku adalah pohon asli tentu aku tak perlu melakukan ritual yang membosankan ini dan hanya tinggal menancapkan pohon cemara asli itu di tanah kosong di belakang rumah ayah ibuku. Tetapi karena pohon plastik ini selalu ada di ruang tamu keluarga kami selama lebih dari tiga puluh tahun, pasti ia telah banyak menyaksikan aneka peristiwa yang terjadi di keluarga kami baik suka maupun duka, yang aneh maupun yang biasa-biasa, serta segala perubahan yang terjadi dari natal ke natal. Seandainya pohon natal plastik ini punya misi menilai perubahan, perubahan macam apa yang dinantikannya ?&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Aku teringat homili Romo Paul Klein, SVD, pada misa pagi Natal yang lalu, “Tak peduli berapa puluh kali Yesus lahir, bila Dia tidak lahir di dalam hatimu, sia-sialah itu semua”. Apakah puluhan hari natal yg kulalui telah membuatku puluhan kali lebih dekat dan percaya kepada kasihNya ? atau puluhan kali juga lebih mengasihi sesamaku dan lebih mencoba memahami dan mengampuni mereka ? Tuhan Yesus telah meninggalkan segala-galanya supaya Dia bisa bersama-sama denganku dalam dunia ini untuk mengarungi suka duka di dalamnya. Apa yang sudah aku upayakan agar kedatanganNya, dan kelak perjalanan sengsaraNya ke Golgota ini setidaknya mengubahku selangkah lebih dekat kepada keutamaan-keutamaan yang diteladankanNya?&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Pohon natal plastik ini mungkin satu-satunya komponen natal yang tak berubah selama perayaan natal berlangsung di rumah orangtuaku selama lebih dari 30 tahun ini. Kami semua yang mengelilinginya sambil berdoa dan membuka kado bersama di bawahnya, pasti telah berubah, setidaknya berubah dalam hal bertambah tua. Tapi apakah perubahan dalam hal menjadi lebih toleran atau lebih tekun berdoa atau lebih suka mengalah juga terjadi ? Atau kurang lebih tetap sama seperti pohon natal plastik ini ? Dengan kebiasaan-kebiasaan jelek tetapi nikmat yang enggan untuk diubah dan diperbaiki ? Pohon natal ini tidak tumbuh, juga tidak berkembang, karena hanya terbuat dari plastik saja. Memang juga tidak rusak karena disimpan dengan baik, tetapi ya begitu-begitu saja penampilannya. Paling penampilan luarnya saja yang mengalami variasi, yaitu dari lampion-lampion hiasan yang bergantungan padanya, yang kadang-kadang berubah, tergantung mode lampion dan hiasan yang sedang in di pasaran. &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Apakah natal yang kulalui setiap tahun membuatku berubah menjadi sedikit lebih baik lagi daripada diriku sebelumnya ? Ataukah natal tahun ini hanyalah rutin saja seperti natal-natal sebelumnya, seperti pohon plastik ini, yang hanya keluar masuk gudang melakukan rutinitas tugas yang dari dulu tetap menjadikannya sebongkah plastik berbentuk cemara?&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya pekerjaanku mengepak kembali cabang-cabang pohon natal plastik ini ke dalam kardusnya selesailah sudah. Aku mengikat kardus panjang itu dengan tali dan mengangkatnya kembali menuju ke gudang penyimpanannya. Sampai tahun depan, pikirku sambil menaruh kardus pohon natal itu di tempatnya. Semoga tahun depan saat kamu dikeluarkan kembali, akan kau lihat pertumbuhan lebih banyak lagi kasih, iman dan harapan dariku dan dari orang-orang yang mengelilingimu.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Kuala Lumpur, Jan 18 2008&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1926296286733356721-2508854481732934744?l=mylittlecandle.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mylittlecandle.blogspot.com/feeds/2508854481732934744/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mylittlecandle.blogspot.com/2009/05/pohon-natal-plastik-kami.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1926296286733356721/posts/default/2508854481732934744'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1926296286733356721/posts/default/2508854481732934744'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mylittlecandle.blogspot.com/2009/05/pohon-natal-plastik-kami.html' title='Pohon Natal plastik kami'/><author><name>triastuti</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06669118216388127857</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_rcwu8-Ne2jg/ShxT7i_4VRI/AAAAAAAABF8/Vwh_OTSVurg/S220/DSC05118.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_rcwu8-Ne2jg/ShNEx79rJFI/AAAAAAAABEM/hSaVqKSGkB4/s72-c/DSC09270.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1926296286733356721.post-2903189607640432765</id><published>2009-05-19T16:33:00.000-07:00</published><updated>2009-05-19T16:39:48.692-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Christmas candle'/><title type='text'>Palungan</title><content type='html'>&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_rcwu8-Ne2jg/ShNC951LDWI/AAAAAAAABEE/MmNtn2upnsw/s1600-h/DSC08785.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5337683614627466594" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 200px; CURSOR: hand; HEIGHT: 150px" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_rcwu8-Ne2jg/ShNC951LDWI/AAAAAAAABEE/MmNtn2upnsw/s200/DSC08785.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;“Wah, sederhana banget palungannya”, bisikku kepada suamiku yang baru saja menyusulku duduk di sampingku. Ini adalah hari Minggu Adven pertama. Kami duduk di deretan bangku bagian tengah Madonna Heights Chapel untuk merayakan misa. Mata kami terarah pada sebentuk benda asing di bagian sisi kiri altar. Kehadirannya segera menarik perhatian kami, karena bagian itu biasanya kosong. Benda itu terdiri dari empat bilah papan yang dibentuk menjadi ruang persegi panjang dengan jerami kering diletakkan di atasnya. Ada ornamen bermotif batu bata di bagian atapnya. Selebihnya, belum ada apa-apa di dalamnya. Rupanya para suster Good Shepherd mulai mencicil membuat palungan di altar kapel ini untuk perayaan dan Misa Natal nanti. Melihat bentuknya sekarang, aku sudah bisa membayangkan betapa bersahajanya palungan itu kalau sudah jadi nanti. Suamiku menyahut dengan heran, “Lho, kok hare gene sudah buat palungan ya ?”&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Aku hampir tidak mendengar kata-katanya, kesederhanaan bakal palungan itu membuatku tercenung. Sangat kontras dengan suasana di pusat perbelanjaan yang kudatangi kemarin. Koridor utamanya penuh dengan ornamen aneka bentuk dan warna khas Natal seperti pohon cemara dengan ukuran raksasa, kembang gula berbentuk tongkat, snowman, sinterklas, pita merah dan hijau, lampion dan lonceng berwarna emas dan perak, boneka-boneka malaikat dan rusa kutub. Semua itu masih ditambah dengan hiasan lampu-lampu yang gemerlapan dan suara lagu-lagu Natal yang mengalun riang, membuat suasana terasa ceria. Sebuah pemandangan yang mewah dan semarak. Namun tanpa dapat kuhindari, ada rasa sepi menyeruak di hati di tengah semua kesemarakan itu. Kini, memandangi altar kapel dengan palungan setengah jadi yang sangat sederhana itu, entah darimana datangnya, hatiku justru terasa hangat. “Ada begitu banyak tempat yang lebih pantas di bumi ini, penuh dengan kesemarakan dan keindahan, dan semuanya itu milikMu juga, tetapi Engkau malah memilih untuk hadir di tempat seperti itu” bisikku dalam hati.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Memilih ? Benarkah Tuhanku dilahirkan di tempat yang sederhana, bahkan kotor dan berbau itu, atas pilhanNya sendiri ? Bukankah sebelum Ia dilahirkan, orangtuaNya masih berusaha untuk menemukan tempat yang lebih pantas ?&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Pikiranku mengembara kepada para pemilik penginapan di Betlehem, yang mendapati pintu rumahnya diketuk di malam buta oleh seorang laki-laki, yang istrinya tampak hendak segera melahirkan. Apa yang akan kukatakan dan kulakukan seandainya aku berdiri di pintu itu pada saat itu ? Semua kamar di rumahku sudah penuh. Tubuhku sudah lelah setelah seharian bekerja, dan kelopak mataku begitu berat oleh rasa kantuk. Aku ingin segera kembali bergelung di kasur yang empuk tuk melanjutkan tidurku yang lelap. Sebetulnya hatiku trenyuh melihat sepasang suami isteri di hadapanku ini, yang tampaknya jauh lebih lelah dari pada aku. Mereka juga tampak sangat bersahaja, dan sang isteri nampaknya akan segera melahirkan setiap saat. Aku mengeluh, menyesali mengapa sering hal-hal yang tidak diharapkan justru harus terjadi pada saat yang sangat tidak tepat. Aku tercekat. Seandainya sang pemilik penginapan tahu siapa suami istri yang sedang mengetuk pintunya malam-malam itu. Seandainya ia tahu siapa bayi yang ada di dalam kandungan sang isteri itu.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Aku mengingat kembali saat-saat dimana aku menolak untuk membantu temanku yang membutuhkan pinjaman uang pada saat aku baru saja memasukkan uang penghasilanku ke tabungan di bank. Aku menolak karena aku tidak percaya bahwa ia akan mengembalikan pada waktunya. Aku bahkan tidak pernah bertanya padanya apakah ada sesuatu yang masih bisa aku bantu dengan apa yang ada padaku. Kututup pintu hatiku dan kuputuskan untuk mengatakan tidak. Atau saat aku menolak untuk mendengarkan keponakanku bercerita pengalamannya menjual kue kepada teman-temannya dengan alasan aku sudah lelah, padahal sebetulnya karena aku merasa jenuh sekali mendengarkan ceritanya yang itu-itu saja. Atau saat aku sedang beradu argumen dengan suamiku dan aku selalu ingin tampil sebagai pemenangnya, padahal aku tahu bahwa kadang-kadang aku memang salah. Tak terhitung berapa kali aku menutup pintu hatiku pada saat Tuhan ingin masuk dan berdiam di dalamnya. Seandainya aku tahu siapa yang aku hadapi pada saat-saat itu. Seandainya aku mau sedikit saja menyingkirkan kepentingan diriku sendiri dan kesombonganku. Seandainya pemilik penginapan tahu siapa bayi yang ada di dalam kandungan sang istri, pasti ia akan mencoba sekuat tenaga untuk menyediakan tempat istirahat, kamarnya sendiri jika perlu. Karena ia toh mungkin masih dapat mengetuk pintu tetangganya untuk meminjam kasur dan tidur di ruang tamu. Atau apa saja tapi pasti ada yang bisa dilakukannya. Tapi pintu itu telah terlanjur ditutupnya. Dan Tuhan telah terlanjur menemukan kandang hewan di belakang penginapan, dimana Ia hadir untuk bisa bersama-sama dengan manusia dan merasakan penderitaan-penderitaan manusia.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Seandainya aku berdiri di pintu itu, aku akan lari mendapatkan Bapa Yosef dan Bunda Maria yang bergerak perlahan menuju kandang. Aku akan berteriak menyatakan penyesalanku atas semua penolakanku dan merelakan tidur malamku yang nikmat, kasurku yang empuk, supaya mereka dapat menempatinya dan Tuhan Raja Semesta Alam dapat hadir dan memulai hidupNya sebagai manusia di rumahku. Tetapi semuanya sudah terjadi. Ketika keesokan harinya aku mencoba menjumpai keluarga kecil yang sederhana itu di kandang belakang penginapanku, mereka telah pergi. Rasa penyesalan yang hebat memenuhi hatiku.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Namun tiba-tiba ada suara di hatiku, “Aku memang harus lahir di sini, di kandang ini. Kandang ini akan mengingatkan kamu selalu, bahwa hatimu memang tidak sempurna, kadang ada bau yang tidak sedap dan kotoran di dalamnya. Tapi aku mau hadir di situ, supaya kamu tahu bahwa Aku akan selalu menunggumu di sana untuk membuatnya terang dan menyenangkan, sama seperti kandang yang kotor ini tadi malam begitu terang oleh kemilau cahaya surga dan riuh rendah oleh suara terompet surga dan nyanyian para malaikat. Sayang engkau tidak melihatnya. Tapi tidak apa, engkau masih dapat mengalaminya setiap saat. Yang perlu kau lakukan hanyalah bukalah pintu hatimu setiap saat, lebar-lebar. Aku telah mengetuknya dengan rindu setiap hari. Jangan tutup pintu itu. Bila kamu membiarkan Aku masuk dan menempati rumah hatimu, cahaya yang kau lewatkan tadi malam akan dapat kau nikmati lagi, setiap saat, dan Aku rindu untuk terus menyinarkannya bagimu, sebab Aku mengasihimu.”&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba aku tersadar dari lamunanku saat suamiku menyenggol lenganku untuk ikut berdiri. Rupanya Misa sudah dimulai. Aku mengusap mataku yang tiba-tiba basah dan berdiri menyanyikan lagu pembukaan. Aku berbisik dalam hatiku, “Yesusku yang solider, Yesusku yang penuh pengertian, aku tidak akan menutup pintu hatiku lagi. Aku membukanya lebar-lebar sekarang, masuklah Tuhan, aku pun teramat merindukanMu”&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Kuala Lumpur, December 4, 2006&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1926296286733356721-2903189607640432765?l=mylittlecandle.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mylittlecandle.blogspot.com/feeds/2903189607640432765/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mylittlecandle.blogspot.com/2009/05/palungan.html#comment-form' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1926296286733356721/posts/default/2903189607640432765'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1926296286733356721/posts/default/2903189607640432765'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mylittlecandle.blogspot.com/2009/05/palungan.html' title='Palungan'/><author><name>triastuti</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06669118216388127857</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_rcwu8-Ne2jg/ShxT7i_4VRI/AAAAAAAABF8/Vwh_OTSVurg/S220/DSC05118.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_rcwu8-Ne2jg/ShNC951LDWI/AAAAAAAABEE/MmNtn2upnsw/s72-c/DSC08785.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1926296286733356721.post-7084570158793606618</id><published>2009-05-19T16:24:00.000-07:00</published><updated>2009-05-19T16:32:09.769-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='candle of light'/><title type='text'>One day in imaging department</title><content type='html'>&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_rcwu8-Ne2jg/ShNBcLOzuFI/AAAAAAAABD8/0wEwbczqYTI/s1600-h/DSC08853.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5337681935671212114" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 200px; CURSOR: hand; HEIGHT: 150px" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_rcwu8-Ne2jg/ShNBcLOzuFI/AAAAAAAABD8/0wEwbczqYTI/s200/DSC08853.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;My heart pounding as I reached at one of the corridors in the D block of Pantai Medical Hospital. I have been in that room before. From the aisle I was walking, I could already see the red letters attached to its glass door. The font was in normal size, but for me it was like giant words on a banner wide enough to swathe me in a cloth of agitation. They were read “X-ray Department”. &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Gasping air in heavy breath, I collected all my guts and pushed that glass door, letting myself move forward to the counter. A lady behind a long desk greeted me in friendly manner, eased my tensions. I was thankful of her being so warm, because I already felt cold in all of my organs. I handed her an envelope from my doctor with my cold fingers. She took a glance on it and replied cordially, “A pelvic examination, okay, please be seated, we will call you when the radiologist is ready”. &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;I knew she was going to say that. “Please be seated” could mean, “you may wait forever”, or “be prepare to kill the passing time with any means you can get, as creatively as you can...because it’s gonna be so long ” Hush up, I scolded myself for being such a moaner. “This is the time for repentance and contemplation”, I whispered to myself “Sit down and pray”, I heard a voice from my heart and I sat in silent, beginning to recite my prayer.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;There were so many patients sitting and waiting patiently in the room. Almost all seats available in long couches and sofas were occupied. One of the couch was pink, my favorite color, and gave me a gleam of comfort. But they were taken. There was a man clasping a newspaper busy catching up with the latest news, or looking for a distraction. On the left side of me were two little children with their parents. The father grabbed the boy’s hand, rose from the couch and took a stroll around the room letting his little son discovering something around the room. I looked at the plain wall and was feeling sorry for the void I found there. I sighed in silent, failed to stave off my anxiety. Would have them paint the wall with beautiful pictures or enchanting paintings the boy would be having something more to learn, and this feeling of helpless may not tie me this tight.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;There was a coffee table beside me with pamphlets, magazines, and brochures on it. The room was bright and cool, enough for me to browsing them but I preferred to stay in my prayer, relaxing my pounding heart. I gazed at two ladies on my right. The younger one might be the daughter and the older is the mother, but both of them were in steady gaze with empty looks. I quickly sensed the air of nervousness surround me when I realized almost all of patients’ faces were in the same mode. I felt guilty, “was I the one who brought the sense in the room?” Then I settled in my prayer again, waiting patiently.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Waiting patiently, just like my recent occupation, a patient. I guessed patients in imaging department were patient enough, not in a rush to be called their turn to the imaging room. We hope we can delay knowing what has really happened inside our body, and if that is going to be a bad news, better we wait in the room until eternity. &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;But, this is x-ray department. We are made to be truthful. Nothing can hide from its powerful energy. The rays can penetrate everything, dissecting flesh from the bones, inciting the fear emerge from the soul. I have always loved and adored honesty and transparency all my life, but not this kind of honesty and transparency.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Opposite to me were two old women. They seemed like ordinary housewives, and they were busy chatting with each other. I couldn’t follow their conversation although it was quite loud because they were in Chinese. But their bright faces enticed my attention. Unlike the faces of all the rest, theirs are so calm and relax; they talked with ease, laughed at each other stories so freely. Hey, ladies, why are you so different, and are going against the flow in this room? Or old people are more ready to prepare themselves to any possible findings in their bodies? Imaging room might become some matter of routine for some elderly, nothing may surprise them some more. &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;I was fascinated to feel the paradox happened before my eyes. Chuckles, giggles, and chortles from two old women in a room full of uncertainties and possible setback in life. Even though if the two women were there only for accompanying someone, I was already gripped on it and began to think something funny out of my gloominess. Cowardice won’t help any troubles, if not ruin it even worse.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;The time went by; a group of young lads entered the room. I guessed they are foreign workers needed to complete their documents with some medical examinations, since I saw they held something like a passport in their hands. They all seemed similar to each other, looked healthy and humble. Wouldn’t it be faster and time saving if they just lining up in the x-ray room and letting the x-ray passing through their particular body parts and then they can get the result at once? This is a powerful ray, anyway. I began to enjoy my mischievous sense of humor and instead of shrinking in fear I found myself began to bloom in hope and naughtiness in the same time.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;An x-ray session is not so bad, I think in some occasion people need to be put in a powerful ray that can light up all the darkness and hidden side of human being. What is seen from outside, sometimes doesn’t represent what is actually lying beneath. I can be wrong of what I perceive as a success, a kindness, a faith, or strength. A bogus success, pseudo hospitality, or a vulnerable strength will become distanced and waning, once it is challenged through some test and hardship, and are forced to reveal their true faces. Then I think a dose of x-ray once a year is advisable for me to get to the access of truth in life, when I can have all things in its reality, without any covers, masks, or pretence.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;I almost forgot about my concern, when I lay down in the examination room, finally. Doctor put the ultrasound detector on my stomach and moved it around to catch any possible foreign growing inside my belly. Worries still lingered on me. But, I chuckled when I noticed the monitor screen displaying what the ultrasound looking through my belly, for I think I saw there, an image of Mr. Bean’s thin figure in his grey suit.&lt;br /&gt;---------------------------------------------------------------------------------&lt;br /&gt;Kuala Lumpur, while joining a writing workshop in British Council with Sharon Bakar, August 2006&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1926296286733356721-7084570158793606618?l=mylittlecandle.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mylittlecandle.blogspot.com/feeds/7084570158793606618/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mylittlecandle.blogspot.com/2009/05/one-day-in-imaging-department.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1926296286733356721/posts/default/7084570158793606618'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1926296286733356721/posts/default/7084570158793606618'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mylittlecandle.blogspot.com/2009/05/one-day-in-imaging-department.html' title='One day in imaging department'/><author><name>triastuti</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06669118216388127857</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_rcwu8-Ne2jg/ShxT7i_4VRI/AAAAAAAABF8/Vwh_OTSVurg/S220/DSC05118.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_rcwu8-Ne2jg/ShNBcLOzuFI/AAAAAAAABD8/0wEwbczqYTI/s72-c/DSC08853.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1926296286733356721.post-7645183572754830566</id><published>2009-05-19T16:16:00.000-07:00</published><updated>2009-08-30T07:18:46.877-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='candle of light'/><title type='text'>Sepatu yang tinggal sebelah</title><content type='html'>&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_rcwu8-Ne2jg/ShM_bdDNOHI/AAAAAAAABD0/pIE_j08O-fo/s1600-h/DSC08861.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5337679724251265138" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 200px; CURSOR: hand; HEIGHT: 150px" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_rcwu8-Ne2jg/ShM_bdDNOHI/AAAAAAAABD0/pIE_j08O-fo/s200/DSC08861.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;“Ya ampun…nih sepatu banyak banget…”, mataku terbelalak saat pintu rak sepatu yang telah terbuka lebar itu menampakkan isinya. Koleksi aneka model sepatu, sandal, dan sepatu sandalku, yang tanpa kusadari telah begitu banyak jumlahnya, gara-gara hobi shopping ke mall yang memang tidak pernah sungguh-sungguh kukendalikan. Aku membeli dan membeli oleh dorongan keinginan dan mode yang sedang berlaku, tanpa melihat dan menyadari dengan jernih bahwa sepatuku sudah lebih dari cukup, baik dari segi jumlah, model, maupun warnanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekelumit perasaan bersalah menyelinap masuk dalam hati. Teringat kata-kata bijak yang sering kubaca dari forward email yang kuterima, “Cukupkanlah dirimu dengan satu. Mungkin satu memang masih kurang, tetapi dua biasanya sudah terlalu banyak”. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua? pikirku sambil menelan ludah. Lha ini sepatuku berapa pasang?.....glek, ..tujuh hari yang tersedia dalam seminggu pun rasanya masih kurang untuk memakai seluruh pasang sepatu yang kumiliki, padahal juga tidak setiap hari aku keluar rumah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sambil mulai mengeluarkan satu persatu koleksi sepatu-sepatuku untuk kubersihkan, aku tenggelam dalam perasaan masygul, mencari-cari pembenaran terhadap riwayat pembelian masing-masing dari sepatuku, tanpa hasil yang nyata. Semua latar belakang pembelian masing-masing dari mereka hanya dorongan keinginan belaka, jujur tidak kutemukan satu pun alasan yang sehat dan masuk akal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika aku sedang asyik bekerja, aku menyadari ada sebuah sepatu yang tak ada pasangannya. Padahal itu termasuk salah satu sepatu kesayanganku. Aku mencari-cari ke semua sudut lemari, tetapi pasangan dari sepatu yang masih bagus, utuh dan cukup cantik itu tetap tidak kutemukan. Mungkin ia terselip entah ke mana, lalu terbuang secara tak sengaja. Maklum teman-temannya sesama sepatu yang jumlahnya banyak itu berebut tempat dalam lemari. Aku merasa sayang sekali. Betapapun utuh, cantik, mahal, dan bagusnya sebuah sepatu, kalau pasangannya tidak ada, maka ia tidak berguna, hanya bisa dibuang ke tempat sampah karena fungsinya sebagai alas kaki sudah lenyap. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mencari-cari ide apa yang bisa dimanfaatkan dari sepatu yang tinggal sebelah itu ya ? Sayang banget karena masih bagus sekali, rasanya dibuat jadi hiasan pun tidak sesuai. Sepatu harus selalu sepasang, tidak mungkin sebuah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu sebuah pikiran yang menggelitik menyadarkan aku akan kehidupan kerohanian dan kemasyarakatan yang kulakukan selama ini. Terlibat dengan begitu banyak pihak di Gereja, mengerjakan voluntary work untuk gadis tak beribu bapa, menyelenggarakan acara doa bulanan bagi keluarga Katolik Indonesia di Kuala Lumpur, menyumbang secara rutin kepada anak asuh dan kaum miskin papa. Dari luar, semua itu tampaknya mulia dan indah. Tetapi kalau diteliti sampai ke dalam, apakah motivasiku melakukan semua perbuatan mulia itu? Kulakukan semata-mata untuk membalas cinta kasih Tuhan kepadaku? atau jangan-jangan hanya sebuah pelarian, sebuah kedok cantik untuk menutupi kekurangan-kekuranganku, atau justru sarana yang kuanggap efektif untuk mencari pujian dan kemuliaan diriku sendiri dari orang-orang di sekitarku? Aku menelan ludah untuk kedua kalinya….Glek….Wah, rupanya acara pembersihan sepatuku hari ini membuatku merasa tertohok dua kali. Kuadrat bogem mentah hasil refleksi diri sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku bangkit berdiri sambil membawa sepatu tanpa pasangan itu dalam genggamanku. Aku tahu jawaban dari refleksiku yang kedua. Seindah dan semulia apapun perbuatan yang kulakukan dengan hidupku di dunia ini, bila aku melakukannya tanpa Yesus di hatiku, tanpa hikmat keteladananNya menjiwai latar belakang sepak terjangku, maka semua perbuatan indahku itu hanya akan sama saja dengan sepatu yang tidak ada pasangannya itu. Elok, utuh, mahal, dan masih berfungsi penuh. Tapi tidak ada pasangannya. Yah, mau diapakan lagi kalau tidak terus dilempar ke tempat sampah. Tanpa Yesus sebagai pasanganku, maka hidup dan pelayananku tidak banyak artinya lagi, bahkan mungkin hanya akan menjadi batu sandungan bagi orang lain, dan sumber keluh kesah orang-orang terdekat.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teringat pula olehku kisah-kisah penyelenggaraan suatu acara kerohanian di Gereja. Atau  dalam suatu susunan organisasi dan kelompok kategorial di Gereja. Walaupun tidak sering, kegiatan dan aktivitas untuk Tuhan dan GerejaNya kadang tak luput dari sikap sikap ingin menang sendiri, memaksakan kehendak, kesombongan rohani, gerutu dan gosip kepada sesama umat beriman. Bahkan sampai pada perebutan posisi ketua dan jabatan kehormatan lainnya. Hatiku hanya mampu bertanya dalam keprihatinan, dimanakah Yesus yang sedang kita semua layani ? Apakah kita sedang benar benar melayani kebutuhanNya ataukah kita sedang sibuk melayani kebutuhan-kebutuhan kita sendiri untuk tampil dan dihormati? Ke manakah teladan agungNya akan kasih tanpa pamrih dan kerendahan hati menguap dalam hiruk pikuk ego dan kesombongan manusiawi yang tidak dikendalikan? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku pun teringat akan anak-anak dan suami seorang teman yang protes karena sang ibu dan istri yang sangat aktif di kegiatan Gereja sehingga mereka merasa ditelantarkan. Bagaimanapun juga, melayani keluarga sesungguhnya adalah melayani Tuhan sendiri, sehingga selayaknya tugas dan perhatian untuk keluarga diprioritaskan oleh seorang ibu rumah tangga, sebelum banyak terjun ke pelayanan di Gereja. Memang hal ini sungguh memerlukan sikap batin yang terus menerus terarah kepada suara Tuhan. Supaya kita mampu memutuskan yang terbaik dan memprioritaskan apa yang menjadi tugas panggilan kita yang terutama dari Tuhan. Namun itu adalah sebuah pilar terpenting pelayanan kita yang justru amat mudah terlupakan, ketika kita telah terbuai oleh rasa puas diri dan perasaan telah berbuat banyak bagi GerejaNya. Kita perlu sesekali berhenti sejenak dan bertanya,apakah kita telah cukup merenungkan apa yang sebenarnya Dia harapkan dan Dia butuhkan dari dan bagi kita ? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan masih segar dalam ingatanku sebuah kisah seorang aktivis Gereja yang menemukan kekosongan dan perasaan jauh dari Tuhan. Karena begitu sibuk dalam pelayanan, kita sering menjadi lupa atau tak punya waktu lagi untuk diluangkan menjadi saat-saat pribadi dan intim buat bersama-sama dengan Tuhan dalam doa dan keheningan yang dipersembahkan khusus untukNya. Justru itulah sumber kekuatan yang sejati yang akan menggerakkan semua sepak terjang kita sesuai dengan kehendakNya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku meletakkan sepatu kesayanganku yang tinggal sebelah itu di tempat di mana aku masih bisa melihatnya setiap saat. Hmm..untung masih ada gunanya juga ia, yaitu membantuku berefleksi. Aku memandanginya sambil membisikkan doa di dalam hatiku, “Yesus, aku tidak berarti apa-apa tanpa Engkau. Berjalanlah selalu di sisiku, jadi pemandu perjalanan budi pekertiku, penopang semua keputusan-keputusanku. Hanya bersama Engkau dan oleh karena Engkau, hidup dan pelayananku akan punya arti dan dapat berguna bagi kemuliaan KerajaanMu di dunia. Amin”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kuala Lumpur, 17 April 08&lt;br /&gt;Tulisan ini diikutsertakan dalam Writing Competition dalam CIBFest 2009 yang diselenggarakan oleh Jawaban.com&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1926296286733356721-7645183572754830566?l=mylittlecandle.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mylittlecandle.blogspot.com/feeds/7645183572754830566/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mylittlecandle.blogspot.com/2009/05/sepatu-yang-tinggal-sebelah.html#comment-form' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1926296286733356721/posts/default/7645183572754830566'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1926296286733356721/posts/default/7645183572754830566'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mylittlecandle.blogspot.com/2009/05/sepatu-yang-tinggal-sebelah.html' title='Sepatu yang tinggal sebelah'/><author><name>triastuti</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06669118216388127857</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_rcwu8-Ne2jg/ShxT7i_4VRI/AAAAAAAABF8/Vwh_OTSVurg/S220/DSC05118.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_rcwu8-Ne2jg/ShM_bdDNOHI/AAAAAAAABD0/pIE_j08O-fo/s72-c/DSC08861.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1926296286733356721.post-6030135743621551887</id><published>2009-05-19T15:58:00.000-07:00</published><updated>2009-05-19T16:14:00.724-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='candle of light'/><title type='text'>Selamat hari pahlawan, Aminah</title><content type='html'>&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_rcwu8-Ne2jg/ShM9HbIkCgI/AAAAAAAABDs/5WJW4NFqVew/s1600-h/DSC03875.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5337677181116221954" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 150px; CURSOR: hand; HEIGHT: 200px" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_rcwu8-Ne2jg/ShM9HbIkCgI/AAAAAAAABDs/5WJW4NFqVew/s200/DSC03875.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Saya memandangi Aminah membereskan sampah-sampah dalam aneka rupa, jenis ,ukuran, dan tentu saja… dalam macam-macam bau yang tidak sedap, dengan cekatan dan riang seperti biasanya. Senyum dan celotehan riangnya adalah dua kekhasan Aminah yang tidak saya jumpai pada rekan-rekannya seprofesi. Bahkan kadang ia juga bekerja sambil bernyanyi. Keriangan yang memang lahir dari hatinya. &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Pagi itu saya ikut tersenyum senang sambil mendengarkan ia bercerita tentang kegembiraannya karena baru saja ’mendapatkan’ benda bekas yang masih bisa dipakai dan cukup berharga dari penghuni sebelah apartemen tempat saya tinggal. Saya tahu esok pagi dia akan mucul kembali di pintu apartemen saya dengan cerita yang lain lagi namun dengan semangat dan kegembiraan yang sama.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Setiap pagi sekitar jam 8.15, saya mengagumi sebuah simfoni keindahan hidup dari seorang tukang bersih-bersih yang selalu penuh semangat melaksanakan tugasnya dengan keriangan dan optimisme yang mengagumkan sebagai instrument musiknya. Pekerjaan yang bagi sebagian besar orang begitu sederhana, begitu membosankan, dan seringkali tentu saja kotor dan menjijikkan. Tapi Aminah menyikapinya dengan senyum dan kebanggaan seorang dokter spesialis yang ternama. Saya tidak tahu apakah Aminah bangga dengan pekerjaannya, kadang-kadang ia juga bercerita sulitnya menghadapi supervisor para tukang bersih-bersih yang sering menekan anak buah demi mendapat pujian dari perusahaan penyedia jasa tukang bersih-bersih tempat mereka bekerja. Namun senyumnya yang khas, kecekatan dan kerapihannya, dan celotehan riangnya itu membuat pekerjaan itu di mata saya jadi makin indah dan penuh makna, terutama karena saya sadar betul akan seperti apa lingkungan apartemen dan tempat tinggal saya bila Aminah dan rekan-rekannya cuti atau tidak masuk. Mungkin tidak sukar mencari pengganti pekerja yang mau menjadi janitor / tukang bersih-bersih, tetapi yang bekerja dengan penuh senyum dan kesungguhan seperti Aminah ? Saya ragu.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Barangkali, kalau ada acara nominasi pemilihan pahlawan dalam kehidupan sehari-hari, tahun ini saya akan memilih Aminah. Terpisah dari suami dan anak-anaknya yang tercinta, Aminah mengadu nasib ke Kuala Lumpur, seperti juga keputusan berat yang diambil oleh jutaan kawan-kawannya yang kesulitan mendapatkan pekerjaan di tanah air, untuk sekedar bisa hidup lebih layak, berpakaian yang bersih, mengkonsumsi makanan yang layak untuk dimakan, dan memastikan anak-anak mereka tetap berangkat ke sekolah, walaupun untuk mencapai semua itu dia harus rela untuk tidak ikut menyaksikan anak-anak itu tumbuh dan menjadi besar dengan segala dinamikanya. Walau untuk semua itu dia harus sering kucing-kucingan dengan pasukan RELA dari pemerintah Malaysia yang memburu pekerja-pekerja illegal dari luar negeri, terutama Indonesia, untuk ditangkap dan dimasukkan penjara di Kajang. &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Aminah adalah pahlawan bagi anak-anaknya, pahlawan bagi ibu mertuanya yang sakit, pahlawan bagi apartemen saya yang menjadi selalu bersih dan nyaman dihuni karena bebas dari sampah, pahlawan bagi ekonomi bangsanya dengan kiriman gajinya yang dia transfer ke Indonesia setiap bulan. Aminah adalah pahlawan hati saya, karena ia melakukan pekerjaan dan tanggungjawabnya, betapapun tampak sepele dan sederhana, dengan kesungguhan dan keceriaan seorang pekerja profesional yang tahu bersyukur atas hidup yang tidak mudah ini.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Menjelang peringatan hari pahlawan 10 November di tahun ini, tiba-tiba saya teringat kepada Aminah. Kini saya sudah tidak lagi berada di dekat Aminah untuk menikmati suguhan simfoni paginya yang penuh optimisme dan pujian kepada kehidupan itu. Saya merasa rindu untuk menemukan sosok pahlawan seperti yang sudah Aminah tunjukkan kepada saya. Saya malu bila saya mengeluh melakukan pekerjaan-pekerjaan kecil yang rutin dan tampak membosankan. Saya malu bila saya tidak melakukan semua yang dipercayakan kepada saya dengan sebaik-baiknya. Ingatan saya kepada Aminah memacu saya untuk memberikan yang terbaik yang bisa saya kerjakan. Walau hanya dalam hal-hal yang ‘dianggap’ kecil dan sederhana. Dengan cara demikian, paling tidak saya telah menjadi pahlawan bagi diri saya sendiri, karena saya menyelamatkan diri saya dari kemalasan , bersungut-sungut, lupa bersyukur, dan sikap serampangan, yang membuat nilai saya sebagai manusia tidak lagi seutuh dan seindah yang didesain sejak mula-mula oleh Penciptanya. &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Aminah boleh saja berprofesi sebagai TKI yang tidak dipandang keren oleh dunia, tetapi ia telah berhasil dengan gemilang meletakkan dirinya pada posisi yang sebenarnya dari manusia sebagai ciptaan yang tertinggi di alam semesta, yang sangat luhur itu. Saya membayangkan seandainya semua insan setidak-tidaknya menjadi pahlawan bagi dirinya sendiri saja dahulu, pasti akan lebih banyak keputusan-keputusan berharga yang dibuat daripada tindakan dan keputusan serampangan yang lebih banyak melukai orang lain dan merendahkan nilai-nilai manusia yang luhur.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Setelah menyelesaikan tulisan ini, saya ingin mengirimkan kartu pos kepada Aminah melalui tetangga dekat saya yang masih tinggal di Kuala Lumpur saat ini. Saya berharap Aminah masih bekerja di apartemen saya tinggal dulu itu dan saya ingin sekedar menyapanya untuk berterimakasih atas teladan emas kehidupan yang telah ia tunjukkan pada saya. Suatu hari dalam surat saya ingin bercerita kepadanya akan cara hidupnya yang mengingatkan saya kepada sebuah ayat dalam Kitab Suci “Lakukanlah semuanya itu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia” dan akan teladan Santa Theresa dari Lisieux (St Theresia dari Kanak-kanak Yesus dengan ‘jalan kecil’ nya yang istimewa) yang tetap tersenyum dalam penderitaan hidupnya, yang setia mengerjakan hal-hal kecil dan sederhana dengan cinta yang besar, yang berjanji akan mengirimkan hujan mawar dari surga untuk berkat dan keajaiban bagi dunia.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Barangkali, Aminah adalah salah satu mawar yang dikirimkan oleh Santa Theresia dari surga.…”&lt;em&gt;A reminder to all of us who feel we can do nothing, that it is the little things that keep God's kingdom growing….”&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;em&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;Selamat hari pahlawan, Aminah….&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Milan, 8 November 2008&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1926296286733356721-6030135743621551887?l=mylittlecandle.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mylittlecandle.blogspot.com/feeds/6030135743621551887/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mylittlecandle.blogspot.com/2009/05/selamat-hari-pahlawan-aminah.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1926296286733356721/posts/default/6030135743621551887'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1926296286733356721/posts/default/6030135743621551887'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mylittlecandle.blogspot.com/2009/05/selamat-hari-pahlawan-aminah.html' title='Selamat hari pahlawan, Aminah'/><author><name>triastuti</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06669118216388127857</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_rcwu8-Ne2jg/ShxT7i_4VRI/AAAAAAAABF8/Vwh_OTSVurg/S220/DSC05118.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_rcwu8-Ne2jg/ShM9HbIkCgI/AAAAAAAABDs/5WJW4NFqVew/s72-c/DSC03875.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1926296286733356721.post-574189132508912940</id><published>2009-05-19T15:35:00.000-07:00</published><updated>2009-05-19T15:58:12.455-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='candle of faith'/><title type='text'>Secuil renungan dari meja operasi</title><content type='html'>&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_rcwu8-Ne2jg/ShM5PlCsrKI/AAAAAAAABDk/petginLSz8Y/s1600-h/DSC07010.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5337672923168418978" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 200px; CURSOR: hand; HEIGHT: 150px" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_rcwu8-Ne2jg/ShM5PlCsrKI/AAAAAAAABDk/petginLSz8Y/s200/DSC07010.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Salah satu hal yang paling menakutkan saya dalam menghadapi sebuah operasi adalah bagaimana seandainya saya tidak bangun-bangun lagi setelah melewati proses pembiusan total selama operasi dilakukan. &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Saya sering menghibur diri sendiri dengan berbagai cara, seperti meyakinkan diri akan tingkat keahlian ahli anestesi yang menangani saya, atau mengingat bahwa jutaan orang dioperasi setiap harinya dan mereka juga pasti akan sadar setelah operasi selesai dan pengaruh bius hilang, atau saya akan mengingat selalu bahwa dalam keadaan tidur pun saya tidak menyadari apa-apa sampai saya bangun kembali. Bukankah hampir tidak ada perbedaan dalam proses ketidaksadaran di waktu kita tidur dengan di saat kita dibius, kecuali bahwa mungkin kita tidak mengalami mimpi ketika dibius karena seluruh fungsi tubuh di-nonaktifkan untuk sementara.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Sementara ? ops, tapi bagaimana kalau keterusan…ohlala, saya takut membayangkan itu. Entah mengapa keadaan tidak sadar itu terasa menakutkan. Bagaimana rasanya lepas dari dunia kesadaran yang saya ketahui dan pahami sehari-hari ? Saya tidak tahu apa, bagaimana, dan di mana saya saat tidak sadar itu, dan ketidaktahuan itu menakutkan. Sebenarnya saya menyadari bahwa ketakutan ini tak lain adalah rasa takut alamiah menghadapi kematian, di mana timbul kekuatiran bila pembiusan kebablasan maka saya akan melanjutkan perjalanan terus ke alam baka,..oh..seperti apa itu, siapkah saya ?&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Hari yang ditetapkan dokter untuk mengoperasi saya akhirnya tiba juga. Berbekal 9 hari Novena di rumah dan doa dari keluarga serta banyak teman dan relasi, saya meletakkan semua ketakutan saya dalam tangan Bapa di surga. Setelah menjalani pengecekan darah dan puasa plus urus-urus untuk membersihkan apapun yang masih tinggal dalam perut saya, akhirnya saya didorong menuju ruang operasi. Suasana di sekitar saya terasa hening, walaupun banyak dokter dan perawat mondar-mandir di sekitar ruangan operasi, dengan baju khusus dan tutup kepala berwarna biru. Saya melihat suami saya melambai untuk terakhir kalinya sebelum ia lenyap di balik pintu yang menutup di hadapannya.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Sambil terus didorong di atas brankar, saya menatap langit-langit rumah sakit dengan lampu-lampu besar di atasnya. Saya merasa sendirian, sekaligus merasa tak berdaya. Saya mencoba pasrah. Rasa takut yang merayap saya usir dengan doa Bapa Kami yang saya daraskan tak henti-henti di dalam hati, dan mata saya berkaca-kaca saat saya sampai pada kalimat, “..&lt;em&gt;dan ampunilah kesalahan kami, seperti kamipun&lt;/em&gt;…” saya menyerahkan hidup saya kepadaMu Bapa, ampunilah dosa-dosa saya selama hidup saya di dunia ini, dan bila sesudah ini saya tidak lagi melihat dunia untuk pulang menghadapMu, saya mohon disiapkan dan diampuni, sebab walaupun saya mohon dengan sungguh bahwa saya akan sembuh dan hidup dan sehat setelah operasi ini, namun semuanya terjadilah menurut kehendakMu.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Memasuki ruang operasi yang dingin dengan berbagai alat yang asing (baca : menyeramkan) bagi saya, para perawat memindahkan tubuh saya dari brankar ke meja operasi dengan suatu pembaringan khusus. Nah, bagaikan seonggok daging di meja pembantaian, siaplah sudah saya dibedah. Ujung jari saya dijepit dengan pendeteksi detak jantung sehingga saya bisa mendengar suara detak jantung saya memenuhi ruangan operasi. Dokter anestesi meminta saya untuk tetap tenang dan rileks. Saya menurut, dan mendengar suara jantung saya berdetak dengan ringan pertanda saya sudah rileks dan pasrah benar. Tiba-tiba perawat memasang masker oksigen di wajah saya, dan itu membuat saya panik, karena saya merasa tidak dapat bernapas dengan bebas, dan saat itu saya mendengar detak jantung saya di ruangan berubah iramanya menjadi cepat, ya, saya berdebar-debar. Doa Bapa Kami saya daraskan semakin kencang dalam hati. Untunglah semua itu tak lama, dokter anestesi mulai menyuntikkan cairan bius ke pembuluh darah saya dan saya merasakan sendiri kepala saya berat dan kesadaran saya mulai hilang. Saya masih merasakan kepala saya terkulai ke kanan lalu semuanya lenyap dari indera saya dan saya tidak sadar lagi.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Saya merasa waktunya hanya singkat (operasi saya berlangsung selama kurang lebih satu setengah jam), ketika saya mulai mendengar suara para perawat memanggil-manggil nama saya dengan keras, “Caecilia, Caecilia…” terus berulang-ulang. Saya masih merasa segala sesuatunya berputar dan berat, tetapi karena mereka terus saja memanggil, saya paksakan menjawab dengan bersuara dan saya terkejut sendiri mendengar suara saya yang mengerang dengan berat seperti suara binatang buas. Namun saya begitu lega dan bersyukur bahwa saya…masih hidup..! Saya telah berada di ruang pemulihan, saya sudah kembali ke alam kesadaran dan itu begitu melegakan saya. Walaupun seluruh tubuh terasa lemas, sakit dan mual, saya melanjutkan doa Bapa Kami saya dengan penuh syukur dan terimakasih kepada Bapa, sambil saya didorong kembali menuju kamar rawat inap saya dimana suami saya tercinta telah menanti.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Ketika kita datang dalam kehidupan ini, kita tidak memintanya. Hidup itu datang begitu saja dan kita menjalaninya dengan berbagai cara dan melalui berbagai jalan. Lalu saat kita sedang menikmati hidup dengan berbagai kemungkinan dan kesukaan maupun kesukaran di dalamnya, kehidupan itu pun bisa tahu-tahu berakhir begitu saja. Kita tidak tahu bagaimana dan kapan hidup itu akan selesai. Saya menyadari bahwa saya hidup karena belas kasihan, karena pemberian. Hidup saya itu diberi, bukan karena saya berhak memperolehnya. Saya harus merelakannya bila itu diambil kembali oleh yang memberi, tanpa harus ngotot untuk mempertahankannya dengan segala cara, atau menuntut agar hidup itu sesuai semua isinya dan caranya dengan kemauan saya. Bagaimanapun juga, saya tidak memilikinya karena kemauan saya, tetapi karena itu diberikan, dikaruniakan.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Bila saya diberi sebuah alat yang sangat berharga dan fungsional oleh seorang teman, dengan janji akan mengembalikannya kepada teman itu bila sewaktu-waktu dia membutuhkannya lagi, apa yang akan saya lakukan dengan alat itu ? Memakainya tanpa batas sesuka hati dan kurang peduli apakah masih akan berfungsi seperti semula saat teman memberikannya, atau… menjaganya dengan penuh kehati-hatian, memakainya sesuai dengan fungsinya, sehingga bila tiba waktunya saya kembalikan, ia adalah tetap alat yang berharga dan fungsional seperti saat saya mengenggamnya untuk pertama kalinya ?&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Sekonyong-konyong saya merasa bahwa kesadaran yang saya agung-agungkan itu lebih menakutkan daripada ketidaksadaran yang baru saja saya alami selama di meja operasi. Pada saat saya sadar sepenuhnya dalam menjalani hidup, apakah cara saya menjalaninya menunjukkan bahwa saya sadar ? apakah kesadaran itu sebenarnya ? Saya begitu takut kehilangannya namun tahukah saya apa yang harus saya lakukan dengan kesadaran itu ?&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Apakah saya sadar bahwa bila dengan penuh kesadaran saya membicarakan keburukan sesama di belakangnya, membiarkan iri hati menguasai persahabatan, tenggelam dalam kesombongan dan keserakahan, menghakimi/mencap sesama dengan semena-mena, bermalas-malasan membuang waktu, melalaikan kewajiban saya, atau merencanakan kejahatan terhadap sesama, adalah hal-hal yang telah membuat alat pinjaman itu rusak pelan-pelan karena tidak dipakai sebagaimana fungsinya dan sebagaimana seharusnya ? Bagaimana kalau tiba-tiba teman yang meminjamkannya memintanya kembali kalau di sana sini alat itu rusak atau cacat ? Ya kalau saya masih punya waktu buat memperbaiki kerusakannya, kalau tidak ? Sekarang bagi saya, kesadaran itu ternyata lebih menuntut keberanian daripada ketidaksadaran yang tadinya saya takutkan itu.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Sang Pemberi Kehidupan bisa saja “membuat saya tidak sadar” seperti saat saya di meja operasi itu. Dalam keadaan tidak sadar, tubuh saya sangat mudah diatur bukan, bagaikan robot yang tidak protes apa-apa. Perut saya bisa diiris dengan pisau tajam tanpa saya berteriak2 memberontak, jantung saya bisa tetap berdetak dengan tenang dan paru-paru tetap bernapas dengan normal sementara alat-alat operasi berkamera dan laser dimasukkan dalam lubang yang telah dibuat di perut saya untuk mengobati penyakit saya. Bandingkan bila operasi dilakukan dalam keadaan sadar, selain berbahaya, tentu tubuh saya akan berontak. Lha baru hidung dan mulut saya ditutup dengan masker oksigen saja detak jantung saya sudah berdetak cepat tak keruan. Saya pikir, lebih mudah diatur dalam keadaan tidak sadar, supaya 'alat pinjaman itu dipakai seperti kehendak peminjamnya dan dikembalikan dalam keadaan seperti si peminjam itu punya mau'&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Namun, kenyataannya, Si Pemberi Hidup mau saya menjalani hidup saya dengan kesadaran penuh, supaya saya bisa memilih secara bebas dengan cara saya, bagaimana saya memakai alat pinjaman itu, dengan cara yang saya suka, karena Dia sayang pada saya dan menghargai saya. Walaupun Dia tahu bahwa dengan begitu saya mungkin tidak menghargai Dia dan alat pinjaman itu seperti yang Dia harapkan. Dia mengambil resiko bahwa pinjaman itu bisa dalam keadaan yang jauh dari baik saat dikembalikan kepadaNya nanti. &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Toh, Dia tetap mengambil resiko itu. Dia bahkan sudah menyiapkan dan menempuh suatu cara yang sama sekali tidak mudah bagiNya, untuk membuat pinjaman itu dipulihkan lagi dari segala kekeliruan dan ketidaktepatan pemakaiannya selama dipinjamkan pada saya. Dia membayar dengan hidupNya supaya alat pinjaman yang bernama kehidupan itu dapat dipulihkan dan berfungsi sebagaimana maksud awalnya ia diciptakan. Dia menyerahkan keputusan itu kepada saya, dalam keadaan sadar, bukan tidak sadar, agar Dia tahu pasti bahwa hak-hak dan kebebasan saya tetap dihargai, dan bahwa pilihan saya untuk menjaga pinjaman itu dengan penuh tanggung jawab dan kehati-hatian adalah keputusan bebas saya karena saya sayang pada Dia, sebagaimana Dia sayang pada saya, dan bukan karena paksaan atau takut akan dihukum.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Saya memandangi luka-luka bekas jahitan pada perut saya yang kini telah mulai mengering. Nampaknya bekas jahitan itu akan tetap di sana untuk seterusnya, kecuali saya melakukan bedah plastik untuk menghilangkannya. “Biarlah itu tetap di sana , Bapa”, bisik saya dengan pelan,” supaya mereka mengingatkan saya bahwa hidupku ini adalah sebuah pinjaman yang sewaktu-waktu harus aku kembalikan. Dan aku ingin mengembalikannya dalam keadaan yang baik dan indah, utuh, sebagaimana Engkau memberikannya dalam keadaan seperti itu sejak semula padaku. Sebab aku sayang kepadaMu, Bapa, dan sebab aku berterimakasih atas hadiah bernama kehidupan yang telah Engkau karuniakan kepadaku”&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;“..&lt;em&gt;namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku. Dan hidupku yang kuhidupi sekarang di dalam daging, adalah hidup oleh iman dalam Anak Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diriNya untuk aku&lt;/em&gt;.” &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;( Galatia 2 : 20)&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Kuala Lumpur , 28 Oktober 2007&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1926296286733356721-574189132508912940?l=mylittlecandle.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mylittlecandle.blogspot.com/feeds/574189132508912940/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mylittlecandle.blogspot.com/2009/05/secuil-renungan-dari-meja-operasi.html#comment-form' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1926296286733356721/posts/default/574189132508912940'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1926296286733356721/posts/default/574189132508912940'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mylittlecandle.blogspot.com/2009/05/secuil-renungan-dari-meja-operasi.html' title='Secuil renungan dari meja operasi'/><author><name>triastuti</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06669118216388127857</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_rcwu8-Ne2jg/ShxT7i_4VRI/AAAAAAAABF8/Vwh_OTSVurg/S220/DSC05118.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_rcwu8-Ne2jg/ShM5PlCsrKI/AAAAAAAABDk/petginLSz8Y/s72-c/DSC07010.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1926296286733356721.post-2951492996194326292</id><published>2009-05-19T15:00:00.000-07:00</published><updated>2009-05-19T15:34:12.131-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='candle of faith'/><title type='text'>The magic spectacles</title><content type='html'>&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_rcwu8-Ne2jg/ShMz05Td2sI/AAAAAAAABDc/uQZwxdeijlg/s1600-h/DSC04977.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5337666967192853186" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 200px; CURSOR: hand; HEIGHT: 150px" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_rcwu8-Ne2jg/ShMz05Td2sI/AAAAAAAABDc/uQZwxdeijlg/s200/DSC04977.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;  &lt;div&gt;“Always something new.” I starred skeptically at a phrase adorning a tissue pack I got from one of luxurious toilets in KLCC mall. No kidding, what a tagline. Can they guarantee that every item I find in this mall would be something I haven’t found or seen before? Wow, let’s see.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Being a shopaholic, strolling around almost every mall available in town, especially this mall which is the nearest one to my vicinity, all the items and events including they claimed as the hottest one, the latest one, are stuff that are not unfamiliar to me. And of course one thing remains definitely the same, for some great stuff in some corners of the store, are always not affordable to me.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Or could it be something the store wants me to perceive the phrase beyond its literal meaning?&lt;br /&gt;Okay, I took the challenge. I gave myself another chance to find something new in this store. I passed around level by level continuing to search something new.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;As far as I discover through the journey of life, is there any real new thing under the sun? The trees, the chasing squirrels, even the singing birds outside my window this morning was the same birds that sang yesterday. The way they whistle was also the same. The same faces of family member when I wake up, the same burden of household chores, same traffic jam,…and well, I think I inhale the same oxygen that circulated around the earth in atmosphere cycle since billion years ago. The raindrops, river, and sea were right there forming from the same water molecules within the ancient earth’s clouds through the cycle of hydrology. Even rock and minerals are going through a cycle. Nothing new.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I still argue over the same matter with my spouse and neighbors, even the same story in my dream as they are just reflections of my daily life challenges. Do the people have their same experience in the past, the same hopes for the future? Don’t be silly, I whispered to myself. But I bet they are only a kind of repetition over the same concerns and worries not far from school, children, jobs, marriage, health, money, investments, aging, relationship…..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Then I arrived at a computer centre on level 3. Tell me, my thoughts wandered wildly grabbing anything I found in mind. Emails, cell phones, microprocessors, digital images, huge data storage, robots, space explorations, discovery in the origin of the universe, even cloning and stem cell, they are indeed beyond our imaginations, they’d happened. They have changed the way we live in many ways. But again, they were all there, in the magnificent potential of human brain. The nature is there from the very beginning, waiting to be discovered. They only need to travel through some journey in time and brilliant effort to be brought out into revelation.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pfff…wow, it’s a boring life. Hey, show me something new, somebody..!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;As I passed a baby and mother store, I landed to another endeavor. Of course, a new baby born. He is someone that was not here yesterday. He is something new. But…how if he carries the same soul he had in his previous life? The thinking of reincarnation gave me a shiver. Now somebody has to offer me a good explanation what is it behind the de ja vu. Wouldn’t they be some events from our past? I left that for a while. I moved forward. The bitterness of being childless pushed me away from the baby store. Okay, now, what’s next? What are the new ones, where are they?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I decided to take some rest in my favorite corner. The Haagen Dazs. I glanced round the ice cream buckets trying to find something different. Gosh, even the famous ice cream company only managed to mix up recipes that have existed before, and they call it new flavor. I gulped down my favorite macadamia vanilla, when my eyes landed on a bookstore nearby. The books people have written are more or less dug from another’s thinking or experience. I believed that all of the new inventions, sophisticated gadgets and tools in modern technology are derived from previous development. Creativity is just another way of thinking and perceiving old habits and old things into some arrangements never existed before. But then, they are not new as a whole. Even history repeats itself, doesn’t it?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Then suddenly I felt lonely and exhausted. I looked around in despair. My hope was waning, when an optical store caught my attention. Okay, this would be my last attempt before giving up and going home. I never wear spectacles. Maybe, just maybe, they have something new for me. And there it was, lying on the glass shelf, a pair of glasses anything but ordinary. I heard the shop keeper’s voice behind me, “These special glasses make any object you focus at, disappear. It’s the latest invention in optical world, thanks to the lens that is composed on a basis of special mathematic formula with regard to the manner of light-wave frequencies and interference.” I held the glasses in my hands, couldn’t wait to put them on to prove what he had explained. And wow…he was right. I put them on to find object in front of my eyes disappeared. The shop keeper standing in front of me had gone. I only saw the background stuff behind him as I didn’t give a focused looking at them. I put them off and the shopkeeper appeared again with a big grin. I ignored that annoying grin and brought the pair home with me. He promised me that the glasses will work for eliminating problems and worries as well and that was the main reason I paid for it without even asked how much it cost.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;As I walked home with the glasses, I had almost forgotten of my initial discovery. I was too excited to put my new glasses on to my sister for her worries over her single status disappear, to my mom for her fear of her incurable illness to evaporate, and certainly to myself for my despair and loneliness of being childless would be gone to the ditch. I walked home in such a hurry, I didn’t notice there was a real ditch ahead, I stumbled upon it and dropped the glasses. In my effort to rescue them, I fell into the ditch, grabbing the empty air…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;And I woke up. My forehead almost knocked on to the edge of the table where I ate my Haagen Dazs. The ice cream was already melting away in the glass. I looked around in a deep embarrassment, hoping that no one would have noticed me dozing off in the midst of the crowded shopping mall. I rose from the ice cream corner ready to be going home. I smiled to myself realizing my adventure had come to fruition.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;It is the way we look at the world, the way we appreciate and accept our neighbors and spouse, the way we are grateful of the new day a morning brings, the way we deal with life challenges and hardships, and the way we persevere through our concerns and worries. The glasses of point of view will make a whole world a new hope and new discoveries every day.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;As for me, I will always put on my magic spectacles and I know I will always find something new joyfully.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;--------------------------------&lt;br /&gt;Kuala Lumpur, while joining a writing workshop in British Council with Sharon Bakar, August 2006&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1926296286733356721-2951492996194326292?l=mylittlecandle.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mylittlecandle.blogspot.com/feeds/2951492996194326292/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mylittlecandle.blogspot.com/2009/05/magic-spectacles.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1926296286733356721/posts/default/2951492996194326292'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1926296286733356721/posts/default/2951492996194326292'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mylittlecandle.blogspot.com/2009/05/magic-spectacles.html' title='The magic spectacles'/><author><name>triastuti</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06669118216388127857</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_rcwu8-Ne2jg/ShxT7i_4VRI/AAAAAAAABF8/Vwh_OTSVurg/S220/DSC05118.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_rcwu8-Ne2jg/ShMz05Td2sI/AAAAAAAABDc/uQZwxdeijlg/s72-c/DSC04977.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1926296286733356721.post-5384878553229504568</id><published>2009-05-19T14:33:00.000-07:00</published><updated>2009-05-19T15:00:04.966-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='candle of light'/><title type='text'>The cursor</title><content type='html'>&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_rcwu8-Ne2jg/ShMryGUN3oI/AAAAAAAABDM/QHEnEEiPDNY/s1600-h/DSC09380.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5337658123053031042" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 200px; CURSOR: hand; HEIGHT: 150px" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_rcwu8-Ne2jg/ShMryGUN3oI/AAAAAAAABDM/QHEnEEiPDNY/s200/DSC09380.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;What do you expect most when facing a computer and start working with it? The cursor, of course! You can’t do anything without it, can you? You grab the mouse or hit the keyboard but you will surely be looking for it to proceed to another feature.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Do you ever think about the cursor of life? What would it be if somebody ask you? What would be the cursor of your life? It will lead you to places you want to discover. It will guide you maximizing all potentials you may have. It will be your initial direction to start pursuing your dreams, an inevitable means to achieve your goal. It will be with you wherever you go. You insist it to come along, not because you really like it, but because you need it&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Your cursor of life will challenge you where do you begin, where do you end, and how. Where you decide to stop and click. Will it be heading towards the features of pride, greed, ignorance, or vanity? Or will you hold it to activate love, care, humility, perseverance, and faithfulness? &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Should your cursor be missing due to the lack of power or low-battery, what kind of source you will be trying to seek? It is what you need to live the life to its fullest, its ultimate richness.&lt;br /&gt;But since life is not yours to spend any kind you like, sometimes you'll realize that it might not be your own decision to hold the cursor as you wish. Let the cursor be the cursor. Let the life flow along its own divine direction. That way, probably you need to surrender your cursor to the Owner of the Life and let it be handled in the most correct manner to bring your life in tune with the rhythm of its Creator. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Not because you really like it, but because you need it &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;milano, meta di novembre&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1926296286733356721-5384878553229504568?l=mylittlecandle.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mylittlecandle.blogspot.com/feeds/5384878553229504568/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mylittlecandle.blogspot.com/2009/05/cursor.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1926296286733356721/posts/default/5384878553229504568'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1926296286733356721/posts/default/5384878553229504568'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mylittlecandle.blogspot.com/2009/05/cursor.html' title='The cursor'/><author><name>triastuti</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06669118216388127857</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_rcwu8-Ne2jg/ShxT7i_4VRI/AAAAAAAABF8/Vwh_OTSVurg/S220/DSC05118.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_rcwu8-Ne2jg/ShMryGUN3oI/AAAAAAAABDM/QHEnEEiPDNY/s72-c/DSC09380.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1926296286733356721.post-7897927829111659582</id><published>2009-05-19T13:53:00.000-07:00</published><updated>2009-05-19T14:14:43.973-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='candle of love'/><title type='text'>One new thing about a birthday</title><content type='html'>&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_rcwu8-Ne2jg/ShMfstnrKZI/AAAAAAAABDE/758ms1qKNJ4/s1600-h/DSC05645.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5337644836384876946" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 200px; CURSOR: hand; HEIGHT: 150px" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_rcwu8-Ne2jg/ShMfstnrKZI/AAAAAAAABDE/758ms1qKNJ4/s200/DSC05645.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;My birthday is coming again. For the thirty fifth time now. What a number. In a sudden. I opened the window in the living room, letting the fresh morning air of a new day entering my house. &lt;span style="color:#3333ff;"&gt;&lt;em&gt;Where had my years gone ?&lt;/em&gt; &lt;/span&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="color:#3333ff;"&gt;They seemed to leave no trace where they went and disappeared.&lt;/span&gt; &lt;/em&gt;I looked at my sleepy face in the mirror hanging in the bathroom. &lt;span style="color:#3333ff;"&gt;&lt;em&gt;I think I look exactly just like 5 years ago. Is that the reason why I can’t recall my years of life behind? Or is this the result of laughing and loving with my lovely hubby, my chubby niece and nephews, my caring parents, my wonderful friends and friendships? Just don’t be too soon to be proud of yourself. I think it is common that Asian women look younger than they really are compared to their Caucasian counterpart. Or because of younger-looking genes I inherited from my parents&lt;/em&gt;. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;I reached a tiny container with a pink lid, picked some facial cotton from it, and poured three drops of 3 in 1 facial cleanser on the cotton. &lt;em&gt;&lt;span style="color:#3333ff;"&gt;Or maybe it’s the fruit of my meager diligence in applying my favorite brand of night solution &amp;amp; age fighting moisturizer all this time&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;. Then I began to wipe dirt off my face when I noticed some disturbing grey hairs among the black. I have to admit that I’m not in love with them. No matter how they represent wisdom and maturity, they are not supposed to appear at my age. &lt;em&gt;&lt;span style="color:#3333ff;"&gt;My age? I’m thirty five now. Who said that it is an age of youth? Welcome to the club! &lt;/span&gt;&lt;/em&gt;I remembered my naughty uncle who lives in Switzerland. One day when we met, his head was totally shaved. I was afraid that something bad had happened to him such as cancer and chemotherapy. But later he said he hated grey hairs as years went by and decision to be bald is the best way to hide them forever, besides being cool and looks cool. &lt;em&gt;&lt;span style="color:#3333ff;"&gt;Ah, this is only a side effect of my habit in changing shampoo brand too often&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;. I made an excuse, haphazardly. I pulled one of the grey hairs, and soon I spotted another one. The more I pulled the even more I caught another, hiding beneath my black crown. &lt;em&gt;&lt;span style="color:#3333ff;"&gt;This is unbelievable. Yesterday I was just a teenager enjoying youth. I’m not ready for this. Not yet&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;. I gave up pulling on my grey hair. My arms went into spasm. There must be many inside there. And the ones I’ve pulled will soon be longer again to be visible. &lt;em&gt;&lt;span style="color:#3333ff;"&gt;Life is too short to be busy counting how many grey hairs you have.&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;I began to count something else. This time something I enjoyed very much more. The number of SMS I found in my cell phone. &lt;em&gt;&lt;span style="color:#3333ff;"&gt;One, two, three, four, and they were still coming&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;. I smiled to myself contentedly when suddenly a message kept showing itself on my hand phone screen. “New message received” and that was all. It had stopped working completely in a sudden. The inbox was overloaded. I pressed any button on the keypad in panic and it refused to change. My loyal cell phone, accompanied me for 4 years and never disappoint me, was broken on my birthday. Despite being touched and joyful in realizing that so many birthday messages were sent to me at nearly the same time, I felt a gloomy feeling of farewell. It was indeed an old cell phone and I was supposed to change it and buy a new one long time ago. However, my despair of not knowing who were the peoples that had sent me the warm wishes and incapable to reply were much greater than the feeling of loosing a precious and important gadget. Probably because of my fool emotional side that it was not pink and I failed to find a pink cover when I bought it. I cared and thanked it but never adore it. The next thing came to my mind was how to rescue the phonebook. It had hundreds of numbers of my friends and relatives. It had no Bluetooth, USB, or infrared connection. &lt;em&gt;&lt;span style="color:#3333ff;"&gt;It is a gadget from the Flintstones era&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;While busy with hand phone troubles, I heard someone’s voice behind me. It was my husband. He had waken and standing at the bathroom entrance. He held a red paper bag with a logo from one leading department store on it. He hugged me and kissed me while saying “Happy Birthday, my dear wife”. I set aside my concern about my cell phone for a little while. I let myself in his arms for seconds before proceeding with his birthday present. It is his habit in never wrap a present nicely and lovingly. &lt;em&gt;&lt;span style="color:#3333ff;"&gt;From the outside, my husband is as simple as his wrapping, but in the inside he is as precious as a jewel&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;. I cared only about the wrappings in our old times of dating. At my age, it would be ridiculous to bring the matter to the surface. I dug into the bag and found pink lingerie inside. But that was not all. There was also a white box with letters that read “Sony Ericsson”. I held my breath, looking at my husband’s smiling face, and began to open the box. &lt;em&gt;&lt;span style="color:#3333ff;"&gt;“Honey…is this…? “&lt;/span&gt;&lt;/em&gt; Then suddenly, shining in the middle of my palm, there it was. A brand new 3G rectangular cell phone with camera on its shiny surface, as virtual as it could be. But it was not the main attraction. I stared at the color. It was the color of my dream. Pink. It was truly nicely and lovely pink. I had never seen a pink cell phone as stylish as it before. I grabbed my husband’s neck to mine. I couldn’t even say any proper words to express my gratitude. Not solely because of the present. But, it was more about his caring for what I need, what I like, and about the timing. &lt;span style="color:#3333ff;"&gt;&lt;em&gt;I knew they were the real presents he gave me.&lt;/em&gt;&lt;/span&gt; By the time I whispered “thank you” in his ears with tears running down on my cheek, &lt;span style="color:#3333ff;"&gt;&lt;em&gt;I knew one new thing about a birthday. It is a gift of love and life&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;. &lt;span style="color:#333333;"&gt;It &lt;/span&gt;is a gift from The Divine.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Birthday will come back to me every year, routinely. My age will keep moving. Getting older or being old will never ever be avoidable. But life itself is more than just about counting numbers of how many years I have lived
